
Seperti yang kukatakan tadi Robert bingung harus berkata apa dan neneknya. Lalu kami bertiga makan bersama siang itu. Mendadak selera makan ku jadi hilang. Jika saja bukan karena wanita tua di depanku, aku tak akan rela duduk semeja dengan pria itu. Aku tak berselera, aku mengaduk-aduk nasi yang ada di hadapanku, aku tak berniat menyentuhnya lagi. Padahal, saat menuju kemari tadi, aku sangat lapar.
Robert tak melepaskan pandangannya dariku, aku sedikit pun tak canggung karena itu, sampai matanya lelah sekali pun aku tak berpengaruh dengan tatapannya itu. Justru sebaliknya, aku muak dengannya.
“Nak, kau tidak suka dengan menunya?” tanya Nenek kemudian.
“Tidak, Nek, aku sudah kenyang,” sahutku tersenyum tipis.
“Oya, ngomong-ngomong, kesibukanmu apa saja Nak Chalisa?” tanya Nenek saat makanan di piringnya tak tersisa lagi.
“Saya sibuk bekerja, Nek. Saya harus banting tulang membiayai kehidupan saya dengan anak saya,” ucapku sambil melirik Robert penuh kebencian.
“Oh, jadi Nak Chalisa sudah berkeluarga dan mempunyai anak?” tanya Nenek lagi. Aku hanya mengangguk.
“Maaf, suami telah meninggal?” tanya Nenek lagi. Sepertinya ini memang kesempatanku untuk meluapkan semua isi hati yang selama ini ku pendam.
“Aku sudah menganggapnya seperti itu, Nek,” sahutku lagi.
“Menganggap seperti itu, maksudmu, itu artinya suamimu masih ada?”
“Entahlah, Nek. Aku tidak ingin membahas pria tak bertanggung jawab itu lagi, aku sangat membencinya, sampai kapan pun aku tidak akan memaafkannya!”
Nenek terdiam melihatku berapi-api seperti itu. Aku menatap Robert tak berkedip, ia membuang pandangannya ke bawah. Dari dulu, aku ingin mencaci makinya, meluapkan segala rasa yang sudah puluhan tahun bersarang di dadaku. Kini waktunya sangat tepat, di depan orang yang ia sayangi.
“Berapa usia anakmu sekarang?” tanya Nenek lagi.
“18 tahun, ia baru lulus SMA.”
Nenek mangut-mangut mendengar jawabanku. Tiba-tiba wajahnya berubah, beliau tampak sedih. Aku tak tahu apa penyebabnya, lalu beliau berkata, “Nenek tidak memiliki cucu, beruntung sekali orang tuamu bisa menimang cucu serta melihat pertumbuhannya.”
Aku tersenyum kecut lalu menjawab, “Tidak Nek, Nenek salah. Aku di usir oleh orang tuaku saat pria tak bertanggung jawab itu lari serta tidak mengakui anak yang ku kandung adalah anaknya!”
Mulut Nenek terbuka saat mendengar ucapanku, beliau menggenggam serta membelai punggung tanganku dengan lembut. Sepertinya Nenek merasa iba dengan nasibku.
Robert terdiam, ia tak berkomentar apa pun. Bahkan saat Nenek mengatakan ia bersedih dengan kisah hidupku, ia tetap saja diam.
“Kau itu harusnya cari istri yang pintar cari duit dan mandiri seperti Chalisa, jangan seperti istrimu itu, hanya tahu menghabiskan uang saja!” ucap Nenek kemudian, ia menatap Robert tajam.
“Sebentar lagi juga bukan istriku lagi, Nek.” sahut Robert.
“Baguslah, cari saja wanita lain, cari yang seperti Nak Chalisa, Nenek suka,” sahut Nenek lagi.
Robert menatapku, tapi aku membuang pandanganku ke samping. Lalu aku permisi ke toilet, aku tidak mau mendengar terlalu banyak tentang kehidupannya, aku tidak tertarik.
Saat keluar dari toilet aku terkejut melihat Robert menungguku di sana. Aku ingin segera pergi, namun cengkeraman tangannya terlalu kuat, aku tidak sanggup melawannya.
“Aku ingin bicara denganmu sebentar.”
“Aku tahu aku salah, aku juga tahu, permintaan maaf ku tak akan mengubah semuanya, tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ucap Robert. Aku bahkan tak mau menatapnya.
“Chalisa, selama bertahun-tahun aku hidup dalam penyesalan, selama bertahun-tahun aku tidak pernah melupakanmu sedetik pun~”
“Stttt!!! Tutup mulutmu, jangan kau teruskan semua kebohonganmu lagi Robert!” teriakku dengan mengatupkan kedua bibirku dengan geram, aku menyela kata-katanya.
“Aku menyesal percaya pada Zoya, Chalisa! Melihat wajah Angga sangat mirip denganku, aku benar-benar menyesal!” Robert merapatkan tubuhnya ke dinding, ia menutupi wajahnya.
“Zoya?” tanyaku tak mengerti dengan maksudnya.
Robert mulai bercerita, Zoya mengajaknya bertemu pada suatu sore. Saat itu Robert sedang bermain basket bersama teman-temannya. Zoya menghampirinya di sana. Lalu Zoya mulai bercerita, bahwa ia melihatku jalan bersama pria lain, lalu aku bermalam di hotel dengan pria itu. Mendengar semua ucapan Zoya, membuat Robert terbakar api cemburu, kemudian ia berlalu meninggalkan Zoya yang masih di sana. Sejak hari itu, Robert mulai menjauh dariku, ia sangat kecewa padaku.
Sebulan kemudian, aku menemuinya, aku mengatakan bahwa aku hamil. Lalu dengan kasar ia berteriak lalu mencaci maki aku dengan berbagai sumpah serapahnya. Aku ingat betul dengan kejadian siang itu.
Aku menutup mulut dengan tanganku, rasanya, aku tak percaya mendengar semua yang dikatakan Robert. Zoya, dia sahabatku, dia yang telah memfitnahku, mengapa ia tega melakukan itu semua padaku. Apa salahku terhadapnya, aku tersenyum kecut, tanpa sadar air mata meleleh di pipiku. Jika saja tak kutemui kebohongan Zoya yang lainnya mungkin aku tak akan percaya dengan semua ucapan Robert kini. Setelah selesai bercerita, aku melihat Robert juga berkaca-kaca.
“Aku tak percaya dengan semua ini, Robert,” ucapku kemudian.
“Aku berani bersumpah, Cha. Percayalah padaku, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya,” ucap Robert kemudian, ia menggenggam kedua tanganku, namun aku menepisnya.
Baru saja kemarin Bu Aini mengingatkanku agar aku tak percaya pada Zoya, hari ini terbukti ia membohongiku lagi. Sepertinya kali ini Robert benar-benar jujur, aku bisa melihat dari matanya. Aku berpikir kembali, jangan-jangan, mengenai Hendri, ia juga merencanakan sesuatu.
“Apa motiv Zoya melakukan itu semua padaku,” lirihku pelan. Air mata kembali menyeruak keluar membasahi pipiku.
“Dia mencintaiku, dan merebut ku darimu,” sahut Robert.
Aku menatapnya tajam. Aku kembali mengingat beberapa kali aku melihat mereka bersama dalam satu tempat yang sama.
“Jangan bilang, Zoya istrimu?” tanyaku tak percaya.
Aku kembali syok, saat mendapat jawaban anggukan dari Robert. Lututku terasa lemas, aku benar-benar tak habis pikir, kenapa Zoya tega melakukan itu semua padaku. Aku hampir terjatuh, namun Robert menahannya.
“Maafkan aku Chalisa, maafkan kebodohan ku ini,” ucap Robert lagi.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Semuanya telah terungkap, meski terlambat, setidaknya aku tahu siapa Zoya sebenarnya. Robert masih memapah tubuhku yang terasa lemas, aku turun dari lantai dua.
“Mobilku di sana,” lirihku.
“Aku tidak akan membiarkan kau pulang sendiri dalam keadaan begini,” ujar Robert.
Lalu Robert mengantar ku pulang menggunakan mobilnya. Aku tak tahu nenek ke mana sekarang, aku tak peduli lagi. Hatiku masih terlalu sakit mengetahui keburukan Zoya, pikiranku tak bisa terlepas darinya, aku tidak bisa mengalihkan perhatianku ke benda lain lagi.
“Aku benci Zoya!” teriakku kemudian seraya menangis kencang, hatiku bagaikan tersayat, dia tempatku berbagi cerita, tapi dia memanfaatkan ku dan merebut kebahagiaan dariku, dia yang telah membuatku menderita selama bertahun-tahun.
Jangan lupa like ya.