
Olivia mendorong tubuh Lewis hingga Lewis bersandar pada ujung bathup, dia juga menekan tubuh Lewis menggunakan tubuhnya sedangkan jari jemarinya mulai bermain dibibir Lewis.
Lewis menelan ludahnya dengan kasar, apa yang mau dilakukan oleh Olivia? Dari tadi Olivia terus tersenyum dengan usil dan dia jadi curiga, apa yang sedang dipikirkan oleh Olivia?
Sepertinya ini bukan hal yang bagus tapi dia ingin melihat apa yang ingin dilakukan oleh Olivia?
"Lewis, apa kau ingin?" Olivia tersenyum dengan nakal sedangkan jari jemarinya mengusap wajah tampan Lewis.
"Apa kau mengijinkannya?" Lewis balik bertanya.
"Aku akan mengijinkannya tapi jika kau bisa menang dariku?"
"Menang?" Lewis mengernyitkan dahinya, apa maksud Olivia?
"Hei apa maksudmu?"
"Bagaimana jika kita bermain game? Jika kau menang maka aku akan jadi milikmu dan kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan."
"Ho..Sebaiknya kau jangan menyesali ucapanmu." ujar Lewis sedangkan sebuah senyuman licik menghiasi wajahnya.
Olivia juga sama, senyum liciknya juga mengembang diwajahnya, Lewis belum tahu game apa yang akan mereka mainkan tapi sudah menyetujuinya, dia akan pastikan Lewis pasti akan menyesal setelah ini.
"Kau tahu Lewis, aku tidak akan pernah menyesali ucapanku jadi sebaiknya kau mempersiapkan dirimu untuk menghadapi game yang akan kita mainkan."
Lewis mengusap wajah Olivia sambil tersenyum, inilah yang dia sukai dari Olivia, gadis pemberani.
"Katakan padaku, game apa yang akan kita mainkan didalam bathup?" tanyanya.
"Ini mudah sayang." Olivia mendekatkan wajahnya sedangkan Lewis memeluknya dan tampak senang karena baru saja Olivia memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Ayo katakan padaku, game apa yang ingin kita mainkan?"
Jari jemari Olivia terus menyesuri dada Lewis, dia ingin lihat apakah Lewis bisa tahan dengan sentuhan tangannya.
"Lewis, aku akan menggodamu dengan sentuhan tanganku ini, tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh menyentuhku sama sekali. Jika kau sampai menyentuhku maka kau kalah."
"Wow,game macam apa itu?"
"Apa kau takut?" Olivia kembali tersenyum.
"Tidak, bukan begitu. Bukankah kau bilang kau masih polos?'
"Aku memang sedang polos, kau bisa lihat sendiri."Olivia memperlihatkan tubuhnya yang telanjang.
"Oh sialan! Bukan itu maksudku!" amaki Lewis sambil menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh Olivia.
Apa sebaiknya dia terkam saja Olivia tapi jujur, dia tidak mau membuat Olivia membenci dirinya lagi karena jika itu terjadi dia yakin Olivia tidak akan mau kembali padanya lagi.
Mungkin sebaiknya dia mengikuti permainan Olivia, bukankah dia cukup menahan tangannya saja agar tidak menyentuh Olivia?
Saat dia menang nanti Olivia akan menjadi miliknya dan mereka akan melakukannya, tentu saja semua itu mereka lakukan atas dasar suka sama suka dan tidak ada unsur paksaan.
"Hei kenapa diam saja?" Olivia menciumi bibir Lewis dan mengigitnya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Lewis, dia langsung menyambut bibir Olivia dan menciuminya dengan lembut.
"Aku kira kau masih polos?" tanyanya saat dia sudah melepaskan bibir Olivia.
"Yah, aku polos disaat tertentu." goda Olivia.
"Dasar menyebalkan!" gerutu Lewis kesal.
Sebenarnya dia belum pernah menyentuh tubuh seorang pria apalagi dibagian tertentu, ini dia lakukan karena dia ingin melihat apakah Lewis bisa menahan dirinya dan tidak meminta hal itu sebelum menikah?
Bagaimanapun ibunya selalu berpesan kehormatan itu lebih penting dari apapun dan dia akan memberikan dirinya pada Lewis saat mereka sudah menikah nanti.
"Jadi, apa kau mau main game denganku?"
"Oke baiklah, sekarang ikat tanganku." Lewis memberikan kedua tangannya.
"Jangan salah paham Lewis, kau cukup meletakkan kedua tanganmu itu disisi bathup."
"Apa? Hei itu curang namanya!"
"Jika tidak mau ya sudah!"
"Oke baiklah!" Lewis meletakkan kedua tangannya disamping bathup.
"Bagus." ujar Olivia sambil tersenyum.
"So lets star the game!"
Olivia mengusap wajah Lewis dan menciumi, dia juga menggigiti telinga Lewis dengan lembut.
Lewis hanya bisa memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan dan bibir Olivia yang terus bermain dikulitnya.
Dia terus memainkan tangannya menyelusuri tubuh Lewis sedangkan Lewis sedang menahan kedua tangannya supaya tidak menyentuh Olivia dengan cara mencengkram pinggiran bathup dengan kencang.
Ini benar-benar menguji kesabarannya, dia sudah bagaikan manekin hidup yang hanya bisa pasrah menerima setiap sentuhan tangan dan bibir Olivia.
Olivia tampak puas tapi ini belum seberapa karena dia belum sampai pada pusatnya. Untuk menggoda Lewis dia kembali menekan tubuh Lewis dengan tubuhnya hingga kedua gunung kembarnya menempel didada Lewis.
Oh Lewis tampak begitu frustasi, dia sudah sangat ingin memegangi kedua gunung itu lagi dan mencicipinya, jika bukan karena game sialan itu maka tidak akan pernah dia lewatkan.
Dia lelaki normal, tidak mungkin melewatkannya apalagi milik gadis yang sangat dia cintai, rasanya dia sudah tidak tahan lagi.
"Apa kau menyerah Lewis?"
"Tidak, jadi bisakah kita menyudahi game sialan ini dengan cepat?"
"Tidak karena aku belum selesai!"
"Oh sial! Seharusnya aku meminta waktu padamu tadi!"
Ini kebodohannya, kenapa tidak meminta waktu pada Olivia tadi. Apa mereka akan memainkan game ini sampai salah satu diantara mereka mengatakan menyerah?
Dilihat dari sifat Olivia mana mungkin dia mau menyerah begitu juga dengan dirinya, dia juga tidak akan mau menyerah dengan mudah.
"Oke tangan nakal, kalian berdua harus tahan." gumamnya dalam hati.
"Lewis."
"Hmm?"
"Bukankah kau sangat ingin menyentuhku?"
"Ya begitulah!"
"Kenapa tidak kau lakukan?"
"Jangan memancing!"
Olivia terkekeh dan menciumi bibir Lewis dengan lembut, dia juga berkata dibalik ciuman mereka.
"Aku milikmu sayang."
"Oh my God!" maki Lewis kesal saat tangan Olivia sedang bermain didaerah perutnya, tangan Olivia terus meraba turun dan semakin turun sampai berada didekat patukannya yang beracun.
"Jangan sentuh itu!" ujar Lewis dengan suara berat.
"Kenapa?" tanya Olivia sambil tersenyum usil.
"Sebaiknya jangan menyentuh adikku!"
"Adik? Ini patukan milikmu unta tua."
"Oh my!"
Lewis mencengkram sisi bathup saat Olivia menyentuh adiknya dan memainkan tangannya disana.
"Sialan! Game sialan!" makinya frustasi.
Lewis langsung memeluk Olivia dan me**mat bibirnya, dia tidak perduli lagi dengan game yang mereka mainkan karena itu bisa membuatnya semakin lama semakin gila.
Kalah ya kalah, itu lebih baik dari pada dia harus frustasi menghadapi sentuhan tangan Olivia.
Olivia berusaha mendorong tubuh Lewis tapi Lewis terus menciumi bibirnya, memainkan lidahnya bahkan mulai menyentuh dadanya.
"Hmm!!" Olivia memukul bahu Lewis dengan kencang.
Lewis melepaskan Olivia saat mereka hampir kehabisan nafas, mereka berdua saling pandang dan mengatur nafas mereka berdua.
"Kau kalah, sana pergi!" usir Olivia.
"Sialan, sekarang giliranku yang memberi tantangan!"
"Tidak mau, aku tidak mau main lagi karena aku lapar."
"Oh betapa sialnya aku, apa aku harus pakai sabun?" Lewis benar-benar frustasi.
"Terserah jadi sana tuntaskan setelah itu gendong aku keluar."
"Oh my God, aku benar-benar sial!"
Lewis bangkit berdiri dan berjalan kearah shower sambil memaki, seharusnya dia tidak mengikuti permainan Olivia dan lihatlah, dia harus menggunakan sabun.