30 Days For Love

30 Days For Love
Keuntungan yang berlipat ganda



Setelah mendapat perintah untuk mengambil es batu, Cherly benar-benar sangat kesal. Begitu mudahnya Olivia menarik perhatian Lewis? Dia jadi sangat penasaran siapa Olivia sebenarnya.


Waktu insiden kopi saja Lewis tidak memarahi Olivia bahkan para pengusaha disana sungkan pada Olivia. Mungkin ada yang dia lewatkan.


Gwens sudah pergi dari sana karena mendapat telephone mendadak dari menagernya tapi bukan berarti dia tidak akan kembali lagi untuk membuat perhitungan dengan Olivia.


Cherly Sangat tahu siapa Gwen, wanita itu pasti akan kembali lagi untuk menyingkirkan Olivia. Mungkin nanti mereka bisa bekerja sama untuk menyingkirkan gadis itu tapi yang membuatnya penasaran adalah, apa hubungan Olivia dan Lewis?


Kenapa mereka terlihat begitu akrab? Bahkan Lewis tidak sungkan-sungkan menggendong Olivia. Ini sudah kedua kalinya dan hal ini sungguh membuatnya kesal. Mungkin setelah ini dia harus mencari tahu apa hubungan mereka sebenarnya.


Cherly masuk kedalam ruangan Lewis dengan es batu ditangannya, saat melihat Lewis dan Olivia kekesalan kembali menguasai hatinya.


Bagaimana tidak, saat itu Lewis tampak berjongkok didepan Olivia untuk memijit-mijit kakinya padahal dia tahu Olivia hanya berpura-pura saja.


"Tuan Simone, es yang anda inginkan." Cherly meletakkan es batu diatas meja.


"Hm!" Lewis hanya berdehem pelan sedangkan Cherly melotot kearah Olivia yang tersenyum kearahnya.


"Dasar gadis licik!" desisnya.


"Kau mengatakan sesuatu?"bLewis melihat kearah Cherly dengan tajam.


"Tidak tuan Simone, aku hanya ingin menanyakan apa aku perlu menyiapkan makan siang untukmu?" elaknya.


"Oh kau benar, bawakan dua set makan siang, sekarang!" perintahnya.


"Baik tuan Simone." Cherly berlalu pergi sambil mengerutu kesal.


"Apa masih sakit?" Lewis mengambil es batu yang diletakkan Cherly diatas meja untuk mengompres kaki Olivia, dia khawatir kaki Olivia akan membengkak.


"Auch..itu sangat sakit, kau tahu?" Olivia pura-pura kesakitan.


"Maaf, seharusnya aku tidak memanggilmu tadi. Lagi pula kenapa kau begitu ceroboh? Lain kali jalanlah dengan hati-hati supaya tidak tersandung!"


"Aku kaget karena kau tiba-tiba ingin memotong hutangku 1000 dolar, lain kali jangan mengatakan hal-hal yang bisa membuatku kaget."


"Apa 1000 dolar begitu berarti bagimu?" Lewis melihat Olivia dengan tajam, tidak mungkinkan hanya karena uang sekecil itu membuat Olivia Smith jadi ceroboh.


"Eh itu?" Olivia memutar otaknya, jangan sampai Lewis tahu jika dia hanya berpura-pura saja.


"Gara-gara kau selalu menambah hutangku dan begitu perhitungan denganku membuatku jadi sensitif dengan uang akhir-akhir ini." jawabnya beralasan.


"Ditambah isi dompetku yang semakin sekarat, ini sungguh menyedihkan. Aku sangat ingin pergi berbelanja lagi." Olivia memasang wajah menyedihkan didepan Lewis.


"Apa kau belum puas berbelanja kemarin?"


"Tentus saja belum puas!"


"Oke baiklah, kita akan pergi berbelanja lagi setelah kakimu sembuh."


Olivia terbelalak kaget, Lewis Simone tidak sedang keracunan bukan? Atau mungkin otaknya sedikit bermasalah karena menghirup parfum yang dipakai siratu drama?


Tapi dia tidak perduli yang penting refresing, belanja dan gratis.


"Lewis kau memang yang terbaik!" Olivia melompat ketubuh Lewis tanpa pikir panjang sampai membuat Lewis terduduk diatas lantai.


"Kau gila, bagaimana jika kakimu tambah sakit!"


Walaupun dia mengerutu tapi Lewis tampak senang, dia memeluk pinggang Olivia dan mengusap punggungnya.


"Kenapa kau begitu senang?" tanyanya.


"Semua wanita akan merasa senang jika dibelikan sesuatu."


"Benar tapi ingat, gratis! Jika kau memasukkannya lagi kedalam daftar hutangku lebih baik jangan!"


Lewis terkekeh saat mendengarnya, ini sangat aneh, dia sangat suka Olivia memeluknya padahal baru saja dia menolak pelukan dari Gwen.


Padahal Olivia hanya calon tunangan yang tidak dia inginkan tapi mereka sudah begitu akrab hanya dalam beberapa hari saja.


Jangan sampai dia menyukai Olivia Smith kalau tidak hancurlah reputasinya didepan Olivia.


"Tenang saja, anggap aku sedang menebus kesalahanku karena aku memanggilmu kemari dan membuat kakimu jadi keseleo." ujarnya.


"Kau pegang ucapanmu, awas saja ingkar janji." ini sungguh keberuntungan yang tiba-tiba menghampirinya dan ini keuntungan yang berlipat ganda.


Olivia melepaskan pelukannya dan pada saat itu Lewis bangkit berdiri untuk menggendong Olivia dan mendudukkan Olivia diatas sofa kembali.


Olivia tampak senang, tujuannya bukan untuk belanja tapi dia ingin jalan-jalan. Dia bosan dirumah Lewis sepanjang hari jika sedang libur dan jika dikantor, dia akan sibuk dengan pekerjaan yang begitu banyak padahal dia belum pernah melakukannya.


Dia butuh refresing karena belum terbiasa dengan semua itu, mau bagaimana lagi, dia memang suka pergi jalan-jalan jika tidak ada kerjaan selama ini. Apalagi pesawat keluarganya yang siap sedia bisa membawa kemanapun dia suka tapi sejak tinggal dengan Lewis, dia jadi tidak bisa pergi jalan-jalan dan itu sangat menyiksa padahal ini baru beberapa hari.


Soal belanja? Itu suatu keberuntungan yang sangat besar untuknya disaat semua kartunya diblokir dan isi dompetnya yang sudah sekarat, setelah ini dia akan berterima kasih pada Cherly dan ratu drama.


"Aku orang yang tepat janji, hutangmu 1000 dolar juga akan aku potong."


Saat Lewis mengatakan hal itu Cherly sudah berdiri didepan pintu dengan dua set makanan ditangannya, dia mendengar pembicaraan kedua orang didalam sana.


Hutang? Jadi Olivia punya hutang pada Lewis Simone?


Pantas saja Lewis memperkerjakan Olivia dan mempertahankan gadis itu diperusahaannya. Ternyata Olivia memiliki hutang pada Lewis, pasti hutangnya tidak sedikit.


Pada saat itu Cherly tersenyum dengan licik, hanya gadis miskin saja beraninya bersaing dengannya dan Gwen.


Ini hal yang sangat bagus, saat Gwen kembali dia akan mengatakan semuanya pada Gwen. Ratu drama itu pasti dapat menyingkirkan Olivia dari perusahaan ini.


"Ck gadis miskin saja terlalu sombong!" kata Cherly dalam hati.


Dia segera masuk kedalam sana untuk memberikan makanan yang diminta Lewis, Cherly menatap Olivia dengan tatapan permusuhan sedangkan Olivia cuek saja, dia tahu Cherly sedang menatapnya tapi dia tidak merasa jika dia punya salah.


Lagi pula dia tidak mau terlibat dengan dua orang wanita yang yang sedang memperebutkan seorang laki-laki tapi dia tidak tahu, dia sudah terlibat.


"Tuan Simone makananmu dan hati-hatilah karena kau sedang didekati wanita rubah." ujar Cherly sambil melihat kearah Olivia.


"Benar Lewis, kau harus berhati-hati dengan rubah." Olivia membenarkan ucapan Cherly.


"Yang aku maksud itu kau tahu!" Cherly ingin meneriakkan itu tapi dia tidak berani.


Dia hanya bisa menatap Olivia dengan tajam dan api permusuhan menyala dari tatapannya sedangkan Olivia tersenyum manis pada Cherly.


"Dasar muka tebal!" desis Cherly dengan tajam.


"Ya ampun, Lewis apa mukaku tebal?" Olivia pura-pura memasang wajah sedih.


Lewis melotot pada Cherly, beraninya menghina Olivia Smith! Jika didengar keluarganya habislah.


"Keluar sekarang juga gajimu aku potong 10 persen."


"Eh tapi tuan Simone."


"20 persen."


"Baik aku keluar!" bisa-bisa tidak digaji bulan ini.


Cherly keluar dari sana sambil berkata, "Tunggu Gwen kembali!"