
Aku tidak sabar ingin menanyakan semuanya pada Hendri. Pikiranku tak tenang, ia berkelana ke mana-mana. Ya Tuhan, bagaimana mungkin itu semua terjadi padaku?
“Sayang, kau kenapa?” tanya Hendri berlari kecil menghampiriku. Aku mondar-mandir di depan mobilnya seperti orang kebingungan.
“Tidak, aku baik, ayo kita pulang,” sahutku.
Dalam perjalanan aku masih belum menanyakan apa pun, jika tadi aku tidak sabar ingin mendengar penjelasannya, namun sekarang sebaliknya. Aku takut mendengar jawabannya, bagaimana jika memang benar, iya.
“Tadi mau bertanya, ada apa?” tanya Hendri lagi.
“Ah, iya, aku mau bertanya,” sahutku tersenyum kecut.
“Sayang, katakan ada apa?” Hendri mengulangi pertanyaannya.
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Rasanya dunia ini sangat sempit, aku bertemu orang-orang yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Bagaimana ini bisa ini terus terjadi padaku. Baru saja kemarin aku sangat syok mengetahui Zoya istri Robert. Sekarang Hendri dan Robert. Ya Tuhan.
“Apa hubunganmu dengan Robert?” tanyaku setelah cukup lama mempertimbangkan semuanya.
Hendri tertawa kecil. “Aku pikir apa yang mengganggumu, ternyata itu,” ucapnya kemudian.
Aku menatapnya tajam. “Ternyata itu, apa maksudmu ternyata itu?” tanyaku dengan nada kesal.
Hendri mengusap punggung tanganku. “Jangan salah paham,” ucapnya.
“Aku cuma ingin tahu apa hubunganmu dengannya?”
Hendri menepikan mobilnya, kemudian ia berhenti di pinggir jalan. Ia menatapku balik, tangannya membelai pipiku dengan lembut. Dari perlakuannya padaku, aku sudah tahu jawabannya. Aku menutupi mataku, rasanya sangat berat untuk aku terima.
“Robert adalah kakakku,” ucapnya kemudian.
“Ya Tuhan, Mas. Bagaimana bisa kamu menyembunyikannya padaku?” tanyaku. Tanpa permisi air mataku tumpah begitu saja.
“Menyembunyikan apa, aku tidak merasa menyembunyikan apa pun darimu!” ujar Hendri.
Aku tertawa mendengarnya, bagaimana bisa mempunyai pikiran seperti itu. Apa sebenarnya tujuannya mendekati aku karena ia tahu aku adalah kepingan masa lalu kakaknya?
“Apa kamu sengaja mendekati aku, karena hubunganmu dengan Robert tidak?” tanyaku begitu spontan tanpa berpikir panjang lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Hendri dengan mata terbelalak.
Aku menangis tersedu-sedu, aku tidak tahu lagi dengan perasaanku. Aku membenci Robert, bahkan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Namun kenyataannya sekarang tak sama, aku menyukai orang-orang di sekitarnya. Aku suka pada nenek, begitu pula Hendri, aku sangat mencintainya. Ya Tuhan, kenapa semuanya terjadi padaku?
“Aku bersumpah tidak tahu apa-apa dengan kalian berdua, aku mengetahui Angga adalah anak Robert ketika ulang tahun Angga kemarin. Kamu tahu bagaimana perasaanku, sangat hancur, kamu pikir ini mudah untukku!?” Hendri mengepalkan tangannya, kemudian ia membanting setir mobilnya. Aku terperanjat kemudian Aku memejamkan mataku.
Hendri kembali melanjutkan perjalanan, kini ia tak berkata sepatah kata pun, begitu pula aku. Hanya air mata yang terus berjatuhan di pipiku. Wajah Hendri memerah, sepertinya aku telah salah bicara. Bagaimana bisa aku berpikir bahwa ia sengaja melakukan ini padaku?
“Maaf,” ucapku.
“Lupakan,” sahutnya singkat.
Tak lama, kita tiba di rumah. Mama dan Bu Aini duduk di teras dengan gelas masing-masing di tangan keduanya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Istirahatlah, besok kita bicara lagi,” pinta Hendri. Namun aku tak bergerak, aku merasa telah melampiaskan semuanya padanya.
“Aku minta maaf,” ucapku lagi.
“Tidak apa-apa, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja, tapi ini tidak mudah, aku harap kamu bisa bersabar,” ujar Hendri.
Aku turun dari mobilnya. Kemudian melambaikan tangan pada ketika mobilnya berlalu pergi. Aku melangkah masuk dengan memasang senyuman di wajahku, aku tidak ingin mereka tahu. Saat aku berangkat, semuanya baik-baik saja, saat pulang harus sama.
“Malam,” sapaku.
“Malam, sayang. Mari duduk,” sahut Mama.
“Bagaimana acara makan malamnya?” tanya beliau kemudian.
“Baik, aku menikmatinya,” sahutku bersuara pelan.
“Neneknya suka padamu?” tanya Bu Aini. Aku kembali menganggukkan kepalaku.
“Syukurlah.” Ucap keduanya hampir bersamaan. Aku tersenyum manis, lalu mengajaknya masuk. Suasana semakin dingin, dan itu tidak baik untuk kesehatan.
Keesokan harinya.
Aku sangat gelisah. Sudah seharian Hendri tidak menghubungiku. Apa ia masih memikirkan tentang kejadian semalam, apa mungkin ia merasa tidak nyaman dengan ucapanku? Ah, tidak mungkin. Barangkali ia sedang ada pertemuan dengan kliennya, sehingga ia begitu sibuk.
Biasanya juga seperti ini, kita bukan tipikal pasangan yang saling berkomunikasi secara intens, namun di karena kan ada kesalahpahaman seperti semalam, aku jadi berpikir aneh-aneh.
“Masuk, Nak Hendri.”
Aku mendengar suara mama dari depan, aku melihat ke bawah melalui jendela kamarku. Mobil Hendri berdiri di depan rumah, aku tersenyum kecil mengetahui kehadirannya di sini.
“Sebentar Ibu panggil,” pinta Bu Aini. Kemudian terdengar langkahnya menaiki tangga.
Aku segera keluar ketika beliau mengetuk pintu serta memanggilku. Tanpa diminta aku segera ke bawah. Hendri menungguku di halaman belakang. Aku memeluknya erat dari belakang, aku menyandarkan kepalaku di punggungnya.
“Apa Mas marah padaku?” tanyaku semakin mempererat pelukanku.
“Marah?” tanya Hendri.
“Mm, karena aku menuduhmu seperti itu,” sahutku, kemudian aku melepaskan pelukan dan duduk di kursi di bawah bohong mangga berdua dengannya.
“Bagaimana aku bisa marah pada calon istriku?” ujar Hendri kemudian mencubit hidungku.
Aku tersipu malu mendengar ia mengatakan aku calon istrinya. Sebelumnya belum ada pembahasan apa pun tentang hubungan kita ke depannya. Aku sudah berjanji, aku siap menunggunya memberi kepastian. Namun hari ini ia mengatakannya begitu jelas.
“Nenek tidak akan setuju hubungan kita berdua kalau ia tahu aku punya anak dari Robert, Mas,” ucapku tidak bersemangat.
“Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu?” tanya Hendri.
“Mas, apa kamu tidak merasa aneh, aku ini korban kebiadaban Kakakmu, jika nenek tahu, apa ia tidak akan syok dan stres?” tanyaku lagi.
“Tidak, semuanya telah berlalu, nenek pasti bisa menerimamu,” sahutnya. Kemudian ia bangun dari duduknya, ia melangkah ke depan dengan kedua tangan di sakunya.
“Aku tidak yakin, Mas,” ucapku.
“Ayo buktikan sendiri pada nenek?” ajak Hendri, ia menggenggam tanganku erat. Aku terbelalak.
“Mas, tidak sekarang juga,” ucapku menghentikan langkahnya.
“Kenapa, biar kamu tidak ragu lagi,” ujarnya.
“Aku belum siap. Setidaknya jika ke depannya nenek benar-benar tidak setuju, aku sudah lama menikmati kebersamaan bersamamu,” ucapku menatapnya dengan pandangan kosong.
“Ayo kita menikah dalam waktu dekat,” ujarnya lagi. Kali bukan hanya saja terkejut, mataku terbelalak mulutku terbuka lebar.
“Mas,” panggilku.
“Kenapa, kita saling mencintai, tidak ada yang boleh memisahkan kita kecuali Tuhan, ayo kita menikah.”
Hendri mengulangi kata-katanya, ia menggenggam kedua tanganku, tak ada senyuman, hanya tatapan kedua matanya yang begitu teduh, aku tidak menemukan kebohongan di sana, ketulusannya begitu terasa. Aku memeluknya erat, aku sandarkan kepalaku di dadanya.
“Tidak semudah itu, Mas,” lirihku pelan.
Jangan lupa like