
Aku sangat syok mendengar bahwa surat wasiat papa menyatakan seluruh hartanya diwariskan kepada Angga. Bagaimana itu bisa terjadi, dari mana beliau tahu tentang Angga. Aku bahkan tidak mengatakan apa pun pada Angga tentang kakeknya. Apalagi papa, sejak kepergianku dari rumah aku tidak pernah pulang.
Mama terdiam, semuanya terdiam. Aku semakin bingung dengan situasi itu. Setelah menyelesaikan semua tugas-tugasnya, pengacara papa pun permisi. Aku masih terdiam dengan pikiran yang tak menentu. Apa kecurigaanku tenteng adanya hubungan mereka tanpa sepengetahuanku semakin besar.
“Ma, Bu, katakan sesuatu?” pintaku pada Mama dan Bu Aini.
Keduanya saling bertukar pandang. Angga duduk di sampingku, ia menggenggam tanganku seraya berkata, “Tanya saja padaku, Mi?” pintanya.
“Maksudmu, bagaimana?” tanyaku penasaran.
“Aku akan menceritakan semua,” sahutnya.
Angga akhirnya membuka suara, terdengar nafasnya terasa berat, aku juga tidak ingin memaksanya, namun ia serius mengatakan kalau ia akan menceritakannya. Setelah yakin, kemudian ia pun mulai bercerita apa yang sesungguhnya terjadi.
Flashback
8 Tahun silam, tepatnya saat Angga berulang tahun yang ke 10. Saat itu, aku masih ingat, Bu Aini mengajak kami pulang ke kampung halamannya. Itu terakhir kali aku ikut dengannya, dan terakhir kali ia pulang. Baru saja tahun ini ia kembali ke sana berbarengan dengan acara camping Angga perpisahan sekolahnya.
Suatu hari Bu Aini mengajak Angga ke pasar, yang letaknya lumayan jauh. Sore itu, aku tiba-tiba demam dan tak enak badan, aku memutuskan untuk tidak ikut. Berangkatlah mereka berdua. Aku di rumah berdua dengan adik Bu Aini.
“Nak Chalisa, sudah jam berapa ini, kenapa mereka belum pulang?” tanya Adik Bu Aini padaku saat hari semakin sore.
Aku melirik jam di ponselku, aku juga bingung kenapa mereka pergi selama itu, aku tidak tahu ingin menghubungi siapa, Angga meninggalkan ponselnya di kamar. Aku mondar-mandir di teras menunggu kepulangan mereka. Namun hari semakin gelap, tak jua mereka kembali.
“Ayo masuk, mungkin sebentar lagi mereka sampai,” ajak adik Bu Aini.
Hampir jam 10 malam, Bu Aini baru pulang. Aku segera membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat Bu Aini hanya seorang diri.
“Bu, Angga mana?” tanyaku penuh khawatir.
“Ada acara di pasar, malam ini, Angga ngotot tidak mau pulang, Ibu takut kau khawatir makanya buru-buru pulang, ibu titipkan Angga sama teman ibu, nanti kalau acaranya sudah selesai Angga akan diantarkan pulang,” sahut Bu Aini panjang lebar dengan sangat santai.
“Aku khawatir, Bu. Ayo kita jemput saja,” pintaku tak tenang.
“Sudah, percaya sama Ibu. Angga tidak apa-apa, biarlah dia bersenang-senang.”
Bu Aini segera ke belakang, kemudian ia segera berganti pakaiannya. Aku masih belum tenang, namun lagi-lagi Bu Aini menenangkanku. Akhirnya aku pun mengalah, jam semakin larut, aku masih belum bisa tidur. Tidak mungkin acaranya belum selesai, pikirku. Namun karena pengaruh obat aku tidak dapat menahan kantuk. Aku pun terlelap.
Keesokan harinya, aku terbangun hampir menjelang siang, aku tidak tahu kenapa bisa telat seperti ini. Aku baru teringat Angga, aku buru-buru mencari Bu Aini.
“Bu, Angga sudah pulang?” tanyaku.
“Sudah dari semalam, kau sudah terlelap, aku sengaja tidak membangunkan,” sahut Bu Aini.
“Oya, sekarang mana Angga?” tanyaku lagi.
“Sudah jalan-jalan sama adik Ibu,” sahutnya lagi. Aku baru lega setelah mengetahui Angga sudah pulang.
Siangnya Angga pulang bersama adik Bu Aini. Aku sangat gembira, aku memeluk Angga kecilku.
“Jangan jauh-jauh, Mami khawatir,” ucapku. Angga mengangguk sambil tersenyum manis.
Flashback off.
“Apa hubungannya dengan cerita itu, sayang?” tanyaku tak mengerti.
Aku terkejut bukan main, aku baru mengerti maksud Angga menceritakan kejadian 8 tahun silam itu. Jadi, hari itu Bu Aini membawa Angga bertemu kakek neneknya, pantas saja Angga tak canggung saat bertemu mama dan masuk ke rumah ini, begitu pula dengan seluruh orang yang ada di rumah.
“Bu Aini tidak salah, aku yang selalu menanyakan Oma dan opa, saat mengetahui mereka masih hidup, aku meminta Bu Aini mengantarkan aku bertemu mereka,” ujar Angga.
“Enggak, Mami enggak mengatakan Bu Aini salah, sayang,” sahutku.
Aku tersenyum kecil, lalu memeluk Angga dan rasanya aku tak ingin pelukan ini terlepas. Aku selalu merasa bersalah karena tak sempat mengenalkan Angga dengan kakek neneknya. Namun mendengar kabar seperti ini, aku bahagia, setidaknya papa mengenali cucunya sebelum beliau tiada.
“Maafkan, Mami. Harusnya mami yang membawamu pulang kemari,” ucapku.
Semuanya tampak bernafas lega karena melihatku tidak marah dengan semua kejadian itu. Aku tahu, walau bagaimanapun mereka merasa tidak enak karena telah membohongiku.
“Jangan bilang, saat camping kemarin sebenarnya kamu juga kemari, dan kalian berdua bohongi, Mami?” tanyaku lagi. Angga tertawa kecil, Bu Aini pura-pura tidak mendengarnya.
“Sebenarnya bertiga, bukan berdua aja,” sahut Angga.
“Maksudmu?” tanyaku.
Angga memonyongkan bibirnya ke arah Hendri. Aku menyipitkan kedua mataku, ia sangat terkejut Angga menunjukkan ke arahnya.
“Kamu tahu sebenarnya mereka pulang kemari, dan mereka sebenarnya enggak camping?” tanyaku.
Hendri tersenyum lalu memelukku. “Aku bisa apa, calon anak kita mengancamku,” sahut Hendri.
Semuanya tertawa, Angga juga tidak berkomentar apa pun. Aku tersipu malu ketika Hendri mengatakan seperti itu, apa dia serius dengan ucapannya, apalagi di depan orang tua dan anakku.
“Kapan kita pulang?” tanya Hendri kemudian.
“Semuanya sudah beres, sore ini kita segera berangkat,” sahutku.
“Sebelum pergi, Mama mau ke makam papa sebentar, ya?” pinta Mama.
“Tentu dong, Ma. Chalisa juga mau berpamitan pada papa,” jawabku.
Sore harinya.
Mama cukup lama duduk di depan makam papa dengan berlinang air mata. Sejak keduanya menikah dan menua bersama, satu detik pun keduanya tak pernah berpisah. Di mana ada papa, mama juga pasti di sana. Namun Hari ini, mama akan meninggalkan papa dan rumah untuk yang pertama kalinya. Tentu tidak mudah.
“Ayo, sayang,” ajak Mama, beliau menyeka air matanya.
“Mama sudah siap?” tanyaku. Mama menganggukkan kepalanya. Aku memapahnya menuju mobil, sekali lagi, sebelum naik mobil, mama menatap makam papa.
“Pak Parmin, saya titip rumah dan semuanya, ya?” pintaku.
“Baik, Non. Semuanya akan baik-baik saja,” sahutnya.
Aku melambaikan tangan padanya saat Hendri mulai melaju pergi. Aku percaya pada pak Parmin, beliau sudah puluhan tahun bekerja pada papa.
“Ma, semuanya akan baik-baik saja, pak Parmin pasti akan menjaganya dengan baik untuk kita,” ujarku pada Mama.
Beliau menganggukkan kepalanya. “Mama percaya, dari dulu pak Parmin tidak pernah kedapatan berbohong,” sahutnya kemudian. Aku tersenyum lega. Setidaknya mama bisa tenang ikut denganku.
Jangan lupa like.