A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 16



Hubungan aku dan Hendri semakin hari semakin dekat. Setiap hari libur ia sering datang ke rumahku. Setiap ia ada waktu senggang selalu ia sempatkan menjemputku makan siang bersama. Aku menikmati semua yang Hendri suguhkan padaku.


Aku sibuk mempersiapkan ulang tahun Angga. 3 hari lagi ia akan genap berusia 18 tahun. Hendri sangat sibuk, ia sedang berada di luar kota, ia tidak bisa menemaniku mempersiapkan kejutan untuk Angga.


“Maaf ya sayang, aku enggak bisa bantu-bantu,” ujar Hendri di balik telepon.


“Iya, enggak apa-apa. Mas baik-baik di sana, ya?”


Obrolan singkat begini yang setiap harinya tidak pernah kami lewati bersama. Sesibuk apa pun ia selalu menyempatkan waktu untuk memberi kabar terhadapku.


Aku mengundang semua teman-teman arisanku, Angga juga mengundang semua teman-teman sekolahnya. Bisa di pastikan malam ulang tahunnya nanti akan sangat meriah.


“Pacarmu undang, ya? Kenali ke ibu, dan Mamimu,” goda Bu Aini pada Angga.


“Apa sih,” sahut Angga jutek.


Aku tertawa bersama Bu Aini.


Sebelum tidur, aku menghubungi Hendri namun sudah beberapa kali kucoba tidak tersambung. Aku pun tertidur dengan ponsel masih di tanganku.


Pagi hari aku terbangun karena dering telepon di samping telingaku. Aku lihat layarnya sebelum aku pejamkan lagi mataku, ku letakkan ponsel tersebut di telingaku.


“Mas ...” panggilku dengan suara khas bangun tidur.


“Pagi sayang,” sapa Hendri.


“Mmm ...” sahutku jutek, aku kesal semalam ia tidak memberi kabar.


“Udah bangun belum, Aku di bawah ni ...”


Aku segera buka pintu kamar, kulihat ke lantai bawah tapi tidak Hendri. Terdengar suara dia tertawa dibalik telepon.


“Enggak lucu!” Aku kesal karena Hendri membohongiku.


“Ciye, ada yang rindu berata nih.”


“Enggak, siapa juga yang rindu,” jawabku kesal.


“Maaf ya semalam Mas ketiduran, selesai meeting Hp lupa Mas ganti mode heningnya.”


“Mmm ...” sahutku jutek.


“Udah, jangan ambekan lagi, nanti aku diambil sekretarisku.”


“Silakan, aku enggak peduli.”


“Ya udah bangun mandi, jangan lupa sarapan. Besok aku pulang, love you sayang.”


Panggilan berakhir, aku segera melakukan rutinitas pagiku seperti biasanya.


Sorenya Bu Aini mengajak aku belanja untuk persiapan hari H nanti. Setelah menutup toko bunga dan semua karyawan pulang aku dan Bu Aini segera berangkat.


Dalam perjalanan aku membahas tema apa yang akan kita usungkan buat ulang tahun Angga nanti.


“Cowok biasanya jangan yang terlalu banyak bunga-bunga deh, Cha.”


“Aku udah search di google, kayaknya tema olahraga yang dia sukai cocok enggak, sih?”


“Wah, benar tuh. Tema klub sepakbola favorit Angga saja, Cha.”


Setelah berdiskusi dengan Bu Aini, akhirnya aku menemukan referensi gambaran untuk memeriahkan ulang tahun Angga yang tinggal 2 hari lagi.


Setelah selesai belanja dan makan bersama aku segera meluncur pulang dengan Bu Aini. Malam ini terasa sangat dingin, rintik-rintik hujan berjatuhan membasahi kaca mobilku.


Tiba di rumah, aku menemui Angga sedang memasak Indomie di dapur.


“Sayang, kan ada makanan di meja makan.”


“Hujan gini enaknya Indomie rebus, Mi.” Angga menghidang satu mangkuk Indomie tanpa menunggu dingin ia langsung melahapnya.


“Sayang, pelan-pelan kenapa?” tanyaku, Angga hanya membalas dengan senyum cengengesan.


Aku segera masuk dan berganti pakaian. Bu Aini langsung menghilang ke kamarnya.


Sampai malam tiba, Hendri belum menghubungiku lagi. Mungkin ia sangat sibuk, aku tidak berani menggangunya. Aku mengirimkan satu pesan untuknya.


[Selamat malam, selamat istirahat, Jaga kesehatan. I love you.]


Pesan yang cukup singkat menurutku. Tapi ya begitulah, rasanya aku masih gengsi jika harus overprotektif terhadapnya. Selama ini aku nyaman begini, Hendri juga tidak pernah berkomentar apa pun.


••••


Pagi ini di awali dengan suara rintik-rintik hujan di genteng, membuatku enggan bangun dari tidurku. Hawa dingin serta lembutnya selimut yang menutupi tubuhku seolah-olah mengisyaratkan aku untuk terus tidur dan kembali melanjutkan mimpi-mimpiku.


“Cha, bangun ....”


Aku menjuntai kakiku ke samping tempat tidur. Aku mengucek mataku beberapa kali, aku kembali menguap untuk yang ke sekian kalinya. Rasanya malas beranjak dari tempat tidurku yang empuk dan nyaman ini.


“Cha, Siksa dan yang lain sudah pada datang, jadi enggak kita buat persiapan untuk ulang tahun Angga?”


Mataku melebar sempurna mendengar pertanyaan Bu Aini dengan sedikit berteriak barusan. Aku benar-benar lupa, jika hari ini aku meliburkan karyawan ku khusus untuk membantuku menyiapkan ulang tahun Angga.


Aku bergegas meraih handuk dan segera ke kamar mandi. Dinginnya air yang mengalir di tubuhku membuat kesadaran ku kembali normal. Tanpa perlu berlama-lama, ku usaikan mandi pagi ku.


Aku pakai celana pendek dengan kaos pink serta rambut yang aku sanggul asal-asalan ke atas. Setelah selesai berpakaian aku segera turun untuk bergabung dengan yang lainnya.


“Sorry ...” ucapku melebarkan senyuman kepada semua yang sudah berkumpul di ruang keluarga.


“Mbak makan saja dulu,” ujar Askia.


Nasi goreng buatan Bu Aini menjadi menu favorit di rumahku setiap pagi, jika sehari saja tak beliau buatkan pasti Angga akan menagihnya.


Aku makan dengan sedikit tergesa-gesa, aku merasa tidak enak jika mereka terlalu lama menungguku.


“Angga mana, Bu?” tanyaku.


“Mau bertemu beberapa temannya, Cha. Kemarin ada yang belum sempat ia undang,” jawab Bu Aini tanpa menoleh padaku, tangannya sibuk membereskan meja makan.


Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 18 Angga baru saja menyelesaikan ujian akhirnya. Belum ada pembahasan di antara kami berdua tentang kelanjutan pendidikannya. Aku membiarkan ia memilih apa yang ingin ia lakukan, aku ingin ia bebas tanpa harus terus-menerus mengikuti setiap keinginanku.


Kami mulai menghiasi ruangan dengan stiker-stiker klub bola kesukaan Angga. Askia menyarankan agar kita mendekor dengan kain tile berwarna klub sepakbola favorit Angga. Ide yang cukup menarik.


Untuk rumahku, aku rasa kita tidak perlu mengotak-atik terlebih banyak lagi, nuansa biru putih sudah cukup elegan menurutku. Hanya perlu beberapa balon huruf nama Angga saja sudah cukup terlihat wow untuk acara nanti malam.


Saat aku sedang membantu mereka melakukan persiapan, ponselku berdering.


Mas Hendri.


“Halo, Mas,” sapa ku.


“Halo sayang.” Suara Hendri terdengar seperti orang resah.


“Mas udah berangkat?” tanyaku. Karena kemarin Hendri berjanji hari ini ia akan pulang.


“Aku sudah di bandara sayang, tapi pesawatnya harus di delay karena cuaca buruk.”


Aku terdiam, cuaca akhir-akhir ini sering hujan kadang-kadang disertai badai petir. Aku mencoba tenang, waktu masih panjang. Aku percaya Hendri pasti bisa menemaniku di hari spesial untuk Angga.


“Ya mau gimana, Mas. Itu juga untuk keselamatan semua penumpang,” ujarku mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


“Iya sayang, tunggu aku di sana, ya?” ujar Hendri sebelum panggilan kami berakhir.


Moodku langsung turun drastis mendengar Hendri terjebak badai di bandara, bagaimana jika nanti ia tidak bisa menemaniku, rasa khawatir menyelimutiku.


“Ada apa, Cha?” tanya Bu Aini duduk di sebelahku.


“Mas Hendri belum pulang Bu, pesawatnya delay karena cuaca buruk.”


Bu Aini menyentuh bahuku seraya berkata, “Doakan semoga Hendri cepat pulang dan bisa menemanimu nanti malam.”


“Amin ...” sahutku.


Sorenya Angga pulang. Ketika langkahnya menapaki ruang tamu ia tersenyum simpul. Aku pura-pura tidak melihatnya.


“Mi, thank you ...” ucapnya sembari memelukku erat.


Aku tersenyum, ia pasti bahagia dengan konsep yang aku usungkan untuk ulang tahunnya ini. Ia lepaskan pelukan lalu ia tersenyum.


“Aku harus kirim pesan ke grup teman-temanku, Mi,” ujarnya lalu meraih ponsel di saku celananya.


“Pesan apa?” tanyaku penasaran.


“Biar mereka pakai baju bola semua,” sahut Angga.


Lalu Angga kembali duduk di sebelahku, ia mencoba mengutarakan sesuatu terlihat wajahnya menyimpan keraguan.


“Ada apa?” tanyaku memecahkan rasa ragunya.


“Mami serius mau ketemu dengan Om teman aku?” tanya Angga.


Aku menyipitkan mataku, kenapa rasanya ia terlihat ragu. Bukankah itu permintaannya selama ini, harusnya ia senang.


“Bukan apa-apa, aku takut Om Hendri tersinggung,” lanjut Angga lagi.


Aku tersenyum. “Mami udah janji, jadi Mami harus tepati,” jawabku. Angga mengangguk sembari tersenyum.


Aku belum memberitahu apa-apa pada Hendri, aku sudah merencanakan jika ia tiba nanti akan ku beritahu permintaan Angga.


jangan lupa like ya...