A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 53



“Apa sebaiknya kau coba saja dulu baju yang sudah jadi, biar jadi referensi untukmu sendiri seperti apa yang pas di tubuhmu?” pinta Mas Kenzo.


 


Tanpa menunggu jawabanku, Mas Kenzo mencari gaun yang pas untukku, kemudian ia menyerahkannya padaku, ia menyuruhku menggunakannya.


 


Aku meraih baju indah itu kemudian melangkah ke kamar mandi. Askia membantuku mengaitkan bagian belakang, baju itu terasa sangat berat dengan Payet yang memenuhi seluruh gaunnya. Aku tidak suka baju yang terlalu rame seperti ini, aku suka yang sederhana namun istimewa. Selesai mengenakannya, aku keluar. Baju ini sangat pas dengan tubuhku.


 


“Wow, sangat cantik di tubuhmu,” puji Mas Kenzo.


 


Aku tersenyum sembari melirik tubuhku sendiri pada cermin yang ada di ruangan itu. Mas Kenzo menanyakan apa aku tidak suka model yang sedang diminati banyak orang itu. Namun sayangnya aku tidak menyukainya, itu terlalu ribet, aku suka yang lebih simpel.


 


“Oke, aku sudah menggambarkan sesuai keinginanmu, selebihnya kita bahas saat makan saja, kebetulan aku sudah sangat lapar,” ujar Mas Kenzo.


 


Mas Kenzo melirik Robert yang terdiam mendengar ajakannya padaku. Mas Kenzo meninju bahu kekar Robert lalu tertawa kecil.


 


“Ayolah, traktir adik iparmu juga, kita rayakan sama-sama kembalinya kau ke kantor,” pinta Mas Kenzo lagi.


 


“Loh, bukan aku, tanya Chalisa apa dia mau?” sahut Robert dengan melemparkan pandangan padaku.


 


Mau bagaimana lagi, Mas Kenzo sendiri mengatakan sudah sangat lapar. Lagi pula kita belum membahas apa pun mengenai gaun itu. Yah, akhirnya aku menganggukkan kepalaku tanda setuju.


 


Akhirnya kita semua berangkat menuju ke sebuah restoran. Aku mengikuti mobil Robert yang melaju kencang membelah kota besar itu. Aku berdecap kesal padanya, dia pikir aku pembalap?


 


Tiba di sana Mas Kenzo segera masuk begitu juga Askia, sementara aku sedang memarkir kendaraanku. Saat turun aku berpapasan dengan Robert di pintu masuk restoran. Aku menatap tajam padanya.


 


“Kau mau membunuhku?” tanyaku dengan kesal.


 


“Maksudmu apa?” tanya Robert tak mengerti.


 


“Kau pikir aku kucing yang punya 9 nyawa?” tanyaku lagi.


 


Robert tertawa kecil. “Maaf, Kenzo yang menyuruhku buru-buru, ia tidak bisa terlambat makan karena punya riwayat penyakit Mag,” sahut Robert membuat pembelaan.


 


Aku berlalu dari hadapannya, aku mencari keberadaan Kenzo dan Askia. Robert mempercepat langkahnya mengikutiku.


 


“Hei, kenapa begitu marah, aku minta maaf,” ucapnya. Namun aku tak menghiraukannya.


 


Usai memesankan makanan, kita semua terdiam, cuma aku dan Askia yang saling lempar pandangan. Aku begitu canggung, kenapa Mas Kenzo menyuruhku duduk berhadapan dengan Robert. Sejak tadi pria genit itu tidak membuang pandangannya padaku.


 


Karena kesal aku menendang kakinya, ia meringis kesakitan. Mas Kenzo yang tidak tahu apa-apa bertanya dengan heran, namun Robert menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum puas, Askia cuma bisa garuk-garuk kepala.


 


“Silakan menikmati,” ujar pelayan yang membawa hidangan lezat untuk kita semua.


 


Tanpa basa-basi Mas Kenzo segera melahap makan siangnya. Aku dan Askia tertawa kecil melihat tingkahnya yang sangat humoris, dibalik kesuksesannya, ia disegani banyak orang, namun ternyata ia sangat peramah dan baik hati. Aku merasa canggung berada satu meja dengannya, siapa aku?


 


Usai makan, Mas Kenzo mulai membahas mengenai gaun yang akan ku pakai nanti, sekali-kali ia juga menanyakan pendapat Robert. Mengenai warna sendiri, seperti pada umumnya, untuk akad aku memilih warna putih, sementara untuk resepsi aku menginginkan warna biru muda.


 


“Untuk pengantin prianya sendiri, punya keinginan khusus atau aku siapkan senada dengan gaunmu?” tanya Mas Kenzo.


 


Aku sendiri bingung, setiap kali menanyakan pada Hendri, ia selalu mengatakan, terserah padaku saja.


 


“Buat yang terbaik saja, Mas,” sahutku kebingungan.


 


“Oke baiklah, aku pastikan, seminggu sebelum hari H, gaunmu akan siap,” ujar Mas Kenzo.


 


Setelah semuanya selesai, aku dan Askia pun pamit pulang, meninggalkan mereka berdua di sana. Aku tidak tahu, sepertinya keduanya teman dekat. Usai berjabat tangan dengan Mas Kenzo, kita berdua segera berlalu pergi meninggalkan restoran dan kota besar itu.


 


 


Askia turun di persimpangan jalan menuju kontrakan rumahnya, jalan itu tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Ia melambaikan tangannya padaku, aku mengucapkan terima kasih padanya karena telah bersedia menemaniku seharian.


 


Tiba di rumah, Zoya membukakan pintu untukku. Ia meminta maaf karena tidak bisa menemaniku, ada hal penting yang perlu ia urus mengenai harta warisan neneknya yang tidak seberapa, ujarnya padaku.


 


“Sudah, tidak perlu sungkan, aku ke atas dulu,” pintaku.


 


Usai mandi, kita semua makan malam bersama. Seperti biasa, aku dan Zoya cuma bisa jadi pendengar yang baik, ketika mama dan Bu Aini menceritakan sinetron favorit mereka yang sebentar lagi akan tayang.


 


Ting! Bunyi pesan masuk dari ponselku.


 


“Mami cantik banget.” Bunyi pesan Angga untukku.


 


Aku mengerutkan keningku, ada apa dengan putraku, kenapa tiba-tiba memujiku cantik. Setelah makan aku segera menghubunginya untuk menanyakannya.


 


“Zo, aku masuk kamar dulu, mau ikut?” tanyaku pada Zoya. Namun ia mengatakan tubuhnya sangat penat, ia juga ingin segera istirahat.


 


“Halo, Mi,” sapa Angga setelah panggilan tersambung.


 


“Sayang, kenapa kirim pesan begitu?” tanyaku tanpa sempat menanyakan kabarnya dulu.


 


“Mm, ada deh,” sahutnya menggodaku.


 


“Nanti Mami jewer, ya?”


 


Terdengar tawa renyah Angga membuatku juga ikut tertawa kecil.


 


“Papi kirim foto Mami pakai gaun pengantin, mami cantik banget,” sahut Angga akhirnya mengatakan yang sebenarnya.


 


Aku terdiam, sempat-sempatnya Robert mengambil fotoku kemudian mengirimi untuk Angga. Aku tersenyum manis mengingat tingkah lakunya.


 


“Mami, kenapa diam?” tanya Angga mengagetkanku.


 


“Mm, tidak sayang, ya sudah istirahat sana, besok masuk pagi, kan?” jawabku.


 


Panggilan itu pun berakhir. Aku duduk di tepi ranjang, aku menatap lurus ke depan dengan pikiranku menerawang jauh. Aku sendiri bingung dengan pemikiranku.


 


“Halo, halo, Chalisa, halo, jawablah.”


 


Aku mendengar suara Robert, aku bangun mencari sumber suara itu, tapi aku bingung dari mana suara itu. Aku menyibakkan tirai jendela namun ia juga tidak ada di depan.


 


“Halo, Chalisa, ada apa denganmu?”


 


Suara itu lagi, aku menyalakan layar ponselku, ternyata suara itu dari ponselku, aku pasti tidak sengaja menekannya tadi.


 


“Halo,” sapaku.


 


“Ada apa denganmu, kenapa tidak bicara, apa terjadi sesuatu denganmu?” tanya Robert.


 


“Tidak, aku tidak sengaja meneleponmu, aku baru saja bicara dengan Angga,” sahutku merasa sangat malu. Kenapa bisa aku menghubunginya.


 


“Syukurlah, aku lega mendengarnya, ya sudah, istirahatlah,” jawabnya sebelum mematikan panggilan itu.


 


 


Jangan lupa like.