A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 45



Menjelang tengah malam, aku terbangun. Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki. Namun aku sangat mengantuk, aku mencoba membukakan mataku, tapi rasanya sangat berat. Aku kembali menarik selimut dan tidur.


Namun, semakin lama langkah yang aku dengar semakin mendekat. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, penginapan nan indah ini, terbuat dari kayu. Aku lumayan jelas mendengar entakkan langkah kaki. Ah, mungkin hanya perasaanku saja, pikirku.


Akan tetapi, tiba-tiba aku teringat Robert. Jangan-jangan ia menyusup ke dalam kamarku. Sontak aku terbangun dan spontan kantukku pun menghilang. Dan tiba-tiba,


Lampu menyala.


“Happy birthday day to you, happy birthday day to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Mami.”


Hendri, putraku serta mama dan Bu Aini berada di kamarku. Entah bagaimana ceritanya keduanya ikut hadir malam itu, aku pun tak tahu. Senyum menghiasi wajah mereka semua. Aku masih terpaku dan bingung, apa aku bermimpi?


Angga mendekat lalu duduk di hadapanku. Ia mengecup pelan kening dan kedua pipiku. Sebuah kue ulang tahun yang cukup indah ada di tangannya. Dari bentuknya yang sempurna, aku tahu, ini pasti kue spesial dari Askia untukku.


“Happy birthday, Mi,” ucap Angga sekali lagi.


“Selamat ulang tahun, Nak. Semoga panjang umur dan sehat selalu,” ucap Mama kemudian. Begitu pula Bu Aini, beliau memberikan kecupan kasih sayangnya di keningku, tak lupa pula doa-doa beliau ucapkan untukku.


“Mi, tiup lilinnya dong,” pinta Angga mengagetkanku.


Aku memejamkan mataku masih tak bersuara. Di tengah kebingungan dan rasa kantuk yang baru menghilang. Aku panjatkan doa pada Sang Maha Pencipta. Aku berharap, aku akan selamanya bahagia bersama orang-orang yang aku cinta.


Aku meniupkan lilinnya. Mereka semua bertepuk tangan. Hendri masih berdiri kaku di belakang Mama dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Angga memelukku. “Maafkan Angga, Mi. Itu semua rencana Om Hendri,” ucap Angga menunjuk ke arah Hendri. Aku tahu, Angga pasti berbicara tentang sikapnya yang acuh tak acuh padaku belakangan. Aku menatap tajam padanya, lalu tersenyum manis.


Hendri mendekat padaku, tiba-tiba ia berlutut di tepi ranjangku dan meraih kedua tanganku, ia menciuminya sebentar lalu menggenggamnya dengan erat.


“Selamat ulang tahun, sayang. Maaf, jangan marah, aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu,” ucap Hendri padaku.


Aku menyipitkan mataku. Bagaimana mungkin Hendri menganggap aku marah padanya. Aku menggelengkan kepalaku. Aku menciumi tangannya.


“Kamu benar, Mas. Aku terlalu egois selama ini, sekarang aku baru sadar. Terima kasih telah menyadarkan aku,” sahutku dengan tatapan serius padanya.


“Jangan berkata seperti itu,” ucap Hendri.


“Tidak, Mas. Aku serius, Nak, Angga, kemari,” panggilku pada putraku.


Angga mendekat, lalu ia duduk di sebelahku, dengan posisi Hendri masih berlutut dan Mama masih berdiri dan Bu Aini di belakangnya.


“Mulai malam ini, Mami tidak akan lagi melarangmu bertemu papi, atau sebaliknya. Walau bagaimanapun, Robert adalah papimu. Maafkan Mami, sayang,” pintaku pada Angga. Angga hanya menggelengkan kepalanya padaku, entah apa maksudnya aku tak ingin bertanya. Mulai sekarang aku tidak akan lagi mengatur hidupnya layak anak kecil. Benar kata Mama, ia sudah dewasa, ia bisa memilih sendiri bagaimana ia akan menjalani kehidupannya.


Aku kembali menatap Hendri dan meraih tangannya. Aku tersenyum bahagia dengan mataku yang mulai berkaca-kaca. Tidak seharusnya aku menggantung hubungan kita hanya karena ketakutanku yang tak jelas.


“Mas, untuk pertanyaanmu tadi, jawabannya, iya aku bersedia,” ucapku sambil tersenyum, namun air mata lolos di pipiku begitu saja.


Hendri mengeluarkan kotak berwarna merah muda di balik sakunya, kemudian ia memasangkan cincin itu di tanganku. Aku tersenyum, aku mengecup cincin yang sangat indah itu. Aku memeluknya erat. Kali ini ia semakin memperjelas keseriusan padaku, ia melamarku di hadapan orang tuaku. Aku tak menyangka bahwa aku akan merasakan hal itu, setelah trauma masa lalu yang selalu membayangi kehidupanku selama ini. Terima kasih Tuhan.


“Aku mencintaimu, kita akan mengatakan bersama-sama pada nenek. Percayalah,” ujar Hendri membuatku merasa lebih baik.


Mama dan Bu Aini mendekat, keduanya memelukku erat. Mama kembali mengucapkan selamat dan doa-doa juga selalu terucap di bibirnya untukku.


“Sayang, temuilah papimu. Dia ada di sini, beri papimu kesempatan, ya?” pintaku pada Angga.


“Baik, Mi. Aku janji akan meminta Papi agar tidak mengganggu Mami dan Om Hendri lagi,” sahut Angga.


Terlihat jelas dari matanya ia sangat senang dengan keputusan aku. Hendri benar, aku terlalu mengekang Angga hanya karena aku masih dendam pada Robert.


Malam mengharukan itu pun kita lewati bersama hingga pagi menjelang. Hendri kembali memesankan makanan, tak lupa jagung bakar favoritnya juga. Riak ombak menjadi saksi bagaimana bahagianya aku malam ini.


Aku jadi teringat Zoya di rumah, andai saja ia ikut, aku akan berbagi kebahagiaan yang aku rasakan padanya. Aku bersyukur atas semua yang terjadi. Akhirnya aku menemukan sendiri cintaku. Dan aku berharap, Tuhan menjadikan Hendri yang terakhir untuk aku melabuhkan cintaku.


“Pulang dari sini, kita akan segera bertemu nenek, ya?” pinta Hendri di saat Mama dan Bu Aini asyik menggoda Angga.


“Aku sudah siap, Mas,” ucapku meyakinkannya.


Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Hendri mengusap kepalaku dengan lembut. Sekali lagi ia berbisik di telingaku, ia berjanji, sekali pun nenek tidak akan setuju, ia akan tetap menikahi aku. Jujur, bukan itu yang aku harapkan. Semoga nenek menerima aku dan Angga, sehingga tidak ada yang terluka nantinya.


“Iya, Mas, aku percaya padamu,” ucapku tak membantahnya.


Hingga menjelang subuh, aku mulai menguap, kantukku kembali datang. Begitu pula dengan mereka berempat. Aku meminta Mama dan Bu Aini tidur di kamarku saja. Sementara Hendri dan Angga kembali ke kamar masing-masing.


Ah, rasanya aku akan tidur nyenyak hingga siang nanti. Aku sangat bahagia, aku terus menatap jari manisku yang terpasang cincin. Tapi aku kembali susah kala mengingat cincin pemberian Hendri kemarin yang hilang. Tapi sudahlah, aku tidak ingin membayangkan itu, aku tidak ingin merusak malam indah ini dengan memikirkan hal-hal yang membuat moodku hancur.


“Selamat malam semuanya, terima kasih telah membuatku bahagia,” ujarku seorang diri di kamar. Aku mematikan lampu dan menarik selimut.


Tak perlu lama-lama, aku segera terhanyut dalam tidurku hingga aku tak sadar lagi. Aku hanya berharap, ketika aku terbangun nanti, ini semua nyata, bukan hanya mimpi belaka, yang datang ketika aku terlelap.


Jangan lupa like.