
“Maksudmu apa sayang, ya jelas Mami yakin. Lihat cincin ini,” sahutku mulai tidak nyaman dengan pertanyaan putraku yang sepertinya memihak pada Robert papanya.
Aku dengan penuh semangat memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisku padanya, sembari tersenyum bahagia. Untuk membuktikan memang benar tidak ada lagi tempat untuk Robert di hatiku.
“Mami hanya melihat papa dari satu sisi. Mami hanya melihat keburukan papa, wajar saja kebencian semakin besar di hati Mami untuknya,” ujar Angga lagu dengan begitu berani padaku.
Aku mulai memberi kebebasan padanya, dengan niat baik agar ia tidak merasa terkekang, karena ia bukan lagi anak kecil. Tapi bukan tujuan untuk menceramahi diriku seperti ini. Aku lebih tahu apa yang aku rasakan.
“Cukup, Angga,” pintaku padanya.
“Mami pernah membayangkan tidak, bagaimana jika Tante Zoya tidak memfitnah Mami pada papa?” tanya Angga lagi.
Aku menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan berikutnya dari Angga. Ia sudah terlalu ikut campur sejauh ini.
“Kenyataannya, pernikahan keduanya juga gagal, kan? Mami tahu kenapa? Karena tidak saling mencintai,” ujar Angga lagi.
“Sayang, Mami bilang cukup,” pintaku masih bersabar.
“Mami yakin tidak melihat diri papa pada Om Hendri?” tanya Angga lagi.
“Sayang, jangan buat Mami marah!” ucapku merapatkan kedua bibirku mulai terpancing.
“Mami yakin Mami benar-benar mencintai Om Hendri, atau hanya untuk balas dendam pada papa?”
PLAKKKK!!!!!
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Angga. Aku tidak sadar, itu semua terjadi begitu saja. Aku sudah tidak tahan dengan semua yang Angga katakan, apa ini semua hasutan dari Robert?
Sepertinya aku telah mengambil keputusan yang salah, karena telah membiarkan ia bertemu papanya kapan saja. Aku tidak menyangka sebegitu berpengaruhnya Robert untuknya.
“Semua yang aku katakan benar, terbukti Mami marah, kan?” tanya Angga. Ia masih saja tidak diam, bahkan setelah aku menamparnya.
“Sayang, jangan buat Mami bersikap kasar seperti ini. Mami minta maaf, tapi kali ini kau sudah keterlaluan,” ucapku, aku mengelus-elus pipinya.
“Aku hanya ingin meyakinkan bahwa Mami benar-benar mencintai Om Hendri, bukan papa,” sahut Angga.
Aku menyapu wajahku dengan kasar. Aku menarik nafas dalam-dalam. Apa yang telah aku lakukan, kenapa aku bisa semarah ini padanya. Sama seperti kemarin, aku juga sangat marah ketika Hendri menuduhku masih mencintai Robert. Kenapa semua orang bisa berpikiran seperti itu?
“Angga cuma mau yang terbaik untuk Mami, jika Mami berpikir ini semua adalah pikiran buruk dari papa, Mami salah besar,” ujar Angga lagi.
Aku terdiam. Baru saja aku perang batin, aku mengumpat kesal pada Robert.
“Aku bisa melihat sendiri dari wajah, Mami. Maaf jika Angga salah, maaf telah membuat Mami marah,” ucapnya padaku dengan menundukkan kepalanya.
Aku terdiam. Bagaimana caranya aku meyakinkan semuanya, bahwa aku benar-benar membenci Robert dan mencintai Hendri. Jika memang benar seperti yang Angga katakan, andai saja Zoya tidak memfitnah aku pada Robert, apa yang akan terjadi?
Justru aku ingin mengatakan, jika ia benar-benar cinta, mengapa begitu mudah mempercayai orang lain, bukankah cinta harus saling percaya?
“Sayang, Mami tidak sengaja,” ucapku merasa bersalah, pipinya telah memerah karena sikap kasarku.
“Jadi bertemu, Oma?” tanya Angga.
Aku mengangguk sambil berdiri. Angga meraih tanganku lalu menciuminya. Setelah meninggalkan uang di meja, kita berdua menuju mobil.
Dalam perjalanan kita tak banyak bicara, Angga diam seribu bahasa, aku bingung mau memulai obrolan dari mana. Ah, kenapa semuanya jadi runyam seperti ini?
Seharusnya semuanya baik-baik saja, bukan malah bertambah rumit seperti ini. Aku mengajaknya untuk menyelesaikan masalah bukan menambah masalah. Aku menyesal kenapa tidak bisa menahan emosi sedikit pun.
“Mi, di depan belok kanan,” ujar Angga menyentuh lenganku.
“Hah, apa sayang?” tanyaku kaget. Dua kali kaget sebenarnya, aku terlalu banyak melamun hari ini. Aku bingung, bagaimana ia mengetahui jalan menuju rumah Omanya.
“Tidak perlu kaget, aku lebih banyak tahu dari Mami,” ujarnya begitu santai. Tanpa sadar aku menekan pedal rem. Tiba-tiba suara klakson dari belakang membuatku tersadar, aku berhenti tepat di tengah jalan. Beberapa orang meneriaki aku.
Aku menepikan mobilku. Kita berdua masih terdiam. Aku lupa siapa putraku sebenarnya, selain tampan, ia juga pintar. Seperti kejadian lalu, aku selalu merasa bersalah karena tidak menceritakan tentang kedua orang tuaku padanya. Padahal, tanpa sepengetahuanku ia selalu berkomunikasi dengan mama dan almarhum papa.
Apa mungkin sekarang juga terjadi hal yang sama. Sebenarnya, ia telah lama mengetahui tentang Robert dan Omanya?
“Itu semua tidak terjadi,” ucap Angga dingin.
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Seperti yang Mami bayangkan, itu tidak terjadi. Aku hanya mencari tahu bagaimana yang sebenarnya, aku cukup melihat mereka dari kejauhan, menyapa mereka dengan senyuman, memeluk mereka dengan bayangan.”
BOOM!!!!
Rasanya, seperti bom waktu yang sudah meledak. Aku merasakan kesakitan yang amat sangat mendengar ucapan putraku baru saja. Betapa bersalahnya aku padanya, ia menanggung semua bebannya sendirian. Bahkan aku berpikir, ia seperti anak seusianya, belajar dan bermain, sepertinya aku salah besar. Ia hidup dalam masalah, hidupnya seperti teka-teki. Aku terlalu menggiringnya ke dalam permasalahanku yang tiada akhir.
“Jika Mami berpikir, aku tidak tahu apa-apa, aku tidak peduli pada Mami, Mami salah besar,” ujar Angga.
Aku memeluknya erat. Air mata tumpah begitu saja di pipiku. Selama ini aku selalu berpikir, aku sudah menjadi ibu paling baik untuknya, aku yang bersikap ramah ke semua temannya, membiarkan ia melakukan apa yang ia suka, aku berpikir ia sudah sangat bahagia, ternyata aku salah. Aku berpikir aku berhasil menjadi ibu tunggal untuknya.
“Mi, aku di sini, bukan untuk menyalahkan Mami atau memihak pada papa. Aku cuma ingin mengatakan, apa yang Mami lihat, mungkin saja bukan begitu kenyataannya. Mami perlu melihat lebih jauh, ada sisi yang tidak mampu Mami jangkau. Aku berharap, Mami tidak mengambil keputusan yang salah lagi.”
Angga berkata panjang lebar padaku. Usianya baru menginjak 18 tahun, akan tetapi ia bisa berpikiran sedewasa itu. Keadaan yang telah membuatnya seperti itu. Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Aku tersedu-sedu di pelukannya, aku terlalu percaya diri, aku menganggap semuanya sudah bisa aku kendalikan, padahal tidak.
Aku tidak tahu, apalagi yang Angga sudah tahu selain ini, aku merasa malu padanya. Ternyata aku tidak mengenali putraku sepenuhnya
“I love you, Mi,” ucap Angga. Aku menciumi pipinya. Maaf saja tak cukup untuknya, ia sudah terlalu menderita karena kesalahanku.
Jangan lupa like.