30 Days For Love

30 Days For Love
Patukan unta tua.



Setelah acara pernikahan mereka telah selesai Lewis dan Olivia kembali kekamar mereka berdua.


Keluarga mereka langsung kembali tapi mereka berdua tidak, mereka memilih tinggal di Shambhala Ranch. Mereka ingin berada disana selama beberapa hari untuk menikmati waktu mereka berdua apalagi suasana di Shambhala Ranch begitu tenang.


Didalam kamar Olivia sedang duduk disisi ranjang dan mimijit-mijit telapak kakinya yang terasa sakit akibat kelamaan berdiri.


Dia masih menggunakan gaun malam dan belum berniat untuk mandi, dia ingin beristirahat sejenak sedangkan Lewis sedang keluar untuk memesankan makanan untuknya.


Selama acara pernikahan mereka berlangsung Olivia tidak memakan apapun karena dia sedang malas dan tidak berselera untuk makan.


Tapi sekarang dia sangat merasa lapar jadi dia meminta suaminya untuk memesankan makanan untuknya.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh istrinya, Lewis kembali kedalam kamar mereka.


Sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat melihat istrinya duduk disisi ranjang dan sedang memijit-mijit telapak kakinya.


Dia segera menghampiri Olivia dan memberikan makanan yang dia bawa untuk istrinya.


"Apa kakimu sakit sayang?"


"Ya, ini karena aku terlalu lama menggunakan high hell dan terlalu lama berdiri."


"Oke baiklah, aku akan memijatkan kakimu."


Lewis segera berjongkok dibawah kaki istrinya, dia juga mulai memijat telapak kaki istrinya dengan lembut.


Olivia melihat suaminya sambil memakan makanan yang diberikan oleh suaminya, dia harus segera mengganjal perutnya yang lapar.


Lewis terus memijat telapak kaki istrinya secara bergantian, dia tahu Olivia pasti sangat lelah hari ini.


"Thanks."


"Apa yang kau bicarakan sayang, kita sudah menikah jadi kau tidak perlu berterima kasih pada suamimu ini."


"Ya aku tahu, karena kau sudah jadi budakku sekarang."


Lewis terkekeh dan bangkit berdiri, dia segera duduk disisi Olivia dan mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Jadi budakmu ini meminta bayarannya malam ini sayang." godanya.


"Ck, lain kali saja karena aku mau mandi dan tidur!"


"Hei tidak bisa begitu sayang, ini malam pernikahan kita!"


Olivia langsung memberikan piring yang telah kosong dan bangkit berdiri, dia segera berlari menuju kamar mandi sambil berteriak:


"Pokoknya kau baru boleh mematukku besok!"


Lewis hanya tertawa, besok? Tidak bisa! Dia ingin mematuk Olivia malam ini juga dan tidak mau menunggu besok.


Mereka sudah menikah jadi tidak ada yang bisa mengahalanginya untuk memiliki Olivia seutuhnya.


Olivia bersandar pada pintu kamar mandi dan memegangi dadanya, jantungnya sedang berdetak tidak karuan saat ini.


Ini malam pernikahan mereka dan jujur saja dia merasa sangat gugup saat ini apalagi ini yang pertama kali untuknya.


Apakah nanti rasanya akan sangat sakit? Jangan-jangan dia akan pingsan saat melakukan hal itu nanti.


"Bodoh, kenapa mau saja menikah tanpa memikirkan hal ini!" gerutunya pelan.


Dia segera membuka seluruh pakaiannya dan berdiri dibawah shower, sebaiknya dia segera mandi supaya dia bisa cepat tidur.


Olivia berharap Lewis tidak mematukkan malam ini tapi dia sangat kaget saat Lewis masuk kedalam kamar mandi menggunakan kimono saja.


Olivia melotot tidak percaya dan berteriak:


"Lewis apa kau gila? Aku sedang mandi!"


"Aku tahu sayang, aku ingin mandi denganmu."


"Apa? Tidak!" Olivia berusaha menutupi anggota tubuhnya yang terbuka sedangkan Lewis membuka kimono yang dipakainya sampai membuat Olivia berteriak melihat tubuhnya yang telanjang.


Olivia membalikan tubuhnya dan pada saat itu Lewis langsung memeluki tubuhnya dari belakang.


"Olivia sayang, kenapa harus malu? Kau sudah melihatnya dan menyentuhnya bukan?"


"Lewis, aku bilang besok saja kau mematukku!"


"Aku tidak mau! Aku ingin mematukmu sekarang!"


Lewis segera memutar tubuh Olivia dan menciumi bibirnya sedangkan Olivia berusaha mendorong tubuh Lewis tapi Lewis memeluknya dengan erat.


Dia tidak akan melepaskan Olivia apapun yang terjadi, dia mulai memasukkan lidahnya untuk menyelusuri rongga mulut Olivia sedangkan tangannya mulai meremas bokong Olivia yang padat berisi.


Olivia mulai menikmatinya dan mendesah pelan karena sentuhan tangan Lewis, tangannya juga mulai menyentuh tubuh Lewis dan membelainya.


"Pindah, okey?" bisik Lewis ditelinganya.


Olivia mengangguk dan pada saat itu Lewis langsung menggendongnya, mereka berdua keluar dari kamar mandi dan melupakan acara mandi mereka.


Lewis membaringkan tubuh Olivia diatas ranjang sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya, dia benar-benar senang bisa mendapatkan Olivia dan menjadikannya sebagai istrinya.


Dia mengusap pipi istrinya dengan lembut dan berkata:


"Olivia, i love you."


"Me too."


Olivia langsung melingkarkan tangannya dileher Lewis dan menciumi bibirnya, mereka mulai berciuman penuh gairah sedangkan tangan Lewis sudah mulai bermain diatas gunung kembar milik istrinya.


Olivia mulai mengerang saat jari Lewis mulai memainkan puncak gunungnya, dia juga tidak mau kalah, tangannya mulai menyelusuri otot-otot perut suaminya dan mulai bermain dimana patukan milik Lewis berada.


Lewis mulai mencicipi gunung milik istrinya sedangkan Olivia mulai mengerang, tangannya juga sedang bermain dipatukan Lewis yang berbisa hingga membuat Lewis juga mengerang karena sentuhannya.


"Lewis."


"Hmm?"


Lewis menghentikan aksinya dan menatap wajah Olivia dan menciumi pipinya dengan lembut.


"Entahlah, tapi aku rasa begitu." jawabnya.


"Kalau begitu aku tidak mau!" Olivia berusaha mendorong tubuh Lewis.


"Hei,apa?kenapa tidak mau?"


"Aku tidak mau sampai pingsan."


Lewis kembali menciumi pipinya sambil terkekeh.


"Tidak akan sayang, tidak akan begitu sakit dan tidak akan membuatmu pingsan."


"Benarkah?"


"Benar." jawab Lewis asal. Sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana rasa sakitnya karena dia tidak bisa merasakannya.


Tapi dia tidak mau istrinya takut kalau tidak dia tidak akan bisa mematuk istrinya malam ini dan jujur saja dia tidak mau gagal.


"Baiklah kalau begitu lanjutkan." ujar Olivia, setidaknya dia tenang sekarang.


Lewis melanjutkan aksinya, dia kembali menciumi bibir istrinya sedangkan tangannya sudah mulai turun kearea hutan terlarang dan mulai menjamah lembah yang ada disana.


Olivai menggigit bibirnya sedangkan erangan sensual terdengar dari bibirnya, Lewis terus memainkan jarinya dan meng**sap puncak bukitnya yang menantang.


"Le..ugh!"bOlivia menutupi mulutnya karena dia malu mendengar suaranya sendiri.


Lewis melepaskan puncak bukit istrinya dan menyelusuri kulit istrinya dengan bibirnya, dari dada, perut dan terus kebawah.


Olivia terbelalak kaget saat Lewis membuka kedua kakinya dan?he..he...he...🤭🤭


"Le..ugh!!" dia menutupi mulutnya tapi kemudian Olivia tampak pasrah dan mengerang karena permainan lidah suaminya.


Sekarang tubuhnya mulai bergetar, ini sedikit gila tapi ya sudah nikmati saja.


Setelah selesai dengan aksinya Lewis menyeka bibirnya dan tersenyum melihat Olivia yang sedang mengatur nafasnya, ini pertama kali untuk Olivia tapi sepertinya dia sedikit berlebihan.


"Sayang, apa kau siap menerima patukanku?"


"Jikalau sakit maka kau harus berhenti!"


"Tidak akan sayang, tidak akan begitu sakit." tipunya.


"Ya sudah!"


Lewis mulai mengangkat kedua kaki istrinya dan mulai mendekatkan patukannya yang berbisa, Olivia mulai gelisah saat merasakan patukkan suaminya hendak menerobos memasuki gua terlarangnya.


Dengan sekuat tenaga Lewis langsung mendorong patukkannya dan pada saat itu Olivia berteriak.


"Sakit!!" Dia berusaha mendorong tubuh Lewis, kenapa rasanya sakit sekali? Bukankah Lewis bilang tidak begitu sakit?


"Lewis lepaskan, sakit!" teriaknya.


"Stt sayang, hanya sebentar saja sakitnya jadi kau harus menahannya."


"Tidak mau, lepaskan!" Olivia mulai menangis dan kembali mendorong tubuh Lewis.


"Olivia sayang." Lewis mengangkat tubuh Olivia hingga Olivia duduk diatas pangkuannya sedangkan patukkannya masih berada didalam sana.


"Setelah ini tidak akan sakit lagi, percayalah padaku."


"Kau bohong!" Olivia memeluki lehernya dan masih menangis.


"Tidak sayang, aku tidak bohong."


"Awas jika kau bohong aku potong patukkanmu!"


"Baiklah, kau bisa memotongnya. Jadi, apa kau masih merasa sakit sayang?"


Olivia menggeleng, memang masih terasa perih tapi sudah tidak seperti tadi dan dia sudah bisa menahannya.


"Jika begitu bagaimana jika kita lanjutkan?"


"Hm ..ya.."


Lewis menciumi bibir Olivia dan merebahkan isrinya kembali keatas ranjang sambil berciuman dengan mesra Lewis mulai menggerakkan tubuhnya dengan pelan.


Dia tidak mau Olivia merasa tidak nyaman jadi dia akan melakukannya dengan pelan terlebih dahulu sampai Olivia melupakan rasa sakitnya.


Olivia kembali mengerang dibalik ciuman mereka, dia sudah tidak merasa sakit lagi seperti tadi.


Karena Olivia sudah merasa nyaman, Lewis melepaskan ciuman mereka dan memegangi kedua paha Olivia. Dia terus memacu tubuhnya dengan cepat sampai Olivia mengerang hebat dibawahnya.


Olivia memandangi suaminya yang tampak rupawan, jari tangannya mulai meraba otot perut suaminya sedangkan Lewis terus memacu tubuhnya dengan cepat.


"Le...wis..ugh! Dont stop!"pintanya.


Lewis tampak tersenyum, dia mulai menunduk dan menciumi bibir Olivia, dia juga berbisik.


"I love you my wife."


"Me too."


Olivia melingkarkan kedua tangannya dileher Lewis dan membalas ciuman Lewis sedangkan Lewis terus mempercepat gerakannya sampai mereka berdua mengerang bersama-sama saat mencapai puncaknya.


Olivia tampak terengah-engah begitu juga dengan Lewis, mereka berdua tampak bahagia dimalam pernikahan mereka.


Lewis melepaskan diri dan merebahkan dirinya disamping Olivia dan berbisik ditelinga istrinya.


"Terima kasih sayang, kau sudah mau menjadi milikku."


Olivia hanya tersenyum dan memeluki suaminya, siunta tua yang menjadi suaminya sekarang.