A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 49



“Oma, Mami adalah ibu yang telah melahirkan aku, bukan ibu angkat. Dan aku bukanlah anak Tante Zoya yang Oma ceritakan,” ujar Angga memperjelas pada Omanya.


 


Tak terasa, air mata mengalir di pipiku. Putraku telah besar, ia tidak lagi malu menerima kenyataan, memang benar, ia lahir dari rahimku tanpa seorang ayah, ia juga tahu dirinya anak di luar nikah.


 


“Mami yang telah membesarkan aku sendiri, aku bangga punya ibu yang kuat seperti Mami, hingga detik ini, Mami masih menjadi yang terbaik,” ucap Angga yang membuat nenek terpana. Beliau memeluk Angga.


 


Hari ini air mata ini menjadi saksi, betapa bahagianya aku memiliki seorang putra yang begitu baik dan pengertian. Aku merasa, batu yang ada di kepalaku sudah hilang. Perasaanku sangat lega, Angga hebat. Ia tidak menjatuhkan Robert tapi tidak juga memujinya, kesalahan tetaplah kesalahan.


 


“Oma memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Oma yakin, papamu punya jawabannya, pasti sesuatu telah terjadi yang membuatnya menyesal hingga kini, Oma bisa merasakan itu.”


 


Nenek membawaku ke pelukannya. Hari ini, sudah berapa kali aku menangis aku sudah lupa. Aku sangat bahagia, akhirnya satu persatu mulai ada titik terangnya.


 


“Bersabarlah, aku akan menanyakan semuanya pada Robert. Sementara, kita bisa menunda sebentar saja pernikahan kau dan Hendri?” tanya nenek padaku.


 


Aku mengangguk sambil tersenyum. Pertanyaan apa pun yang akan nenek tanyakan pada Robert, tidak ada pengaruhnya denganku. Aku menyetujui untuk menunda bukan karena sesuatu, aku juga perlu membenahi diri untuk memulai lembaran baru.


 


Setelah semuanya selesai. Tidak ada lagi tangisan dan air mata. Nenek mengajak kita makan siang bersama. Terlihat sekali nenek sangat bahagia, sesekali beliau menyeka ujung matanya, beliau menahan tangisnya.


 


Setelah makan, kita lanjutkan kembali mengobrol di ruang tengah. Hingga tanpa sadar, waktu terus berlalu, hari mulai sore. Nenek terlihat sedih ketika aku dan Angga berpamitan. Beliau terasa berat melepaskan pelukannya dari Angga.


 


“Kapan-kapan kita akan bertemu lagi, Oma,” ucap Angga menenangkannya.


 


“Baiklah,” sahutnya pelan.


 


Aku dan Angga keluar dari rumah nenek, tak lupa juga nenek mengantarkan kita hingga ke teras. Namun sekali lagi aku tidak bisa menahan air mataku ketika nenek memanggil Angga.


 


“Jika rindu, apa bisa Oma menghubungimu?” tanya Oma. Air mata berlinang di pipinya. Angga menganggukkan kepalanya kemudian ia memeluk nenek dan menyeka air matanya.


 


 


•••


 


 


 


Malam harinya. Bulan bersinar terang, angin berembus sepoi-sepoi. Aku dan Zoya duduk di balkon kamarku. Seperti biasa, di temani teh angan dan camilan, kita bercerita panjang lebar di sana.


 


Setelah mengetahui sesuatu tentang Zoya dari nenek tadi, aku merasa janggal, bagaimana caranya aku mengatakan padanya, aku tidak ingin melukai hatinya. Tapi, jika tidak aku katakan, aku akan merasa sangat bersalah. Aku bingung.


 


Tiba-tiba ponselku berdering. Aku sangat kaget. Hendri menghubungiku. Setelah seharian tanpa kabar, akhirnya ia ingat juga padaku.


 


“Halo sayang,” sapa Hendri.


 


“Iya, Mas,” sahutku.


 


“Lusa, acara bulanan panti, seperti biasa, aku pesan kue, ya?” pinta Hendri.


 


Aku terdiam. Setelah seharian tanpa kabar, saat ia menghubungiku, hal pertama yang ia katakan bukan menanyakan tentang kabarku.


 


“Iya, Mas, baik,” sahutku berpura-pura tidak apa-apa.


 


“Malam ini aku sangat sibuk di kantor, besok aku akan ke rumahmu, ya?” pintanya lagi.


 


“Iya, sayang,” jawabku. Kemudian, panggilan singkat itu pun berakhir.


 


 


Cukup lama suasana menjadi hening. “Zo,” panggilku. Tanpa menjawab, Zoya menatapku.


 


 


Zoya tertawa kecil, pipinya menjadi merah. “Aku jadi malu ketika mengingat itu. Jangan diingat lagi, Cha. Saat itu, entah apa yang terlintas di pikiranku. Aku minta maaf padamu,” jawabnya.


 


“Tidak, tidak, aku serius. Terlepas dari tujuanmu membuat pikiranku kacau, ada alasan lain tidak, mengapa sampai kau berpikir seperti itu?” tanyaku lagi.


 


Sesaat, Zoya terdiam, kemudian ia menjawab, “Sudah cukup lama ia menyendiri. Nenek selalu menjodohkannya, tapi ia selalu menolak. Sampai ia bertemu denganmu, ia baru membuka hatinya kembali,” sahut Zoya panjang lebar yang tak jauh beda dari cerita nenek.


 


“Tapi selain itu tidak ada, aku hanya mengatakan untuk membuatmu terluka, jangan diambil hati,” lanjutnya.


 


Aku tersenyum. Zoya benar. Tidak ada hal lain, saat itu, ia hanya ingin membuat hubunganku dan Hendri hancur. Selebihnya tidak ada.


 


 


Aku menyeruput teh hangat yang perlahan mulai dingin. Tubuhku terasa lebih segar hari ini, mungkin karena pikiranku yang sudah tidak ada lagi beban seberat kemarin.


 


 


“Bagaimana tadi, kau jadi bertemu Nenek?” tanya Zoya.


 


“Oh, aku lupa bercerita padamu, aku minta maaf,” jawabku.


 


“Mm, sepertinya kabar baik, terlihat sekali kau sangat bahagia,” ucap Zoya menggodaku, ia mengedipkan matanya.


 


Aku mulai bercerita padanya tentang kejadian tadi. Tanpa sadar air mata bahagia kembali berlinang di pipiku, begitu pula dengan Zoya, ia sangat terharu mendengar ceritaku. Kita berdua berpelukan erat.


 


“Selamat ya, Cha. Akhirnya kau menemukan cintamu yang sesungguhnya, aku ikut bahagia,” ucap Zoya padaku.


 


Aku sedikit merasa aneh dengan kata-kata itu, terlihat sangat puitis sekali, tapi tidak apa-apa aku sangat bahagia mendengarnya.


 


 


“Terima kasih, Zo,” jawabku.


 


“Ngomong-ngomong soal cucu nenek, jika saja anakku masih ada, mungkin nenek akan lebih bahagia lagi, mempunyai dua cucu yang usianya tak jauh beda,” ucap Zoya, kali ini gilirannya yang tidak bisa menahan air matanya.


 


“Maksudmu?” tanyaku.


 


“Panjang ceritanya, Cha. Yang jelas, anakku sudah tenang di alam sana, mungkin begitu lebih baik, dari pada ia menderita di panti asuhan,” jawab Zoya tersenyum seraya menyeka air mata dengan punggung tangannya.


 


“Tunggu, maksudmu, kau tahu anakmu dibuang mertuamu?” tanyaku begitu spontan. Aku baru tersadar setelah kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku ini.


 


“Maaf, maksudku, mereka memisahkannya darimu?” tanyaku lagi penuh penyesalan.


 


“Ya, ibu penjaga panti memberitahukan padaku, sesekali aku datang menyusuinya tanpa sepengetahuan keluarga Robert,” cerita Zoya padaku.


 


Aku melihat keikhlasan dari mata Zoya. Seperti pepatah mengatakan, jika seseorang sudah bisa menceritakan masa lalunya, berarti mereka sudah berdamai dengan kenyataan.


 


“Enam bulan kemudian, anakku meninggal dunia setelah mengalami demam tinggi, aku tak sempat merawatnya, Cha. Aku cuma melihat jasadnya, tubuh kecilnya terbaring kaku,” lanjut Zoya dengan tersenyum manis, namun air mata berlinang membasahi pipinya.


 


“Aku turut berduka, Zo,” ucapku sambil membawanya ke pelukanku.


 


“Aku sudah ikhlas, Cha,” ucap Zoya.


 


Tiba-tiba gerimis berjatuhan membasahi kita berdua. Langit yang tadinya bersinar terang dengan bulan dan bintang menghiasinya, kini berubah menjadi hitam dan kelam. Aku dan Zoya berlari ke dalam sebelum tubuh kami dibasahi oleh hujan deras.


 


 


Jangan lupa like.