A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 70



"Rob, ke mana lagi kita harus mencari Angga?"


Aku sangat khawatir. Apartemen Robert yang biasa didatangi Angga juga kosong. Aku juga sudah menghubungi teman-teman dekatnya, namun tidak ada satupun yang tahu di mana Angga.


"Coba hubungi dia lagi, coba terus," pinta Robert.


Semua tempat yang pernah Angga ceritakan padaku, baik restoran, Cafe dan tempat nongkrongnya, semua aku datangi, tapi tetap saja nihil.


"Aku bingung, kenapa dia berbohong?" kataku tak habis pikir.


Aku tak sanggup lagi menahan sesak di dadaku. Aku meneteskan air mataku. Sejauh ini Angga tidak pernah berbohong padaku, ia selalu bilang setiap mau pergi, sendirian atau bersama teman.


"Kamu tau enggak, Rob. Pagi tadi, Angga panggil kamu Papi," beritahu aku.


"Papi?" tanya Robert. Senang sekaligus sedih.


"Aku juga kaget, saat aku bertanya, dia cuma jawab, biar adil, kalau dia panggil aku mami tentu dia harus manggil kamu Papi," lanjutku.


"Ya Tuhan, ke mana kamu sayang?"


Robert juga semakin khawatir, namun ia berusaha tenang di depanku. Robert menelpon seseorang, aku hanya bisa mendengar ia bicara.


"Rez, cari keberadaan anakku. Sejak pagi ia pergi, sampai sekarang belum balik."


"Tadi pagi, ia sempat hubungi maminya, katanya mau ketemu kolega bisnis bersamaku."


"Ya, aku tidak tau sama sekali, sejak kemarin aku belum menghubunginya."


"Kalau ada perkembangan, hubungi aku. Thanks."


Percakapan itupun selesai. Aku bertanya padanya. Rupanya temennya yang bekerja di kepolisian. Aku sedikit lega, setidaknya kita lebih serius mencari Angga.


"Aku jadi khawatir, ada seseorang yang menghubungi Angga, mengatakan bahwa ingin bertemu. Padahal mereka berbohong," ujar Robert.


"Rob, tolong jangan berpikir aneh-aneh," pintaku.


Sampailah kita di rumah setelah seharian lelah mencari Angga namun tak menemukannya. Aku berusaha kuat saat bertemu mama di rumah, begitu pula Robert, ia berusaha agar Omanya tidak tahu Angga menghilang.


Malam hari aku masih terus mencoba menghubungi Angga maupun temannya. Tentu aku berharap ada sesuatu yang membuatku lebih tenang. Namun sayang, lagi-lagi nihil.


"Ya Rob, bagaimana?" tanyaku saat panggilan masuk darinya datang.


"Belum, Cha. Kamu yang tenang, aku sedang berusaha lebih keras," kata Robert malam itu.


Aku bisa apalagi selain pasrah dan tenang. Aku cuma berharap anakku dalam keadaan baik-baik saja. Jangan sampai ada orang berniat buruk padanya, apa yang bisa mereka harapkan darinya.


Keesokan harinya.


"Ma, aku pergi, ya," ucapku pada mama ketika berpamitan. Sejauh ini mereka belum mencium gelagat yang berbeda dariku.


Hari ini kita akan bertemu mata-mata yang disewa Robert. Mereka telah mengumpulkan bukti-bukti sejak Angga keluar dari rumah, hasil cctv tetanggaku.


"Rob, kamu baik-baik saja, kan?" tanyaku.


"Semalaman aku belum tidur, aku bertemu mereka dan mencari solusi bersama," jawab Robert dengan wajah yang memprihatinkan.


"Biar aku saja yang menyetir," pintaku. Tanpa menolak, Robert bertukar tempat denganku.


Kantor berlantai tiga dengan kondisi keamanan yang sangat ketat. Di sanalah aku dan Robert saat ini berada. Aku dan papanya Angga sedang menunggu di lobi.


"Resiko menjadi pewaris utama. Aku sudah berkata pada Oma dan Hendri sebelum kepergiannya, mereka keras kepala!" lanjutnya.


"Pewaris utama?" tanyaku.


"Ya, Cha. Anak kita, mewariskan semua harta milik Hendri, aku dan Oma. Semua atas namanya," ujar Robert.


Glek!


Aku menelan ludah. Jantungku berdetak kencang. Kenapa aku tidak tahu-menahu persoalan itu. Bisa saja nyawa Angga dalam bahaya sekarang.


"Siapa saja yang tahu, Rob?" tanyaku. Tangan dan kakiku mulai terasa dingin. Robert menggenggam kedua tanganku.


"Kamu tenang, tidak ada yang tahu," jawab Robert.


Dia membawaku ke pelukannya. Aku cuma bisa tenang, mengikuti pintanya, demi kebaikanku sendiri. Aku merasakan tangannya mengusap kepalaku pelan-pelan, hembusan nafasnya sangat dingin. Aku juga merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Aku tahu, sebenarnya ia pun sangat gelisah, namun berusaha tenang di depanku.


Sekarang kita sedang berada di salah satu ruangan lantai tiga. Dua orang bule sedang bicara dengan Robert. Mereka memperlihatkan monitor yang ada di depannya. Aku tidak mengerti, pasalnya mereka sedang berbicara menggunakan bahasa asing.


"Rob, bagaimana?" tanyaku.


"Angga keluar jam sepuluh pagi, ia berangkat dengan motornya menuju arah barat. Dia bertemu lampu merah di perempatan jalan, kemudian belok ke Utara menuju rumah Oma. Sepuluh menit di sana, kemudian ia di jemput mobil mewah berwarna merah muda di depan rumah Oma," jelas Robert panjang lebar.


"Kamu kenal itu mobil siapa?" tanyaku. Robert menggelengkan kepalanya.


"Mereka sedang melacak plat nomor mobil yang membawa Angga," jawab Robert.


Benar dugaan Robert. Seseorang telah membohongi Angga, mengatasnamakan Robert. Anak yang polos dan lugu itu percaya begitu saja. Oh Tuhan, semoga anakku dalam keadaan baik-baik.


Sejam berada di ruangan itu akhirnya kita kembali menunggu di luar. Pasalnya, mereka tidak bisa melacak plat mobil merah muda itu. Setelah keluar dari rumah Oma, tidak ada satu kamera cctv pun, yang menangkapnya.


Aku mondar-mandir di lobi. Robert berusaha menenangkan aku. Akan tetapi, bagaimana aku bisa tenang dengan kondisi seperti ini. Aku tidak tahu akan ada bahaya apa di depan.


Aku memeluk erat Robert. Aku kembali menangis di pelukannya. Aku tidak tahu berapa hari lagi kita akan menemukan Angga. Aku juga tidak tahu, sejauh mana kita berdua menyembunyikannya dari keluarga.


"Cha, semuanya akan membaik," ucap Robert.


Kekhawatiran Robert bukan tentang harta, tapi nyawa Angga. Sejak kemarin Angga menghilang, tidak ada satu panggilan pun yang masuk pada Robert. Logikanya, jika mereka menculik Angga pasti tujuan utama adalah meminta tebusan. Berarti sekarang, bukan tebusan yang mereka incar, melainkan seluruh warisan yang diterima Angga.


"Aku tidak memberitahukan siapapun, hanya ada 4 orang yang tahu. Aku, Hendri, Oma dan kuasa hukum keluarga kita. Apa mungkin ada yang diberitahukan Hendri?" ujar Robert.


Deg. Jantungku berdetak kencang, dibarengi dengan pikiran konyol. Aku takut untuk mengutarakan isi hatiku. Akan tetapi, aku tidak mungkin membiarkan otakku memikirkannya terlalu lama.


"Rob, Zoya tidak tahu, kan?" tanyaku. Seketika Robert terdiam. Ia menatapku dalam.


Robert berlari menuju lift. Kita naik lagi menuju ruangan tadi. Robert meminta mereka mencari keberadaan Zoya di Eropa. Melacak keberadaannya mulai dari keberangkatannya beberapa hari yang lalu.


"Zo, please jangan rusak kepercayaan aku," gumam aku seorang diri.


Aku masih berharap bukan dia, tapi ucapan Robert meruntuhkan kepercayaan aku pada Zoya.


"Rob, bagaimana bisa Zoya tau?" tanyaku.


"Kemarin, setelah Hendri pergi, Zoya bertanya tentang harta warisan Hendri," jawab Robert.


Aku terduduk di kursi tanpa bisa berkata apa-apa.