A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 28



Hendri telah membawaku jalan-jalan cukup jauh. Tanpa terasa kita sampai di ujung jalan kompleks perumahan itu. Letak perumahan ini di atas bukit, aku menyimpulkan seperti itu, saat melihat jurang yang cukup dalam di hadapan kami, walau ada pagar yang menjulang tinggi, aku tetap merasa ngeri. Lagi pula, saat perjalanan ke mari aku tidak terlalu memperhatikan jalan, dikarenakan aku baru tersadar dari mimpi burukku.


“Di sini tempatnya,” ujar Hendri tiba-tiba. Aku berpaling padanya yang berdiri tepat di sebelahku.


“Apa yang terjadi?” tanyaku dengan ekspresi panik, pikiranku melayang jauh, apa ada seseorang yang mati di jurang ini?


“Suatu sore, saat kakak mengajarkan aku naik sepeda motor, kita berdua hampir jatuh ke sana dan mati konyol karenaku,” sahut Hendri dengan wajah sendu, aku bisa melihat ia menyesal dengan kejadian itu.


“Karena kejadian itu, akhirnya dibuat pagar ini,” lanjut Hendri sembari tersenyum kecut. Aku mengelus dadaku, ternyata pikiranku tak benar. Aku kembali serius mendengar cerita Hendri.


“Karena kejadian itu pula, papa berubah jadi benci sama aku,” ucap Hendri lagi, ia merapatkan tubuhnya ke pagar itu.


Aku tahu sekarang mengapa Hendri membawaku kemari, ia tidak tahu memulai ceritanya dari mana. Karena semuanya berawal dari ke tidak sengajaan. Dari cerita yang aku tangkap, mungkin orang tuanya pilih kasih atau semacamnya. Namun aku masih setia mendengar sampai ia menceritakan semuanya.


“Dari kecil, papa memang tidak suka sama aku. Sejak mama hamil, papa berharap yang lahir adalah anak perempuan. Aku tidak merasa aneh dengan itu, tapi semakin dewasa aku semakin merasakan papa pilih kasih. Aku cuma punya nenek dan mama, tapi karena kejadian sore itu, mama juga jadi benci sama aku,” ujar Hendri dengan mata berkaca-kaca, ia menengadah ke atas, ia mencoba agar air matanya tidak menetes ke pipinya. Aku mengelus pundaknya. Aku paham apa yang ia rasakan. Hendri mulai bercerita tentang itu semua, kejadian masa lalunya.


Kami kembali mengayunkan langkah pulang ke rumah, hari hampir gelap. Suasana semakin dingin, angin berembus kencang. Hendri memelukku erat.


Hendri mengatakan bahwa kedua orang tuanya menganggap Hendri sengaja melakukan itu semua karena ia dendam. Papa Hendri memaki-maki mamanya karena terlalu memanjakan Hendri hingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti itu terjadi. Karena tidak terima dimarahi suaminya, mama Hendri pun melampiaskan kekesalannya pada Hendri. Beliau kecewa karena sikap Hendri, padahal ia sangat berharap suatu saat suaminya dapat melihat sisi baik Hendri, namun belum terwujud keinginannya, Hendri terlanjur membuat semuanya kacau.


“Kau tahu rasanya di benci keluarga sendiri? Rasanya sakit sekali, aku memilih punya seribu musuh di luar sana dari pada bermusuhan dengan keluarga sendiri.”


Aku tertegun, Hendri punya masalah yang lebih rumit dari yang aku kira. Sedikit demi sedikit aku mulai paham dengan cerita Bu Retno siang tadi. Berarti sampai detik ini, walau kedua orang tuanya telah tiada, hubungan Hendri dan kakaknya belum membaik.


Tanpa terasa kita hampir sampai di rumah, semua lampu telah menyala, hari semakin gelap. Cerita Hendri berhenti di depan rumah saat kami melangkah masuk.


“Dari mana saja, Nyonya?” tanya Bu Retno.


“Jalan-jalan, Bu,” sahutku.


“Di sini pemandangannya memang indah, ya sudah, mandi sana, pakaian telah Ibu siapkan di kamar,” pinta Bu Retno. Aku segera melangkah ke kamar yang beliau tunjukkan.


Usai mandi dan berpakaian, aku menghubungi Bu Aini memberitahukan keberadaanku agar beliau tidak khawatir. Setelah selesai, aku segera bergabung, mereka telah menunggu di meja makan.


“Wah, kayaknya enak, ini,” celotehku.


“Ya dong, kamu harus coba masakan Bu Retno, juara pokoknya,” sahut Hendri yang mulai menyuapi makanan ke mulutnya.


“Biasa saja, Nyonya, mari makan,” jawab Bu Retno tersipu malu.


Suasana semakin dingin, aku menggigil hebat walau telah menggunakan jaket dan selimut tebal. Bu Retno menyeduh teh hangat untukku. Hendri tampak asyik berbincang dengan pak Harto di ruang tengah.


“Ibu tidak kedinginan?” tanyaku.


Bu Retno tersenyum ramah. “Sudah terbiasa, Nyonya,” sahutnya. Aku mangut-mangut dengan jawabannya. Sudah puluhan tahun beliau tinggal di sini wajar saja.


“Tuan Hendri itu baik, hanya saja sedikit cuek dan tertutup,” ujar Bu Retno tanpa aku bertanya.


“Ya Bu, ceritakan masa kecilnya mas Hendri, dong?” pintaku.


“Wah, kalau bercerita tentang masa kecilnya, tuan. Kacau, Nyonya. Tuan itu nakal sekali, tapi tuan sangat pintar, berbagai penghargaan beliau dapatkan saat bersekolah dulu,” jawab Bu Retno. Tiba-tiba mimik wajahnya seketika berubah. Aku yang hanya jadi pendengar tampak bingung dengannya.


“Semuanya berubah saat kejadian sore itu, tuan Hendri pergi dari sini. Beliau tinggal di rumah neneknya, sekali pun beliau tidak pernah pulang. Bahkan saat kedua orang tuanya meninggal.” Bulir air mata menetes di pipi Bu Retno, beliau buru-buru menyeka dengan punggung tangannya.


Aku benar-benar pilu mendengar cerita masa lalu Hendri. Wajar sekarang ia begitu bijak dan dewasa, keadaan telah mengajarkannya banyak hal. Tidak mudah bangkit dari keterpurukannya hingga ia menjadi pria sukses seperti saat ini. Aku salut padanya. Semakin banyak cerita yang kudengar, semakin besar rasa simpati dan benih cinta yang bersemi di hati ini.


“Tidak adanya tuan Hendri di rumah tidak membuat mereka berhenti mengatur hidupnya dan membuatnya menderita,” lanjut Bu Retno.


Bu Retno tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua orang tua Hendri. Sekali lagi, Hendri tidak bisa berkutik saat mereka meminta Hendri menikah dengan putri dari rekan bisnis mereka. Karena kakak Hendri tidak mau melakukan itu, Hendri yang harus melakukan itu karena orang tuanya terikat perjanjian dengan rekan bisnis mereka.


“Karena merasa kasihan, akhirnya tuan bersedia melakukan itu,” ucap Bu Retno kembali berkaca-kaca.


Aku yakin orang yang dimaksud Bu Retno adalah Diana. Aku semakin mengerti sekarang, Zoya benar-benar telah membohongiku. Jika saja waktu itu aku mudah terpengaruh, mungkin aku tidak akan ada di sini bersama Hendri. Kembali ke kampung halamannya, dan mengetahui semuanya tentang masa lalunya.


“Sudah, Bu. Jangan bersedih, semuanya telah berlalu, semoga ke depannya mas Hendri bisa bahagia,” ucapku.


“Amin, semoga saja, Nyonya,” sahut Bu Retno.


“Lagi ngomong in apa, sih?” tanya Hendri dan pak Harto yang baru bergabung dengan kami.


Bu Retno buru-buru menyeka air matanya. Aku tertawa kecil sembari memeluk lengan Hendri yang duduk di sampingku.


“Ngomongin kamulah, siapa lagi?” sahutku. Hendri mencubit pipiku lalu kami tertawa lepas.


Aku bisa melihat, ada seberkas cahaya yang terlukis di wajah Hendri, aku percaya, dia pria yang tepat untukku. Aku tidak akan meminta apa pun, aku percaya, bila waktunya, dia akan memperjelas status kita.


Jangan lupa like.