30 Days For Love

30 Days For Love
Over protektif



Setelah mengetahui kehamilan istrinya, Lewis benar-benar enggan pergi kemanapun. Dia selalu dirumah menemani Olivia bahkan pekerjaannya dia bawa pulang dan terkadang dia meminta Cherly datang kerumahnya untuk membawakan pekerjaannya.


Dia benar-benar tidak mau meninggalkan Olivia dan selalu ingin menjaganya, setiap hari Lewis menggendong istrinya kemanapun istrinya mau pergi bahkan kekamar mandi sekalipun.


Dia benar-benar ingin menjaga Olivia dan calon anaknya sebaik mungkin hingga membuatnya ingin menjaga Olivia sepanjang hari. Dia bahkan menyingkirkan high hell Olivia sampai membuat Olivia kesal, tapi Lewis tidak perduli karena dia melakukan hal itu untuk menjaga keselamatan istri dan anaknya.


Bahkan saat ini mereka berdua berada digazebo, Olivia ingin bersantai disana tapi Lewis mengikutinya, dia lebih khawatir lagi istrinya berada didekat kolam renang, jangan sampai Olivia terjatuh disisi kolam renang yang licin.


Tapi hal itu membuat Olivia kesal, padahal dia berniat bersantai sendirian disana, menikmati semilir angin tapi kenapa Lewis mengikutinya.


Dia tahu Lewis sangat perhatian dan menghawatirkannya tapi menurutnya Lewis sudah keterlaluan dan Over protektif terhadapnya.


Diakan juga butuh waktu sediri dan entah kenapa dia jadi benci dengan Lewis saat melihat wajahnya,rasanya dia ingin jauh-jauh dari Lewis.


Lewis mengelus-elus perut Olivia sedari tadi, terus terang saja dia tidak ingin meninggalkan Olivia barang sedetikpun.


Dia ingin selalu dekat dengan istri tercintanya dan dia akan mengikuti kemanapun istrinya pergi.


"Lewis."


"Hm?"


"Kenapa kau tidak kekantor?" Olivia tampak begitu kesal.


"Aku sedang malas sayang, aku ingin selalu dekat denganmu dan calon anak kita." Lewis mengusap perut istrinya dengan lembut.


Olivia menghembuskan nafasnya dengan kasar, mau sampai kapan Lewis seperti ini? Dia saja sudah sebal dengan keberadaan Lewis disampingnya yang terlalu berlebihan dalam menjaganya.


Bukan hari ini saja Lewis seperti ini tapi sudah beberapa hari suaminya seperti ini dan rasanya dia sudah tidak tahan.


"Lewis, kau sudah beberapa hari tidak pergi kekantor, tidak baik seperti ini terus."


"Tidak baik kenapa? Aku hanya ingin menjagamu dan calon anak kita, aku sedang ingin dekat-dekat dengan kalian."


"Astaga, kau ini ya! Kau mungkin tidak masalah tapi aku yang bermasalah!" Olivia jadi semakin Kesal.


"Kenapa sayang?"


"Tolong ya Lewis, selama beberapa hari ini kau terlalu over protektif terhadapku! Aku tahu kau perhatian padaku tapi jangan seperti ini terus, aku juga butuh waktu sendiri!"


"Apa kau keberatan aku seperti ini?"


"Tentu saja! Kau memperlakukan aku seperti anak kecil! Aku ingin kesana kau gendong, aku ingin kesini kau gendong! Aku duduk sebentar kau sudah menempel padaku dan lihat tanganmu ini?"


Olivia melihat tangan Lewis yang bermain diperutnya, tidak hanya itu, bajunya dinaikkan keatas oleh Lewis hingga memamerkan perutnya.al Apa Lewis ingin dia masuk angin?


"Mau sampai kapan seperti ini?"btanyanya kesal.


Lewis terkekeh dan menurunkan bajunya, dia juga menarik Olivia hingga bersandar pada bahunya.


"Maaf sayang, aku benar-benar ingin dekat denganmu beberapa hari ini tapi kau tidak perlu khawatir, besok aku akan pergi kekantor karena ada rapat."


"Rapat?"


"Ya."


"Rapat dengan para pengusaha atau dengan karyawanmu?"


"Dengan para pengusaha, ada apa?"


"Tidak ada, jam berapa rapatmu dimulai?"


"Jam 10 pagi."


Pada saat itu Sebuah senyuman menyeringgai dari bibir Olivia, entah kenapa sebuah ide terbersit saat itu juga.


Senyumnya terus mengembang diwajahnya karena dia sedang membayangkan sesuatu dan Lewis tidak menyadari akan hal itu.


"Lewis."


"Hmm?"


"Maukah kau mengambulkan permintaanku?"


"Apa yang kau inginkan sayang? Katakan padaku aku pasti akan melakukan apapun yang kau inginkan nanti."


"Benarkah kau mau melakukan apapun yang aku minta?" tanya Olivia meyakinkan.


"Tentu saja Olivia sayang, aku akan melakukan apapun yang kau pinta asalkan kau senang."


"Oh Lewis kau memang yang terbaik."


Olivia menciumi bibir suaminya dengan lembut, dia benar-benar tampak senang dan rasanya dia sudah tidak sabar untuk menyiapkan kejutan untuk suaminya nanti.


Saat membayangkan itu moodnya yang tadinya jelek kini berubah dan dia tampak begitu penuh semangat.


"Jadi katakan padaku, apa yang istriku ini inginkan dariku?"


"Ini rahasia, kau akan tahu besok."


"Wow, kenapa rahasia, hm?"


"Yah tunggu saja, besok kau pasti akan tahu."


Lewis menatap istrinya dengan curiga, terus terang saja dia jadi penasaran dengan permintaan istrinya tapi memang mau bagaimana lagi, dia memang harus bersabar sampai besok.


Ya lihat saja besok, mungkin Olivia ingin memintanya menyiapkan makanan yang disukainya atau Olivia ingin pergi berbelanja dan memintanya untuk menemaninya?


Yah ini paling masuk akal, pergi belanja. Dia menganggap demikian karena Olivia menanyakan perihal rapatnya tadi dan mungkin saja setelah selesai rapat Olivia akan pergi kekantornya dan mengajaknya untuk pergi berbelanja.


"Olivia sayang, aku pasti akan mengabulkan apapun yang kau minta nanti jadi kau tidak perlu sungkan apalagi aku ini suamimu." ujar Lewis dengan percaya diri.


"Terima kasih Lewis, kau memang pria terbaik untukku."


Lewis tersenyum dan mengangkat dagu Olivia, dia juga menciumi bibir istrinya dengan lembut.


Mereka berciuman sesaat tapi kemudian mereka melepaskan ciuman mereka dan saling pandang.


"Bagaimana jika kita kekamar sayang, aku jadi ingin memakanmu."


"Tidak mau!"


"Kenapa?"


"Hei kita belum makan siang tahu dan aku lapar." Olivia mengusap perutnya yang keroncongan.


"Oh my God, aku lupa. Ayo kita masuk kedalam, aku akan membuatkan makanan untukmu dan sijunior."


"Hm..Gendong." pinta Olivia dengan manja.


Lewis turun dari gazebo sambil terkekeh sedangkan Olivia naik keatas punggungnya, sambil menggendongi istrinya, Lewis membawa Olivia masuk kedalam sana dan berjalan menuju meja makan.


Seperti keinginan Olivia dia sudah membeli sebuah meja makan bahkan sofa untuk mereka bersantai diruang keluarga.


Terkadang sebelum tidur mereka menonton televisi bersama dan menghabiskan waktu dengan cemilan dan minuman kaleng.


Setelah tiba didapur, Lewis menurunkan Olivia dengan hati-hati, dia juga menarik sebuah kursi untuk istrinya.


"Kau ingin makan apa sayang?"


"Apa saja, yang gampang dibuat karena aku sudah lapar."


"Baiklah nyonyaku, tunggu aku disini dan setelah makan aku akan memijitkan kakimu bahkan seluruh tubuhmu."


"Dasar Mesum!"


Lewis hanya tertawa dan berjalan kearah kulkas, dia mengeluarkan bahan-bahan yang hendak dia oleh menjadi suatu hidangan Lezat untuk istri tercintanya.


Olivia melihat punggung suaminya sambil tersenyum, walaupun Lewis laki-laki tapi Lewis begitu pandai memasak tidak seperti dirinya yang selalu gagal saat membuat makanan, begitulah jodoh tidak ada yang tahu dan dia sangat bahagia dapat menikah dengan Lewis,orang yang dapat melengkapi semua kekurangan yang ada pada dirinya.


Tidak lama kemudian Lewis kembali dengan dua piring pasta ditangannya, dengan senyum menawanya, Lewis meletakkan pasta yang dia buat untuk istri tercintanya.


Tentu Olivia memakan pasta itu dengan wajah bahagia karena makanan itu dibuat oleh orang yang dia cintai dan dibuat dengan penuh cinta.