
Pagi itu didalam kamar, Lewis tampak kusut bukan kepalang, bagaimana tidak, permintaan Olivia benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
Dia tidak berdaya karena telah berjanji akan mengikuti permintaan Olivia apapun itu, dia memang akan menepati janjinya apalagi janji pada istrinya jadi dia akan melakukan apapun juga selama permintaan itu masih masuk akal dan tidak aneh.
Tapi sekarang, lihatlah, dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa pasrah mengikuti permintaan istrinya.
Olivia tampak begitu senang dan begitu sibuk, sedangkan Lewis hanya bisa pasrah duduk disisi ranjang membiarkan apapun yang ingin istrinya lakukan pada wajah dan tubuhnya.
"Olivia sayang, kenapa kau mendandaniku seperti ini?"
"Diam ah, kaukan sudah berjanji akan menuruti semua permintaanku jadi hari ini aku ingin melihat penampilanmu yang berbeda."
"Tapi sayang, aku ada rapat. Apa kau ingin aku mengikuti rapat dalam keadaan seperti ini?"
"Yes." jawab Olivia sambil tersenyum dengan manis.
"Hei, kau benar-benar tega."
Lewis menangkap tangan Olivia dan menarik istrinya hingga duduk diatas pangkuannya, dia juga mengusap pipi Olivia dengan lembut dan menciumi bibirnya.
"Katakan padaku apa yang sedang kita mainkan ini?" tanyanya.
Olivia tampak berpikir tapi tidak lama kemudian senyumnya mengembang dan menghiasi wajahnya.
"Ini permainan tuan putri jahat dan seorang budak!"
"Siapa yang tuan putri disini?"
"Aku! Aku tuan putri jahat yang sedang menyiksa budaknya." jawan Olivia dengan penuh semangat.
"Ya tapi, apa aku harus seharian seperti ini?" Lewis melihat penampilannya dari atas sampai kebawah dan tampak frustasi.
"Tentu saja!"
"Olivia sayang, sudah ya, please. Aku ada rapat jam 10 nanti. Jika aku rapat dalam keadaan seperti ini aku akan sangat malu pada rekan bisnisku, kau tidak maukan mempermalukan suamimu ini?"
"Tenang saja, tidak akan ada yang mengenalimu nanti Lewis."
"Kau yakin?" Lewis benar-benar ragu.
"Serahkan pada keahlian tangan istrimu ini." Olivia tersenyum dengan usil dan bangkit berdiri, dia belum selesai mempermak penampilan suaminya.
Lewis menghembuskan nafasnya dengan pasrah, dia hanya bisa mengikuti setiap ucapan istrinya.
Olivia membuka make up yang dia punya, dia mulai mengambil beberapa make up dari sana dan memoleskannya diwajah suaminya, dia memang tidak bisa memasak tapi dia jago memoles wajah seseorang karena itu adalah hoby tersembunyinya.
Yah walau sampai sekarang belum ada korban yang menjadi percobaannya dan sekarang, Lewis adalah korban pertamanya dan dia sangat ingin melihat hasilnya nanti.
Setelah memoles wajah suaminya kini dia mulai menghiasi kelopak mata suaminya, Lewis menarik nafasnya berkali-kali, rasanya dia ingin lari dari sana dan jika ada yang mau mengganti posisinya saat ini maka dia akan membayar orang itu berapapun juga tapi sayangnya tidak ada.
Dia berharap tidak ada yang mengenalinya nanti dalam penampilan seperti ini kalau tidak dia akan menjadi bahan tertawaan oleh rekan bisnisnya atau para karyawannya.
"Olivia sayang, apa belum selesai?" dia benar-benar sudah tidak tahan apalagi saat Olivia menempelkan sesuatu dimatanya.
"Belum." Olivia tampak begitu serius.
"Masih berapa lama lagi?" tanyanya frustasi.
"Lewis kau bisa diam tidak!" Olivia mulai tampak kesal.
"Astaga kau benar-benar menyiksaku!"
"Hei seharusnya kau tahu, saat kau memutuskan menikah denganku maka pada saat itu juga kau adalah budakku dan kau harus mengikuti semua ucapanku!"
Lagi-lagi Lewis hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, dia jadi teringat perkataannya sendiri 'hanya orang bodoh yang mau menikah dengan Olivia' dan lihatlah, dia sendirilah orang bodoh itu.
Cinta memang buta dan dia sudah buta karena mencintai Olivia, tapi dia tidak menyesal, walaupun dia harus melakukan hal seperti ini dia tidak menyesal sama sekali.
"Tada..Sudah selesai."
Olivia memberikan sebuah cermin untuk Lewis dan pada saat itu juga Lewis melihat wajahnya, wow, dia terlihat cantik, setelah dipoles wajahnya benar-benar terlihat berbeda bahkan jambang-jambang halusnya tidak terlihat sama sekali.
"Hei sayang, apa kau tidak jijik melihat penampilanku ini?"
"Tidak, kau sangat cantik." Olivia tampak begitu puas melihat hasil karya tangannya.
"Sekarang tinggal pakai ini."
Olivia mengambil sebuah papar bag dan mengambil sesuatu dari sana, dia mengeluarkan sebuah rambut palsu berwarna merah dari sana.
"Wow, kapan kau menyiapkan semua itu?" Lewis tampak tidak percaya.
"Tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan Lewis, aku membelinya lewat internet dan aku meminta pak Steve mengambilnya semalam."
Lewis meneguk salivanya dengan kasar, pantas saja saat membawa paper bag itu istrinya tampak begitu senang, dia tidak menyangka istrinya telah merencanakan hal ini.
Olivia mulai memasang rambur palsu yang dipegangnya dan mulai memakaikan dikepala Lewis, wig panjang itu tidak terlihat seperti rambut palsu karena dia membeli wig ditempat yang terpercaya dimana banyak artis membeli benda itu disana.
Setelah rambut palsu itu terpasang dikepala Lewis, dia meminta suaminya untuk bangkit berdiri, Lewis telah memakai celana panjang berwarna biru tua dan kemeja berwarna putih, itu baju untuk wanita dan tentunya dengan dada palsu supaya penampilannya semakin mirip dengan seorang wanita.
Untuk menutupi benjolan suaminya, Olivia telah menyiapkan sebuah mantel untuk dipakai oleh suaminya nanti.
"Wow, kau cantik." ujar Olivia kagum.
"Tidak perlu memuji."Lewis benar-benar frustasi.
"Tenang saja Ms Louisa, tidak akan ada yang mengenalimu."
"Hei jangan merubah namaku sembarang!"
"Untuk hari ini namamu Louisa."
"Ck, sialan!"
"Hahahaha..!" Olivia hanya tertawa.
"Sekarang ayo pergi, nanti kau akan terlambat untuk rapat."
"Dengan penampilan ini?"
"Yes Ms Louisa."
"Oh Tuhan, bunuh saja aku!"
Olivia memakaikan mantel pada suaminya dan memberikan tasnya, dia juga memberikan sebuah kaca mata pada suaminya, mereka keluar dari kamar mereka dan pada saat itu, pelayan Lewis tidak mengenali Lewis begitu juga dengan supir pribadinya.
Saat masuk kedalam kantornyapun tidak ada yang mengenali penampilannya sama sekali, tubuh yang tinggi, kaki yang jenjang, rambut panjang berwarna merah dan wajah yang terlihat cantik karena make up membuat Lewis bagaikan seorang business women yang tampak tangguh dan angun, walaupun dia sedang bersusah payah berjalan dengan sepatu hak tinggi yang dipakainya.
Para karyawan pria dikantornya tak henti-hentinya melirik kearahnya sampai membuatnya kesal, ingin rasanya dia memukul karyawannya satu persatu!
Jika ini bukan permintaan istrinya maka dia tidak akan pernah mau melakukannya, ini benar-benar gila, dia berharap kakeknya tidak melihat penampilannya yang sangat memalukan saat ini.
Saat masuk kedalam ruangannya Cherly juga tidak mengenalnya bahkan Cherly tampak pangling, tapi Cherly tidak bertanya karena ada Olivia disampingnya.
Ini benar-benar gila, apalagi sebentar lagi dia ada rapat. Saat dia berbicara nanti maka semua rekan bisnisnya akan tahu dan menertawakannya.
"Olivia sayang, aku ada rapat jadi kita sudahi saja permainan ini, okey?"
"Tidak! Kau sangat cantik dan aku ingin melihat penampilanmu seperti ini seharian."
"Tapi aku?"
"Please, ini permintaan si Junior." Olivia memasang wajah memelas sampai Lewis tidak berdaya.
"Oke baiklah, tapi kau harus mewakili aku dirapat nanti." ujarnya pasrah.
"Serahkan padaku Ms Louisa."
Lewis hanya bisa menggeleng, mudah-mudahan istrinya tidak memintanya melakukan hal aneh lagi yang pastinya saat rapat tiba, semua mata tertuju padanya dan menatapnya dengan genit sampai membuatnya kesal.
Untung saja Olivia ada disampingnya jadi tidak ada yang tahu bahwa wanita cantik berambut merah yang mengikuti rapat adalah didirinya.