A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 59



Sore harinya, aku menemani Zoya di toko bunga. Sejak beberapa hari belakangan, aku sudah tidak menginjakkan kaki di sana. Mengingat hari pernikahan semakin dekat, banyak hal yang harus kuurus. Belum lagi dengan toko kue yang dipegang Desi. Baru saja aku mendapatkan kabar ada karyawan yang pulang kampung, dan mereka kekurangan karyawan.


 


Rencananya, aku akan meminta Zoya ke sana untuk beberapa hari saja. Sementara Desi merekrut karyawan baru, Zoya bisa ikut bantu-bantu di sana. Semoga saja Zoya tidak keberatan.


 


“Hai, Cha. Duduk,” pinta Zoya begitu melihat kedatanganku. Aku tersenyum ramah padanya sembari menghempaskan bokongku di sebelahnya.


 


“Bagaimana hari ini, sepi?” tanyaku, basa-basi padanya sebelum ke inti pembicaraan.


 


“Enggak juga, lumayan rame,” sahutnya.


 


Aku perhatikan, sekali-kali ia asyik dengan ponselnya. Namun saat berbicara ia tetap berusaha fokus dengan obrolan kita berdua. Aku mengerutkan keningku. Sepertinya ada sesuatu.


 


“Ehemm ... .”


 


Spontan Zoya kaget dan menatapku. Lalu ia tertawa kecil sembari berdiri melayani pembeli, secara kebetulan ada seorang pria tua membeli seikat bunga.


 


“Aku harus bertanya atau kau ceritakan saja?” tanyaku langsung saat ia kembali duduk bersamaku.


 


“Sebenarnya, aku sedang melakukan pendekatan dengan teman lamaku,” ujar Zoya akhirnya menghilangkan rasa penasaranku.


 


“Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu kembali?” tanyaku sambil mengambil posisi serius yaitu melipat kedua tangan di dada serta posisi duduk kaki menyilang.


 


“Aku belum bertemu dengannya. Ia masih di luar negeri, ia menjenguk anaknya,” sahut Zoya.


 


“Dia duda juga?” tanyaku spontan. Mengingat status Zoya juga tak lagi muda. Sama halnya sepertiku.


 


Zoya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mulai bercerita panjang lebar. Teman lamanya itu sudah menduda 5 tahun lamanya. Istrinya meninggal karena mengidap kanker. Pria yang bernama Denta itu, berprofesi sebagai Dokter Spesialis Kanker, namun ia tidak bisa menyelamatkan istrinya sendiri.


 


Keduanya saling berhubungan lagi saat salah satu teman lama mereka memasukkan Denta ke dalam grup WhatsApp. Akhirnya, keduanya saling bertukar kabar hingga semakin akrab.


 


“Besok dia terbang kemari,” ujar Zoya sembari tersenyum tipis, ia berusaha menyembunyikan perasaannya padaku.


 


Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya berbunga-bunga seperti itu. Sama seperti yang aku rasa, saat pertama dekat dengan Hendri dulu.


 


“Temani aku saat bertemu dengannya, ya?” pinta Zoya dengan menggoyangkan lututku.


 


Aku menganggukkan kepalaku. Aku turut bahagia mendengarnya, semoga saja mereka bisa bersatu hingga ke pernikahan.


 


“Oya, aku mau minta bantuanmu,” ucapku padanya. Hampir saja aku lupa dengan tujuanku sebenarnya.


 


“Katakan, ada apa?” jawabnya.


 


“Kau tahu kan, toko kue aku yang dipegang Desi? Salah satu karyawannya pulang kampung, mereka kekurangan karyawan. Besok dia juga mulai mencari karyawan baru, namun sebelum itu aku minta kau datang ke sana,” ujarku panjang lebar.


 


“Boleh, tapi siapa yang ganti jaga toko bunganya?” tanya Zoya setelah mengiyakan permintaanku.


 


“Bu Aini bisa,” jawabku asal-asalan sembari memutar otak siapa yang akan ku pinta untuk menjaga toko bunga besok.


 


Setelah semuanya selesai. Aku juga tak lupa memberi kabar pada Desi agar ia tidak khawatir lagi. Hari semakin gelap, aku membantu Zoya menutup toko bunga. Sebentar lagi azan magrib akan berkumandang.


 


••


 


 


Usai mandi dan menunaikan kewajibanku. Aku bersiap-siap menunggu kedatangan Hendri. Malam ini aku hanya menggunakan kaos dengan celana di bawah lutut. Aku juga sudah memberitahukan kepada orang rumah bahwa malam ini Hendri akan datang, ada sesuatu yang ingin ia obrolkan.


 


Mama sempat khawatir, namun aku berhasil menenangkannya. Semuanya telah Tuhan atur, baik buruk berita yang akan kita dapatkan malam ini. Merupakan hal terbaik yang telah Tuhan takdir kan.


 


Aku mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahku. Aku sudah hafal betul bagaimana suaranya, aku bangun dengan langkah tak bersemangat menuruni tangga. Mama menatapku, seisi rumah menatapku. Aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku pada mereka semua.


 


Aku membukakan pintu. Hendri masuk dari pintu gerbang. Aku sempat menawarkannya masuk namun ia menolak dan mengajak duduk di teras saja. Aku pun mengiyakan.


 


Tak lama, Bu Aini keluar dengan dua gelas minuman di nampan. Setelah meletakkan di meja, beliau kembali ke dalam.


 


Hendri berpenampilan cukup santai malam ini, ia mengenakan kaos putih serta celana yang ketat di atas lutut serta sepatu putih.


 


“Bagaimana kabarmu?” tanya Hendri.


 


“Tidak perlu aku jawab. Katakan saja apa hal penting yang ingin kau sampaikan,” sahutku dengan tatapan dingin.


 


“Sebelumnya, aku minta maaf padamu,” sahut Hendri.


 


Awalnya aku senang mendengar permintaan maafnya. Mungkin ia sudah menyadari bagaimana sikapnya malam itu. Namun aku menarik ucapanku ketika mendengar kelanjutannya.


 


“Aku tidak bisa melanjutkan lagi hubungan kita berdua,” ucapnya.


 


Aku terdiam, tatapanku masih melekat padanya. Aku bingung harus mengekspresikan wajah serta perasaanku bagaimana. Haruskah kesal, sedih atau marah?


 


Hendri pun terdiam, mungkin ia bingung melihatku yang tidak berkomentar apa-apa. Sejak Robert datang kemarin, aku sudah yakin akan terjadi apa ke depannya. Namun hingga beberapa menit sebelum kedatangan Hendri, aku masih berpikiran positif. Namun detik ini, di hadapannya langsung. Aku mendengar dari mulutnya sendiri, ia mengatakan itu dengan jelas.


 


“Aku minta maaf padamu, kau bisa lakukan apa saja untuk menghukum ku,” ucap Hendri dengan menundukkan kepalanya.


 


“Tidak, aku tidak akan melakukan apa pun. Itu keputusanmu, tentu kau telah berpikir matang-matang sebelum mengatakan ini padaku. Aku hanya ingin menanyakan satu hal sebelum kau pergi dari hidupku untuk selamanya. Apa salahku?”


 


Aku tersenyum kecut. Aku tidak menyangka bahwa diriku masih bisa tersenyum. Aku menatap ke depan. Dadaku yang awalnya sesak, perlahan mulai lepas. Rasanya beban yang aku pikul selama ini, telah hilang.


 


“Ini bukan salahmu, tapi salahku yang tidak bisa mencintaimu lagi. Aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang Diana setiap kali melihatmu. Aku berpikir, aku menemukan cinta darimu, tapi ternyata aku salah,” jawab Hendri.


 


Aku tidak melihatnya, aku cuma mendengar suaranya yang mulai membuatku semakin muak. Hendri menghela nafasnya dengan berat.


 


“Kau tahu, saat Zoya menuduhku hanya mencintaimu karena mirip dengan Diana, aku sangat marah bukan? Sejak saat itu, aku mulai berperang dengan batinku sendiri, ia atau bukan,” lanjut Hendri.


 


“Aku salut dengan rasamu. 8 bulan bukan waktu yang singkat, selama itu kau bermain-main dengan perasaanku,” jawabku sembari terkekeh.


 


Aku merasa lucu, segampang itu pemikirannya. Kenapa harus saat-saat seperti ini ia menemukan jawaban tentang hatinya. 6 Hari menjelang hari pernikahan kita. Lalu bagaimana dengan 8 bulan silam?


 


“Setiap kali melihatmu, aku selalu membandingkan Diana dengan dirimu. Sikap kalian berdua jauh berbeda, hanya wajahmu yang mirip dengannya. Sikapnya yang manja, tidak bisa jauh dariku, itu yang tidak aku temukan padamu,” ujar Hendri dengan tatapan matanya yang teduh.


 


Selesai ia bercerita, aku berdiri. Hendri kaget, ia juga berdiri di sebelahku. Aku telah cukup mendengar semuanya. Tidak perlu panjang lebar, intinya sudah jelas. Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.


 


 


Jangan lupa like.