30 Days For Love

30 Days For Love
Cemburu?



Hari sudah sore, sudah waktunya pulang bekerja. Olivia segera merapikan berang-barangnya bersiap untuk pulang.


Setelah selesai dia segera keluar dari ruangannya, dia segera turun kebawah tanpa menunggu Lewis.


Saat berpapasan dengan karyawan Lewis yang berada dilift dia menjadi pusat perhatian dan perbincangan, bagaimana tidak, hampir semua karyawan yang ada disana menggosipkan dirinya sebagai pacar Lewis.


Tapi Olivia tidak perduli, walaupun dia tahu mereka sedang membicarakannya dia cuek saja, terserah mereka mau berkata apa toh hal itu tidak mempengaruhinya sama sekali.


Dia bahkan keluar dari lift melewati para karyawan Lewis yang menggosipkannya dengan cuek, dia tidak akan terpengaruh dengan seperti itu.


Olivia berjalan kearah loby, lebih baik dia menunggu Lewis didalam mobil sambil memainkan ponselnya tapi pada saat itu bahunya ditepuk oleh seseorang.


Olivia memalingkan Wajahnya untuk melihat siapa yang menepuk bahunya, tidak mungkinkan Lewis begitu cepat sudah menyusulnya?


"Olivia, kau sudah mau pulang?" ternyata yang menepuk bahunya Jeremi.


"Jeremi bisa tidak kau tidak menepuk bahuku!" katanya kesal.


"Memangnya kenapa?"


"Aku bisa membantingmu tahu?"


Jeremi langsung tertawa terbahak-bahak, memangnya Olivia kuat mengangkat tubuhnya? Dilihat bagaimanapun Olivia hanya gadis lemah yag tidak bisa apa-apa.


"Kenapa kau malah tertawa?" Olivia melotot kearah Jeremi.


Jeremi berusaha menghentikan tawanya supaya Olivia tidak marah.


"Kau lucu, memangnya kau bisa membantingku?"tanyanya.


"Ya ampun,kau mau coba? Aku bisa membanting 10 pria sepertimu!"


"Seriously?" tanya Jeremi tidak yakin.


"Ck sudahlah, kenapa kau memanggilku?'


"Aku hanya ingin tahu kau mau pulang kemana? Waktu itu kau bilang kadang kau tinggal dirumah sahabatmu dan terkadang kau tinggal dirumah saudaramu jadi hari ini kau mau pulang kemana?"


Saat menanyakan hal itu Jeremi menatap Olivia dengan serius, dia benar-benar ingin tahu apa nasib Olivia begitu buruk? Jika iya mungkin dia bisa membantu Olivia mencari tempat tinggal untuk menetap.


"Oh hari ini aku?" Olivia memutar otaknya, jangan sampai ada yang tahu jika dia tinggal dengan Lewis Simone.


"Aku tinggal dimana saja aku suka, jika ada yang menampungku aku pasti akan tinggal disana." jawabnya asal.


"Ya ampun nasibmu kenapa begitu malang!aku bisa membantumu mencari tempat tinggal jika kau mau." ujar Jeremi.


Olivia tersenyum pada Jeremi, pria itu baik tapi dia tidak mau menyulitkannya. Dia juga tidak mau memanfaatkan kebaikan orang lain apalagi dia disana hanya satu bulan saja.


"Kau tidak perlu khawatir Jeremi, aku sudah menemukan tempat tinggal yang bagus. Lagi pula aku disini hanya satu bulan jadi jangan khawatirkan aku dan terima kasih."


"Itu sangat bagus, apa mau aku antar kau pulang?"


"Oh tidak, terima kasih. Jangan sampai kau dipatuk oleh unta tua."


"Apa unta tua ini pacarmu?" Jeremi melihat Olivia dengan serius sedangkan Olivia juga melihat kearah Jeremi.


"Yah bisa dianggap begitu." jawabnya.


"Yah sayang sekali, ternyata kau sudah ada penunggunya." terdengar sedikit nada kecewa dari suara Jeremi.


Olivia tersenyum sedangkan matanya masih melihat kearah Jeremi, pria itu memang baik tapi jujur saja Jeremi bukan tipenya dan dia tidak mau membuat Jeremi berharap padanya.


"Aku tidak ingin membuatmu berharap tapi kita masih tetap berteman bukan?" tanyanya.


"Oh tentu saja, jangan khawatir tapi jika kau punya teman yang cantik kau harus mengenalkannya padaku."


Saat itu senyum usil langsung menghiasi wajah Olivia, teman cantik? Dia jadi ingat dengan seseorang.


"Ada, kau mau aku kenalkan?"


"Siapa?" Jeremi tampak begitu bersemangat.


"Cherly."


"Oh tidak!" teriak Jeremi dan pada saat itu mereka tertawa bersama-sama.


Apa Olivia telah pulang tanpa menunggunya, awas saja nanti dirumah. Dia akan memberikan penalty pada Olivia karena telah pulang sendiri tanpa seijinnya dan tanpa menunggunya.


Lewis keluar dari dalam lift saat pintu benda itu telah terbuka, dia berjalan kearah loby dengan cepat karena dia ingin cepat pulang untuk menemui Olivia.


Tapi langkahnya terhenti saat melihat Olivia sedang tertawa dengan seorang karyawannya, Lewis memperhatikan Olivia yang tampak tertawa lepas.


Apa yang membuat Olivia Smith begitu senang? Bahkan selama ini saat Olivia bersamanya dia belum pernah melihat Olivia tertawa lepas seperti itu.


Kok dia jadi kesal! Ada hubungan apa antara Olivia dengan karyawannya?


Lewis mengepalkan tangannya dan berjalan mendekati Olivia dan pada saat Jeremi melihat kedatangan Lewis dia langsung berkata, "Sepupumu sudah datang, aku harus pergi, oke?" dia berkata dengan pelan supaya tidak didengar oleh Lewis.


Olivia memalingkan wajahnya, melihat Lewis sedang berjalan dengan cepat kearahnya.


"Abaikan saja, dia tidak akan menggigit."


Saat Olivia mengatakan hal itu Lewis dapat mendengarnya, memangnya Olivia kira dia ini binatang liar!


"Aku pergi dulu, aku tidak mau gajiku dipotong." ujar Jeremi dengan cepat saat melihat wajah bosnya yang sudah berubah.


Jeremi segera pergi dari sana sambil melambaikan tangannya kearah Olivia, sebelum kena imbasnya sebaiknya dia kabur.


"Ya kabur deh." guman Olivia saat melihat Jeremi berlari kearah halte bus.


"Hmm!!" Lewis berdehem pelan saat dia sudah berdiri disamping Olivia.


Olivia cuek saja, lagi pula untuk apa Lewis memasang tampang menakutkan hingga membuat Jeremi pergi?


"Kalian terlihat akrab, ada hubungan apa?"


"Aku tidak perlu laporan bukan??" Olivia balik bertanya.


"Olivia jangan lupa kita ini?"


"Aku tahu!" sela Olivia dengan cepat.


"Bagus jika kau tahu!"


"Lewis, aku dekat dengan siapa saja bukan urusanmu. Lagi pula jika aku dekat dengan seorang pria belum tentu kami ini memiliki perasaan, kami ini hanya berteman."


Lewis diam saja, dalam hatinya sedikit lega.loh kok?


"Aku hanya khawatir dengan kakimu." Lewis mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya, kalau begitu gendong aku kemobil." goda Olivia.


"Cih, maunya digendong terus." desis Lewis dengan tajam.


"Ya sudah, besok aku akan meminta Jeremi menggendongku." Olivia mengedipkan sebelah matanya kearah Lewis dan mulai berjalan pergi tapi pada saat itu Lewis meraih pinggangnya,menggendongnya bak seorang putri.


"Bukankah kau tidak mau?"


"Lebih baik aku yang menggendongmu dari pada orang lain!"


"Lewis jangan katakan jika kau cemburu." Olivia mulai menggodanya.


"Tidak, jangan besar kepala. Ini sebagai tanggung jawabku karena telah membuat kakimu keseleo." elak Lewis dengan cepat.


Cemburu? Apa dia sudah gila?


"Tidak perlu malu, katakan saja jika kau cemburu." goda Olivia lagi.


"Tidak!"


"Ayolah, mengaku saja."


"Diam ah! Kalau tidak aku akan memberimu penalty 2000 dolar." ancamnya.


"Oh ya, aku akan pinjam uang dengan Jeremi untuk membayar hutangku."


"Jangan coba-coba!"


Olivia tertawa dalam gendongan Lewis, dia terus menggoda Lewis selama mereka menuju kemobil.