
Setelah 3 hari belakangan uring-uringan di rumah. Akhirnya hari ini aku keluar rumah juga, walau awalnya sedikit terpaksa, namun perlahan aku mulai menikmati perjalanan hari ini. Pagi-pagi tadi Askia datang, ia memaksaku jalan-jalan, tidak hanya berdua, semua karyawanku juga ikut
Pikiranku sedikit lebih tenang saat aku belanja-belanja. Aku belanja sepuasnya bersama mereka, tak lupa membeli untuk Angga juga.
“Cha, yang tak penting tak usahlah kau belanjakan lagi,” ujar Bu Aini menatapku sembari menggelengkan kepalanya.
“Ya, Bu.”
Setelah puas belanja dan makan-makan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Setelah membayar semuanya, Bu Aini dan Askia membawa semua barang belanjaan menuju tempat parkir. Aku menyuruh mereka menunggu di mobil. Tiba-tiba aku merasa perutku mules, makanan yang aku santap tadi lumayan pedas. Tidak lama kemudian, setelah menunaikan hajatku di toilet, aku segera menuju tempat parkir.
“Aku tidak berbohong, Nak. Dompetku ketinggalan di mobil cucuku, aku tidak berniat mencuri. Aku tidak tahu ke mana cucuku pergi,” ujar seorang nenek-nenek.
“Sudahlah Bu, Ibu pergi saja, Ibu tak sanggup membayar barang ini semua,” ujar petugas kasir tersebut tidak sopan.
Aku berdiri dari kejauhan mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya nenek tersebut ketinggalan dompetnya, sehingga beliau kesulitan membayar belanjaannya. Aku tak tega melihatnya, kemudian aku mendekati kasir.
“Biar aku yang membayarnya, Mbak,” pintaku kemudian sembari memberikan kartu kredit pada petugas kasir itu.
“Tidak perlu, Nak,” sahut sang Nenek menatapku.
“Diana!” teriak beliau kaget. Aku juga terperanjat mendengar teriakannya.
Lalu petugas kasir menyebutkan jumlah belanjaan Nenek itu. Aku sedikit terkejut saat mendengar jumlah belanjaan nenek di sampingku. Aku melirik belanjaannya, aku penasaran, beliau beli apa saja sehingga jumlahnya begitu fantastis.
“Terima kasih. Nak, kita cari cucu Nenek, ya? Biar Nenek ganti uangmu,” ujar Nenek itu padaku.
“Nanti saja, Nek. Mari ...” ajakku.
Aku memapahnya saat turun lift, lalu aku keluar dari Mall tersebut dengannya. Beliau terus menatapku tanpa berkedip, saat aku menatapnya balik, beliau membuang pandangannya.
“Cucu Nenek di mana?” tanyaku.
“Tadi katanya pergi sebentar, tapi sudah 1 jam lebih belum kembali juga,” sahut beliau.
“Coba Nenek hubungi?” pintaku.
“Maaf, Nak. Ponsel Nenek juga ketinggalan di mobilnya,” ujar Nenek semakin tidak enak.
Aku menggaruk tengkukku. Aku kasihan padanya, usianya sudah tua, aku tak sampai hati meninggalkan beliau sendirian di sana. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?
“Cha, kenapa lama sekali, Ibu cari ke mana-mana,” ujar Bu Aini membuatku kaget.
“Bu, bagaimana kalau ibu dan Askia pulang naik taksi saja? Aku mau mengantar Nenek ini pulang, kasihan beliau sendirian,” pintaku pada Bu Aini dengan perasaan tidak enak.
“Maaf merepotkanmu, Nak,” ujar Nenek lagi.
“Tidak apa-apa, Nenek tunggu di sini sebentar, ya?”
Setelah Bu Aini dan Askia pergi. Aku mengantar Nenek itu pulang, beliau menunjukkan arah rumahnya padaku. Aku rasa, meski sudah tua beliau tidak pikun. Jalan yang ku lewati sekarang, menuju kompleks perumahan elite di kawasan Mangga, sepertinya memang benar cucunya orang kaya raya.
“Kau mirip sekali dengan cucuku,” ucap Nenek itu tiba-tiba, menyadarkanku dari lamunan.
“Oya,” sahutku tersenyum manis. Beliau menganggukkan kepalanya.
“Mampir dulu, Nak,” ajak nenek padaku.
Aku menurunkan barang belanjaan beliau serta memapahnya masuk. Lalu keluar seorang satpam bertubuh besar menjemput Nenek.
“Terima kasih sudah membantu Nenek, ya? Tinggalkan nomormu biar nenek hubungi, saat cucu Nenek pulang nanti akan Nenek ganti uangmu,” pinta Nenek padaku.
Setelah meninggalkan nomorku pada secarik kertas, lalu aku berpamitan pada Nenek. Beliau mengantarku sampai mobil, aku melambaikan tanganku saat berlalu meninggalkan rumah mewahnya.
Malam harinya, setelah makan malam bersama Angga dan Bu Aini, aku segera masuk kamar. Aku merasa sangat ngantuk, mungkin karena terlalu lelah siang tadi. Tanpa menunggu waktu lama aku segera terlelap.
Baru sekitar 30 menit aku tertidur tiba-tiba aku dikagetkan dengan bunyi ponselku yang sangat nyaring. Aku mengerjapkan mataku sebentar, lalu aku meraih ponsel yang ada di nakas. Satu panggilan tak terjawab serta satu pesan. Aku mengerutkan keningku karena mendapat panggilan dari nomor tak dikenal malam-malam begini.
Terima kasih telah membantu Nenek. Bisa bertemu besok? Akan ku gantikan uangmu.
Aku tak sempat membalas pesan cucu Nenek itu. Aku tak sanggup menahan rasa kantukku tanpa menunggu lama pun aku kembali terlelap dalam tidurku.
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali saat aku sedang sarapan, ponselku kembali berdering, aku meliriknya sekilas, masih dengan nomor tak dikenal. Itu pasti cucu nenek pikirku. Namun aku tak menjawabnya aku menyelesaikan sarapanku dulu.
Ting!
1 pesan masuk.
Nenek mengajakmu bertemu. Bisa kita makan siang bersama? Atur tempat sesuai seleramu, jika kau berkenan.
Aku mulai mengetik balasan untuk cucu Nenek tersebut. Aku mengiyakan permintaan mereka, aku menyuruh mereka saja yang memilih tempatnya. Biar aku yang mendatangi mereka berdua siang nanti.
Setelah kejadian kemarin aku masih mengacuhkan Hendri, sampai hari ini aku masih tidak menjawab panggilan darinya, Hendri masih berada di luar kota, mungkin hari ini dia akan kembali.
Hari ini aku lumayan sibuk di toko bunga, hingga tanpa terasa hari mulai siang. Aku hampir saja melupakan janjiku untuk bertemu dengan nenek siang ini. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap, lalu segera meluncur pergi ke alamat yang telah dikirim cucu nenek, pagi tadi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Setelah masuk, aku mencari keberadaan Nenek, aku sedikit linglung karena restoran tersebut cukup ramai. Lalu tiba-tiba Nenek melambaikan tangannya padaku, Nenek duduk di pojokan, aku segera menemui beliau.
“Maaf, lama menunggu, Nek,” ucapku.
“Nenek baru saja tiba, mari silakan duduk,” ajak beliau. Aku duduk berhadapan dengannya.
“Cucu nenek sedang dalam perjalanan,” ujar beliau padaku, padahal aku tak menanyakan apa pun padanya.
Lalu nenek memanggil pelayan, kemudian beliau memesan makanan untuk kami bertiga. Kebetulan sekali, menu yang beliau sebutkan, semua makanan favoritku. Sembari menunggu cucu nenek datang, aku berbincang-bincang dengannya. Tidak lama kemudian pesanan kami tiba, tapi cucu Nenek belum juga datang.
“Maaf, aku terlambat,” ujar seorang pria dari belakang. Aku menoleh padanya.
“Chalisa!!!”
Apa ini tidak salah, cucu nenek adalah Robert? Aku bangun dari duduk ku, Aku cukup terkejut mengetahui Robert adalah cucu Nenek.
“Kalian berdua saling kenal?” tanya Nenek kemudian. Robert terdiam mendapat pertanyaan seperti itu dari Nenek. Sementara aku tersenyum kecut. Robert pasti gelagapan tidak tahu harus berkata apa.
Jangan lupa like, ya.