30 Days For Love

30 Days For Love
Sepi



Jam sudah menunjukkan jam tiga pagi jadi Lewis bangun dari tidurnya, jujur saja dia enggan beranjak dari atas ranjang apalagi Olivia sedang memeluknya dengan erat.


Jika saja dia tidak harus pergi ke New York mungkin dia akan tidur lagi tapi dia harus melakukannya karena siang nanti dia sudah harus menemui rekan bisnisnya di New York.


Lewis mengangkat tangan Olivia yang melingkar diperutnya dengan pelan, dia tidak ingin membangunkan Olivia dari tidurnya tapi Olivia terbangun dan menyembunyikan wajahnya didada Lewis.


"Apa kau sudah mau pergi?" tanyanya.


"Ya, dua jam lagi aku harus pergi."


"Oh."


"Apa kau yakin tidak mau ikut?"


"Tidak mau, sana bangun dan segera bergegas." perintah Olivia.


Lewis terkekeh dan menciumi dahi Olivia dengan lembut, dia semakin tidak ingin beranjak dari sana.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu disana." bisiknya.


"Aku tidak!"


"Ayolah, jika kau rindu kau bisa menghubungiku." goda Lewis.


"Jangan terlalu percaya diri sana bangun, nanti terlambat."


"Oh nona, jangan terlalu galak dengan calon suamimu ini."


"Cih, ingat kita ini cuma calon tunangan!"


Lewis bangkit dari atas ranjang dan tertawa pelan, kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Olivia dan berkata:


"Kau tidurlah lagi, supirku akan mengantarmu kemanapun kau pergi nanti."


"Tidak perlu, aku bisa memanggil Steve untuk datang."


"Sudahlah, jangan keras kepala."


Setelah berkata demikian Lewis turun dari atas ranjang sedangkan Olivia memeluk sebuah bantal. Sebaiknya dia tidur lagi karena dia sangat mengantuk.


Lewis keluar dari dalam sana dan menuju kamarnya, tentu dia harus segera mandi dan bersiap-siap.


Setelah selesai dia keluar lagi dengan sebuah koper ditangannya, dia meletakkan kopernya diatas lantai dan masuk kembali kedalam kamar Olivia karena ada yang dia lupakan.


Lewis kembali naik keatas ranjang dan memeluki Olivia yang kembali tidur.


"Dengarkan aku!"


"Apa lagi?" Olivia membuka matanya yang masih terasa berat.


"Dengar, selama aku pergi kau harus menggantikan aku dikantor."


"Aku jadi Bos?"


"Ya kau bisa memerintahkan Cherly melakukan apapun, jika dia berani kurang ajar padamu maka kau bisa memecatnya."


"Lalu?"


"Jangan lupa untuk sarapan, untuk makan siang Cherly akan menyiapkannya untukmu jadi kau tidak perlu turun kebawah untuk makan dan mulai hari ini kau berada diruanganku sampai aku kembali nanti, jika ada yang tidak kau ketahui kau bisa tanyakan pada Cherly."


"Ada lagi?"


"Oh ya, ini untukmu."


Lewis memberikan sesuatu ditangan Olivia dan pada saat itu Olivia langsung melihatnya, sebuah kartu kredit.


"Ini untukmu, belilah apapun yang kau mau. Supirku akan mengantarmu dan jika kau bosan dikantor kau boleh jalan-jalan atau kau boleh pulang kerumahmu."


"Terima kasih tapi aku tidak butuh ini Lewis." Olivia ingin mengembalikan kartu yang berada ditangannya kepada Lewis tapi Lewis langsung menggenggam tangannya.


"Ck, kalau begitu kau jangan menyesal."


"Tidak akan, aku tidak akan bangkrut hanya karena kau menggunakan uangku."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja, aku tahu siapa dirimu."


Olivia tersenyum dan memeluki Lewis dengan erat, dia senang Lewis mengerti akan dirinya. Lewis mengusap punggung Olvia dan menciumi wajah Olivia, rasanya dia benar-bener tidak ingin pergi.


Biasanya jika dia ingin pergi maka dia akan pergi tanpa ragu tapi sekarang, jujur dia tidak mau meninggalkan Olivia dan rasanya dia selalu ingin bersama dengan Olivia.


"Aku akan merindukanmu selama di sana." bisiknya.


"Aku tahu."


"Apa kau akan merindukanku?"


"Tidak, jadi pergi sana karena aku mau tidur lagi!"


Lewis hanya tersenyum mendengar perkataan Olivia, apa Olivia akan merindukannya nanti? Dia berharap Olivia akan merindukannya tapi entahlah, Olivia gadis yang sulit ditebak.


Sebelum bangkit dari atas ranjang Lewis kembali menciumi Olivia setelah itu dia turun dari atas ranjang, dia sudah harus bergegas dan sebelum keluar dia melirik Olivia dan tersenyum padanya.


"Be careful." ujar Olivia.


"Pasti, ingat jangan lupa makan."


Setelah berkata demikian diapun keluar dari kamar Olivia, dia harus pergi ke New York beberapa hari tapi jika pekerjaanya sudah selesai maka dia akan segera kembali.


Setelah Lewis keluar dari kamarnya, Olivia segera bangun dari tidurnya dan duduk diatas ranjang sambil termenung.


Selama ini dia tidak pernah mengijinkan pria manapun menciumnya bahkan dipipi sekalipun, yang boleh hanya keluarganya saja.


Lalu kenapa dia membiarkan Lewis menciumnya bahkan dia mengijinkan Lewis mencium bibirnya, sepertinya ada yang salah dengannya.


Apa dia sudah jatuh hati pada Lewis? Tapi itu tidak mungkin karena mereka baru beberapa hari bersama.


Dia harap sih hal itu tidak terjadi, jika sampai terjadi Lewis pasti akan menertawakan dirinya saat mengetahui perasaannya.


Lebih baik dia tidak banyak berpikir dan jalani hari seperti biasanya, setelah satu bulan nanti dia akan segera pergi dari sana dan sesuai kesepakatan mereka akan pura-pura saling tidak mengenal jika mereka bertemu dijalan sekalipun.


Olivia menguap dan merenggangkan otot-otot tangannya, dari pada memikirkan perasaan lebih baik dia tidur lagi.


Nanti dia akan pergi kekantor Lewis dan saat siang dia ingin menemui kakaknya untuk minta uang, mungkin dia harus pulang selama Lewis pergi karena dirumah Lewis tidak ada siapa-siapa.


Dia kembali tidur lagi dan saat matahari telah terbit Olivia sudah tampak rapi dikamarnya, sejak tinggal dengan Lewis dia jadi terbiasa bangun pagi, jam karetnya juga sudah mulai hilang.


Tentu dia sangat senang, ada gunanya juga dia tinggal disana.


Olivia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur, pagi ini terasa sedikit aneh karena biasanya Lewis berdiri disana menyiapkan makanan untuknya tapi pagi ini?


Ya sudahlah, nanti dia juga akan terbiasa dan lagi pula Lewis hanya pergi untuk beberapa hari saja. Jadi jangan dipikirkan karena dia akan pulang kerumahnya selama Lewis tidak ada tapi dia akan selalu pergi kekantor Lewis setiap harinya.


Olivia berjalan kearah meja makan dan duduk disana, diatas meja sarapan untuknya sudah tersedia, semua itu disediakan oleh pelayan Lewis.


Dia hanya termenung dimeja makan dan memakanan makanannya dengan tidak niat, rumah itu benar-benar sepi dan hal itu membuat malas.


Mungkin sebaiknya dia segera berangkat kekantor, disana dia bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan yang ada.


Dari pada dirumah sepi sendirian bukankah lebih baik dia menyibukkan diri?


Olivia bangkit berdiri dan menyambar sepotong roti, dia keluar dari rumah Lewis dan pergi kekantor Lewis dengan supir pribadi Lewis.


Dia tidak tahu ratu drama juga akan datang hari ini untuk bertemu dengannya dan tentu si ratu drama punya rencana dan tujuan untuk menemui Olivia.