
Olivia mengikuti langkah kakaknya menuju lift pribadinya, dia benar-benar tidak menyangka jika Gwen benar-benar punya nyali datang kesana untuk menggoda kakaknya.
Untung saja Gwen sahabat Lewis, jika tidak, dia yakin Gwen sudah habis saat ini juga.
Apalagi mood kakaknya sedang tidak bagus sejak Alice pergi, tapi yang membuatnya penasaran kenapa kakaknya mau menemui Gwen?
Apa Gwen mengatakan sesuatu sampai membuat kakaknya mau menemui si ratu drama bodoh itu?
"Kak tunggu!" teriaknya saat kakaknya sudah berada didalam lift.
Olivia sedikit berlari dan pada saat itu kakinya tersandung dan hampir saja terjatuh, untung saja kakaknya langsung menangkap tubuhnya hingga dia tidak tersungkur diatas lantai lift.
"Hei hati-hati!"
"Sory kak, kepala ku sakit sedari tadi."
"Kau sakit?"
"Tidak, hanya sakit kepala saja."
"Kalau sakit kepala kenapa kau datang kemari?".
"Bukannya kak Jacob yang memanggilku untuk datang."
"Kau ini ya! Kenapa kau bisa kenal dengan wanita penuh benjolan begitu!"
"Ha..ha....ha....ha ..ha...ha..!" Olivia langsung tertawa, benjolan?
"Kak, Gwen artis papan atas loh,ratu drama."
"Tidak tertarik!"
"Lagi pula aku heran kanapa kakak mau menemuinya, kenapa tidak langsung di usir saja."
"Bodoh!" Jacob menekan kepala adiknya sampai membuat Olivia kesal.
"Kak, lepas!" Olivia memegangi tangan kakaknya yang berada diatas kepalanya.
"Wanita itu bilang dia adalah sahabat baikmu jadi aku kira Alice telah kembali, makanya aku mau menemuinya."
"Kak, aku rasa jika Alice kembali dia tidak akan mencarimu disini."
Jacob diam saja, jujur saja dia sangat berharap tadi dan sekarang dia sangat merasa kecewa, sepertinya benar kata adiknya, Alice tidak akan mencarinya disana.
Mereka berdua berjalan keluar dari lift saat benda itu telah terbuka, Jacob keluar dengan wajah murung dan tampak tidak begitu bersemangat.
Jujur Olivia merasa sangat sedih melihat keadaan kakaknya, dia mengikuti kakaknya masuk kedalam ruangannya dan duduk diatas sofa.
"Kak Jacob."
"Apa?"
"Sewaktu Alice pergi apa dia tidak mengatakan sesuatu pada kakak?"
"Ada."
"Apa? Dia bilang apa?"
"Dia bilang ingin menenangkan diri dan Marry tidak mau kembali karena trauma!"
"Oh." Olivia diam saja, dia jadi teringat kejadian sewaktu mereka diculik dan jujur saja dia masih merasa bersalah.
"Kak, aku rindu dengannya. Dia sahabat paling baikku dan dia mau berteman denganku tanpa bertanya siapa aku."
Jacob menghembuskan nafasnya dengan berat saat mendengar ucapan adiknya.
"Kau kira kau saja yang rindu dengannya, aku juga sangat merindukannya! Tapi mungkin dia memang butuh waktu untuk menenangkan diri dan aku menghargai keputusannya, sebelum mengenalnya kita tidak tahu apa yang dia lalui dan bagaimana dia menghadapi kematian keluarganya bahkan kita tidak tahu bagaimana dia menjalani harinya tanpa keluarganya lagi."
"Ya kakak benar, waktu aku mengenal Alice dia tampak ceria dan aku tidak tahu jika dia pernah mengalami kehidupan yang begitu sulit dan pengalaman pahit, pasti berat untuknya."
"Hei Olivia kau kenal Alice dimana?"
"Cih, sekian lama baru sekarang kak Jacob menanyakan hal ini!"
"Jawab saja!"
"Saat aku berlatih taekwondo, dia dan aku jadi lawan dan kami seimbang. Aku langsung suka dengannya dan mengajaknya berteman, kalau kakak dimana?"
"Di Bank."
"Oh, apa kakak tidak tahu kemana dia pergi?"
Jacob hanya menggeleng, jika dia tahu dia juga tidak akan seperti ini. Dia jadi menyesal karena telah membanting ponselnya sampai rusak.
"Sudahlah, jangan membicarakannya lagi, pada saat waktunya tiba nanti dia pasti kembali karena dia telah berjanji padaku."
"Apa kau sudah makan?"
"Belum."
"Kalau begitu ayo kita pergi makan."
Jacob bangkit berdiri begitu juga dengan Olivia, mereka keluar dari sana untuk makan siang bersama.
Mereka menuju kesebuah restoran terdekat dan memesan makanan yang ada dan Olivia merasa dia sedang tidak berselera makan.
Bahkan makanan yang ada diatas meja tidak disentuhnya sama sekali, kepalanya kembali terasa sakit dan dia juga merasa begitu mual saat mencium aroma makanan itu.
Hal itu membuat Jacob sangat heran, ada apa dengan adiknya? Tidak biasanya adiknya seperti itu. Padahal yang dia pesan makanan kesukaan adiknya tapi kenapa tidak disentuh sama sekali.
"Hei ada apa denganmu? Apa kau sakit?"
"Tidak tahu kak, rasanya kepalaku sangat sakit dan aku juga merasa tidak enak badan."
"Kalau begitu ayo kita kerumah sakit."
"Tidak perlu kak, aku hanya butuh istirahat saja, setelah ini aku akan pulang untuk beristirahat." tolaknya.
"Sudahlah,ayo kita kerumah sakit."
Jacob bangkit berdiri dan menggandeng tangan adiknya, setelah membayar makanan yang mereka pesan, mereka keluar dari sana.
Olivia tetap menolak tapi kakaknya tidak perduli, dia tetap membawa adiknya kerumah sakit keluarga mereka.
Dia khawatir terjadi sesuatu dengan adiknya dan dia harus mengetahui kesehatan adiknya saat itu juga.
Saat berada dirumah sakit seorang dokter yang telah lama melayani keluarga mereka sedang memeriksa keadaan Olivia, dokter itu tersenyum dan berkata:
"Tenang saja tuan Smith, nona Olivia baik-baik saja. Ini hanya gejala awal kehamilan."
"Apa?" Olivia tampak tidak percaya dan tampak senang.
Hamil, akhirnya dia hamil juga. Padahal baru tadi pagi dia memikirkan hal demikian tapi ternyata dia benar-benar hamil.
"Kak Jacob, aku hamil!" Olivia melompat kedalam pelukan kakaknya, dia benar-benar senang saat ini.
"Hei, jangan melompat, bahaya!"
"Sorry kak, tapi aku benar-benar begitu senang."
Jacob mengusap punggung adiknya dan berkata:
"Selamat untukmu, kau harus jaga diri baik-baik dan jangan bersikap ceroboh."
"Tentu saja kak, terima kasih sarannya."
"Tidak mau mengabari suamimu?"
"Aku akan mengabarinya sekarang."
Olivia melepaskan diri dari pelukan kakaknya dan setelah itu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Lewis.
Saat mendengar kabar gembira dari istrinya Lewis begitu senang, tanpa membuang waktu lagi dia segera pergi menuju rumah sakit untuk menemui istrinya.
Rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, usaha menanam benihnya akhirnya berhasil dan sukses.
Bibit unggulnya sudah tumbuh dirahim istrinya dan mereka tinggal menyiram dan memupuk bibit itu supaya cepat besar.
Saat dia tiba tampak istri dan kakak iparnya ada didalam ruangan, begitu melihat kadatangan suami adiknya Jacob langsung bangkit berdiri.
"Olivia, aku mau pergi."
"Kak Jacob mau kemana?"
"Kembali kekantor."
"Baiklah, hati-hati kak."
Jacob mengangguk dan melangkah pergi tapi sebelum itu dia menyapa adik iparnya yang tampak begitu senang.
Saat kepergian kakak iparnya Lewis menghampiri Olivia dan memegangi tangannya.
"Sayang, apa yang kau katakan itu benar?"
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong."
"Oh sayang aku sangat senang mendengarnya."
Lewis menciumi bibir Olivia dengan mesra, mereka benar-benar sangat senang dan bahagia mengetahui buah cinta mereka sudah tumbuh didalam sana dan mereka tinggal menunggu buah cinta mereka lahir kedunia.