
“Aku sudah siap, kita bisa berangkat sekarang?” tanyaku pada Hendri.
Aku sudah dua kali mengulangi kata yang sama, namun ia tak bergeming. Aku menyentuh lengannya.
“Ah, ya, kamu sudah siap?” tanya ia terbata-bata masih dengan pandangannya yang tak berkedip dariku.
Aku melihat penampilanku, barangkali ada yang salah atau kurang cocok sehingga Hendri menatapnya begitu lama.
“Kamu sangat cantik malam ini,” ucapnya kemudian, mungkin ia tahu aku bingung.
Aku tersenyum kecil, ah, benarkah?
“Terima kasih,” sahutku singkat sembari berjalan meninggalkannya. Pipiku terasa panas karena menahan rasa malu, aku sangat canggung setiap kali dipuji Hendri. Mungkin, karena usiaku yang tak lagi muda, aku merasa tidak pantas untuk diperlakukan sedemikian rupa.
Hendri membukakan pintu mobilnya untukku, sejurus kemudian ia segera meluncur cepat menuju sebuah tempat, neneknya telah menunggu di sana. Dalam perjalanan kami tak banyak bicara, perjalanan lumayan jauh, jika saja tak ada suara musik, mungkin aku akan ketiduran.
“Kamu suka lagunya?” tanya Hendri akhirnya membuka obrolan setelah cukup lama saling terdiam. Aku menganggukkan kepalaku.
“Aku suka genre apa saja, semua musik indah. Sayangnya aku tidak bisa bernyanyi,” ujar Hendri, kemudian ia tertawa lepas.
“Benarkah, sepertinya suaramu bagus, Mas,” jawabku.
“Tidak, tidak, kamu bohong. Dulu, waktu masih kecil, aku sering menjadikan kamar mandi sebagai tempat karaoke dan nenek selalu bilang, 'suaramu bagus, tapi alangkah lebih bagus jika diam saja' begitu kata nenek,” ujar Hendri. Aku tertawa mendengarnya.
“Ah, mungkin selera nenek sedikit berbeda,” ucapku masih tertawa terbahak-bahak.
“Ya, mungkin,” sahut Hendri.
Hendri lumayan humoris, ia punya banyak cara untuk membuatku selalu tertawa. Aku menyukai itu. Jika terlalu kaku rasanya akan berbeda.
“Kita hampir sampai,” ujar Hendri. Aku menghentikan tawaku, pipiku terasa keram.
Akhirnya aku sampai di tempat tujuan, Hendri menggandeng tanganku memasuki restoran. Jantungku berdebar kencang, aku takut, muncul berbagai macam pikiran aneh-aneh di benakku. Aku takut jika nenek tak suka padaku, mengingat statusku yang seperti ini, seketika tanganku dingin seperti es. Aku menghentikan langkahku.
“Ada apa?” tanya Hendri.
“Aku takut, Mas. Bagaimana jika nenek tak suka aku?”
Hendri menggenggam kedua tanganku. Ia meyakinkan bahwa nenek tidak akan bersikap seperti itu. Nenek sangat baik, aku pasti akan menyukainya, tutur Hendri.
“Aku pastikan nenek akan suka padamu, aku janji,” ucap Hendri.
Aku memeluk lengannya saat kami kembali melangkah menuju lantai dua. Perasaanku masih belum tenang sebelum memastikan semuanya akan baik-baik saja.
“Silakan, Nyonya Arlita telah menunggu Anda,” ujar pelayan yang menuntun kita bertemu nenek.
“Terima kasih,” sahut Hendri.
Kita tiba di lantai dua, ruangan ini sedikit lebih pribadi dibandingkan dengan di bawah. Lantunan musik serta cahaya lampu yang tidak terlalu terang, membuat suasana terasa nyaman. Aku menghela nafas dengan berat, perlahan aku mulai merasa lebih baik.
“Mari, Nyonya Arlita di meja 44,” ujar pelayan yang menyambut kami dengan ramah dan sopan.
Hendri menggenggam tanganku, kita melangkah dengan pasti menuju meja paling ujung. Seorang wanita tua dengan penampilan yang elegan duduk di sana menghadap ke depan.
“Selamat malam, Ami,” sapa Hendri.
Ami, mungkin panggilan kesayangannya untuk nenek, entah aku pun baru mendengarnya. Nenek berdiri dan menyambut kedatangan kita berdua, dan betapa terkejutnya aku, nenek yang disebut Arlita adalah nenek Robert. Aku menelan ludahku, sama halnya denganku nenek terkejut bukan main.
“Kamu kenal, Nenek?” tanya Hendri.
“Silakan duduk, nanti Nenek cerita, panjang ceritanya,” pinta nenek. Dengan penuh penasaran Hendri duduk di sampingku.
Aku menyibakkan rambutku ke belakang, rasanya sangat kaget mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Aku melihat sekeliling, apakah Robert di sana juga?
“Ami senang akhirnya kamu bisa bangkit dari masa lalumu, sayang,” ujar Nenek pada Hendri saat kita mulai menyantap hidangan lezat restoran bintang lima ini.
“Terima kasih atas bantuanmu juga, Nak Chalisa,” ujar nenek padaku.
“Mm, iya Nek,” sahutku.
Aku sangat penasaran, apakah Hendri dan Robert adik kakak. Jika saja tak ada nenek aku akan segera menanyakannya. Bagaimana aku bisa berada di situasi seperti ini, apakah selama ini Hendri tahu semuanya dan ia diam saja? Argghh! Aku sangat bingung.
Setelah acara makan malam selesai, kita kembali mengobrol panjang lebar, Hendri senang mendengar awal pertemuan aku dan nenek. Yah, bisa dikatakan itu benar-benar terjadi begitu saja.
“Nak Chalisa, kau tahu, Nenek mengajakmu makan malam kemarin karena ingin memperkenalkan cucu Nenek padamu,” ujar nenek sembari tersenyum bahagia.
“Dan siapa sangka, kalian berdua saling kenal dan menjalin hubungan,” lanjutnya lagi. Nenek mengusap punggung tanganku.
“Kamu dengar, Nenek suka padamu, apa kamu masih takut?” tanya Hendri. Aku tersenyum kecil sembari mencubit lengannya.
“Takut, takut kenapa?” tanya Nenek. Aku merapatkan bibirku pada Hendri, ia tertawa terbahak-bahak, ia sengaja menggodaku seperti itu. Aku menyipitkan mataku serta menatapnya tajam. Hendri membuatku merasa tak enak pada nenek.
“Chalisa takut jika Ami tidak akan setuju dengan hubungan ini,” sahut Hendri kembali serius.
“Ya Tuhan, itu tidak akan terjadi, Ami suka hubungan kalian berdua. Chalisa, dengar, Nenek suka padamu, bahkan sebelum mengetahui hubungan kalian berdua,” sahut Nenek dengan tenang.
“Tidak, Nek. Maaf, hanya pikiranku saja,” ucapku.
Pikiranku tetap saja tidak tenang walau mengetahui nenek suka padaku. Jika tentang ia ingin memperkenalkan aku pada Hendri, mungkin karena aku mirip dengan mantan istrinya.
Kenyataannya, aku tidak bisa bayangkan bagaimana jika nenek tahu aku punya anak dari hasil hubungan terlarang dengan Robert, apakah ia masih akan setuju hubunganku dengan Hendri. Badanku jadi panas dingin rasanya, aku tidak ingin pisah dengan Hendri, membayangkannya saja aku tak sanggup.
“Lain kali mari makan malam di rumah saja,” ujar Nenek membuyarkan lamunanku.
“Ah, iya, kapan-kapan,” sahutku.
Aku melirik jam di ponselku, aku ingin segera pulang dan tak sabar ingin mengetahui apa jawaban Hendri nanti. Nenek mengetahui aku mulai risi, ia bangun dari duduknya.
“Ayo kita pulang, kita bisa bincang-bincang lain waktu,” ajak beliau.
“Ayo kita pulang bersama,” ajak Hendri.
“Tidak, pulanglah, Nenek sebentar lagi dijemput Tomo,” jawab nenek.
Tak lama kemudian, orang yang dibicarakan pun datang, sopir pribadi nenek tiba. Beliau berpamitan padaku dan Hendri, aku melambaikan tangan padanya saat mobil yang membawanya melaju pergi.
“Mas, aku ingin bertanya,” ucapku.
“Argghh, kunci mobilku. Sayang, sebentar.”
Hendri berlari ke dalam, aku menggerutu kesal. Rasa penasaran sudah sampai di ubun-ubun. Aku ingat betul, Hendri tahu jika Angga adalah anak Robert. Semuanya terbongkar saat ulang tahun Angga, tapi jika ia tahu, kenapa diam saja dan tidak mengatakan apa pun padaku? Semuanya sangat membingungkan.
Jangan lupa like.