
Aku mengetuk pintu kamar Angga. Dari pagi aku belum melihatnya. Aku merasa bersalah dengan kejadian semalam, seharusnya aku tidak memberitahu Robert jika itu memang keinginan Angga. Walau bagaimana pun, ia berhak menentukan apa yang ia suka atau tidak. Aku mondar-mandir di depan kamarnya, aku semakin khawatir setelah Bu Aini mengatakan ia belum makan.
“Boleh Mami masuk?” tanyaku sembari terus mengetuk pintu.
Tak ada jawaban, kemudian aku menarik gagang pintu lalu segera masuk tanpa menunggu jawaban darinya lagi.
Angga duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong lurus ke depan. Ia menoleh saat mengetahui aku masuk, ia menatapku sebentar kemudian kembali membuang pandangannya. Aku mendekat lalu duduk di sampingnya. Aku cukup lama terdiam, begitu pula dengannya. Sepertinya ia sangat kecewa padaku.
“Masih marah?” tanyaku.
Angga diam saja, ia menatapku kemudian menggelengkan kepalanya. Aku tahu, ia kecewa dengan sikap Robert. Akan tetapi aku juga tahu, jauh dari lubuk hati terdalam, sebenarnya ia mengharapkan ayahnya.
“Semuanya akan baik-baik saja,” ucapku sembari menghela nafas dengan berat.
“Maafkan aku, Mi,” ucap Angga. Ia menundukkan kepalanya, aku menatapnya penuh kasih sayang, tanpa sadar otak telah menuntun tanganku mengusap kepalanya dengan lembut. Aku tersenyum manis padanya. Ia tidak bersalah, aku yang tidak memahaminya.
“Maaf karena telah ... aku hanya kesal dengan sikap pria itu!” lanjutnya, Angga mengepalkan tangannya.
“Mami sudah bicara padanya, percayalah, kejadian seperti itu tidak akan terjadi lagi,” sanggahku cepat sebelum amarah Angga kembali seperti semalam.
Setelah sedikit lebih tenang, aku keluar dari kamar Angga. Aku akan meminta Bu Aini mengantarkannya makan, dari pagi ia belum makan.
“Itu rumah Zoya, Cha,” ujar Bu Aini saat menuruni tangga, beliau baru saja selesai mengantar makanan Angga.
“Rumah, rumah apa?” tanyaku tak mengerti.
“Rumah yang dirampok siang tadi, rumah Zoya,” ujar Bu Aini.
“Zoya siapa, Zoya teman baikmu, Nak?” tanya Mama.
Aku mengangguk sambil terdiam. Bagaimana bisa rumahnya ke rampokan, bukankah ia tinggal di kompleks perumahan elite? Aku tidak mengerti, aku juga enggan menanggapinya, aku benci padanya.
Ponselku bergetar, aku menjauh dari mereka ketika mengetahui Hendri yang telepon. “Halo, sayang,” sapaku.
“Angga di mana, dia tidak ada di asrama, dia pulang ke rumah?” tanya Hendri dengan suara panik.
“Ia di rumah,” sahutku.
“Ah, syukurlah,” ucapnya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku sedang ada pertemuan di dekat asramanya, aku membeli makanan kesukaannya,” ujar Hendri.
“Sesuatu terjadi, Mas, Angga pulang semalam dalam keadaan tidak baik-baik saja,” jawabku.
“Apa yang terjadi, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Hendri kembali panik.
“Dia baik-baik saja, datanglah, nanti aku ceritakan,” pintaku. Setelah Hendri mengiyakannya, panggilan itu pun berakhir.
“Apa itu nak Hendri?” tanya Mama, aku sedikit terperanjat mengetahuinya di belakangku. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Tadinya Hendri mau mampir ke asrama Angga,” tuturku pada Mama.
“Oh, Yaya,” sahut Mama.
Kemudian aku kembali terdiam begitu pula Mama. Semenjak di sini mama terlihat bahagia, tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya kini, aku berharap beliau baik-baik saja.
“Bagaimana hubunganmu dengan Hendri sekarang?” tanya Mama.
“Ya beginilah, Ma. Aku harus bersabar, permasalahan hidup Hendri sangatlah rumit,” ucapku.
“Mama suka padanya,” ujar Mama.
“Benarkah?” tanyaku sangat gembira mendengar pengakuan Mama. Ketika mama kembali menganggukkan kepalanya aku sangat berterima kasih padanya karena telah menerima Hendri.
“Jika semuanya selesai, menikahlah dengannya. Mama ingin melihatmu bahagia di sisa akhir hidup Mama,” pinta Mama dengan tatapan mata yang indah, tatapan yang begitu tulus terasa.
Hari semakin sore, tanpa terasa malam pun datang. Angga sudah mau keluar untuk makan malam, aku bahagia akhirnya semuanya kembali normal. Mama tampak bersedih saat Angga merajuk seperti tadi. Syukurlah sekarang semuanya membaik.
Hendri tiba di rumah saat kami sedang makan malam, Bu Aini segera memaksanya untuk bergabung, walau berkali-kali menolak tampaknya Bu Aini tetap pemenangnya, aku tertawa kecil.
Setelah makan malam, Hendri dan Angga duduk terpisah, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tahu. Sejauh ini, hubungan keduanya cukup baik, aku berharap selamanya akan seperti itu. Jika Angga dan Mama saja sudah memberiku lampu hijau, apa lagi yang aku ragukan dari Hendri, jika saja ia segera melamarku sesegera mungkin sungguh aku akan sangat bahagia.
“Bisa bicara sebentar?” tanya Hendri padaku, aku kaget karena tiba-tiba ia muncul di hadapanku.
“Iya, boleh, ada apa?” tanyaku, pikiran aneh-aneh telah membuatku salah tingkah. Hendri menyipitkan matanya, ia duduk di sampingku.
“Ada apa?” tanyaku lagi.
“Besok malam ayo pergi bertemu nenek?” ajak Hendri.
Aku tersenyum, akankah harapanku akan segera menjadi nyata? Bukankah Hendri pernah mengatakan jika ia sudah berpikir matang-matang ia akan membawaku bertemu nenek?
“Sayang, kamu setuju?” tanya Hendri.
“Mm, boleh, ayo bertemu nenek,” sahutku masih dengan senyuman yang melekat di wajahku.
“Kalau begitu aku pergi dulu, besok malam kita bertemu, aku akan menjemputmu,” ujar Hendri.
Aku mengantarnya ke teras, tak lama Hendri menghilang dari pandanganku. Aku masih berdiri mematung di teras, angin berembus kencang, aku merasa dingin hingga ke tulang, terdengar suara mama memanggilku, aku bergegas masuk.
Baru saja mataku terpejam, ponselku berdering. Aku tersenyum kecil, aku berharap itu Hendri. Namun ternyata nenek Robert yang menghubungiku.
“Halo, nenek,” sapaku.
“Halo Nak Chalisa, maaf mengganggumu malam-malam begini, apa kau sudah tidur?” tanya Nenek di seberang.
Aku melirik jam dinding yang berdetak kencang di kamarku. Suaranya terdengar nyaring saat malam semakin larut.
“Belum, Nek. Ada apa?” tanyaku.
“Aku ingin mengajakmu makan malam bersama di rumahku besok malam, apa kau ada acara lain?” tanya Nenek.
Aku menghela nafas panjang, dengan sangat hormat aku menolak ajakan nenek. Aku sudah berjanji dengan Hendri, aku tidak mungkin membatalkannya. Aku merasa tidak enak, namun nenek sangat mengerti, aku senang beliau tidak tersinggung.
“Sekali lagi maaf ya, Nek. Mungkin lain kali aku bisa,” ucapku sekali lagi sebelum panggilan itu berakhir.
“Tidak apa-apa, baiklah kalau begitu selamat malam, maaf sudah mengganggumu,” ucap Nenek.
Sebenarnya aku menyukai perawakannya yang lemah lembut, beliau sangat baik, terlihat jelas darah bangsawan mengalir di dalam jiwanya, beliau sangat berwibawa. Namun saat mengingat Robert, aku sedikit kurang tertarik untuk dekat dengan beliau.
Tak lama kemudian aku pun terlelap dalam mimpiku. Aku tidak tahan lagi, mataku sangat berat. Malam semakin larut, yang terdengar hanya suara jam yang berdetak kencang. Ah, semoga hari esok lebih baik dari ini. Selamat malam untuk semua orang yang aku sayang.
Jangan lupa like.