30 Days For Love

30 Days For Love
Priaku



Setelah keluar dari kamar mandi, Olivia sedang duduk disisi ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Dia hanya memakai selembar handuk saja karena bajunya masih dikamar yang ditempatinya.


Lewis sedang keluar untuk mengambilkan pakaiannya jadi dia menunggu disana, kakinya yang terkilir masih terlihat membengkak dan dia benci itu.


Dalam kondisi seperti itu dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa mengandalkan Lewis untuk menggendongnya kemana-mana jadi sambil menunggu dia mengeringkan rambutnya.


Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam dan dia sudah sangat lapar karena dia belum makan dari siang akibat ketiduran.


Tidak lama kemudian Lewis masuk kedalam kamarnya sambil membawa baju Olivia, dia tersenyum melihat Olivia masih duduk disisi ranjang.


Tidak sia-sia dia membeli ranjang itu, dia membelinya karena dia memang sudah berniat untuk melamar Olivia.


Dia tahu Olivia tidak suka tidur difuton karena takut dengan serangga, dia akan melakukan apapun untuk Olivia bahkan jika Olivia tidak mau tinggal dirumahnya yang bergaya jepang itu maka dia akan membeli rumah baru sesuai dengan keinginan Olivia.


Dia akan melakukan apapun supaya Olivia senang dan dia akan memberikan apapun yang Olivia inginkan.


Lewis melangkah mendekati Olivia dan duduk disisinya.


"Bajumu." dia memberikan baju Olivia yang dia bawa sedangkan senyum menghiasi wajahnya.


"Thanks." Olivia meletakkan handuk yang dipegangnya dan mengambil baju yang diberikan oleh Lewis.


"Apa perlu aku bantu?" goda Lewis.


"Tidak, sebaiknya kau keluar sana dan buatkan makanan untukku karena aku sudah sangat lapar!"


"Pelayan sedang membuatnya jadi kau tidak perlu khawatir."


Sebenarnya pizza yang dia pesan masih ada dan masih utuh karena mereka tidak menyentuhnya sama sekali, tapi pizza itu sudah dingin dan dia tidak mau Olivia memakannya.


"Kalau begitu tutup matamu karena aku mau pakai baju!"


"Hei untuk apa kau malu, aku sudah melihatnya!"


"Sialan! Pokoknya jangan lihat!" maki Olivia kesal.


Sudah melihat bukan berarti dia harus telanjang didepan Lewis dan tidak merasakan malu, bagaimanapun dia tetap merasa malu apalagi Lewis pria pertama yang melihat anggota tubuhnya.


Olivia melotot pada Lewis sedangkan Lewis hanya terkekeh, dia segera membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Olivia.


Dia tidak ingin membuat Olivia marah dan membuat Olivia pulang kerumahnya karena kesal, bagaimanapun dia ingin merawat kaki Olivia sampai sembuh. Itu dia lakukan karena dia ingin dekat dengan Olivia setiap waktu.


"Olivia."


"Hmm?"


"Apa kau tidak suka dengan rumah ini?"


"Kenapa bertanya demikian? Lagi pula siapa yang bilang jika aku tidak suka dengan rumahmu ini?"


"Yah, aku hanya menebak. Jika kau tidak suka dengan rumah ini maka aku akan membeli sebuah rumah baru seperti yang kau inginkan untuk kita nanti."


Olivia memakai bajunya dan tersenyum, dia tidak memikirkan masalas seperti itu. Rumah Lewis cukup nyaman dan dia suka tinggal disana apalagi bisa bersama dengan Lewis.


"Lewis."


"Ya?"


Olivia memeluk Lewis dari belakang bahkan menciumi pipinya dan hal itu membuat Lewis sangat senang, dia juga menciumi pipi Olivia dan mengusap kepalanya.


Dia senang hubungan mereka sudah kembali seperti semula bahkan sekarang hubungan mereka berdua bisa dibilang berjalan dengan sangat lancar.


"Aku tidak pernah memikirkan masalah seperti itu, aku senang tinggal dirumah ini apalagi bersama denganmu jadi kau tidak perlu membeli rumah lagi."


"Benarkah?"


"Ya, tapi aku ingin kau membeli meja makan dan sofa, aku tidak mau duduk dilantai!"


Lewis menciumi pipi Olivia kembali sambil terkekeh, hanya meja makan dan sofa bukanlah hal besar karena dia akan membelikan apapun yang Olivia minta.


"Apa hanya itu permintaanmu sayang?"


"Jika masih ada Memangnya kau mau mengabulkan semua permintaanku?"


"Katakan padaku, apa yang kau inginkan?"


Lewis memutar tubuhnya dan memandangi wajah Olivia sedangkan senyumannya terus menghiasi wajahnya.


"Tidak akan! Jadi katakan padaku apa yang kau inginkan."


Olivia tersenyum usil, dia ingin lihat bagaimana reaksi Lewis saat mendangar permitaannya.


"Baiklah, aku ingin kau memberikan semua milikmu padaku." pinta Olivia tanpa ragu.


"Apa?" Lewis terbelalak kaget tapi kemudian dia kembali tersenyum, memberikan semua miliknya?


Apa Olivia ingin mengujinya? Tapi jangan kira dia tidak berani karena pada akhirnya nanti miliknya akan menjadi milik Olivia juga jadi pasti akan dia berikan apa yang Olivia mau.


"Akan aku berikan semua milikku padamu sayang tapi dengan syarat." ucap Lewis tanpa ragu.


"Apa?"


"Jadi milikku malam ini dan kau juga harus membuat perjanjian bahwa kau akan menjadi milikku untuk selamanya."


"Ck, jika kita sudah menikah maka aku sudah jadi millikmu!" gerutu Olivia kesal.


Sebenarnya dia hanya ingin melihat reaksi Lewis saja dan tidak bersungguh-sungguh dengan permintaannya.


"Jadi?" Lewis memeluki Olivia dan menciumi pipinya.


"Jadi apa? Aku lapar!"


"Dasar kau, kapan kau bisa bersikap serius? Kau benar-banar menyebalkan."


"Tapi kau suka bukan?" Olivia mulai memainkan jarinya didada Lewis untuk menggodanya.


"Yah, aku pria paling bodoh dan gila yang telah jatuh cinta padamu."


Olivia tertawa pelan, dia sangat senang mendengarnya.


"Jadi priaku yang paling bodoh, bawa aku keluar makan."


Priaku? Ini ungkapan yang sangat bagus.


Lewis mengangkat dagu Olivia dan menciuminya sejenak, mereka saling pandang sesaat tapi tidak lama kemudian mereka kembali berciuman dengan mesra.


Setelah dirasa cukup Lewis menggendong Olivia keluar dari dalam kamarnya, karena kaki Olivia yang sakit membuatnya tidak bisa duduk dilantai jadi dia meminta Lewis membawanya kegazebo karena dia ingin makan disana.


Lewis mengikuti permintaan Olivia dan memerintahkan para pelayanannya untuk membawakan makanan kegazebo, makan disana bukan ide buruk, malah terkesan romantis.


Setelah menurunkan Olivia Lewis duduk disamping Olivia dan memeluk pinggangnya sedangkan pelayanan mulai membawakan makam malam malam untuk mereka berdua.


Olivia makan dengan lahap karena perutnya yang benar-benar sangat lapar. Lewis hanya tersenyum dan sesekali menyuapi Olivia.


Mereka makan sambil bercanda dan terkadang Olivia juga terlihat menyuapi Lewis dan pada saat mereka sudah selesai makan, mereka berdua duduk disana menikmati indahnya langit malam yang bertabur bintang.


Ini adalah moment berharga bagi mereka dan mereka tampak begitu bahagia.


Olivia bersandar pada bahu Lewis sedangkan Lewis merangkul bahunya dan memeluknya dengan erat.


"Olivia."


"Hmm?"


"Jika kakimu sudah sembuh maka aku akan segera melamarmu lagi."


"Benarkah?"


"Ya, kau maukan jadi istriku?"


"Aku akan menjawab saat kau melamarku lagi."


Lewis mengangkat dagu Olivia dan menatap matanya.


"Baiklah, aku harap kau memberikan jawaban yang bagus."


"Kau jangan khawatir Lewis."


"Olivia Smith, i love you."


"Me too."


Lewis menciumi bibir Olivia begitu juga dengan Olivia, dia menyambut bibir Lewis dan membalas ciuman pria yang dia cintai dan tentu saja pria yang sangat mencintainya, pria yang mau menerima semua kekurangannya dan pria yang mencintainya dengan tulus tanpa memperdulikan status keluarganya.