A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 65



Tok Tok!


"Buka pintunya, keluar!"


Aku terperanjat mendengar suara ketukan pintu disertai teriakan dari luar. Aku membuka mata perlahan, aku masih linglung, belum sepenuhnya tersadar. Tak sempat nyawaku terkumpul semua untuk bangkit. Lagi-lagi teriakan dari luar membuatku spontan duduk.


"Buka pintunya, jika tidak kami akan paksa masuk!"


Aku bangun melangkah ke depan, begitu pula dengan kedua keluarga baruku, yaitu kakek dan nenek. Sebelum membuka pintu, aku sempat mengintip dari balik jendela. Ada beberapa orang di luar.


"Ada apa ribut-ribut diluar?" tanya kakek padaku. Aku hanya membalas dengan gelengan kepala.


"Ada apa ya?" tanyaku ketika pintu sudah terbuka.


"Ikut kami ke kantor kelurahan, kami mendapatkan laporan kasus penipuan!" ucap salah seorang dari kawanan mereka dengan menarik kasar tanganku. Aku meringis kesakitan dengan perlakuan kasar itu.


"Penipuan apa, saya tidak melakukan apapun?" tanyaku masih tak mengerti. Aku mencoba menarik tanganku.


"Ada apa dengan cucu saya?" tanya nenek.


Nenek mencoba mendekat. Namun beberapa dari pria di sana melarangnya mendekat.


"Nek, kalian berdua dalam bahaya. Jangan mudah percaya, kita tidak tahu menahu dengan wanita licik ini," ujar pria itu.


"Nek tolong aku, aku benar-benar cucu nenek. Kakek, bantu aku?"


"Jangan bawa cucu saya!" bentak nenek kepada pria-pria di sana.


Aku tak habis pikir. Pikiranku segera tertuju kepada Bu Narsih. Pasti wanita licik itu yang sudah melapor kepada aparat desa. Tanpa sempat menjelaskan apapun, mereka membawaku ke kantor desa. Aku tak bisa mengelak lagi.


Setibanya di sana. Aku mulai diserang dengan berbagai pertanyaan yang tak masuk akal. Aku dibentak-bentak dan rambutku dijambak oleh pria berbadan besar dengan kulit gelap.


Awalnya aku tak merasa panik, namun mendengar setiap pertanyaan yang menjebak. Aku jadi takut.


Karena kesal tak mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan dariku, pria berbadan besar itu keluar dari ruangan sempit dan panas itu. Ruangannya sedikit kotor dan pengap.


Cukup lama mereka membiarkan aku sendiri di sana. Aku mondar-mandir di ruangan tersebut. Ruangan yang hanya beriksan dua kursi dan satu meja kecil itu cukup mencekam.


Selang beberapa waktu. Wanita sebaya denganku masuk ke ruangan itu. Ia duduk berhadapan denganku, dengan tatapan dingin tak bersahabat, menatapku tak berkedip.


"Mbak, saran saya. Tawar saja mereka lebih besar dari yang Bu Narsih tawarkan. Siapa tahu mereka berpihak pada, Mbak?" ujar wanita itu membuka obrolan.


Aku tersenyum kecut. Rupanya mereka adalah komplotan penipu yang mencoba mengelabui nenek untuk mengambil harta warisan. Aku tak menyangka, Bu Narsih telah melangkah sangat jauh. Tak bisa ditebak, aku mengira ia wanita baik, ternyata ia cukup licik.


"Jika tidak, kamu akan tanggung sendiri akibatnya!" lanjut wanita itu dengan nada menyeringai.


"Semua hak mereka jatuh ke tanganku. Karena aku cucu mereka satu-satunya!" ucapku tegas.


Wanita itu tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Aku sengaja membuatnya kesal meski dalam hati aku juga takut terjadia sesuatu padaku.


"Sayang, bangun dari mimpimu!" teriak wanita itu dengan menggebrak meja. Ia bangun dari duduknya kemudian mendekat padaku seraya berbisik, "Jika mau selamat, lakukan apa yang aku katakan."


"Hubungi keluargaku, kita akan membuktikan semua, siapa yang benar-benar penipu di sini!"


"Tidak ada yang perlu dihubungi, kamu tidak akan kemana-mana dan tidak ada yang bisa membantumu di sini!" ujar wanita itu dengan melipat kedua tangan di dadanya.


Mulutnya melempar senyuman sinis, kemudian ia berjalan keluar dari ruangan itu. Aku juga mendengar pintu dikunci dari luar.


"Hei, jangan kunci aku di sini!"


Aku berteriak histeris meminta tolong. Namun sayang, tidak ada yang bisa menolong. Sunyi, mencekam. Hanya aku di ruangan itu.


Aku tidak sempat mengambil dompet apalagi ponsel, aku tidak bisa meminta bantuan kepada orang luar. Aku hanya bisa pasrah.


Aku tidak tahu berapa lama aku sudah di ruangan sempit ini. Perutku sudah sangat kelaparan. Badanku terasa lengket, aku hanya bisa diam dan tak berdaya. Bagaimana bisa aku menolong kakek dan nenek, sementara aku sendiri terperangkap di sini?


Aku berharap mama bisa kirim bantuan, aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Aku tidak ingin mati konyol ditempat ini. Bagaimana nasib kedua orang tua itu. Aku takut mereka diancam dan disandera sepertiku.


Semuanya terjadi di luar dugaan. Aku mengira akan semudah itu membawa mereka ke kota. Namun sayangnya, rencana telah tersusun rapi. Bu Narsih menyiapkan semuanya jauh-jauh hari.


"Buka! Tolong!"


Aku terus menjerit dan meminta tolong. Namun tak ada siapapun yang datang membantu. Hanya diriku sendiri yang cuma bisa pasrah.


Karena kelelahan, aku pun merasa kantuk. Perutku sudah sangat kelaparan. Kerongkongan terasa kering. Aku tertidur pulas di lantai.


*


Cukup lama rasanya aku tertidur di sana. Aku tidak tahu apakah siang sudah berganti malam. Yang aku tau, aku masih berada di sana. Belum ada bantuan yang datang untung menolong. Aku hanya berharap mama dan Angga datang.


Cukup biadab perlakuan mereka terhadapku. Mereka membiarkan aku kehausan dan kelaparan di sini. Apa mereka sengaja membiarkan aku mati perlahan di sini. Aku terus berusaha mencari celah agar bisa keluar. Namun tenagaku terlanjur habis, ditambah aku lemas karena tak makan minum.


"Buka! Aku mohon, tolong buka!"


Teriakku yang kesekian kalinya. Aku hampir putus asa dan menyerah. Namun tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan. Aku mundur ke belakang.


Namun perlahan suara langkah itu semakin menjauh dan hilang. Aku kembali berteriak dengan sisa-sisa tenagaku yang hampir habis.


"Tolong aku... ."


Aku tak bisa lagi bersuara, aku terjatuh ke lantai. Tanganku sudah pucat, aku benar-benar lemas. Aku kembali berbaring di lantai, cuaca sangat dingin. Aku bisa pastikan ini sudah malam.


Waktu terus berlalu, detik menit jam terus berganti. Aku kembali terduduk dilantai dan pasrah. Aku masih saja berharap akan ada setitik harapan untukku.


"Angga, bantu Mami, Nak," ucapku lirih.


Aku yakin ia akan merasakan aku sedang tidak baik-baik saja. Semoga ia bisa datang membawaku pulang bersama eyangnya juga. Aku juga tau, mama tidak akan tinggal diam, mama pasti bantu.


Aku mencoba memejamkan mataku, berharap ketika aku terbangun nanti. Akan terjadi sesuatu yang baik. Akan ada secercah harapan untuk kita keluar dari pulau itu.


"Pa, bantu aku."


Aku berjanji akan membawa mereka bertemu papa. Semoga saja aku bisa mewujudkan janji itu.