
“Masih terpikirkan tentang Angga?” tanya Mama membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya lalu tersenyum. Aku memintanya duduk di sampingku. Mama menghempaskan bokongnya di sebelahku. Aku sandarkan kepalaku di bahunya. Mama mengusap kepalaku dengan lembut.
“Entah lah, Ma,” sahutku singkat.
“Angga sudah besar, dia memilihmu itu sudah pasti. Apa yang masih kau takutkan?” tanya Mama lagi. Beliau mengusap punggung tanganku.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku sendiri bingung, aku takut membayangkan bagaimana ke depannya. Mengingat yang terjadi pada Zoya, aku merinding.
“Aku belum tahu pasti bagaimana musuhku, Ma. Dia bisa lebih baik, atau jauh lebih buruk yang dari yang aku bayangkan,” jawabku.
“Maksudmu?” selidik Mama.
Aku mengangkat kedua bahuku. Aku menarik nafasku dengan berat. Aku mengusap wajahku dengan kasar, rasanya sangat panas. Bukan karena cuaca, tapi karena omongan Robert yang terus terngiang-ngiang di ingatanku.
“Robert bisa saja melakukan apa pun agar keinginannya terpenuhi, Ma. Kita tidak boleh anggap remeh, Angga masih labil, pikirannya masih belum dewasa,” ucapku.
Aku takut meneruskan kata-kataku. Aku tidak dapat membayangkannya. Berbagai pikiran aneh bermunculan. Pikiranku berkelana ke mana-mana tanpa persetujuan dariku. Aku lelah, semalaman tidurku tak nyenyak. Ini bukan tentang aku, tapi tenang buah hati yang aku besarkan seorang diri.
Mama mengusap kepalaku, lagi-lagi aku termenung jauh. Mama mengecup lembut kepalaku. Kekhawatiran tampak jelas di matanya. Aku tersenyum manis, mencoba menenangkannya, aku tidak ingin beliau ikut larut dalam permasalahan yang tiada akhir ini.
“Mama sudah makan?” tanyaku. Mama mengangguk sambil tersenyum.
“Kau makanlah sedikit,” pinta Mama.
Aku mengiyakannya. Aku butuh tenaga, pikiranku tersita banyak untuk permasalahan ini. Aku bangkit menuju dapur lalu mengisi perut dengan beberapa suap nasi.
Malam harinya.
Aku dan Mama sedang menonton televisi. Aku tidak ingin menyendiri di saat seperti ini, pikiranku melayang jauh ke mana-mana. Aku bisa gila.
Jam menunjukkan pukul Setengah delapan malam, jarum jam berdetak menggema di seluruh ruangan. Aku mengganti Channel seperti pinta Mama. Sinetron kesukaannya sebentar lagi tayang. Mama memanggil Bu Aini, aku cuma bisa tersenyum melihat mereka berdua.
Ting tong!!
Suara bel pintu berbunyi. Aku bangun dari dudukku dan melangkah ke depan.
“Biar aku saja, Bu,” pintaku pada Bu Aini.
Aku membukakan pintu dan mengintip ke luar. Zoya berdiri di teras. Aku melebarkan pintu dan segera keluar.
“Zo,” sapaku.
Zoya memelukku erat. Nafasnya terasa memburu, aku mengajaknya duduk. Peluh membasahi keningnya, tangannya terlihat gemetar. Aku menyipitkan mataku menatapnya penuh kebingungan.
“Ada apa?” tanyaku.
“Bisa kita bicara di dalam?” tanya Zoya.
Bu Aini keluar membukakan pintu, melihat Zoya wajahnya sedikit berubah. Aku menganggukkan kepalaku, menandakan tidak apa-apa, semuanya bisa diatasi. Bu Aini kembali ke dalam dengan wajah cemberut.
Aku mengajak Zoya ke kamarku melalui tangga yang langsung terhubung ke balkon kamarku. Aku minta Bu Aini menyeduh teh panas untuk Zoya. Tak lama, beliau membawakannya.
Aku menunggu Zoya lebih tenang, baru menyelidikinya dengan berbagai pertanyaan. Zoya meneguk teh hangat di genggamannya.
“Aku diteror, Cha,” ucapnya kemudian. Aku menoleh padanya.
“Sejak nenek meninggal, hidupku seperti di neraka,” lanjut Zoya.
“Apa yang mereka lakukan?” tanyaku.
“Besok kita datang, kau lihat sendiri,” ucapnya, ia kembali gemetar.
Aku mengambil gelas teh di tangannya, lalu menggenggam tangannya. “Zo, tenanglah,” pintaku.
Aku ingin sekali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun rasanya bukan waktu yang tepat, Zoya terlihat tidak baik-baik saja. Membayangkannya saja membuat ia gemetar. Ah, aku harus bersabar, setidaknya hingga besok pagi.
“Ayo, aku antar kau ke kamar tamu,” ajakku.
“Cha,” panggil Bu Aini saat kita berdua di bawah.
“Bu, tidak akan terjadi apa-apa, tenanglah,” bisikku di telinganya.
Zoya menghempaskan tubuhnya di ranjang. Aku duduk di sampingnya. Zoya sedikit lebih tenang, aku mengusap pundaknya. Terlepas apa yang terjadi di antara kita belakangan. Dulu, kita adalah sahabat terbaik, ke mana-mana berdua. Aku tersenyum manis mengingat semua itu.
“Istirahatlah, semoga semuanya cepat berlalu,” pintaku.
Aku bangkit dari dudukku, aku tidak ingin mengganggunya istirahat, tapi Zoya menarik tanganku, ia bangun dari tidurnya. Kemudian memelukku dengan berlinang air mata.
“Terima kasih,” lirihnya.
“Tidak perlu sungkan,” sahutku tersenyum manis. Lalu aku melepaskan pelukannya. Sebelum keluar, aku tidak lupa mengucapkan selamat malam padanya. Hari esok dengan seberkas harapan telah menunggu kita semua. Semoga.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi setelah sarapan bersama. Zoya membantuku di toko bunga, mulut kita tak berhenti mengoceh. Sekejap, kita melupakan persoalan yang terjadi belakangan. Kita kembali nostalgia masa-masa putih abu-abu dulu. Zoya tertawa lepas tanpa beban, aku bisa melihatnya dengan jelas. Zoya begitu bahagia dan jujur tanpa ada sedikit pun kebohongan di sana. Aku semakin penasaran apa yang terjadi dengan dirinya dan Robert.
“Kau ingat dengan Bu Intan tidak?” tanya Zoya.
“Ingat, dong. Guru matematika saat kita di bangku kelas XI, kan?” sahutku. Kita kembali tertawa terbahak-bahak.
Perutku terasa keram. Mulutku terasa kaku, dari tadi kita tidak berhenti tertawa. Zoya menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya ia sama sepertiku. Ia mengelus-elus pipinya.
“Cha,” panggilnya kemudian.
“Mm,” sahutku.
“Boleh tidak aku bekerja di sini, aku bisa bantu apa saja,” ucapnya yang membuatku terkejut bukan main.
“Maksudmu?” tanyaku tak percaya.
“Setelah bercerai, aku tidak punya apa-apa lagi. Robert tidak memberiku sepersen pun. Aku cuma punya rumah nenek. Sekarang kau tahu sendiri apa yang terjadi,” ucapnya panjang lebar.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku bingung antara benar atau tidak, percaya atau tidak apa yang sebenarnya terjadi. Aku menggaruk tengkukku.
“Setidaknya, aku punya tempat tinggal, Cha,” lanjutnya lagi. Zoya menundukkan kepalanya.
“Zo,” panggilku.
Aku menatapnya dengan tatapan mata tak berkedip. Aku ingin melihatnya sendiri, sejauh mana ia jujur padaku, tapi aku tidak menemukannya, yang ada hanya kesedihan yang mendalam.
“Kau punya hutang penjelasan padaku,” ucapku sembari memeluknya erat.
“Apa itu jawabnya 'ya', Cha?” tanya Zoya.
Aku menganggukkan kepalaku. “Tinggallah selama yang kau mau, bantu apa saja yang kau bisa,” jawabku.
Aku tidak tahu bagaimana dengan keputusanku ini. Benar atau salah, tepat atau tidak. Entah lah. Yang aku tahu, aku tidak mungkin membiarkannya dalam keadaan buruk begitu saja. Aku berharap semuanya baik-baik saja. Tuhan, bantu aku.
“Hari ini aku mulai bekerja, ya?” pintanya sekali lagi.
“Seperti yang kau mau, aku bisa apa?” jawabku. Lalu kita berdua tertawa lepas.
Bu Aini dan Mama melihat kita dari kejauhan. Terlihat keduanya juga bahagia melihat kita berdua kembali akur seperti dulu lagi. Seperti yang aku katakan semalam, hari ini lebih baik dari kemarin bukan?
Jangan lupa like ya.