
Beberapa hari telah berlalu dan kaki Olivia sudah sembuh, bengkak dikakinya sudah membaik dan hari ini dia hanya diam dirumah tanpa melakukan apapun.
Dia sudah kembali kerumahnya karena dia bosan dirumah Lewis tanpa melakukan apapun.
Saat ini Olivia hanya menghabiskan waktunya didalam kamarnya saja, dia sedang malas pergi kemana-mana karena dia tidak punya tujuan selain itu dia juga sedang merapikan barang-barangnya yang dia bawa pulang dari rumah Lewis.
Kakinya sudah sembuh jadi dia memilih pulang kerumahnya karena dia ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya sebelum menikah.
Setelah selesai merapikan barang-barangnya dia ingin keluar dari kamarnya tapi pada saat itu ponselnya berbunyi.
Dengan cepat Olivia meraih ponselnya untuk menjawab pangillan yang ternyata dari Lewis.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kenapa bertanya demikian? Memangnya aku tidak boleh manghubungi calon istriku?"
"Bukan begitu, apa kau tidak sedang sibuk?"
"Tidak, aku sedang makan. Apa kau sudah makan sayang?"
"Nanti, sebentar lagi."
"Olivia sayang." panggil Lewis dengan mesra.
"Apa sih? Jangan membuatku merinding ngeri!" jawab Olivia.
Terus terang saja dia belum terbiasa dengan panggilan seperti itu dan hal itu membuatnya sedikit merinding.
"Astaga, kau benar-benar tidak ada romantis-romantisnya!"
"Sudahlah, jika tidak ada hal penting aku mau keluar berkumpul dengan keluargaku."
"Bukan begitu sayang, bagaimana jika nanti malam kita makan malam berdua?"
"Makan malam?"
"Yes."
"Boleh saja, dimana? Aku akan pergi kesana."
"Kau tunggu saja dirumah dan dandanlah yang cantik oke? Aku akan menjemputmu."
"Baiklah tuan Simone, apa kau menyiapkan sebuah kejutan untukku?" tebak Olivia.
"Ini rahasia sayang, jadi kau harus berdandan dengan cantik, oke?"
"Baiklah tuan Simone, aku akan berdandan sesuai dengan harapanmu." jawab Olivia dengan penuh semangat.
"Itu bagus, aku jadi tidak sabar ingin melihat penampilanmu yang luar biasa."
"Ck, jangan terlalu berlebihan!"
Lewis terkekeh disebrang sana, ya dia sudah menyiapkan kejutan untuk Olivia dan dia berharap Olivia menyukai kejutannya nanti.
"Baiklah, jangan lupa makan. Aku akan kembali bekerja."
"Oke bye."
Olivia tersenyum dan meletakkan ponselnya kembali, dia tidak tahu kejutan apa yang telah Lewis siapkan nanti tapi dia sudah tidak sabar menantikannya.
Mungkin dia harus menyiapkan hatinya nanti karena bisa saja ini lamaran kedua dari Lewis, dia sangat mengharapkan hal itu.
Dia segera keluar dari kamarnya untuk menemui ayah dan ibunya diluar sana, wajahnya tampak begitu bahagia sampai membuat ibunya heran melihat putrinya.
"Olivia, apa ada hal yang menyenangkan?"
"Tentu saja mom." jawabnya dengan nada gembira.
"Oh ya, coba katakan pada mommy, apa yang membuatmu begitu senang." Samantha tampak begitu penasaran.
"Mom, sebenarnya?" Olivia berbisik ditelinga ibunya dan pada saat mendenger ucapan putrinya Samantha juga tampak begitu senang.
"Apa kau yakin sayang?"
"Ya, aku sangat yakin."
"Oh my God, setelah makan ayo kita cari baju yang bagus untukmu nanti malam."
"Rahasia dad." jawab Olivia sambil tersenyum dengan manis.
"Apa daddy tidak boleh tahu?"
"Tidak!" jawab Olivia dan ibunya secara bersamaan.
"Oke baiklah, kalian berdua menyebalkan!"
Olivia dan ibunya tertawa secara bersama-sama, mereka mulai makan siang bersama-sama dan terkadang mereka juga bercanda.
Dan pada saat hari telah sore, Olivia tampak sedang bersiap-siap didalam kamarnya tentu saja dibantu oleh ibunya.
Rambut panjangnya dikepang kesamping dan diberi hiasan berupa jepitan berbentuk bunga untuk mempercantik penampilannya.
Dengan gaun malam yang dipakainya membuat penampilannya tampak begitu anggun.
Olivia melihat penampilannya didepan cermin dan tampak begitu puas sedangkan senyuman menghiasi wajahnya sedari tadi.
Dia susah sangat siap menunggu Lewis datang menjemputnya, mungkin malam ini akan menjadi malam yang paling indah yang tidak akan pernah dia lupakan.
Setelah dia siap tidak lama kemudian Olivia keluar dari kamarnya bersama dengan ibunya karena Lewis sudah menunggunya didepan sana.
Lewis melihat penampilan Olivia dan begitu takjub, Olivia memang cantik tapi dengan penampillannya saat ini gadis itu benar-benar terlihat begitu anggun dan semakin cantik.
Mereka berpamitan untuk pergi sedangkan Jhon dan Samantha melepas kepergian putri mereka dengan pria pilihannya, mereka bisa menebak sebentar lagi putri mereka pasti akan segera menikah dan meninggalkan mereka.
Lewis membawa Olivia kesebuah restoran yang berada dipinggir pantai, seluruh tempat itu dia sewa hanya untuk mereka berdua malam ini karena dia sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Olivia.
Tapi pada saat mereka sudah hampir tiba Lewis meminta Olivia menutup matanya dengan sebuah penutup mata, hal itu membuat Olivia sangat heran tapi dia mengikuti permintaan Lewis.
Sambil menuntun tangan kekasih hatinya Lewis membawa Olivia menuju sisi pantai, disana semuanya sudah siap dan dia berharap Olivia menyukai kejutan yang telah dia siapkan.
Olivia mengernyitkan dahinya saat angin dingin menerpa kulitnya dan mendengar suara deburan ombak, laut? Kemana Lewis membawanya?
"Lewis, kemana kau membawaku?"
"Sabar sayang, tunggu sebentar lagi barulah kau boleh membuka penutup matamu."
"Baiklah."
Lewis tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku jasnya, setelah lilin yang ada diatas pasir menyala Lewis segera berlutut didepan Olivia.
"Kau boleh membuka penutup matamu sekarang."
Tanpa menunggu lagi Olivia langsung membuka penutup matanya dan pada saat itu juga, penutup mata yang berada ditangannya langsung jatuh diatas pasir. Dia begitu kaget melihat Lewis sedang berlutut didepannya dengan lilin-lilin berbentuk hati diatas pasir sedang menyala dan mengelilingi mereka berdua.
Ini sangat romantis dan dia tidak menyangka Lewis menyiapkan hal ini untuk melamarnya kembali, Olivia tampak tersenyum senang begitu juga dengan Lewis, senyum mengembang diwajahnya dan dia langsung membuka kotak cincin yang berada ditangannya,dia juga berkata:
"Olivia Smith, will you marry me?" Lewis bertanya dengan serius.
Olivia mengangguk dan menjawab:
"Yes, i will."
"Oh my."
Lewis langsung bangkit berdiri dan mengambil cincin berlian berwarna merah muda dari tempatnya.
Cincin itu bernama The Graff Pink Ring.
Cincin ini mengandung berlian merah muda 478 karat yang sangat menakjubkan hingga dibanderol dengan harga yang fantastis.
Dia segera memakaikan cincin itu dijari manis Olivia dan memeluknya dengan erat, Olivia tampak begitu bahagia, bukan karena cincinnya tapi kerena Lewis melamarnya dengan romantis.
"Terima kasih sayang kau mau menerima lamaranku kali ini." bisik Lewis ditelingnya.
Olivia mengangguk dan berkata:
"Lewis Simone, i love you."
"Aku tahu karena aku duluan yang jatuh cinta padamu."
Mereka berciuman disana disaksikan oleh lilin-lilin yang membentuk hati dibawah kaki mereka. Ini malam yang sangat indah bagi mereka berdua dan sebentar lagi mereka akan memulai kehidupan baru mereka berdua.