
Didalam kamarnya, Olivia sedang mencoba sesuatu yang baru saja mereka beli setelah pergi berjalan-jalan di jalan Legian.
Mereka membeli begitu banyak barang, setiap barang yang belum pernah dia lihat maka akan dia beli.
Lewis sampai kewalahan membawa barang belanjaan istrinya dan mengajak istrinya untuk pulang kalau tidak semua yang ada disana bisa dibeli oleh Olivia.
Lagi pula Olivia ingin menikmati matahari terbenam dikamar mereka berdua jadi Lewis langsung mengajak istrinya untuk kembali kalau tidak dia tidak tahu, harus bagaimana membawa barang-barang belanjaan Olivia.
Karena barang-barang disana begitu murah sampai membuat Olivia menggila, dia bahkan sudah membeli oleh-oleh untuk keluarganya dan membeli beberapa cemilan aneh menurutnya karena dia memang belum pernah melihatnya.
Mungkin saat dia pulang ke Amerika nanti dia barus mencoba mampir kesupermarket yang menjual barang-barang khusus dari Asia, terutama barang dari Indonesia.
"Hei apa masih lama?" Olivia bertanya pada seorang pegawai Villa yang sedang membantunya memakai kebaya.
Karena dia sangat penasaran dengan pakaian itu jadi dia membelinya disebuah butik yang ada dijalan Legian.
Dia sudah mencobanya disana tapi sekarang dia ingin memakainya untuk memperlihatkan pada suaminya.
"Sudah." jawab pegawai itu sambil tersenyum dengan manis.
Setelah memberikan tips, pegawai itu segera pergi sedangkan Olivia berdiri didepan cermin untuk melihat pantulan dirinya.
"Wow." gumamnya takjub saat melihat dirinya sendiri.
Dia tampak begitu cantik dengan kebaya berwarna putih dipadu dengan kamen berwarna merah tua, sedangkan sebuah sabuk berwarna kuning terikat dipinggangnya.
Rambutnya yang panjang cukup dikepang kesamping untuk mempermanis penampilannya, dia benar-bener takjub melihat dirinya sendiri.
Dia jadi ingin belajar memakai pakaian itu dan ingin membelikan pakaian itu untuk ibunya dan juga neneknya.
Wah sepertinya sangat menyenangkan jika keluarganya bisa memakai pakaian tradisional itu secara bersama-sama.
Mungkin mereka bisa membuat foto keluarga dengan pakaian adat itu dan sepertinya ini bukanlah ide yang buruk.
Nanti dia akan mengajak Lewis untuk membeli pakaian itu lagi dan tentunya dia akan belajar bagaimana caranya untuk memakai pakaian adat itu dari pegawai toko.
Selagi dia mengagumi penampilannya didepan cermin, Lewis masuk kedalam kamarnya sambil membawa minuman yang dia minta.
Dia langsung terpana melihat penampilan istrinya yang, wow. Olivia benar-benar terlihat cantik dengan kebaya yang sedang dipakainya.
Lewis meletakkan minuman yang diminta oleh Olivia diatas meja dan segera menghampiri istrinya, dia juga mengambil bunga kamboja berwarna merah muda yang memang ada diatas meja.
"Kau terlihat begitu cantik." bisiknya.
"Tentu saja." jawab Olivia dengan bangga.
Lewis terkekeh dan menyelipkan bunga yang dia bawa ketelinga istrinya, dia juga memeluk istrinya dari belakang.
"Lihatlah, kau semakin cantik dengan bunga itu."
"Hmm..Kau benar."
Olivia memegangi lengan suaminya yang melingkar diperutnya sambil melihat pantulan dirinya didepan cermin.
"Lewis."
"Hmm?"
"Aku ingin menbeli baju ini lagi."
"Untuk apa? Jangan bilang kau ingin menjual baju ini di Amerika nanti." godanya.
"Enak saja!"
"Lalu? Apa satu kurang untukmu?"
"Bukan begitu, aku ingin membelikan baju ini untuk ibuku, nenekku dan kakak iparku. Aku juga ingin membelikan baju prianya untuk daddy, kakek dan kedua kakakku."
"Baiklah, tapi apa mereka tahu cara memakai baju ini nanti?"
"Karena itu kita harus belajar."
"Kau bisa membeli apapun yang kau mau sayang, tapi bukankah kau bilang ingin menikmati matahari terbenam disisi kolam?"
"Benar, tunggu aku disana aku akan mengganti pakaianku dulu."
"Baiklah, minumanmu diatas meja. Segeralah bergegas aku tunggu."
"Oke."
Olivia menciumi bibir suaminya sejenak dan setelah itu dia membuka baju yang dipakainya dan menggantinya dengan bikini berwarna putih.
Dia segera menghampiri suaminya yang berdiri disisi kolam renang, Lewis tampak sedang menikmati pemandangan laut luas didepan sana.
Olivia meletakkan barang-barang bawaannya disebuah kursi malas kemudian dia langsung memeluki suaminya dari belakang.
"Kau lihat apa?"
"Tidak ada."
"Benar."
"Benar sayang, aku hanya melihat laut."
"Oh ya?"
Tanpa Lewis duga Olivia mendorong tubuhnya hingga terjungkal kedalam kolam renang.
"Byurr!!" Lewis begitu kaget dan langsung menimbulkan dirinya kepermukaan.
"Ha..ha...ha..ha!" Olivia menertawakan suaminya sendiri, ini balasan karena telah menertawakannya saat dia menanyakan nama kereta yang ditarik oleh kuda.
"Hei kau ingin membunuh suamimu ya?" Lewis tampak kesal tapi kemudian dia tersenyum saat melihat Olivia masih menertawakannya.
Istrinya tampak begitu senang jadi ya sudahlah, memang istrinya orang yang jahil jadi dia harus menerima kejahilan istrinya dengan sabar.
"Sini." Lewis mengulurkan tangannya kepada Istrinya.
Olivia duduk disisi kolam dan menerima uluran tangan suaminya dan pada saat itu Lewis langsung menarik tangan istrinya hingga masuk kedalam kolam renang.
"Olivia sayang."
"Hmm?"
"I love you."
Olivia melingkarkan kedua tangannya keleher Lewis dan menciumi bibir suaminya dengan mesra.
"Me too." bisiknya.
Senyum Lewis mengembang diwajahnya, dia segera memeluk Olivia dengan erat dan me**mat bibirnya, mereka berciuman sejenak didalam kolam dengan mesra.
Setelah merasa cukup mereka berdua berenang disisi kolam renang untuk memandangi hamparan laut yang begitu indah.
Disisi pantai tampak beberapa orang sedang berjalan-jalan diatas pasir, orang-orang itu pasti juga ingin menikmati matahari terbenam seperti mereka berdua.
Lewis melingkarkan tangannya kepinggang Olivia dan berdiri disisinya.
"Olivia sayang."
"Ya?"
"Apa kau suka tempat Ini?"
"Sangat suka."
"Baguslah, kapan-kapan kita bisa kembali lagi dengan anak kita."
"Anak?"
"Benar? Apa kau tidak ingin segera punya anak?"
"Tentu saja mau Lewis, aku sudah menikah denganmu jadi aku juga sudah siap memiliki anak nanti."
"Oh sayang, siap-siaplah karena setelah kita menikmati matahari terbenam aku akan mematukmu lagi dan lagi supaya nanti kita pulang, anak kita sudah tumbuh didalam sini." Lewis mangusapi perut istrinya.
"Hei tuan Lewis Simone, memangnya kau kuat berapa ronde?" goda Olivia.
"Apa kau menantangku nyonya Simone."
"Yes, malam ini aku menatangmu."
"Bersiap-siaplah sayang."
Lewis mencium bibir Olivia kembali setelah itu Olivia bersandar pada bahu suaminya, saat matahari mulai menenggelamkan dirinya mereka berdua menyaksikan pemandangan nan indah itu sambil berpelukan.
Ini waktu yang sangat indah yang dimiliki oleh mereka berdua dan tentunya mereka menikmati waktu mereka saat itu sebelum mereka kembali ke Amerika dan memulai kembali kesibukan mereka.
Sesekali mereka tampak membicarakan sesuatu disisi kolam dan sesekali mereka juga tertawa ringan.
Ada saja yang mereka bicarakan sedangkan kebahagian tampak terpancar dari wajah mereka, sepasang pengantin baru yang akan menghabiskan waktunya beberapa minggu di Bali pulau nan indah.