
Setelah makan siang, Olivia langsung mendapat hukuman dari Lewis dan menggantikan pekerjaan Cherly untuk sementara karena Cherly tidak juga keluar dari kamar mandi.
Dia tambak sibuk, mondar mandir sampai dia lelah, bahkan saat ini Lewis memintanya untuk menemui managernya dibawah sana untuk meminta sebuah laporan.
Dengan sedikit berlari Olivia menuju keruangan manager Lewis, dia harus cepat karena Lewis memberikan waktu lima belas menit jika terlambat dia akan kena penalty.
Jika penaltynya semakin bertambah bisa-bisa dia harus berada dikantor Lewis selama dua bulan dan dia tidak mau hal itu terjadi karena dia mau bebas.
Setelah mendapatkan apa yang Lewis minta, Olivia kembali berlari, celaka sudah waktunya hampir habis.
Dia segera menerobos kedalam lift yang padat jika tidak, habislah dia. Tapi sialnya, lift itu berhenti disetiap lantai.
"Oh sialan! Perduli setan dengan penalty!!" maki Olivia dalam hati.
Dua puluh menit telah berlalu, Olivia keluar dari lift dan berjalan dengan lemas menuju ruangan Lewis. Dia menghampiri Lewis dan melemparkan dokument yang dia bawa keatas meja Lewis.
"Berani kurang ajar pada bosmu?!" ujar Lewis kesal.
"Whatever!" Olivia berjalan kearah sofa dan menjatuhkan diri disana.
"Kau terlambat jadi kau akan kena penalty seratus dolar."
"Oh ayolah, kenapa ada orang perhitungan sepertimu? Aku terlambat karena lift yang penuh." jawab Olivia dengan malas.
"Aku tidak terima alasan."
Lewis menarik laci kecil yang ada dimejanya, dia mengambil sebuah note kecil disana.
"Terlambat menjalankan perintah kena penalty 100 dolar, berani melempar dokumen dihadapanku penalty 200 dolar dan terlalu banyak alasan 200 dolar." Lewis menulis semua yang dia katakan diatas note kecil itu.
"Jadi total hutangmu padaku sudah 2500 dolar, ini baru dua hari." ujar Lewis lagi.
"Oh my God, kau benar-benar pria penuh perhitungan." gerutu Olivia kesal.
"Kenapa? Tidak sanggup lagi? Pulang sana sambil menangis maka aku akan menganggap semua hutangmu lunas dan aku akan menganggap mobilku dibakar setan!"
"Oh my God, kau terlalu meremehkan aku!" Olivia bangkit berdiri dan menatap Lewis dengan tajam sedangkan Lewis cuek sana menyimpan note hutang Olivia kembali kedalam laci.
"Baguslah kalau kau sudah bersemangat kembali jadi bekerjalah dengan rajin untuk membayar hutang-hutangmu."
"Apa yang harus aku lakukan?" Olivia berjalan mendekati Lewis.
"Fotocopy semua kertas itu, sekarang!" perintah Lewis sambil menunjuk setumpuk kertas yang berada diatas meja.
"Ya ampun, kenapa begitu banyak?" Olivia tampak kesal.
"Berani protes? Apa mau aku tambah?"
Olivia memutar bola matanya malas, dia segera berjalan kearah kertas itu dan mengambilnya setelah itu dia mulai berjalan kearah pintu.
"Ingat selesaikan dalam waktu satu jam." perintah Lewis.
"Ck, aku heran kenapa para karyawanmu bisa tahan bekerja denganmu." Olivia berjalan keluar sambil menggerutu.
Lewis hanya tersenyum mendengar gerutuan Olivia, tentu semua itu hanya berlaku untuk Olivia Smtih, dia ingin lihat apa gadis itu bisa bertahan?
Olivia turun kebawah dengan cepat, mencari mesin fotocopy. Kenapa mesin itu ada dibawah? Kenapa Lewis tidak meletakkan satu mesin fotocopy didalam ruangannya sendiri?
Ini pasti akibat pria itu terlalu pelit dan perhitungan, setelah semua ini selesai, jangan sampai dia bertemu dengan Lewis Simone lagi. Dia tidak akan sudi!
Olivia mendekati mesin fotocopy dan pada saat itu Jeremi mendekatinya bahkan menepuk bahunya.
"Hei Olivia."
"Jeremi jangan ganggu, aku sedang sibuk." Olivia mulai melihat mesin fotocopy itu dengan seksama, bagaimana cara menggunakannya? Dia benar-benar tidak mengerti!
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Jeremi.
"Kau tidak bisa lihat, fotocopy! Bisa kau ajari aku bagaimana caranya mengggunakan benda ini?"
"Boleh saja tapi jawab dulu pertanyaanku."
"Apa?"
"Apa benar kau pacar bos?" tanya Jeremi.
"Kau dengar dari mana?"
"Semua melihat waktu kau digendong masuk oleh sibos dan gosip ini sudah menyebar jika kau pacar sibos."
Olivia melihat sekitarnya, para karyawan Lewis tampak berbisik-bisik dan melihat kearahnya. Huh, dia jadi bahan gosip dadakan untuk hari ini tapi dia tidak perduli.
"Kalian jangan salah paham, aku bukan pacarnya." jawabnya.
"Benarkah?" Jeremi melihat Olivia dengan serius.
"Dengar ya, sekalipun di dunia ini hanya ada Lewis Simone aku tidak akan tertarik dengannya bahkan jika aku harus memilih antara Lewis Simone dengan ikan salmon aku akan lebih memilih ikan salmon yang lezat." jawabnya.
Lewis menjadi pacarnya? Tidak sudi dia berpacaran dengan pria penuh perhitungan itu dan setelah perjanjian mereka selesai dia mau mencari pacar.
Jeremi masih tidak percaya dan masih melihat Olivia dengan serius, jika mereka berdua tidak pacaran lalu kenapa mereka tampak begitu mesra? Bahkan Lewis rela turun kekantin untuk mengajak Olivia makan siang bersama.
"Masih tidak percaya?" tanya Olivia.
"Tentu saja, jika kau bukan pacar bos lalu apa hubungan kalian?"
Olivia memutar otaknya, teman? Jika dia mengatakan itu Jeremi tidak akan percaya, lebih baik dia mengatakan yang lain.
"Sebenarnya aku ini sepupu Lewis dan aku sedang belajar disini, jika aku pacarnya mana mungkin aku melakukan hal seperti ini."
Jeremi melihat kearah Olivia, masuk diakal.
"Oke baiklah, aku akan membantumu." Jeremi mengambil tumpukan kertas dan mulai memasukkan kertas itu satu persatu kedalam mesin fotocopy yang ada.
"Terima kasih, tapi jangan katakan pada siapapun jika aku sepupu Lewis, okay?"
"Rahasia aman ditanganku." jawab Jeremi penuh percaya diri.
Olivia hanya tersenyum melihat Jeremi yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya, dia tidak perduli Jeremi mau percaya atau tidak yang penting dia dibantu.
"Hei Olivia."
"Apa lagi?" Olivia melihat pewarna kukunya dengan cuek.
"Apa besok malam kau punya waktu?"
"Kenapa?"
"Bagaimana jika kita pergi makan malam bersama? Aku akan mentraktirmu."
Olivia berpikir sejenak, sepertinya tidak buruk lagi pula dia sudah rindu makan kentang goreng, burger dan ayam goreng.
"Boleh saja, nanti kita bicarakan lagi."
"Benarkah?" Jeremi tampak begitu senang.
Olivia hanya mengangguk, setelah beberapa saat pekerjaannyapun telah diselesaikan oleh Jeremi. Dia segera kembali keatas supaya tidak kena penalty oleh Lewis.
Setelah masuk kedalam ruangan Lewis, dia segera meletakkan kertas yang telah selesai difotocopy didepan Lewis dan melangkah menuju sofa tanpa berkata apa-apa.
Lewis sangat heran dibuatnya, tumben Olivia diam saja? Dia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Olivia bahkan Lewis duduk disamping Olivia.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Lewis penasaran.
"Jangan ajak aku berbicara!" jawab Olivia.
"Memangnya kenapa?"
"Tolong ya Lewis, aku sangat lelah! Kakiku pegal dan tanganku juga pegal karena membawa tumpukan keras itu."
Lewis meraih tangan Olivia sambil tersenyum.
"Sini aku pijitkan."
"What?" Olivia melihat kearah Lewis sedangkan Lewis mulai memijit tangan Olivia dengan cuek.