
Setelah selesai sarapan Cherly mengantar Olivia menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangan Lewis, semua itu dia lakukan sesuai dengan perintah Lewis.
Cherly membuka ruangan itu sedangkan Olivia langsung masuk kedalam sana, Olivia melihat ruangan ltu dengan seksama.
"Tidak buruk." gumamnya.
"Jadi ini ruanganku?" Olivia memutar langkahnya melihat kearah Cherly yang sedang melihatnya dengan tajam.
"Benar!" Cherly menjawab dengan ketus.
"Aku perhatikan sedari tadi kau tampak tidak senang denganku, apa kau membenciku?" tanya Olivia.
"Huh, aku sudah banyak melihat wanita seperti dirimu yang berusaha mendekati tuan Simone." jawab Cherly.
"Wow, aku tidak menyangka pria aneh itu begitu laku dipasaran, sepertinya kakak dan ayahku kalah." ujar Olivia pelan.
"Kau mendekati tuan Simone karena hartanya bukan?" tanya Cherly menghina.
"Harta? Aku sih tidak butuh." jawab Olivia santai.
"Tidak perlu berbohong, kau pasti seperti salah satu artis yang suka datang kemari untuk meminta bantuan tuan Simone agar popularitasmu langsung naik bukan?"
Cherly melihat Olivia dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
"Wah..Wah...Wah..Ternyata pria aneh itu bisa menjerat seorang artis, apa mata artis itu buta bisa tertarik dengan pria aneh itu?"
"Hei aku sedang berbicara denganmu!!" Cherly mulai kesal karena dia diabaikan.
"Siapa namamu?" tanya Olivia.
"Cherly."
"Oke Cherly, apa kau menyukai Lewis Simone?"
"Seharusnya kau sudah tahu, selama ada aku disini maka tidak akan ada satu wanitapun yang akan bisa memilikinya termasuk kau ataupun artis itu."
Cherly menatap Olivia dengan tajam sedangkan Olivia hanya tersenyum padanya.
"Kau tidak perlu khawatir Cherly, aku bisa jadi sekutumu, jika kau mau aku bisa membantumu mendapatkan Lewis Simone. Bagaimana?"
"Hah?" mulut Cherly menganga, maksudnya?
Bukankah gadis ini bekerja disana untuk mendekati Lewis bahkan tadi Lewis sangat perhatian pada gadis ini dan memintanya untuk membawakan sarapan bahkan bisa dia tebak, tadi mereka pasti sarapan bersama. Lalu apa maksud dari perkataan gadis ini jika dia akan membantunya mendapatkan Lewis Simone?
"Jangan menipuku, aku sudah bertemu dengan banyak wanita licik sepertimu." Cherly segera melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu dengan kasar.
"Tidak mau ya sudah, padahal aku benar-bentar akan membantunya tapi dia mengatai aku wanita licik, dasar aneh." gerutu Olivia.
Dia segera berjalan Kearah meja dan meletakkan tasnya disana setelah itu Olivia mengambil ponselnya, dia berjalan kearah jendela dan berdiri disana.
Olivia ingin menghubungi kakeknya hendak menanyakan fasilitasnya yang telah kakeknya blokir tapi dia ragu, jika sampai Lewis Simone tahu maka dia akan ditertawakan oleh pria aneh itu.
Olivia memutar langkahnya kembali, tidak jadi menghubungi kakeknya. Lagi pula dia hanya sebulan saja disana dan ini tidak akan lama.
Olivia menarik kursi dan duduk disana, dia juga meletakkan ponselnya kembali kedalam tas.setelah itu dia mengambil dompetnya untuk melihat uang yang dia punya.
Uang di dalam dompetnya masih cukup untuknya membeli sesuatu tanpa perlu meminta pada Lewis, inilah akibatnya tidak biasa membawa banyak uang tunai dan lebih mengandalkan kartu kredit.
Seandainya ada sahabat baiknya Alice? Olivia menghembuskan nafasnya dengan berat, apa yang dilakukan oleh Alice saat ini?
Dia sih bisa meminta uang pada keluarganya tapi ya sudahlah, ini semua juga salahnya karena telah membakar mobil Lewis jadi dia akan bertanggung jawab sendiri tanpa melibatkan keluarganya.
Saat itu pintu ruangannya terbuka, tampak Cherly masuk kedalam sana dengan setumpuk kertas ditanganya.
Cherly berjalan kearahnya dan meletakkan tumpukkan kertas ltu diatas meja.
"Tuan Simone memerintahkanmu untuk mengerjakan ini." kata Cherly dengan nada ketus.
"Wow, hari pertama yang berat." gumam Olivia.
"Apa artis itu sudah datang?"
"Dari mana kau tahu?" Cherly menatap Olivia dengan heran.
"Aku hanya menebak karena kerut diwajahmu semakin bertambah." jawab Olivia dengan santai.
"Kau!!" Cherly semakin kesal.
OLivia hanya tertawa, padahal dia hanya menggoda Cherly saja tapi tebakkannya benar. Mana dia tahu artis mana yang sejak tadi Cherly bicarakan dan jujur dia tidak perduli siapa yang berhubungan dengan Lewis Simone.
Olivia meraih kertas yang diletakkan Cherly diatas meja dan mulai melihatnya dan pada saat itu Lewis masuk kedalam ruangannya sedangkan Cherly sudah mengundurkan dirinya.
"Jadi Cherly, mau terima tawaranku tidak? Aku bisa membantumu mendapatkan si aneh itu." dia bertanya seperti itu karena dia tidak tahu jika Cherly telah pergi sedangkan Lewis sudah berdiri didekatnya.
"Siapa yang kau maksud sianeh?"
Saat mendengar suara Lewis, Olivia langsung mengangkat kepalanya, dia langsung tersenyum manis pada Lewis.
"Tidak ada, Cherly bilang dia menyukai orang aneh dan aku hanya ingin membantunya mendapatkan orang aneh itu."Jawabnya.
Lewis berjalan Kearahnya dan berdiri didepan Olivia.
"Olivia Smith."
"Apa?" Olivia mengabaikan Lewis dan kembali fokus pada pada kertas yang dipegangnya.
"Hei lihat aku!"
"Ck, apa sih?" Olivia masih mengabaikan Lewis.
"Olivia!" Lewis menarik tangan Olivia hingga Olivia bangkit berdiri.
"Lewis Simone, kau cari mati ya!!"
Lewis menatap Olivia dengan tajam begitu juga dengan Olivia, mereka saling berdiri berhadapan dan saling melemparkan tatapan tajam satu sama lainnya.
"Dengar ya Olivia Smith, biarpun kau calon tunanganku tapi saat ini kau sedang bekerja dikantorku jadi kau harus menghormati aku." kata Lewis dengan tajam.
"Iya...Iya tuan Simone, bisa kau lepaskan tanganku? Jika ada yang melihat maka aku akan dilempar sepatu!"
Lewis melepaskan tangan Olivia dan terkekeh pelan, dia segera memundurkan langkahnya untuk sedikit menjauh dari Olivia.
"Bagus, dengar sebentar lagi aku akan ada rapat jadi kau harus menyediakan minuman untuk para tamu rapat dan jangan lupa untukku juga."
"What?" Olivia terbelalak kaget.
"Tuan Lewis Simone yang terhormat, sebenarnya apa pekerjaanku?" tanyanya.
Olivia kembali menatap Lewis dengan tajam, apa pria itu kira dia seorang pembantu?
"Kau? Pekerjaanmu banyak, semua yang aku perintahkan harus kau kerjakan jadi jangan banyak protes. Anggap saja kau sebagai tangan kananku." Jawab Lewis dengan santai.
Olivia menggengam kedua tangannya dengan erat, dia berusaha menahan emosinya dengan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Baiklah tuan Simone, katakan berapa tamumu nanti. Aku pasti akan membuatkan minuman yang enak untuk mereka dan aku tidak akan mengecewakanmu." ucap Olivia sambil tersenyum dengan manis.
"Itu bagus, kau harus menyediakan sepuluh gelas kopi itu sudah termasuk untukku." perintah Lewis.
"Serahkan padaku."
"Bagus, setengah jam lagi minuman itu sudah harus siap diruang rapat."
Lewis segera melangkah pergi, itu baru permulaan dan dia akan membuat Olivia Smith pulang kerumahnya sambil menangis.
Setelah kepergian Lewis dari sana, Olivia tersenyum dengan licik.
"Dasar bekas artis, kau ingin menindasku? Tidak akan pernah bisa!" katanya sambil tersenyum dengan licik.