A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 32



Mama tersenyum saat menginjakkan kakinya di rumahku, ia memutar pandangannya ke sekeliling. Toko bungaku paling menarik perhatiannya, cukup lama ia melihatnya tanpa berkedip.


Mama sangat menyukai tanaman, melihat kebun bunga di halaman rumahku, ia sangat gembira. Mama menyentuh mawar putih yang sedang mekar indah di dekat pagar, kemudian ia menciuminya sebentar. Angga merangkul bahunya seraya berbincang-bincang dengannya, sekali-kali keduanya tertawa lepas. Aku melihatnya dari kejauhan.


“Kau bahagia?” tanya Hendri padaku.


Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, jujur, aku sangat suka dengan pemandangan ini. Tidak pernah ter bayangkan ibu dan anakku akan bersatu seperti ini.


“Aku bahagia, sangat bahagia,” jawabku. Hendri tersenyum kecil. Kemudian ia bangkit dari duduknya.


“Aku harus pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan segera,” ucapnya. Aku mengangguk, sudah terlalu banyak aku merepotkannya.


“Hati-hati,” sahutku singkat. Sebelum pergi, Hendri mengecup keningku sebentar.


Keesokan harinya. Aktivitas kembali sebagaimana biasanya. Pagi-pagi aku sudah mendengar kericuhan karyawanku di bawah, aku masih uring-uringan di kamar. Tak lama kemudian aku pun bergegas mandi dan berpakaian rapi.


Aku menyibakkan tirai jendela kamarku, udara pagi ini sangat cerah. Aku memejamkan kedua mataku menikmatinya, hal kecil seperti ini rutin aku lakukan setiap harinya sebagai wujud aku berterima kasih pada alam semesta ini yang telah memberiku waktu untuk terus menikmatinya dan menjalani kehidupan dengan damai dan tenteram.


Tiba-tiba pandanganku tertuju pada wanita paruh baya dengan rambutnya yang disanggul, ia sibuk menyirami tanaman di halaman rumahku, wanita itu yang tak lain adalah mamaku. Aku tersenyum, setidaknya beliau punya aktivitas baru, sejenak beliau melupakan kesedihannya. Aku bergegas turun untuk menyapanya. Namun saat tiba di hadapannya, aku urungkan niat itu. Aku berdiri di pintu, asyik melihatnya saja. Aku tak ingin mengganggu, damai rasanya melihatnya setenang itu.


“Sayang, sudah bangun?” tanya beliau begitu melihatku. Aku mengangguk, lalu mendekat kemudian memeluknya erat.


“Selamat pagi, Ma,” sapaku.


“Ayo kita sarapan dulu,” ajak Mama sembari menarik tanganku masuk ke dalam. Aku mengikutinya masuk sembari bergelayut manja di bahunya.


Saat aku dan mama sedang menikmati sarapan, Angga keluar dengan pakaian sudah rapi dan ransel di bahunya. Mama terdiam, aku paham, ia pasti akan merasa sepi tanpa Angga.


“Sayang, ayo sarapan,” ajak Mama.


“Mau ke mana?” tanyaku.


“Kuliah mulai aktif besok, Mi,” sahut Angga.


Mama menarik nafasnya dengan berat, aku melihat Angga tak berkedip. Angga merangkul mama dan menciumi keningnya.


“Aku janji akan sering pulang dan jenguk, Oma,” bujuknya.


Layaknya anak kecil yang diiming-imingi harapan, mama tersenyum bahagia. “Kamu janji?” tanya beliau. Angga menganggukkan kepalanya.


“Mama tidak akan kesepian, sekarang, taman bunga jadi urusan, Mama,” ujarku.


“Benarkah?” tanya Mama.


“Ya, dong. Nanti Angga bawa pulang bibit tanaman lainnya, buat taman kita semakin cantik, ya?” ucapnya sambil tersenyum.


Mama sangat bergembira akan hal itu, beliau tertawa lepas, aku menyaksikan langsung kerutan di wajahnya sudah terlihat jelas, usia beliau tak lagi muda, aku sangat menyayanginya. Terima kasih Tuhan telah memberiku kesempatan bersama dengannya lagi.


“Mi, aku berangkat, ya?” ucap Angga saat berpamitan, aku tersenyum kecil, harapanku, semoga ia sukses dengan pendidikannya dan kelak ia berhasil meraih impiannya.


Aku sangat sibuk hari ini, Askia menerima pesanan cukup banyak. Bu Aini juga membantu kami di dapur, mama memaksa ingin berjualan bunga, beliau bosan jika hanya berdiam diri tanpa pekerjaan. Aku terpaksa mengiyakan agar tak menyinggung perasaannya.


Namun tiba-tiba aku mendengar keributan di luar, terdengar suara Bu Aini berteriak. Aku bergegas memeriksanya.


“Bu, ada apa?” tanyaku begitu tiba di teras.


“Oh, rupanya ini perempuan yang sudah membuat Hendri sibuk dan menyebabkan perusahaannya terbengkalai begitu saja?” tanya seorang wanita berpenampilan modis dengan makeup tebal. Wanita itu adalah sekretaris Hendri, aku pernah berjumpa dengannya saat mengantarkan kue ulang tahunnya, hingga menyebabkan acara surprise itu gagal.


“Maaf, maksud Anda?” tanyaku.


“Aku peringatkan padamu, Hendri itu tunanganku, jangan coba-coba mendekati dan mempengaruhinya!” ucap wanita itu dengan nada sinis.


Aku tertegun, tunangan?


Tiba-tiba mama datang, aku buru-buru mengiyakan permintaan wanita itu agar ia bergegas pergi dan mama tidak mendengar apa yang ia katakan.


Setelah ia pergi aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Semuanya karyawan tampak canggung, aku tak menghiraukan perkataan wanita itu, aku tak ingin terjadi kesalahan yang sama. Mudah percaya dengan sesuatu hal yang belum pasti.


“Mbak, ponselmu berdering,” ujar Askia mengagetkanku. Aku terlalu fokus dengan pekerjaan hingga membuatku tak mendengarnya.


“Halo,” sapaku.


“Ini aku, Robert,” sahut seseorang di seberang.


“Ada apa?” tanyaku.


“Aku turut berduka, atas meninggalnya papamu,” ujar Robert.


“Ya, terima kasih,” sahutku singkat.


“Boleh aku bertamu ke rumahmu, aku hanya rindu pada Angga,” ujar Robert lagi.


Aku terdiam sesaat, aku sedang berpikir untuk mengatakan atau tidak padanya tentang Angga yang sedang bersekolah di kota.


“Cha, boleh?” tanya Robert.


“Tidak, Angga sedang tidak di rumah, ia di asrama,” jawabku.


“Asrama, di mana?” tanya Robert.


“Di kota B,” jawabku.


Kemudian aku mengakhiri panggilan itu sebelah pihak, aku tak ingin bertutur kata terlalu panjang dengannya, tidak penting.


“Kau mengatakannya?” tanya Bu Aini.


“Ya, mau bagaimana, Bu. Anaknya,” sahutku. Bu Aini terdiam, ia sangat membenci Robert dari dulu. Apa pun alasannya, ia tidak membenarkan Angga bertemu dengan pria yang telah menghancurkan masa depan kami.


Malam harinya.


“Cha,” panggil Bu Aini sembari terus mengetuk pintu kamarku.


Aku bangun dari tidur dan membukakan pintu. “Ada apa?” tanyaku.


Belum sempat beliau berkata, Angga masuk ke kamarku kemudian menutup pintunya. Aku jadi bingung apa yang terjadi.


“Sayang, ada apa?” tanyaku.


“Mami sengaja menyuruh laki-laki itu datang, lalu memberiku uang ini!?” tanya Angga dengan meninggikan suaranya. Angga melemparkan amplop berisi uang ke ranjang aku.


“Apa ini?” tanyaku.


“Mami sengaja kasih tahu dia aku sekolah di sana? Untuk apa?” tanya Angga.


“Robert?” tanyaku lagi.


“Dia sengaja datang untuk membuatku malu, apa dia merasa hebat dengan memberiku uang sebanyak ini? Aku tidak butuh!” teriak Angga keras. Kemudian ia keluar, ia membanting pintu kamarku cukup keras.


Aku terperanjat, tidak pernah sekali pun itu terjadi sebelumnya. Apa yang sudah Robert lakukan padanya sehingga ia begitu murka. Aku sangat panik dan ingin mengejar Angga, tapi Bu Aini melarangnya. Situasi sedang tidak tepat.


Aku menghubungi Robert dengan sangat gusar, apa yang membuatnya begitu berani mengusik anakku. Apa ia merasa aku kekurangan uang untuk membiayai anakku?


Jangan lupa like.