
Aku di kelilingi oleh orang-orang yang benar-benar menyayangiku. Tak ada seorang pun yang memperburuk keadaan, bahkan Angga. Ia tahu seperti apa sebenarnya kejadian yang terjadi. Namun tak sepatah kata pun ia coba goyahkan pendirian ku.
Hari terus berlalu, aku bingung. Detik demi detik terus berlalu, hari pernikahanku tinggal seminggu. Namun semuanya seakan berhenti. Tidak ada persiapan apa pun selain baju nikah yang sudah siap.
Aku duduk di lantai bersandar pada ranjang, dengan baju pengantin milikku dan Hendri di hadapanku. Baju ini baru saja aku terima dari pegawai Mas Kenzo. Apa yang harus aku lakukan?
Haruskah datang menemui Hendri lalu menanyakan kejelasan hubungan ini?
Aku bertanya-tanya seperti orang gila. Namun lagi-lagi tak ada jawaban, yang ada hanya dadaku yang semakin sesak. Mengapa semuanya terjadi, apa salahku, kenapa dalam sekejap semuanya berubah?
Aku kembali mengenang. Hari-hari indah di mana setiap Minggu Hendri membeli bunga di tokoku untuk mendiang istrinya. Bagaimana awalnya kita menjadi dekat kemudian berhubungan. Semuanya tidak terencana, mengalir begitu saja. Lalu kenapa dalam sekejap berubah?
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan aku dari kenangan indah itu. Aku bangkit dari dudukku kemudian melangkah membukakan pintu. Tidak biasanya pintu depan kamarku yang digedor, tentu ini bukan orang rumah, pikirku.
Sebelum membuka pintu, aku menyempatkan mengintip di balik tirai jendela. Ternyata Robert, untuk apa dia kemari?
“Maaf, mengganggu.” Kata pertama yang diucapkannya saat pintu terbuka. Aku melangkah keluar lalu duduk di bangku. Aku juga mempersilahkannya duduk.
Robert duduk, dengan tenang. Tak ada kata, hanya wajahnya terlihat kosong. Lalu ia menatapku sembari tersenyum tipis, aku tahu itu palsu.
“Ada apa?” tanyaku.
“Mmm, sebenarnya, aku cuma mau tahu keadaanmu,” sahutnya.
“Aku baik, ada apa?” tanyaku lagi.
Wajah Robert tidak bisa berbohong, ia seperti sangat khawatir dengan keadaanku. Bahkan tubuhnya menampakkan jelas bahwa ia tidak baik-baik saja. Pikiranku semakin tidak enak, apakah ia tahu sesuatu?
“Rob, semuanya baik-baik saja, kan?” tanyaku lagi. Kali ini aku yang panik, bukan Robert lagi.
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja,” sahutnya sambil tersenyum kecut.
Aku tahu itu bohong, aku tahu bahwa ia tahu sesuatu namun susah untuk menjelaskannya. Tangannya sibuk bermain dengan ponselnya, sebenarnya tidak ada yang ia lakukan selain mengotak-atik saja.
“Tetap kuat sama seperti saat aku meninggalkan kamu dan Angga di perutmu, jangan lemah,” ucap Robert tiba-tiba. Ia mengatakan itu dengan jelas, aku melihat wajahnya, matanya berkaca-kaca.
Apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan, kenapa ia mengulang luka itu. Bahkan, aku sendiri sudah mengikhlaskan itu semua. Apa ia ingin mengecoh pikiranku agar tak terus menerus memikirkan pernikahanku yang tinggal menunggu hari?
Apa pernikahanku akan benar-benar gagal?
Tapi karena apa? Apa salahku?
“Aku ingin menemui Angga,” ucap Robert.
“Masuklah,” sahutku.
Kepalaku sangat pusing, aku sudah lama tidak merasakan ini. Benar kata Robert, 18 tahun silam aku merasakan yang sama, persis. Namun kala itu aku kuat, demi Angga yang ada di kandungku. Namun kali ini, entah lah.
Aku tidak bisa lagi mengeluarkan air mata, rasanya beku. Aku tidak tahu dengan perasaanku, yang aku rasa hanya sesak yang teramat sangat. Dadaku terasa berat.
Aku tidak mengetahui apa penyebab semuanya ini terjadi, bagaimana bisa aku berbagi cerita dengan orang lain. Melihatku hanya diam, mereka juga bingung ingin berekspresi seperti apa.
Aku kembali ke kamarku. Masih dengan pemandangan yang sama, baju pengantin yang di desain oleh perancang ternama. Aku tersenyum kecut, aku menyentuh hasil karya indah itu. Aku tidak tahu, apa aku akan memakainya esok, atau hanya jadi pajangan di lemari. Aku melipatnya, lalu memasukkan ke lemari.
Aku terkejut dengan suara ponselku yang cukup keras. Aku meraihnya dengan enggan. Sudah dua hari ia tak kusentuh. Nama Hendri tertera di layar, seketika tanganku gemetar. Berita baik, atau buruk yang akan aku terima. Pikiranku masih saja tidak enak.
“Halo,” sapaku dingin.
“Kamu di mana?” tanya Hendri tak kalah dinginnya.
“Di rumah.”
Sejenak hening, yang terdengar hanya suara nafas kita berdua. Hanya satu yang aku harapkan, aku hanya ingin tahu apa salahku kenapa semuanya berubah dalam sekejap.
“Aku ingin bertemu, ada hal yang perlu aku bicarakan,” ucapnya kemudian.
“Ya,” sahutku.
“Nanti malam aku jemput, bersiap-siaplah,” ujar Hendri lagi.
“Tunggu dulu,” pintaku sebelum ia mematikan panggilan. “Aku tidak bisa, sebaiknya ke rumah saja, aku sedang tidak enak badan.”
“Mm, baiklah,” sahutnya.
Kemudian panggilan itu pun berakhir. Aku menghempaskan bokongku di tepi ranjang. Pikiranku berkecamuk, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan Hendri bicarakan nanti. Aku mengusap wajahku dengan gusar.
Aku tak habis pikir, saat seperti ini. Bisa-bisanya aku merasakan kelaparan. Perutku sudah sangat keroncongan. Aku melihat jam, ternyata sudah waktunya makan siang. Aku segera turun ke bawah.
Aku memang tipikal orang, susah senang perut harus selalu terisi. Aku segera meminta Bu Aini memasakkan makanan kesukaanku. Aku duduk di depan televisi. Mama duduk di teras samping, matanya tak berkedip dariku yang terus menggonta-ganti chanel. Sementara beliau asyik dengan buku bacaannya.
“Angga mana, Bu?” tanyaku.
“Ada di kamar bersama papanya,” sahut Bu Aini.
Aku kembali terdiam. Rupanya Robert belum pulang, mungkin ia asyik bermain game dengan putranya. Hal itu yang tidak bisa aku lakukan untuk Angga.
Mama melepaskan kaca matanya, kemudian mendekati aku. Beliau masih saja menatapku, mungkin banyak yang bersarang di kepalanya namun tak berani menanyakan padaku. Begitu pula denganku, banyak hal yang ingin aku sampaikan namun aku bingung mau mulai dari mana.
Aroma masakan Bu Aini menyeruak ke seluruh ruangan. Angga keluar dari kamar, tak lama diikuti Robert. Tak peduli makan itu masih panas, ia segera menyantapnya.
“Nak, ajak papamu makan juga,” pinta Mama pada Angga.
Aku mempersilahkan Robert makan. Kemudian, kita pun makan bersama. Aku juga sudah tidak sabar ingin mencicipi hidangan lezat Bu Aini, tak lupa Zoya juga ikut bersama.
Aku merasa tidak ada lagi kecanggungan. Zoya juga tak ambil pusing dengan kehadiran Robert di sana, ia asyik dengan santapannya. Ah, semoga semuanya baik-baik saja, kini dan nanti.
Jangan lupa like.