A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 12



Esok harinya. Pagi-pagi setelah sarapan, Hendri langsung berangkat kerja. Setelah mengantarnya sampai teras rumah, Aku masuk, aku membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor.


Setelah selesai, aku guyur badanku yang terasa lengket karena keringat pagi ini. Ternyata capek juga jadi Bu Aini. Pagi-pagi ia harus masak dan membersihkan rumah sebesar ini, tapi ia sama sekali tidak pernah mengeluh.


Setelah mandi dan berpakaian aku segera turun. Saat aku menuruni tangga, suara dering telepon sangat nyaring terdengar. Aku segera meraih gagang telepon itu.


"Halo, selamat pagi."


"Halo Mi, selamat pagi." ternyata Angga. Aku lega, ternyata akhirnya ia menghubungiku.


"Kemana aja kalian, Mami hubungi gak bisa."


"Maaf Mi, handphone Angga hilang. Mami gak usah khawatir Angga baik-baik aja kok. Mami gimana?"


"Baik juga. Cepetan pulang Mami rindu kalian."


Aku lega mendengar mereka berdua baik-baik saja. Aku menutup panggilan setelah beberapa menit berbincang dengan Angga.


Tiiittttt!!!!


Tiba-tiba suara klakson mobil di depan sangat keras, aku terperanjat mendengarnya. Ku raih gagang pintu aku segera melihat siapa gerangan di luar.


"Pagi Cha!" teriak Zoya menurunkan kaca mobilnya.


Aku menyipitkan mataku, "Kenapa berisik banget, sih?"


Zoya turun dari mobil ia segera melangkah masuk ke rumahku. Ia tersenyum manis menghampiri aku yang mematung di teras.


"Jalan-jalan pagi, yuk?"


Semakin hari, sikap Zoya semakin aneh, ada apa dengannya. Dia seperti wanita stress, bagaimana bisa ia menekan klakson mobilnya seperti itu, apa ia tidak tau mengganggu tetangga sebelah.


Aku mengikuti kemauannya, lagian ini masih pagi sekali, Askia dan lainnya nanti jam 08:30 baru masuk.


Kami berkeliling dengan mobilnya, aku tak tau jelas kemana ia akan mengajakku pergi. Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di sebuah taman kota.


"Kamu gimana selama ini?" tanya Zoya membuka suara.


"Maksud kamu?" tanyaku balik yang tidak mengerti dengan pertanyaannya.


"Hubungan asmaramu gimana?"


Aku tersenyum, "Aku masih betah sendirian."


Zoya mengatakan ia berniat menjodohkan ku dengan salah satu kenalan suaminya, jika aku masih single dan belum ada pria yang mendekatiku.


"Jangan nolak dulu, liat dan kenalan aja dulu. Siapa tau cocok.'


Aku heran dengan orang-orang di sekelilingku, apa aku terlihat tidak laku kah? semuanya sibuk menjodohkan ku kesana-kemari.


Setelah mengantarku pulang, Zoya segera pamit. Namun sebelum ia pergi berlalu dengan mobilnya, ia sempat mengatakan agar aku tidak terlalu mudah percaya dengan orang yang baru kukenal. Aku penasaran, apa mungkin maksudnya itu Hendri? Ah, terserah Zoya.


*Siangnya.


Aku merasa tanganku gemetar, aku terus menoleh ke belakang, kiri dan kanan. Setelah selesai, aku segera bayar ke kasir, dan cepat-cepat keluar dari market tersebut.


Saat di jalan pulang, aku melihat mobil Hendri di parkiran di depan sebuah cafe. Dia pasti sedang meeting dengan kliennya. Aku tidak mau menggangu, lagi pula nanti malam ia juga datang ke rumahku.


Hendri keluar dari cafe tersebut dengan seorang perempuan cantik berpenampilan elegan. Hendri menggandeng tangan wanita itu manja. Aku menghentikan mobilku di tepi jalan, sedikit menjauh darinya. Aku takut ketahuan sedang melihatnya.


Rasanya aku terbakar api cemburu. Tapi apa yang bisa ku perbuat. Ah, betapa bodohnya aku.


Aku melihat dari spion mobil, mereka pergi berdua, Hendri membukakan pintu mobil untuk wanita cantik itu. Ternyata, itu hal yang biasa ia lakukan. Akunya saja yang terlalu beranggapan lebih.


Aku segera pulang, aku mencoba menetralkan hatiku sebisa mungkin. Ya, aku harus mengerti, aku bukan siapa-siapa.


Tadi pagi Askia mengatakan ada model bunga terbaru yang banyak diminati kaula muda. Aku sedang searching di google mencari bibit tanaman tersebut.


Televisi ku nyalakan agar aku tidak merasa kesepian, padahal aku sama sekali tidak berniat menontonnya. Sekali-kali aku melirik jam di dinding. Ah, apa yang ku harapkan, sih?


Aku tidak menemukan apa yang aku cari, akhirnya aku mengirim pesan pada Kia agar ia saja yang membelinya. Aku bahkan tidak tau nama bunga tersebut.


Tok ... tok ...


Aku tidak berharap itu Hendri. Aku menarik gagang pintu perlahan dan benar saja. Hendri pulang, tidak, maksudku datang.


"Malam ..." sapa Hendri.


Aku mencoba sebisa mungkin menyembunyikan kesal yang aku rasa. Aku menyambutnya ramah dan mengajaknya masuk. Bahkan aku menawarkan ia makan. Namun ia sudah makan, itu pasti, bersama sang kekasih yang selalu ia beri bunga setiap Minggu.


"Kamu tadi habis dari mana?" tanya Hendri.


Apa? jangan-jangan ia sempat melihatku tadi. Aku menggigit bibir bawahku. "Belanja bahan kue, Mas."


"Oh, ya sudah. Ayo kita istirahat, aku lelah sekali hari ini." Hendri masuk, wajahnya tampak kelelahan sekali. Tapi tak apalah, ada seseorang yang menyemangatinya tadi.


Besok pagi, seperti biasa setelah menyiapkan sarapan aku mandi dan berpakaian rapi. Rasanya aku malas berinteraksi dengan Hendri, aku merasa kesal padanya. Jika memang ia punya kekasih atau istri, kenapa ia menyanggupi permintaan Bu Aini. Lagian aku berani tidur sendirian di rumah.


Aku menyiram tanaman serta menggunting beberapa bunga, aku taruh di vas. Aku melirik sekilas, Hendri sedang menyantap sarapan yang ku buatkan. Aku tersenyum, ia sepertinya benar-benar menyukai setiap apa saja yang ku masak.


Aku tidak melihat mobil Hendri terparkir di garasi. Jangan-jangan ia diantar oleh wanita itu? dan pagi ini ia akan dijemput lagi. Benar-benar menyebalkan.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil putih milik Hendri berdiri di depan rumahku. Tapi kali ini bukan seorang wanita yang turun. Melainkan sopir pribadinya yang kemarin menjemput Hendri.


"Tunggu sebentar, ya Pak? mas Hendri lagi sarapan."


Hendri keluar dengan membawa berkas-berkas ditangannya. Lalu Hendri berpamitan padaku, layaknya suami istri ia mencium keningku pelan, dan bodohnya, aku pejamkan mata.


"Aku pergi dulu, ya? nanti siang aku jemput kita makan siang bareng."


Aku mengangguk dan melambaikan tangan ketika ia berlalu dengan sang sopir. Apa yang terjadi denganku, kenapa aku tiba-tiba begitu mudah luluh dengannya.


Benar kata Zoya, aku tidak boleh terlalu percaya dengan seseorang. Melihat ia bersama dengan wanita kemarin, aku jadi berpikir ulang untuk jatuh hati padanya. Aku tidak mau kecewa untuk yang kedua kalinya. Kesalahan masa lalu sudah cukup menjadi pembelajaran hidupku untuk kedepannya. Aku bukan lagi Chalisa yang dulu, kini semuanya telah berubah.


Tap jempol dan komen ya? 👍👍👍😘