
Aku menatap ke luar jendela mobil, kacanya sengaja aku buka. Rambut serta wajahku diterpa angin malam yang sangat dingin menusuk hingga ke tulang.
Aku tidak tahu bapak dan anak ini mau menculikku ke mana, aku menatap Angga dan Robert secara bergantian. Lalu aku kembali membuang pandanganku menatap lalu lalang kendaraan di tengah hiruk-pikuk kota.
“Mau es krim?” tanya Robert menyadarkan aku dari lamunan.
“Boleh,” sahutku singkat.
Setelah percakapan singkat itu, aku tidak tahu apa-apa lagi, dan sejak kapan kita sudah berada di mobil aku tidak tahu. Aku melirik jam di tanganku, mungkin aku sudah tertidur setengah jam lamanya.
Aku menggeliat malas, Angga dan Robert menatapku. Aku heran kenapa mereka tidak membangunkan aku. Saat kutanyakan tak ada jawaban dari keduanya. Apa aku terlihat menyedihkan malam ini? Sehingga mereka membiarkan saja aku tertidur biar tenang.
“Ayo, turun.”
Aku segera melangkah ke luar, agar keduanya segera ikut. Sudah terlalu lama mereka berdiam diri di sana.
Setelah memesan tiga mangkuk es krim kita duduk satu meja bersama. Aku tidak lagi merasa canggung dengan bapak dari anakku ini. Aku juga sudah tak peduli mau bagaimana pun ia menatapku, aku tidak akan lagi menghardiknya, aku sudah lelah.
Pikiranku masih tidak bisa bersahabat, hatiku masih saja terasa ngilu dengan sikap Hendri. Jika bertemu besok, akan aku maki-maki dirinya.
“Makanlah, nanti keburu meleleh,” seru Robert.
Mendengar seruannya, aku menyuapi sesendok es krim lezat itu ke dalam mulutku yang tidak terasa apa-apa ini.
Kenapa, apa yang salah denganku?
Saat pikiranku menerawang entah ke mana, bunyi ponselku berdering nyaring. Aku meraihnya dari tasku dengan terasa enggan, mudah-mudahan saja bukan mama atau Bu Aini. Aku tidak ingin selalu menyusahkan keduanya.
“Aku tidak suka dengan sikapmu yang tidak sopan.” Bunyi pesan Hendri yang membuat darahku naik. Aku mengepalkan tanganku.
“Akhhh!!” teriakku tanpa sadar.
Tanpa permisi, Robert meraih ponsel dari tanganku, spontan saja Angga juga ikut melihatnya.
Kenapa aku yang salah, aku tidak sopan?
Angga dan papanya diam seribu bahasa. Aku sangat geram dengan bunyi pesan yang seolah-olah aku bersalah. Segera saja aku memblokir nomor telepon Hendri. Aku bangkit dari dudukku dengan keduanya mengikutiku.
“Antar aku pulang,” pintaku. Kali ini, tanpa seizin ku, air mata keluar begitu saja membasahi pipiku. Aku menyeka dengan punggung tanganku.
Robert melaju kencang membelah kota besar kembali ke daerah sejuk di mana letak rumahku. Sekali-kali Angga melirik padaku di balik spion mobil papanya. Aku tahu, ia sangat khawatir padaku.
“Jangan cerita apa-apa pada Oma,” pintaku pada Angga.
40 menit kemudian, kita tiba di rumah.
Angga bergegas masuk, Robert membukakan pintu mobilnya untukku. Sejak tadi aku sangat kesusahan dengan gaun yang aku kenakan malam ini. Sudah bersusah payah aku berdandan cantik untuknya, tapi begini kejadiannya.
Aku ingin segera masuk melalui tangga yang menuju ke kamarku. Namun Robert menarik tanganku.
“Bisa bicara sebentar?” pintanya padaku.
Kita berdua duduk di balkon kamarku. Aku menunggu Robert memulai pembicaraan. Terdengar helaan nafasnya terasa berat.
“Ini bukan urusanku, sebelum aku minta maaf padamu,” tuturnya. Aku masih tidak berkomentar.
“Hubungan dua keluarga ini, sudah terjalin sejak ayah masih kuliah dulu. Di tambah, saat kita dewasa, sejak ayah juga telah tiada. Om Jacob semakin mempererat hubungan antara dirinya dengan keluarga kami,” cerita Robert panjang lebar.
“Lalu?” tanyaku.
“Om Jacob, mempunyai peran penting dalam perjalanan hidup ayah. Ayah bisa sesukses itu dulu berkat bantuan Om Jacob, meskipun bantuan dari Ami juga tak kalah banyaknya,” lanjut Robert.
Sepertinya aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Robert. Namun aku tetap saja diam, aku akan menunggu inti pembicaraannya.
“Jadi, menurutku, jangan terlalu berpikir macam-macam pada Hendri,” ujar Robert.
Aku menatapnya tajam. Apa haknya membela Hendri? Bukankah dulu ia yang mencegahku berhubungan dengan Hendri?
“Dan mengenai pesan itu, mungkin ia hanya kecewa. Seperti yang aku ceritakan, om Jacob sangat penting bagi keluarga kita. Maaf, bukan aku menyalahkanmu, dan aku juga tidak berpihak pada Hendri,” ucap Robert dengan bijak.
Aku menutupi wajah dengan kedua tanganku. Aku sangat kacau malam ini, aku tahu, aku bisa lihat, bagaimana sikap Hendri padaku, ia sangat berbeda, sungguh jauh dari seperti apa yang Robert ceritakan. Jika ia sedingin itu padaku, tamunya itu, tidak hanya penting, tapi sangat penting baginya. Lalu untuk apa mengajakku jika hanya untuk mempertontonkan itu semua?
“Pulanglah, Rob. Terima kasih telah menceritakan tamu penting kalian padaku, aku tak yakin bisa menerima sikap Hendri yang begitu dingin padaku,” jawabku sambil tersenyum kecut.
“Kau boleh tak percaya padaku, tapi percayalah pada Hendri, jangan terlalu buru-buru menyimpulkan keadaan seperti ini,” ujar Robert. Ia berdiri dari duduknya sembari tersenyum ramah padaku.
Aku tak bisa lagi memberi jawaban yang tepat. Sejauh itu ia bercerita, hatiku masih saja tak bisa menerima sikap Hendri.
Sekali lagi, aku berterima kasih pada Robert, aku memintanya untuk pulang, tubuh dan pikiranku sangat lelah, aku ingin beristirahat. Namun saat kita ingin mengakhiri pembicaraan itu, sebuah mobil putih melaju kencang dan mendadak berhenti di depan rumahku, tepat di samping mobil Robert. Yang tak lain tak bukan, adalah Hendri.
Aku sempat kesal dan berpaling darinya, begitu aku melihat ia turun dari mobilnya dengan sikap tergesa-gesa. Sepertinya ia tak sendiri, ada seseorang bersamanya di mobil.
“Oh, jadi begini rupanya?” ucapnya ketika belum sampai ke balkon kamarku.
“Begini apanya?” tanya Robert.
“Kalian berdua sengaja mengambil kesempatan untuk berdua seperti ini?” tanya Hendri lagi, dengan nada yang cukup sinis.
Spontan saja, rasanya darahku mendidih. Sejak kemarin ia sudah menunjukkan sikapnya yang telah berubah. Aku masih bisa memaafkan itu semua, tapi saat ini ia menuduh bahwa aku mengambil kesempatan bersama Robert. Aku tidak terima itu.
“Penting untukmu, dengan siapa aku bersama dan ke mana?” tanyaku dengan penuh amarah.
Robert menarik aku ke belakang, begitu pula dengan Hendri. Ia mencoba melerai kita berdua. Namun aku menepis tangannya. Aku juga ingin mendengar apa jawabannya.
“Oh, jelas bahwa tamumu lebih penting dariku. Bukankah kau sendiri yang menyuruhnya untuk menggantikan posisimu sebagai calon mempelai kemarin!?” Aku menunjukkan wajah Robert dengan tatapan tak berkedip dari Hendri.
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, aku sedang berhadapan dengan kakak adik. Yang satu pernah ada dalam kehidupanku, dan ia bapak dari anakku. Dan yang satu lagi, adalah calon suamiku. Rasanya aku akan gila.
Jangan lupa like.