A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 15



Setelah puas bermain dan berkeliling aku merasa lelah, aku mengajak Hendri pulang. Didalam mobil aku cek handphone siapa tahu Angga menghubungiku.


10 panggilan tak terjawab dan 2 pesan masuk. Aku benar-benar lupa hari ini aku punya janji dengan Desi.


"Mas, buru-buru, yuk?"


"Ada apa?"


"Jalan aja dulu, nanti aku ceritain."


Desi pasti sudah menunggu dari siang, aku menghubunginya meminta agar ia menunggu dan aku merasa bersalah karena telah melupakan janji.


Jalanan sedikit macet saat kami keluar dari wahana tersebut, cuaca tiba-tiba jadi mendung dan hujan pun turun cukup deras.


Tidak lama kemudian kami tiba disana, toko sudah ditutup Desi, tapi ia masih disana menuggu kedatangan kami.


"Des, aku benar-benar lupa."


"Namanya juga manusia Mbak, biasa aja."


"Tetap aja, aku merasa gak enak. Sorry ya?"


Desi memberikan aku sebuah map berisikan laporan keuangan dan selembar kertas lainnya. Aku membaca surat tersebut sekali-kali melirik Desi didepan ku.


Surat pengunduran diri yang Desi ajukan padaku setahuku tidak terjadi masalah diantara kami ataupun dengan karyawan lainnya.


"Kenapa Des?"


Desi terdiam ia tidak menjawab langsung pertanyaan ku, ada rasa ragu yang terlihat dari wajahnya.


"Aku mau nikah, Mbak."


Hendri tertawa pecah ku ikuti tawaku yang tak bisa ku tahan. Desi bingung melihat kami tertawa aku menyentuh bahu Desi seraya berkata, "Des, kamu mau nikah ya nikah aja. Setelah acara kamu selesai kamu bekerja lagi disini."


Desi tersenyum, "Tapi Mbak ...."


"Surat ini gak aku terima. Gak ada tapi tapi!"


Bahkan aku tidak memeriksa laporan keuangan itu aku percaya padanya seratus persen setahun belakangan aku tidak menemukan kecacatannya dalam bekerja bahkan dia dan Askia aku sandingkan dalam daftar karyawan terbaikku.


Aku berpamitan pada Desi dan segera pulang. Hendri mengantarku dan tidak lupa mampir di tempat Bu inem mengisi perut kami yang sudah keroncongan.


Antrian cukup panjang saat kami tiba disana, Hendri menyuruhku menunggu di mobil ia turun menunggu antrian panjang.


Tempat Bu inem ini kaki lima rasa restoran bintang lima, setiap kali aku lewati jalan ini tidak pernah sepi pengunjung, sejak Hendri mengajakku makan disini aku sering memesan pada Angga setiap ia pulang malam.


Hendri datang dengan dua mangkuk soto di tangannya, "Sayang makan disini aja, ya?"


Aku mengangguk malu-malu, Hendri memanggil Bu inem agar membawa makanannya ke mobil saja.


Aku tidak banyak bicara, ada rasa canggung dengan sikap Hendri terhadapku. Aku tidak menghabiskan makanan di piring Hendri menghentikan makannya.


"Gak enak?"


"Enak, kok. Aku udah kenyang Mas."


Hendri menyudahi makannya dan ia memanggil Bu inem dan membayarnya. Setelah selesai makan kami belum meninggalkan tempat itu.


Kami bercanda dan mengobrol di mobil kami masih enggan beranjak dari sana suasananya sangat enak apalagi hujan rintik-rintik.


"Benar kata Bu Aini," ujar Hendri.


"Apaan tuh?"


"Kata Bu Aini aku gak boleh terlalu dekat denganmu, takutnya aku jatuh hati." Hendri meraih tanganku.


Aku menatapnya sebentar sebelum kembali membuang pandangan kebawah.


"Aku mulai menikmati kebersamaan kita, aku nyaman berada di dekatmu."


Hendri menarik daguku agar pandangan kami beradu ikuti arah tangannya. Aku menatapnya, manik matanya bersinar dengan warna coklat. Hendri mencium keningku lembut ia belai kedua pipiku.


Hendri tersenyum simpul, aku berharap ia mengatakan sesuatu namun ia hanya menyunggingkan senyum di wajahnya yang membuat aku semakin malu.


"Kita pulang, yuk?" aku menepis tangannya.


"Kenapa?"


"Aku mencintaimu."


Deg.


Dengan cepat ku putar bola mataku menatapnya dengan tatapan tajam, ia mengucapkan kata itu, kata yang sama dengan apa yang aku rasa selama ini. Tapi bagaimana dengan mawar yang selalu ia beli, untuk siapa, bukankah mawar merah melambangkan cinta?


"Aku menyukaimu sifat dan sikapmu membuat aku nyaman bersama kamu."


Tanpa menunggu aku bertanya Hendri menjelaskan satu persatu alasannya mengatakan cinta padaku.


"Lalu bunga mawar yang setiap Minggu kamu beli? maaf aku lancang, tapi aku rasa aku perlu tau."


Hendri tersenyum, "Ini yang aku suka dari kamu, kamu gak pernah banyak nanya."


Aku ingin menanyakan semua rasa yang terselubung di hatiku tapi ada rasa segan dan tidak pantas.


"Kapan-kapan aku ajak kamu kesana, ya?"


Aku kurang puas dengan jawabannya, aku rasa tidak sesuai dengan cinta yang terucap dari bibirnya.


Tapi jauh dari lubuk hati terdalam aku bahagia mengetahui ia juga memiliki satu rasa yang sama denganku. Aku sudah lama tidak pernah merasakan rasa ini lagi, setelah kecewa yang teramat dalam dengan ayahnya Angga.


Hendri mengantarku pulang, jam menunjukkan pukul 19:00 kami menerobos hujan yang semakin deras disertai dengan angin yang lumayan kencang.


Kami tiba di rumah setelah menempuh perjalanan dengan jalanan yang cukup macet dan hujan pun telah reda.


"Kamu coba bicarakan dengan Angga, ya?"


"Apanya, Mas?"


"Soal aku menjadi Papa sambungnya."


Deg.


Aku menatapnya dalam kali ini tatapan yang benar-benar dari hatiku. Benarkah ia seserius ini terhadapku. Tapi kenapa masih ada ragu di hatiku.


"Kita bukan lagi anak kemarin sore yang masih dengan status yang belum jelas kemana arah hubungan mereka, ayo kita nikah kalau kamu sudah yakin."


"Aku butuh waktu berpikir, Mas."


Hendri mendekatkan wajahnya, "Jangan lama-lama, nanti aku di rebut sekretaris ku," bisik Hendri.


Aku tertawa kecil, "Biarin aja."


"Kamu rela?" tanya Hendri menatapku dalam, jarak kami hanya beberapa centimeter saja.


Aku tersenyum malu-malu tanpa menjawab, aku rasa itu sudah cukup menjawab pertanyaannya barusan.


"Masuk sana, aku gak mampir lagi ya?" Hendri mencium pipiku sebentar.


Aku turun dan melambaikan tangan ketika mobil Hendri pergi dari hadapanku. Aku melangkah masuk kedalam tanpa mengetahui dua insan yang sangat berarti di hidupku sedang menungguku di teras.


"Hai!" sapa ku.


"Cie yang baru jadian," ledek Bu Aini.


Aku melotot melihatnya, dia malah makin menjadi terus menggodaku layaknya anak kecil.


Kami masuk kedalam dan aku bawakan soto Bu inem untuk mereka berdua. Angga langsung rebutan dengan Bu Aini padahal aku membawanya dua bungkus. Aku menggeleng kepala melihat keduanya.


Aku segera masuk kamar dan mandi aku sangat gerah. Setelah berpakaian Angga mengetuk pintu kamarku dan aku menyuruhnya masuk.


"Ada apa sayang?"


"Mau ngobrol sebentar." Angga duduk di sampingku.


"Ngomong aja."


"Gini Mi, kalau Mami udah merasa cocok dengan Om Hendri, aku batalin aja buat kenalin Mami dengan Om sahabat aku."


"Oh, gak dong. Janji tetap janji, pokoknya Mami tungguin Om sahabat kamu malam ulang tahun kamu. Soal suka gak suka itu urusannya lain."


Jangan lupa like ya ....