
Olivia sedang menikmati pemandangan diluar sana dari jendela kamar yang akan ditempatinya.
Suasana hijau diluar sana sangat menenangkan, rimbunan pohon bambu yang ditiup oleh angin tampak menyejukkan. Sepertinya selera Lewis Simone boleh juga.
Yah, walaupun dia cuma satu bulan disana tapi akan dia nikmati saat-saat seperti ini. Sejak masuk kedalam kamar yang akan dia tempati dia tidak keluar lagi dan dia hanya duduk dijendela menikmati pemandangan yang ada.
Tidak perlu kawatir, dia sudah mengirimkan pesan untuk ayah dan ibunya dan mengatakan jika dia sudah tiba dirumah Lewis Simone. Dia juga mengambil beberapa foto dikamar bergaya jepang yang akan ditempatinya, foto itu dia kirimkan kepada ibunya dengan sebuah caption:
"Aku sudah berada dirumah simaniak."
Olivia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghirup udara segar yang ada ditempat itu.
Selagi dia menikmati tempat itu pintu kamarnya diketuk dari luar sana, Olivia memalingkan wajahnya kearah pintu dan beruntungnya pintu kamar yang akan dia tempati bukan pintu Shoji. Shoji merupakan pintu geser khas jepang yang dibuat dari rangka kayu dan dilapisi oleh kertas yang direkatkan pada petak-petak kayu.
Jika sampai pintu kamarnya memakai shoji maka akan dia pasang banyak ranjau dikamarnya supaya aman.
Olivia bangkit berdiri dan segera berjalan kearah pintu dan membukanya. Didepan pintu tampak Lewis Simone sedang berdiri sambil memandang kearahnya.
"Ada apa?" Olivia bertanya dengan ketus.
"Apa kau tidak mau keluar untuk makan?" Lewis bertanya dengan dingin pula.
Olivia memutar bola matanya malas, hanya untuk makan saja sampai mengganggu Waktunya.
"Memangnya kau punya makanan apa?"
"Ikut saja!"
Lewis segera berjalan pergi sedangkan Olivia menutup pintu kamarnya dan mengikuti langkah Lewis.
Mereka menuju kesebuah ruang makan dimana disana terdapat sebuah meja kotatsu sedangkan beberapa hidangan sudah tampak tersedia diatas meja.
Olivia mendengus melihatnya, bukan karena makanan yang ada diatas meja yang membuatnya mendengus tapi meja kotatsu itu yang membuatnya kesal. Lagi-lagi dia harus duduk ala seiza tapi beruntungnya dia tidak perlu duduk diatas tatami yang keras karena disana ada sebuah bantal zabuton.
Zabuton adalah alas duduk tradisional jepang yang terlihat seperti bantal duduk biasa.selain nyaman, bahan yang digunakan dan aneka desain dari zabuton juga akan memanjakan mata karena bervariasi.
Tanpa banyak bicara Olivia duduk didepan Lewis, hari ini dia tidak mau mempermalukan dirinya seperti waktu direstoran. Dia harap kakinya mau bekerja sama degannya dan tidak kram seperti waktu itu.
Dengan percaya dirinya, dia duduk dengan tegak didepan Lewis. Jangan anggap remeh dirinya karena dia juga bisa.
Lewis hanya cuek saja dan menikmati hidangan yang ada, jika bukan karena permintaan kakeknya maka dia tidak akan mengijinkan siapapun tinggal dirumahnya.
"Hei Lewis."
Panggilan Olivia membuat Lewis menatap gadis cantik Itu dengan tajam sedangkan Olivia tampak mengetuk-ngetukkan sumpitnya diatas mangkuk yang ada diatas meja.
"Kenapa?" tanyanya.
"Apa kau tidak punya sendok?" tanya Olivia.
"Apa kau tidak bisa menggunakan sumpit itu?"
Olivia memijit pelipisnya, bukannya dia tidak bisa tapi dia tidak terbiasa menggunakan sumpit seperti itu.
"Hei, tolong ya, aku ingin dilahirkan dan dibesarkan di Amerika jadi sumpit adalah hal yang tabu untukku." katanya kesal.
"Kau bisa mengambil sendok dari sana." Lewis menunjukan kesebuah lemari.
Olivia melihat lemari itu dan sepertinya dia harus mengambil sendiri sendok itu kalau tidak dia tidak akan makan.
Olivia bangkit berdiri untuk mengambil sendok tapi tidak lama kemudian dia kembali dengan sebuah sendok dan garpu ditangannya.
Selama mereka makan, mereka tidak berbicara apa-apa. Olivia malas berbicara sedangkan Lewis seperti orang yang sakit gigi.
"Aku sudah selesai, terima kasih atas makanannya." Olivia meletakkan sendoknya dengan kasar.
"Olivia."
Olivia kembali duduk dan menatap Lewis dengan tajam.
"Ada apa?"
"Aku sudah memikirkan hal ini, mulai besok kau harus bekerja diperusahaanku." ujar Lewis dengan santai.
"Apa? Tidak mau!" tolak Olivia dengan cepat.
"Kau tidak bisa menolak!" kata Lewis dengan tegas.
"Kenapa aku tidak bisa menolak? Aku bisa menolak apapun yang kau katakan dan aku bisa melakukan apapun yang aku bisa."
"Oh ya?"
Lewis menatap Olivia dengan tajam begitu juga dengan Olivia, beraninya Lewis memintanya bekerja diperusahaannya?
Lewis diam saja, semua itu dia lakukan atas permintaan seseorang dan dia akan tetap menyeret Olivia untuk bekerja diperusahaannya selama satu bulan.
"Jangan lupa kau belum mengganti mobilku yang kau bakar." kata Lewis dengan santai sambil meneguk teh hijaunya.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi kealamat yang aku berikan untuk meminta ganti rugi disana?"
"Kenapa aku harus pergi kesana untuk meminta ganti rugi? Yang membakar mobilku bukan keluargamu tapi kau!!"
Olivia menelan ludahnya dengan kasar, sepertinya dia sudah salah mencari lawan tapi jangan panggil dia Olivia Smith jika dia tidak bisa membalas Lewis Simone.
"Huh, hanya mobil saja aku bisa menggantinya saat ini juga!" katanya kesal.
"Oh ya?"
"Benar, jadi berikan nomor rekeningmu aku akan mentransfer uang ganti rugi hari ini juga."
"Sayang sekali, aku tidak terima uang keluargamu yang aku inginkan uang hasil jerih payahmu jadi untuk mengganti mobilku kau harus bekerja denganku selama satu bulan."
"Kau!!" Olivia menggerutu kesal sedangkan Lewis santai saja. Dia memang ingin membuat Olivia tidak betah jika bersamanya jadi dia sengaja melakukan hal seperti itu.
Dia yakin Olivia tidak mungkin bisa bekerja dengannya satu bulan apa lagi dia tahu Olivia selalu difasilitasi dengan barang-barang mewah sejak kecil bahkan dia yakin mencuci satu piring saja Olivia tidak akan bisa.
Olivia pasti seperti putri-putri orang kaya yang manja diluar sana, jadi setelah satu bulan dia akan menolak perjodohan mereka didepan kakeknya dengan alasan dia tidak cocok dengan watak Olivia dan lagi pula dia yakin dia pasti tidak akan jatuh hati dengan gadis manja seperti Olivia Smith.
"Baiklah, aku akan bekerja satu bulan dikantormu untuk mengganti mobilmu dan jangan kau kira aku tidak bisa!" Olivia menyetujui permintaan Lewis dengan kesal.
"Itu bagus." diam-diam Lewis tersenyum tapi kemudian dia segera bangkit berdiri berpura-pura untuk mengambil sesuatu, jangan sampai Olivia melihat senyumnya.
Olivia hendak bangkit berdiri tapi pada saat itu matanya melihat sesuatu diatas meja, senyum licik langsung mengembang diwajahnya dan Olivia mengambil benda itu juga memasukkannya kedalam teh hijau milik Lewis.
Dengan cepat pula Olivia mengaduknya agar Lewis tidak curiga dan tidak lama kemudian Lewis kembali lagi dan duduk didepannya.
Olivia tersenyum pada Lewis dan bangkit berdiri.
"Kalau begitu aku kembali kekamar."
Lewis mengangguk dan meraih gelas teh hijaunya dan pada saat itu Olivia bergegas menuju kamarnya sedangkan tanpa curiga Lewis meneguk teh hijaunya dan?
"Brushh!!" teh itu menyembur keluar dari mulut Lewis.
Apa-apaan teh rasa wasabi itu? Jangan-jangan?
Lewis melihat wasabi yang ada diatas meja yang tidak tertutup dengan rapat.
"Olivia Smith!!" teriaknya kesal sedangkan Olivia, sudah masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.