
Setelah kejadian malam itu, aku masih trauma. Rasanya aku tak percaya dengan semua yang kualami malam itu. Aku benci Robert, dia pria yang sudah membuat aku jauh dari kedua orang tuaku dia juga yang sudah membuat aku trauma jatuh cinta.
Namun saat aku mulai mencintai Hendri, kini ia kembali datang di hadapanku dengan membawa sejuta luka lama yang kini kembali terngiang-ngiang di ingatanku.00
Oh, Tuhan ....
Angga mengetuk pintu kamarku, sudah seharian aku tidak keluar kamar. Aku bukakan pintu untuknya, aku tidak ingin dia semakin khawatir karena aku.
“Masuk, sayang.”
“Mi, makan dulu, yuk?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Mami enggak nafsu makan, sayang.”
“Terus, Mami maunya apa?” Tiba-tiba Hendri datang ia segera masuk ke kamarku.
“Mas ....”
“Yuk makan dulu,” ajak Hendri lagi.
“Mas, tapi aku ~ “
“Udah, cepat siap-siap kita pergi makan ke tempat Bu inem. Angga kamu juga.”
Kami berempat berangkat ke tempat makan soto Bu inem yang sangat nikmat di lidah itu. Bu Aini dan Angga sangat menyukainya, setiap kali aku bawakan untuk mereka, mereka selalu menghabiskannya tanpa sisa.
“Om, aku double porsi, ya?” pinta Angga.
Hendri mengangguk sambil ia turun dari mobil untuk memesan soto. Seperti biasa, tempatnya penuh.
Selesai makan, kami segera pulang, hari mulai gelap. Hendri belum sempat pulang ke rumahnya, karena sepulang dari kantor ia segera ke rumahku karena Bu Aini menghubunginya meminta ia segera ke rumah.
“Mas, maaf ya jadi merepotkan. Bu Aini, sih.”
“Sudah, tidak apa-apa.” Hendri mengusap pelan kepalaku.
Kami tiba di rumah, kemudian Hendri langsung meluncur pulang ke rumahnya setelah mengantar kami. Sesaat kemudian setelah Hendri berlalu, sebuah mobil silver memasuki pekarangan rumahku.
“Permisi, Mbak.”
“Desi ....”
ternyata Desi dan seorang pria yang tidak kukenal, aku menyuruhnya masuk, namun ia menolak.
“Maaf Mbak, saya buru-buru. Saya cuma mau kasih undangan.” Desi memberikan undangan pernikahannya.
Sekilas aku melirik foto mempelai pria, ternyata yang bersama Desi kini adalah calon suaminya.
“Angga, sorry ya. Mbak Desi enggak bisa hadir di malam ultahmu kemarin.”
Angga tersenyum ramah. “Enggak apa-apa Mbak.”
“Aku pamit ya, Mbak. Pokoknya kalian semua harus datang, aku enggak mau tahu.”
“Sip deh, ya sudah hati-hati, daaah ....” Aku melambaikan tanganku ketika Desi pergi dari rumahku.
Kami langsung masuk, udara malam terasa sangat dingin aku tidak mau sampai sakit dan harus tidur berhari-hari. Nanti siapa yang mengurus semua toko dan juga karyawanku.
“Sayang, sini deh.”
“Ya, Mi.”
“Mami mau ngomong serius, sini.” Aku menepuk sofa menyuruh Angga duduk di sampingku.
“Soal kemarin malam ~”
“Sudah Mi, enggak perlu dibahas, aku enggak mau dengar apa pun lagi,” jawab Angga menyela pembicaraanku.
“Sayang, bagaimanapun dia ayahmu.”
“Stop Mi!” ujar Angga.
Bagaimanapun ia membencinya, Robert adalah ayah kandungnya. Aku tidak mau kebencian dalam hatinya semakin mendalam.
“Dari kecil aku enggak punya ayah, aku selalu mengharapkan sosok ayah ada untukku, tapi apa, enggak ada. Untuk sekarang, aku enggak butuh dia lagi, Mi,” ujar Angga dingin dengan pandangan kosong ke depan.
•••
Hendri pagi-pagi tadi ia ke rumahku. Ia sangat buru-buru bersama asistennya karena mereka akan segera terbang keluar kota.
“Mas, ngapain repot-repot. Kenapa enggak telepon saja,” protesku.
“Mas mau ketemu kamu, enggak boleh?”
“Ya boleh, cuma kan kasihan kamunya buru-buru begini,” jawabku.
“Enggak apa-apa. Ya sudah aku berangkat, ya? Kamu baik-baik di rumah.” Hendri mengecup keningku sebentar. Lalu ia segera menuju bandara bersama asistennya.
Setelah Hendri berlalu Angga keluar kamar. “Siapa yang datang Mi pagi-pagi begini?” tanya Angga menghampiriku di meja makan.
“Om Hendri, sayang.”
“Oh, mau ke mana?”
“Keluar kota, ada pertemuan mendadak.”
Obrolan singkat itu berakhir, kami berdua sarapan pagi. Bu Aini pagi-pagi sebelum Hendri datang ia sudah pergi belanja.
Setelah makan, aku bereskan piring dan membersihkan meja makan. Aku bicara dengan Angga tanpa menoleh, aku bertanya ia akan kuliah di mana dan akan mengambil jurusan apa dan ia memilih fakultas apa.
Karena tidak mendapat jawaban setelah beberapa menit menunggu, aku menoleh ke tempat ia duduk tadi. Namun ternyata ia sudah tidak di sana dan sedari tadi aku bicara sendiri.
“Angga, Angga ....” Aku menggelengkan kepalaku.
Setelah semuanya siap, sembari menunggu Askia dan yang lainnya tiba, aku buka toko bunga. Tapi ternyata, Angga sudah membukanya dan ia sedang melayani pembeli.
“Mi, kemari, ngapain di sana?”
Aku menghampirinya, ia sangat ramah kepada pembeli.
“Bu, ini putranya?” tanya pembeli padaku.
Aku mengangguk sembari tersenyum dan membuatkan buket seperti permintaannya.
“Mi, hari ini aku saja yang menjaga toko bunga, ya?” pinta Angga padaku setelah pembeli itu berlalu.
“Enggak usah sayang, biar Mami saja.”
Namun Angga tetap memaksa, ia menyuruhku untuk membantu buat kue saja. Tidak lama kemudian saat perdebatan kecil antara kami masih berlangsung, Bu Aini pulang dengan membawa banyak belanjaan.
“Bantu ibu cepat, kalian ini tiap hari ada saja yang kalian perdebatkan.”
Askia yang baru datang, ia langsung ikut membantuku. Rupanya ada pesanan banyak untuk hari ini, makanya pagi-pagi tadi Bu Aini segera belanja.
“Mbak, Eca hari ini enggak masuk, gimana dong. Kita pasti akan kerepotan sekali, besok pestanya Desi lagi,” ujar Askia.
“Sudah, tenang saja aku ikut bantu-bantu hari ini, kebetulan Angga mau jaga toko bunga.”
Akhirnya hari ini aku sangat sibuk membantu mereka di dapur, tepung berlepotan di seluruh tubuhku, bahkan wajahku. Mereka tertawa melihat aku yang begitu kacau.
“Memang ya Bu, kalau jiwa bosnya keluar ya begini,” goda Askia.
“Benar, padahal dari dulu sebelum ada kalian, semua ini dia yang kerjakan sendiri,” sahut Bu Aini tersenyum padaku.
Sore harinya, semuanya telah beres. Askia segera berangkat mengantarnya ke rumah ibu-ibu yang akan mengadakan santunan anak yatim, belakangan baru ku ketahui dari Bu Aini. Setelah mengetahuinya, aku senang telah menyumbangkan tenagaku hari ini untuk kebaikan, walau mereka bayar ini semua.
Malam ini aku dan Askia rencananya mau ke butik, biasa urusan wanita. Setiap kali ke pesta ya harus dengan baju baru.
“Ya kali baju lama Mbak, gengsi dong,” ujar Askia. Lalu kami tertawa pecah setelah ucapan Askia lolos begitu saja.
Ya, untung ada Askia. Aku akan pergi bersamanya besok. Askia juga mengutarakan hal yang sama.
“Untung ada Mbak.” Lalu ia tertawa kecil.
Jangan lupa like.
Happy reading.