30 Days For Love

30 Days For Love
Balasan



Didalam air kolam yang dingin, mereka berdua masih saling menatap satu sama lain. Lewis tampak masih tersenyum sedangkan Olivia menatap Lewis dengan tatapan membunuhnya.


Dia jadi teringat dengan saran ayahnya 'habisi tanpa ampun'. Sepertinya dia harus mengikuti saran ayahnya dan menghabisi Lewis.


Hatinya masih dipenuhi kekesalan dan amarah tapi beraninya Lewis memintanya membalas perbuatan yang telah dia lakukan?


Dan balasan itu malah menguntungkan dirinya! Asal Lewis tahu saja dia bukan gadis bodoh yang mudah terpancing.


Olivia melingkarkan kedua tangannya keleher Lewis dan berusaha tersenyum dengan manis, dia memang ingin membalas perbuatan Lewis tapi dengan caranya sendiri.


Lewis pasti tidak akan menduga apa yang akan dia lakukan dan dia berharap setelah ini Lewis tidak sembarangan menciuminya lagi.


Senyum Lewis semakin lebar, dia melingkarkan tangannya dipingang Olivia dan menarik pinggang Olivia agar tubuh mereka berdua semakin menempel, dia benar-benar menantikan pembalasan dari Olivia.


"Jadi apa aku boleh membalas perbuatanmu?" Olivia memainkan jari jemarinya dengan nakal didada Lewis.


"Hm ya, kau boleh menciumku sampai kau puas." Lewis mengusap pipi Olivia, ini balasan yang sangat menguntungkan baginya.


"Aku harap kau tidak menyesali ini tuan Simone."


"Aku tidak akan menyesal sayang."


"Cih, jangan memanggilku sayang! Itu terdengar sangat menjijikkan!"


"Jadi, aku harus memangilmu apa? Honye, baby, atau kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan my love?"


Tiba-tiba Olivia merasa merinding, apa-apaan semua panggilan itu! Kenapa terdengar begitu sangat menjijikkan!


"Jangan memanggilku seperti itu, sebutan seperti itu hanya pantas kau berikan pada kekasihmu saja."


"Aku tahu dan aku sedang berusaha."


"Ck!" Olivia mendorong tubuh Lewis agar menjauh darinya, air kolam semakin dingin begitu juga dengan angin malam, dia mulai sedikit menggigil.


Lebih baik dia segera naik keatas kalau tidak dia akan sakit dan dia tidak mau hal itu terjadi, dia tidak mau seharian meringkuk diatas ranjang karena masuk angin.


Olivia segera berenang ketepian sedangkan Lewis mengikutinya.


"Hei tidak jadi membalasku?" tanyanya.


Mereka berdua naik dari kolam renang dan berdiri disisinya, Olivia sedang mengeringkan air dari rambutnya yang basah sedangkan Lewis menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh Olivia yang basah karena air dan itu terlihat semakin seksi.


Dia segera menghampiri Olivia dan kembali memeluk Olivia dari belakang, hal itu membuat Olivia jadi kaget.


"Lepaskan!" pinta Olivia.


"Aku akan melepaskanmu tapi dengan syarat kau tidak marah lagi padaku."


"Ck, masih saja!" Olivia memutar tumbuhnya dan melotot pada Lewis.


"Jadi kau akan memaafkan aku bukan?" Lewis memandangi wajah Olivia bahkan kini pandangan matanya sudah jatuh dibelahan dua gunung kembar yang menempel didadanya.


Oh sialan, rasanya dia ingin memegangnya dan ingin melihat isinya, pasti akan terlihat indah jika penghalang itu dia buka.


"Lewis Simone kau!!" Olivia menggeram marah saat menyadari arah pandangan mata Lewis.


"Kurang ajar!!"


Tanpa Lewis duga Olivia langsung melompat hingga kepala Olivia membentur dagunya dan?


"Dhugh!!" itu suara dagu Lewis terkena benturan kepala Olivia.


"Oh my God, kau!!" Lewis memegang bawah dagunya,apa rahangnya bergeser?


"Itu karena kau telah berani menatapku dengan tatapan mesummu dan ini?"


Tidak sampai disana saja, selagi Lewis sedang memegangi dagunya Olivia mengangkat satu kakinya dan lagi-lagi terdengar suara?


"Dhugh!!!"


"Olivia Smith!" Lewis memegangi selangkangannya karena baru saja Olivia mendendang asetnya yang berharga.


"Itu balasan karena kau telah berani menciumku!"


Olivia menjauhi Lewis dengan perasaan puas, dia berjalan kearah bajunya dan memungutnya sedangkan Lewis sibuk meredakan nyeri diasetnya yang berharga.


"Hei, bagaimana jika telurku pecah?" teriaknya.


"Bukan begitu, bagaimana jika nanti kita tidak bisa punya anak?"


"Ck dasar sinting! Siapa yang mau punya anak denganmu!"


Olivia segera meninggalkan Lewis sedangkan Lewis hanya terkekeh melihat kepergian Olivia, dia juga ingin masuk kedalam tapi nyeri diasetnya masih ada.


"Olivia Smith memang gadis gila!" gerutunya kesal.


Tapi dia berharap setelah ini Olivia tidak lagi marah dengannya karena dia ingin kebersamaan diantara mereka berdua kembali seperti semula.


Setelah masuk kedalam kamarnya Olivia langsung masuk kedalam kamar mandi dengan perasan puas, setidaknya dia sudah membalas perbuatan Lewis dan dia ingin mandi air hangat supaya tidak terasa dingin lagi.


Setelah mandi Olivia semakin merasa lapar, dia memang sudah lapar sedari tadi jadi dia keluar dari kamarnya setelah memakai pakaian tidurnya.


Dia berjalan kearah dapur dan membuka kulkas, segelas susu mungkin bisa mengganjal perutnya.


"Jika lapar ayo makan." tiba-tiba Lewis sudah berdiri dibelakangnya dan memeluknya.


"Ck, jangan memelukku!"


"Hei kita sudah impas bukan tapi kenapa kau masih marah?"


Olivia diam saja, ya benar dia sudah tidak kesal lagi dengan Lewis karena dia sudah membalas perbuatan Lewis jadi ya sudahlah.


Dia juga bukan orang yang suka membiarkan masalah berlarut-larut jadi lupakan saja.


"Lain kali jangan menciumku tiba-tiba." pintanya.


"Jadi jika aku meminta ijin dulu baru boleh?"


Lewis memutar tubuh Olivia dan menutup pintu kulkas, dia memperhatikan wajah Olivia dengan serius.


"Jadi aku boleh menciummu setelah aku meminta ijin darimu?" tanyanya lagi.


"Tidak boleh dan jangan harap aku akan mengijinkannya!"


"Oh ya?" Lewis mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.


"Kau tahu? Aku sangat ingin menciummu lagi saat ini, bolehkah?"


"Tidak!"


"Apa kau tidak ingin merasakan ciumanku lagi? Aku masih ingat dengan ciuman yang kita lakukan tadi siang." pancingnya.


"Tidak perlu memancing karena aku tidak akan mudah terpengaruh."


"Oh ya?"


Lewis mendekatkan bibirnya sementara Olivia melotot, apa Lewis akan menciuminya lagi?


Tanpa Olivia sadari dia sudah menutup matanya, siap menerima ciuman dari Lewis tapi Lewis hanya melihat Olivia dengan senyum diwajahnya.


Oke Olivia memang gadis lain dimulut lain dihati dan dia suka.


"Bukannya kau lapar, ayo makan."


Olivia membuka matanya dan merasa marah saat melihat Lewis hanya melihatnya sambil tersenyum. Apa yang terjadi? Bukannya Lewis mau menciumnya tadi? Tapi kok?


"Lewis Simone kau!!" geramnya marah dengan wajah merah padam karena amarah.


"Oh my God, ayo kita makan."


Lewis memutar langkahnya tapi Olivia langsung melompat naik keatas punggungnya, tidak hanya itu saja, Olivia menggigit telinga Lewis karena dia bener-benar marah pada Lewis.


"Hei..Hei..Sakit!"


"Diam! Aku ingin memakan telingamu!"


Olivia terus menggigit telinga Lewis dan mengabaikan teriakan dari Lewis, walaupun telinganya menjadi korban tapi Lewis merasa senang karena mereka berdua sudah kembali seperti semula.


Setidaknya Olivia sudah tidak marah lagi dengannya dan mereka sudah kembali seperti semula.


Tapi hanya satu yang dia harapkan semoga telinganya tidak lepas karena digigit oleh Olivia karena sepertinya Olivia benar-benar marah.