
Kami tiba di sebuah tempat, tempat di mana yang pernah aku datangi kemarin. Yaitu panti asuhan. Aku bingung kenapa Hendri mengajakku kemari, rasanya aku ingin bertanya tapi kuurungkan niatku.
"Aku nyaman berada di tempat ini," ujar Hendri padaku.
Tanpa bertanya, ku ikuti kemana pun langkah Hendri pergi. Ia masuk ke sebuah kamar, terlihat semua anak kecil sudah tertidur pulas.
"Coba kamu perhatikan mereka," ujar Hendri, "Mereka begitu terlelap dengan mimpi indahnya," sambung Hendri lagi.
Hendri mendekati semua anak kecil itu, ia belai lembut pipi mereka satu persatu. Ia selimuti dan ia kecup kening mereka.
"Bagiku, tidak ada ketenangan yang lebih selain melihat mereka terlelap seperti ini," ujar Hendri lagi.
Aku semakin kagum dengan pria satu ini, ia tampan, mapan, romantis juga penyayang anak kecil.
Setelah selesai, Hendri mengantarku pulang, dalam perjalanan kami tidak banyak bicara, hanya pikiran yang sama-sama berkecamuk.
"Thanks udah temenin aku malam ini," ujar Hendri saat aku ingin turun.
Aku tersenyum manis, "Sama-sama," jawabku singkat.
Saat aku melangkah menuju pintu gerbang rumahku, Hendri menurunkan kaca mobilnya, "Besok-besok gantian dong, kamu ajak aku ketempat favorit kamu," ucap Hendri diluar dugaan ku.
"Kapan-kapan," jawabku lagi.
* *
Keesokan harinya kulakukan semua aktivitas seperti biasa. Bu Aini terus menggodaku, layaknya anak muda yang sedang kasmaran, aku pun tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba handphoneku berdering, segera ku angkat tanpa melihat layar terlebih dahulu.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku saat telepon sudah terhubung.
"Chalisa," ujar Hendri disana, ia seperti kaget.
"Iya, ada apa?" tanyaku.
"Maaf aku salah telepon, kok bisa jadi hubungin kamu sih," ujar Hendri.
Setelah meminta maaf karena salah telepon, Hendri pun memutuskan telepon. Aku bingung, tapi ya sudahlah. Toh, aku juga bahagia kan.
Siang harinya, aku ada arisan bersama teman-temanku. Setelah bersiap-siap aku segera berangkat menuju cafe yang sudah kami pesankan.
Dandananku seperti biasa, tidak seheboh teman-temanku, pakaianku juga. Aku menggunakan autfit yang nyaman menurutku, aku tidak mementingkan mewah, yang terutama sekali kenyamanan bahannya. Aku tiba disana paling terakhir, mereka sudah lama menungguku.
"Ini lagi, emak-emak satu ini ngaret mulu," ujar Laila salah satu teman arisanku.
"Sorry say, tadi macet banget," jawabku mencari alasan.
Aku tidak perhatian, kalau Zoya hari ini tidak hadir. Tidak biasanya dia absen, jika ada arisan biasanya dia paling heboh kirim di grup WhatsApp.
"Guys, Zoya kemana ya, ada yang tau gak?" tanyaku pada mereka.
Mereka saling lempar pandangan satu sama lainnya, tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan dariku. Hingga ku ulangi lagi pertanyaan yang sama.
"Lo beneran gak tau, apa pura-pura gak tau?" tanya Zahra.
"Aku gak tau apa-apa, kalau tau ngapain nanyain ke kalian lagi," jawabku meyakinkan jika memang tidak mengetahui apapun.
"Akhir-akhir ini Zoya sibuk memantau suaminya, sepertinya suaminya berselingkuh darinya," cerita Laila, yang lain semuanya terdiam.
Aku ikut terdiam seperti yang lainnya. Pantesan akhir-akhir ini sikap Zoya tampak berbeda, benar seperti dugaan ku. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Tidak menutup kemungkinan suaminya akan nikah lagi sih, kalau menurut gue," ujar Laila lagi. Dia terkenal tukang nyinyir diantara kami semua.
"Habisnya, Zoya gak bisa punya anak lagi sih. Salah sendiri, kebanyakan aborsi jadinya gitu deh," sambung Laila lagi.
Kami semua menatap tajam ke arahnya. Dia malah cengar-cengir tidak merasa bersalah.
"Keceplosan apa sengaja lu?" tanya Zahra sewot.
"Tau tuh, punya mulut tajam bener," aku ikut menimpali omongan Zahra.
Meski asik mengobrol dengan mereka, aku masih kepikiran dengan Zoya. Bagaimana bisa Zoya memendamnya sendiri, kenapa ia tidak menceritakan kepadaku. Barangkali ada yang bisa ku bantu.
Aku begitu peduli terhadapnya. Meski ku akui sikapnya tidak terlalu baik terhadapku. Tapi bagiku itu tidak jadi masalah, selama ia tidak membuat aku kecewa, bukan masalah yang penting. Soal sikapnya tidak baik, itu urusan belakangan.
Saat aku sedang mengobrol dengan mereka, tiba-tiba mataku menangkap sosok pria tampan yang membuat hari-hariku bersemangat. Ia juga sedang menatapku, ia menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
"Say, aku pulang duluan ya. Aku mau jemput anakku les," ujar Siska, ia salah satu teman kami yang paling sopan dan ramah.
Satu persatu di antara kami mulai beranjak, aku juga ingin pergi. Ada urusan lain yang perlu aku selesaikan.
"Chalisa!" panggil Hendri saat aku ingin masuk mobil.
"Oh, hai..." sapa ku tersenyum ramah.
"Baru selesai arisan Bu?" goda Hendri.
"Kamu sendiri Mas?" tanyaku.
"Hendri aja, gak usah panggil Mas," pinta Hendri.
Aku tersenyum, dari awal aku ingin memanggil namanya. Namun terasa canggung.
"Boleh nebeng gak?" tanya Hendri.
"Gak ah, bayar boleh..." candaku.
"Biar aku aja yang nyetir," pinta Hendri.
Dalam perjalanan, aku sibuk menerima pesanan kue, hingga kami tidak sempat mengobrol. Aku berniat membuat mode diam, aku lelah harus menerima panggilan terus.
Belum sempat aku ubah mode panggilan, sudah masuk telepon dari Desi. "Halo Des.."
"Mbak lagi sibuk gak?" tanya Desi.
"Gak nih, ada apa ya?" tanyaku.
"Mbak bisa kesini gak, ada masalah sedikit," pinta Desi. "Oke, sebentar lagi saya ke sana," sahutku.
Setelah memutuskan telepon, Hendri menanyakan ada masalah apa padaku. Setelah aku ceritakan, aku memintanya untuk mampir sebentar di toko kue ku.
Kami tiba di salah satu cabang toko kueku. Di sana terlihat ada keributan sedang terjadi, Hendri mencegahku turun duluan. Dia takut terjadi sesuatu.
Aku mendengar salah seorang diantara mereka berteriak mengatakan kue kami sudah berjamur, bukan kue baru jadi.
"Permisi..." ujar Hendri kepada pria yang memprovokasi itu.
"Pak, jangan beli disini, kuenya gak enak. Rugi pak!" ujar pria itu kepada Hendri.
Hendri berkacak pinggang didepan pria bertubuh gempal itu, "Kamu punya bukti?" tanya Hendri tidak merasa takut.
"Kalau kamu tidak punya bukti jangan coba-coba ya. Kamu bisa saya lapor polisi atas pencemaran nama baik," ancam Hendri.
Pria itu tampak gentar mendengar ancaman Hendri, "Ayo kita bubar, ayo?" ajaknya pada segerombolan orang yang aku rasa sengaja ia ajak untuk membuat image tokoku rusak.
"Huhu....." teriak karyawan ku yang sedang mengintip dibalik pintu sedari tadi.
"Thanks Hendri, kalau gak ada kamu aku gak tau deh, pria itu bakal ngapain," ucapku merasa sungkan.
"Udah biasa aja," jawab Hendri, "Ayo kita tanyakan ada persoalan apa," ajak Hendri, ia segera masuk mendahuluiku.
Jangan lupa like ya ...