A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 22



Pagi ini, setelah semua siap, aku segera berangkat menuju panti, rasa penasaran yang dari kemarin ku pendam semakin memuncak. Tanpa memberitahukan pada Bu Aini ke mana tujuanku pergi, aku segera meluncur.


Aku sedikit lega, akhirnya Desi kembali ke kota, jadi aku tidak perlu datang ke toko yang lumayan jauh dari rumahku itu. Dari semalam, Hendri terus menghubungiku, namun satu panggilan pun tidak aku terima.


5 menit kemudian, arah menuju panti belok kanan, aku sedikit familiar dengan jalan itu. Aku terus mengikuti arahan google map yang semakin dekat dengan panti. Aku sedikit terkejut, ternyata panti asuhan yang di maksud Zoya merupakan panti yang aku sendiri menjadi donatur di sana.


Setelah menepikan mobil, aku segera turun. Anak-anak jam begini sedang sekolah, jadi panti lumayan sepi. Aku melangkah masuk, di depan gerbang, aku berpapasan dengan pak satpam yang berjaga.


“Pagi, Pak,” sapaku.


“Pagi, Bu. Mari silakan masuk.”


Seorang wanita paruh baya sedang menyapu halaman tersenyum padaku dari kejauhan. Setelah meletakkan peralatan sapunya, ia menghampiriku.


“Neng, sebentar saya panggilkan Ibu Maryam,” pintanya setelah dekat denganku. Aku mengangguk dan menunggu di teras.


“Nak Chalisa, mari masuk?” ajak Bu Maryam.


Aku mengikuti Bu Maryam masuk ke ruang kerjanya. Ia pasti menyangka aku datang untuk berdonasi. Namun tidak ada salahnya, aku tetap akan berdonasi walau itu bukan tujuan utamaku datang kemari.


“Bu, sebenarnya saya kemari ada yang ingin saya tanyakan,” kataku setelah selesai berdonasi.


“Oh, boleh. Ada apa?” tanya Bu Maryam, kemudian ia menutup buku data di depannya.


“Maaf Bu, kita sambil melanjutkan pekerjaan Ibu saja, saya takut mengganggu pagi-pagi begini,” ujar ku.


“Boleh, ayo ikut saya ke dapur. Saya sedang masak untuk siang nanti.”


Aku melangkah masuk mengikuti Bu Maryam. Aku mengarahkan pandanganku ke seluruh ruangan. Aku berharap ada foto atau lainnya yang menjawab dari semua rasa penasaranku tanpa harus banyak bertanya pada Bu Maryam. Namun sayangnya tidak ada.


Tiba di dapur, ternyata ada beberapa anak gadis lainnya yang membantu Bu Maryam, ia tak sendiri. Begitu melihatku masuk, mereka sedikit kaget.


“Pagi, Mbak,” sapa salah seorang gadis, ia menundukkan kepalanya sembari tersenyum. Aku menepuk bahunya, dan duduk di sebelahnya.


“Tunggu sebentar ya, Nak Chalisa.”


Begitu Bu Maryam menghilang dari pandanganku, aku segera mencuri kesempatan untuk bertanya pada gadis di sampingku ini.


“Hai, Dik. Tadi kenapa kaget saat pertama kali lihat aku? Ada yang aneh?” tanyaku.


Ia tersenyum dan wajahnya sedikit berubah, ia tampak sedih, kemudian ia menundukkan kepalanya. Aku kembali bertanya, aku belai lembut pundaknya, aku bertanya apa yang membuat ia bersedih.


“Aku rindu mbak Diana,” ujarnya kemudian.


Aku mengerutkan keningku. “Siapa itu mbak Diana?” tanyaku lagi.


“Beliau pemilik panti ini,” jawabnya.


Aku baru teringat, waktu pertama kali aku mendatangi panti ini, Bu Maryam sudah bercerita. Wanita yang di maksud gadis ini adalah Diana yang di makamkan di halaman depan. Lalu kenapa ia menangis, apa hubungannya dengan pertanyaan ku?


“Melihat Mbak. Aku jadi teringat dengan beliau, semenjak beliau tidak ada, rasanya hidupku kembali buruk, aku tidak semangat menjalani hari-hariku.”


Tunggu, wanita ini berkata, ia melihatku membuatnya kembali mengingat Diana. Apa Diana istrinya Hendri? Apa wanita itu yang mirip denganku?


Sejuta pertanyaan kembali memuncak di pikiranku. Tuhan, sanggupkah aku mendengar semua kenyataan yang membuat hatiku hancur lagi.


Tidak lama kemudian Bu Maryam kembali ke dapur. Aku ingin tahu banyak dari gadis yang masih belum kuketahui namanya itu. Namun sayang, kesempatan itu hilang saat Bu Maryam duduk bersama kami.


“Maaf ya Nak Chalisa lama,” ujar Bu Maryam.


“Tidak apa-apa.”


“Oya, apa yang ingin Nak Chalisa tanyakan?”


Bu Maryam terdiam sebentar sebelum ia menjawab pertanyaanku dengan penuh keraguan. “Hendri suami Non Diana maksud Nak Chalisa?”


Aku hanya mengangguk, aku ingin tahu apa jawaban beliau selanjutnya. Atau memang belakangan ini beliau sudah tahu semuanya, aku kembali teringat, ini tidak mungkin terjadi secara begitu saja. Pantas saja, panti asuhan ini selalu memesan kue bulanan padaku. Pasti Hendri yang memintanya pada Bu Maryam.


“Jika Nak Hendri yang kau maksud, tentu saja ibu kenal,” ujar Bu Maryam sembari tersenyum.


Lalu Bu Maryam bangkit dari duduknya ia melangkah masuk ke dalam, aku mengikuti ke mana beliau pergi.


Aku terpaku saat Bu Maryam mengajakku masuk ke sebuah kamar yang cukup rapi dan wangi. Mataku berhenti tepat di sebuah pigura berukuran 20 inci yang terpampang di kamar itu, aku tak berkedip sama sekali. Kudekati, perlahan kusentuh kaca itu dengan jemariku, aku sedang bercermin, ia benar-benar mirip denganku, aku tidak percaya apa yang kulihat ini.


“Mirip sekali denganmu, bukan?”


“Bu, bisa ibu ceritakan lebih banyak tentang Diana?” tanyaku tanpa menoleh, aku masih setia menatap foto itu.


“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak berhak menceritakan apa pun, biarkan Nak Hendri yang menjawabnya.”



Aku pulang dengan kehampaan, aku masih belum menemukan jawaban apa pun. Yang aku tahu wanita itu sangat mirip denganku. Aku kembali teringat perkataan Zoya, mungkinkah Hendri mencintaiku hanya karena aku mirip dengan seseorang di masa lalunya?


“Dari mana saja kau?” tanya Bu Aini mengagetkanku.


“Bu, ada urusan sebentar. Apa ada masalah selama aku pergi?”


“Tidak, hanya Hendri yang terus menghubungi, kenapa nomormu tidak bisa di hubungi?”


Aku terdiam, Bu Aini menarik tanganku ke halaman belakang. “Ada apa, ceritakan?”


Beliau orang yang paling mengerti, melihatku begitu kacau Bu Aini tidak tinggal diam, ia terus mendesakku untuk bercerita.


“Dari mana semua informasi ini?” tanya Bu Aini setelah aku selesai bercerita.


“Zoya ....”


“Chalisa ... Chalisa ... kau masih saja berhubungan dengannya, apa kau tidak kapok dengan semua kebohongannya?”


“Tapi wanita itu benar-benar mirip denganku, Bu.”


Bu Aini menghembuskan nafasnya perlahan, ia usap kepalaku penuh kasih. “Jangan terlalu percaya, sabar sampai Hendri ceritakan semua, pasti ia punya alasan.”


Aku memeluk kedua lututku, kubenamkan kepalaku, aku meratapi nasibku yang begitu memilukan. Aku selalu gagal dalam persoalan asmara. Tuhan ... hati ini lelah, jeritku sore itu.


“Ternyata lagi di sini, aku cari-cari juga,” ujar Angga, ia berdiri di pintu belakang.


“Angga, sini sayang ...” panggilku.


“Coba tebak?” ujarnya.


“Sudah, palingan juga kau mau bilang kau di terima di kampus pilihanmu itu!” timpal Bu Aini.


“Bukan, itu sudah biasa, lain dong!” sanggah Angga.


“Hm ... apa ya?”


“Ah ... kalian payah. Viona enggak jadi kuliah di luar negeri, aku senang banget, Mi,” ujar Angga kemudian.


Bu Aini mencubit hidung Angga. “Kau ini, kuliah yang benar, masih bocah pacaran saja yang kau pikir.”


Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua, hanya mereka yang bisa membuatku kembali tersenyum. Angga, ia sudah dewasa, biar lah ia menjalani kehidupannya dengan layak.