A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 23



Aku terbangun jam 07:30 karena mendengar keributan di luar. Aku menggeliat sebentar, badanku tidak enak. Aku merasa lemas, semua sendi terasa sakit.


Dengan malas aku turun meraih handuk dan segera mandi. Kubasuh setiap inci tubuhku dengan air segar di pagi ini. Setelah selesai ritual mandi pagiku yang lama itu, aku segera berpakaian dan turun untuk sarapan.


“Ada apa ribut-ribut tadi, Bu?” tanyaku.


“Teman-teman Angga, Cha.”


“Ke mana dia? Kenapa enggak pamit sama aku?”


“Dia takut membangunkan mu,” jawab Bu Aini singkat ia sibuk membersihkan dapur.


Benar juga, pikirku. Aku melanjutkan makan tanpa menanyakan apa pun lagi. Sepertinya Bu Aini sedikit kecewa karena aku berhubungan lagi dengan Zoya. Tapi ya bagaimana, entah baik atau buruknya tujuan dia memberi informasi. Tapi informasi itu memang sangat penting untuk kuketahui.


“Selamat pagi ...” sapa Askia yang baru tiba.


“Tumben pagi sekali, kemari makan dulu,” ajak Bu Aini.


“Kebetulan nih, kayaknya enak,” sahut Askia.


Sedang asyik aku sarapan bersama mereka, bel pintu berbunyi. Bu Aini segera ke depan membukakan pintu karena aku sedang makan. Sebentar saja Bu Aini sudah kembali.


“Cha, kau keluarlah dulu. Nak Hendri mencarimu.”


Aku segera keluar setelah ku teguk segelas air putih. Hendri sudah menungguku di teras, ia mondar-mandir seperti orang gelisah. Namun aku tidak menegurnya, hanya melihat tingkahnya tanpa ia sadari aku sudah berdiri di belakangnya dari tadi.


“Sayang ...” ujarnya kaget melihatku. Aku masih saja terdiam, tanpa senyuman di wajahku.


“Ayo kita ke taman sebentar. Ada yang ingin aku katakan padamu walau sudah terlambat.”


Aku mengikutinya, taman yang aku datangi ini sangat dekat dengan rumahku. Hendri selalu mengajakku ke sana untuk berbincang-bincang jika sudah masuk jam kerja. Ia merasa tidak enak dengan karyawanku.


Kami sama-sama terdiam kala itu. Aku tak ingin memulai pembicaraan. Bukankan jelas dia yang mengajakku dengan tujuan ingin mengatakan sesuatu?


“Ini yang aku takutkan,” lirihnya.


Aku menatapnya sebentar lalu kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong.


“Dari dulu, sebelum mendekatimu aku sudah berpikir matang-matang, hal seperti ini yang aku takutkan akan terjadi.”


“Bisa bicara lebih jelas, Mas?” Akhirnya satu kata lolos dari bibirku karena teramat penasaran.


“Aku mencintaimu bukan karena kau mirip dengannya, aku benar-benar tulus menyayangimu,” ujar Hendri menatapku dalam. Namun aku tidak menggubrisnya.


Aku tersenyum kecut. “Bagaimana bisa aku percaya padamu, Mas?”


“Ceritanya panjang, Cha. Sulit kau terima begitu saja, sekarang aku tidak memaksamu untuk percaya, tapi lihatlah ketulusanku.”


Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kecut. Aku tidak percaya apa yang ia katakan. Pria selalu saja menggunakan logika, sementara beda dengan aku seorang wanita yang selalu mengedepankan permasalahan hati. Jujur, saat ini hati dan pikiranku tidak sinkron.


“Aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan segera. Kalau ada apa-apa hubungi aku,” ujar Hendri bangkit dari duduknya.


Aku tak percaya, hanya itu saja yang ingin ia katakan? Hanya begitu saja wujud pembelaan diri yang ia tunjukkan?


Sebuah kecupan mendarat di keningku. “Aku mencintaimu, jangan mudah percaya dengan seseorang, mungkin saja ada tujuan terselubung di baliknya,” bisik Hendri di telingaku. Ia memelukku erat seperti tidak ingin melepasnya lagi.


“Mari ku antar kau pulang.” Ia menarik tanganku melangkah menuju mobil yang terparkir sedikit jauh.



Saat aku kembali ke rumah, Bu Aini sudah pergi belanja. Aku duduk di tepi kolam renang dengan menjulurkan kakiku ke dalamnya. Antara percaya atau tidak. Rasanya Hendri begitu takut kehilanganku. Buktinya saja, begitu Bu Maryam menghubunginya ia segera menemuiku. Tapi entahlah, aku tidak berharap apa pun lagi, rasanya hati ini terlalu lelah untuk di permainkan lagi.


“Apa ada sesuatu, mungkin Mbak bisa berbagi denganku?”


Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu aku hembuskan kasar. “Entahlah Askia, aku tidak puas dengan penjelasannya.”


“Jadi langkah Mbak selanjutnya bagaimana?”


“Aku tidak tahu, Kia.” Aku menatap ke depan.


Pekerjaanku jadi terhalang karena pikiranku sedang kacau, rasanya aku tidak ingin melakukan aktivitas apa pun. Aku ingin tidur dan terlelap hingga tidak ada lagi pikiran macam-macam yang bersarang di kepalaku.


“Mbak tidak ingin mencari tahu kebenarannya seperti apa?”


“Tidak, Kia. Kesannya seperti aku yang terlalu mempertahankannya. Aku sudah mengetahui wanita itu mirip denganku, harusnya ia hutang penjelasan denganku.”



Malam harinya pikiranku sedikit lebih tenang. Setelah makan malam dengan Angga, aku segera ke kamarku. Ponselku terus saja berdering, namun aku sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya.


Ku buka laptop, aku lihat pemasukan dan pengeluaran setiap tokoku. Aku memperbaiki semuanya hasil laporan yang Desi kirimkan kemarin. Rasanya, aku sudah selesai bermain-main. Sekarang sebelum rasa sakit terlalu jauh, ada baiknya aku sedikit menjauh dari Hendri.


“Cha, apa kau sudah istirahat?”


“Belum, Bu. Silakan masuk!”


Bu Aini masuk, lalu ia duduk di tepi ranjang ku. Ia menatapku dalam, ia belai lembut kepalaku. Kemudian ia kecup sebentar keningku. Aku merasakan betapa beliau menyangyangiku.


“Pikirkan baik-baik setiap keputusanmu, Cha. Terkadang ada hal yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata, setidaknya cobalah sedikit bersabar, semuanya pasti akan baik-baik saja.”


Walau tidak mengatakannya secara langsung, aku tahu arah pembicaraan Bu Aini. Ia menginginkan aku tetap dengan Hendri, permasalahan yang sedang aku hadapi ini belum ada titik temunya.


Bu Aini menceritakan baru saja Hendri menghubunginya, ia mengatakan padanya agar menjelaskan semua padaku sebelum terlambat. Ia mengatakan aku tipikal wanita yang tidak suka bertele-tele. Aku mudah bosan, dan aku cepat melupakan.


Setelah Bu Aini keluar, ponselku kembali berdering. Namun lagi-lagi aku tidak menggubrisnya, namun terus saja berdering. Aku melihat layarnya sekilas karena kesal dan merasa terganggu. Ternyata Zoya.


“Halo,” sapakusapaku ketus.


“Hai, Cha. Bagaimana kau sudah datang ke panti?”


“Sudah,” jawabku singkat.


“Aku tidak berbohong, bukan? Lalu bagaimana tanggapan Hendri, apa ia diam saja tidak tahu ingin menjelaskan apa, sekaligus kaget karena kau mengetahuinya?”


Aku kaget kenapa tebakan Zoya sangat tepat. Aku semakin penasaran, apa Zoya tahu banyak hal tentang itu?


“Apa ia tidak mengajakmu ke rumah neneknya?”


“Sudah kemarin, tapi ia tidak membahasnya lagi, kini.”


“Kau tahu kenapa? Sebaiknya kau jangan pernah mau ke rumah neneknya. Kalau kau tidak mau di usir dan di caci maki. Karena dulu beliau tidak setuju dengan Diana,” ujar Zoya.


Aku tahu, jika nenek Hendri melihatku ia pasti akan sangat histeris. Itu sebabnya Hendri selalu mengundurkan waktu mengajakku ke sana.


“Thanks Zoya, setidaknya aku sedikit lebih tahu tentang semua ini.”


“Jangan sungkan, jika ada apa-apa tanyakan saja.”


Jangan lupa like ya...