A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 10



"Lagi ngomongin apa, sih?"


Aku ikut bergabung dengan mereka. Namun tidak lama kemudian sebuah mobil hitam mewah berdiri di depan rumahku. Ternyata mobil jemputan Hendri sudah tiba.


"Cha, aku pulang dulu ya?"


Aku suka panggilan itu, aku mengangguk, ku layangkan sebuah senyum manis ketika Hendri melambaikan tangannya padaku.


Setelah Hendri menghilang dari pandanganku, aku bertanya pada Bu Aini apa yang mereka bicarakan, tapi Bu Aini menyembunyikan rapat-rapat.


"Ibu gak seru deh!"


"Biarin." Bu Aini menjulurkan lidahnya meledekku. Dasar Bu Aini.


Malam harinya, setelah makan malam. Aku sibuk memeriksa laporan yang Desi kirim di kamarku.


Bu Aini memanggil dan mengetuk pintu kamarku, aku menyuruhnya masuk.


"Ada apa Bu?" aku bertanya tanpa menoleh.


"Anu Cha," jawab Bu Aini lalu ia diam.


"Apa? ngomong aja?" aku memandang wajahnya.


"Besok, kan Minggu? Ibu rindu sekali dengan kampung halaman Ibu."


Bu Aini kembali terdiam, aku tau maksud Bu Aini. Beliau ingin pulang melihat rumah dan adiknya. Keluarga satu-satunya yang beliau punya, lagian tidak terlalu jauh.


"Boleh Bu, Ibu kenapa sungkan seperti ini, sih?"


"Bukan sungkan Cha, Ibu cuma gak mau ninggalin kamu sendirian."


Aku menyipitkan mataku, "Kan, ada Angga?"


Bu Aini tersenyum, "Masalahnya, Angga pengen ikut. Kebetulan acara camping sekolah dekat rumah Ibu."


Aku terdiam, seperti biasa, kalau ada apa-apa Bu Aini lebih dulu tau tentang Angga.


Kami turun bersama menemui Angga, aku bertanya tentang omongan Bu Aini barusan. Angga mengiyakan, dengan alasan ia akan mengatakannya besok.


Kata Angga pihak sekolah mengadakan acara itu rutin setahun sekali sebelum pelepasan siswa kelas 3.


"Mami gak apa-apa sendirian?"


"Udah kalian berangkat aja, mami baik-baik aja kok?"


Aku meyakinkan mereka. Aku senang, kebetulan Bu Aini pulang kampung, secara gak langsung beliau bisa menjaga Angga disana.


Mereka akan berangkat besok pagi, mungkin sekitar 3 hari mereka disana. Aku akan mengantar Bu Aini sampai terminal. Sementara Angga pergi dengan Bus pariwisata sekolah.


"Ya sudah, sana kalian istirahat, besok pagi harus fit."


* * *


Esoknya, pagi-pagi aku mengantar Bu Aini. Angga baru saja dijemput sahabatnya.


Sampai di terminal, Bu Aini masih merasa tidak enak hati meninggalkan aku sendirian di rumah. Setelah bertahun-tahun lamanya, beliau belum pernah meninggalkan aku sendirian lebih dari sehari.


"Cha, maafin Ibu, ya? kamu jadi jualan sendiri."


Aku mengerti kekhawatirannya, tapi aku tidak mungkin melarangnya. Waktu yang ia habiskan bersama kami lebih banyak daripada keluarganya sendiri.


Aku melambaikan tanganku ketika bus yang membawa Bu Aini berangkat. Aku segera pulang.


Sampai di rumah, aku menemukan pintu rumahku terbuka, aku sangat panik. Mobil hitam terparkir diluar, aku mengambil sapu lidi di samping rumahku.


Entah apa yang ada di pikiranku, sampai bisa-bisanya aku mengira ada maling pagi-pagi. Aku mengendap-endap masuk, namun suara Hendri mengagetkanku.


"Untuk apa, tuh?"


"Mas! kamu?"


"Kenapa? kek lihat hantu aja."


"Kamu, gimana ceritanya bisa masuk rumah aku?"


Hendri mengatakan, jika Bu Aini yang menyuruhnya untuk menjagaku selama kepulangannya ke kampung halaman. Aku terenyuh, segitu perhatiannya beliau terhadapku. Aku jadi yakin, mungkinkah itu yang mereka obrolkan malam itu? entahlah.


"Aku berangkat kerja dulu, ya? nanti aku jemput kamu, aku mau ngajak kamu ketemu klienku."


* * *


Malam harinya, aku tampil dengan dandanan biasa, aku tidak mau malu seperti kemarin. Aku menunggu jemputan Hendri. Aku turun kebawah setelah bersiap-siap


Tidak lama kemudian, suara klakson mobil Hendri terdengar di depan. Aku bergegas keluar, agar ia tidak terlalu lama menungguku.


"Silahkan tuan putri!"


Hendri membuka pintu mobil dan mempersilakan aku masuk. Aku jadi grogi dengan sikapnya yang memperlakukanku demikian.


Kami menempuh perjalanan sekitar 20 menit lamanya. Mobil Hendri berhenti di sebuah cafe kawasan melati.


Aku turun dari mobil, aku terkejut ketika Hendri mengajakku masuk dengan menggandeng tanganku mesra.


Dua orang pria berpenampilan rapi, menyambut kedatangan kami. Mereka tersenyum ramah, seraya menjabat tangan kami berdua. Aku hanya berdiam diri dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirku.


Aku menyukai cara Hendri berbicara dengan kliennya. Ia sangat pintar dan mahir dalam berbicara, sehingga lawan bicaranya mudah mengerti dengan apa yang ia sampaikan.


Aku terpesona dengan ketampanan dan kepintarannya. Aku tersadar dari lamunanku ketika sikunya menyenggol lenganku.


Setelah makan malam dan meeting selesai, kami pergi dari cafe tersebut.


"Kamu pasti bosan tadi, kan?" tanya Hendri memulai pembicaraan.


"Gak," jawabku singkat.


"Gak bosan, tapi kok ngelamun gitu tadi?"


Hendri menyangka aku melamun karena merasa bosan. Syukurlah, ia tidak curiga denganku yang terlalu terpesona dengan semua yang ia miliki.


Setelah mengantarku pulang, ia ikut masuk bersamaku. Tentunya aku kaget.


"Mas?"


"Aku akan tidur dibawah, untuk memastikanmu baik-baik aja. Aku takut membiarkan mu sendirian." Sanggahnya cepat, biar aku tidak berpikiran terlalu jauh.


Aku tidak berkomentar apapun lagi, Hendri ikut masuk bersamaku. Aku membersihkan kamar tamu untuknya. Aku tidak mungkin membiarkan ia tidur di sofa.


Jam menunjukkan pukul 21:00 masih sangat awal, aku berdiam diri dikamar. Rasanya aneh sekali, aku ingin turun menemaninya hanya sekedar menonton bersama. Tapi aku tidak berani.


"Cha!" Hendri memanggil ku.


Aku tidak menjawab. "Cha! apa kamu udah tidur?" tanya Hendri memanggil ku lagi.


Aku mengacak-acak rambutku, ku tarik pelan gagang pintu dengan tangan sedikit gemetar.


"Belum, Mas."


"Turun, yuk? aku lapar. Tadi aku lihat di dapur ada mie instan."


"Mas, kita baru aja makan malam."


"Udah, ayo." Hendri menarik tanganku turun.


Aku merebus mie instan untuknya, aku tidak menyangka, seorang pria yang menyandang gelar sebagai direktur utama disebuah perusahaan yang cukup besar makan mie instan.


"Kok, cuma satu?"


"Aku gak lapar, Mas."


Hendri makan dengan lahap, ia menyeruput kuahnya hingga tak tersisa. Aku menopang daguku menatapnya makan.


Setelah selesai makan, aku mengambil tissue untuknya. Ia menyambut dan mengelap bibirnya yang belepotan. Aku tersenyum melihatnya.


"Lain kali, buatkan aku mie instan lagi, ya? enak."


Setelah selesai makan mie, kami pindah ke ruang televisi. Aku tidak tau harus mengobrol apa, agar suasananya tidak terlalu canggung. Aku hanya diam dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Besok Minggu. Kamu ada acara, gak?" akhirnya Hendri bersuara memecahkan keheningan diantara kami berdua.


"Gak ada, Mas. Palingan cuma terima pesanan kue dan jagain toko bunga aja."


Hendri manggut-manggut, setelah ngobrol-ngobrol, Hendri menyuruhku untuk segera tidur. Aku segera masuk kamar, mataku juga terasa berat, aku mulai mengantuk.


Jangan lupa like ya ....