
Gagang pintu berbunyi khas, Zoya muncul dibaliknya dengan tersenyum ramah. Zoya duduk di tepi ranjang, tanpa berkata apa-apa ia cuma mengacungkan jempolnya padaku.
“Ngomong dong!” pintaku dengan tatapan sedikit memaksa.
Zoya tertawa lepas. “Tumben seleramu bagus, Cha,” ucapnya sembari berdiri memutariku.
“Benarkah?” tanyaku tersenyum semringah.
Zoya menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengambil kalung liontin pemberian Hendri kemudian memasangkannya padaku.
Gaun yang aku gunakan malam ini sedikit terbuka di bagian leher, menurutnya, dengan adanya sedikit aksesoris di sana tidak akan terlihat kosong.
Suara klakson mobil terdengar jelas di bawah, aku bergegas meraih tas kemudian berlari kecil menuruni tangga.
“Hati-hati, Cha!” teriak Zoya.
Aku bersalaman pada mama dan Bu Aini yang duduk manis di depan televisi, kemudian bergegas keluar.
Tak seperti biasanya, Hendri tak turun berpamitan pada mama, juga tak membukakan pintu mobilnya untukku seperti yang selalu ia lakukan beberapa waktu lalu, membuatku seperti seorang ratu. Aku menghela nafas kemudian segera masuk mobilnya.
Kali ini, aku sangat berharap dapat satu pujian darinya seperti biasanya, namun sudah berlalu lima menitan, tak jua sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanyaku membuka suara agar tidak terlalu canggung.
“Makan malam di rumahku,” sahutnya.
Aku dengannya kembali terdiam. Perasaanku sedikit tak enak, apa yang berubah dariku, kenapa Hendri sangat canggung padaku?
Pikiranku bergerilya ke mana-mana. Tadi ia sibuk tak sempat menemaniku fiting baju, sekarang sikapnya tak jelas. Ada apa ini semua?
Tiba-tiba ponselku berdering, satu pesan masuk dari Angga. Hatiku sedikit damai mendapatkan foto putraku mengenakan jas malam ini. Ia sangat tampan, aku mengusap layar ponselku.
Tak lama kemudian, sekitar setengah jam lamanya kita tiba di rumah megah nenek. Sama seperti tadi, tak ada yang membukakan pintu untukku, aku turun sendiri kemudian jalan berbarengan dengannya menuju ke dalam. Nenek menyambutku dengan ramah.
“Sayang, masuk saja dulu. Nenek tunggu tamu kita dulu,” ucapnya padaku.
Aku sedikit kebingungan, siapa yang dimaksud nenek? Apa akan ada tamu yang lebih spesial dariku?
Angga mengejutkan dengan melingkarkan tangannya di perutku. Aku mencubit lengannya karena telah usil. Angga cuma tertawa lebar.
“Mami cantik,” pujinya.
Aku mengusap wajahnya yang tampan, serta membalas memujinya. Kita berdua duduk di ruang tamu, perasaanku masih saja tidak enak dengan sikap dingin Hendri.
“Sayang, apa kamu tahu siapa tamu yang Oma tunggu?” tanyaku penasaran.
“Aku ga tau, Mi. Cuma tadi sempat dengar obrolan Oma sama Papa, katanya teman dekat Kakek waktu di luar negeri,” ujarnya sambil tersenyum.
Aku mangut-mangut. Berarti orang yang sama seperti yang Robert maksud siang tadi. Aku penasaran, sedekat apa dulu hubungan mereka sehingga begitu spesial bagi keluarga ini.
“Mi, ke kamar aku, yuk?” ajak Angga.
Aku mengikuti saja permintaannya, daripada aku terlihat bodoh seorang diri di ruang tamu. Angga membuka pintu kamarnya kemudian mempersilahkan aku masuk. Ukuran kamar itu menurut taksiranku, mungkin dua kali ukuran kamarku. Sangat besar. Aku menghempaskan bokongku di tepi ranjang yang sangat empuk itu. Angga asyik dengan ponsel di tangannya.
Cekrek!!
Suara khas pintu terbuka. Robert keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk dan bertelanjang dada. Aku sontak terkejut dengan sedikit berteriak aku menutupi wajah dengan kedua tanganku.
“Papa mau memintamu memilih baju, papa bingung,” ucapnya.
“Sangat kebetulan. Mami, tolongin papa pilihkan baju yang cocok untuknya, dong?” pinta Angga padaku.
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Namun wajah putraku yang menggemaskan itu terus saja memelas padaku.
“Mungkin warna navy akan terlihat bagus untukmu,” sahutku akhirnya.
Tanpa basa-basi lagi, Robert keluar dari kamar Angga. Aku menarik nafas dalam-dalam. Angga masih saja tertawa lepas. Ia duduk di sebelahku. Aku memukul bahunya.
Tak lama, kita mendapatkan panggilan dari nenek, tamu sudah tiba dan acara makan malam akan segera di mulai. Angga memintaku untuk segera bergabung, sementara ia akan menunggu papanya lebih dulu.
Aku segera bergegas menuju ruang makan. Pembantu nenek menunjukkan tempatnya, kali ini di tempat yang berbeda, dengan tempat biasanya kita makan malam bersama. Aku belum pernah masuk ke ruangan ini.
“Masuk!” suara nenek sedikit berteriak terdengar di dalam.
Aku sangat canggung, aku di suguhkan pemandangan yang indah. Ruangan itu sangat elegan, serta orang-orang yang ada di dalamnya pun sangat asing bagiku.
Tiga orang bule ada di dalamnya, seorang wanita cantik dengan rambut pirang serta satu wanita tua dan lelaki tua. Aku duduk di samping nenek yang terus saja tersenyum ramah padaku. Sementara Hendri sangat asyik mengobrol dengan wanita itu menggunakan bahasa Inggris, aku tidak mengerti sama sekali dengan aksen mereka yang fasih.
“Hendri, perkenalkan calon istrimu pada mereka,” pinta nenek dengan lembut.
Kemudian dengan bahasa yang tak aku mengerti, Hendri mengatakan sesuatu pada mereka bertiga. Kemudian aku mendapatkan senyuman dari ketiganya. Aku cuma menganggukkan kepalaku.
Acara makan malam pun dimulai, tak seperti biasanya. Menu malam ini pun sangat kebarat-baratan. Aku sedikit kesusahan menikmatinya. Aku sangat kesal dengan Angga dan Robert, kenapa mereka tak kunjung masuk.
“Sama, nenek juga tidak suka makanan ini,” ucap nenek mengagetkanku.
“Tidak, Nek,” sahutku merasa malu.
Nenek melirik Hendri dengan tatapan tak suka. Tanpa sedikit pun Hendri menoleh padaku, ia sangat asyik mengobrol dengan ketika tamunya. Tanpa terasa, dadaku sedikit sesak mendapatkan perlakuan seperti itu darinya.
Jika bukan sedang makan malam, aku akan menanyakan semuanya pada nenek. Sumpah, saat itu aku sangat kesal pada Hendri, rasanya aku ingin meneriakinya.
Aku permisi ke kamar mandi pada nenek. Tiba di sana, aku tidak bisa membendung lagi tangisanku. Aku sangat kaget dengan perlakuan Hendri, ia tak seperti Hendri yang kukenal. Bukankah dua Minggu lagi kita akan menikah?
Aku meraih ponselku. Kemudian menghubungi Angga. Aku sangat senang ketika putraku begitu cepat menjawab panggilan dariku.
“Sayang, kalian berdua di mana, jemput Mami di ruang makan, dong?” pintaku masih terisak.
“Mami nangis?” tanya Angga.
“Jemput saja Mami,” sahutku lagi.
Kemudian panggilan itu berakhir. Aku segera keluar dari kamar mandi. Aku kembali duduk di samping nenek.
“Oya, Chalisa. Dia ini yang merancang liontin serta cincin yang aku berikan padamu, seleranya bagus, kan?” ujar Hendri padaku, dengan pertanyaan yang sangat memuakkan.
Pintu ruangan itu terbuka, Angga masuk. Nenek mempersilahkan ia masuk, namun ia tak menyetujuinya.
“Mi,” panggil Angga.
Aku meraih tas kemudian berlalu dengan tidak sopan dari hadapan mereka semua. Aku sudah tidak tahan, Angga kembali menutup pintu, ia menggandeng tanganku pergi dari sana.
Jangan lupa like, ya?