30 Days For Love

30 Days For Love
Kalau begitu jangan bertanya!



Setelah selesai makan Olivia segera bangkit berdiri, dia tidak mau melihat Lewis dan langsung meninggalkan pria itu begitu saja.


Olivia berjalan kearah kamarnya, lebih baik dia berada disana dari pada dia harus berlama-lama dan berdebat dengan Lewis.


Selama mereka makan Olivia tidak berbicara apa-apa walaupun Lewis mengambilkan makanan untuknya dia juga diam saja dan tidak perduli.


Lewis sih hanya tersenyum saja melihat tingkahnya bahkan saat Olivia masuk kedalam kamarnya dan memanting pintu dengan keras.


Dia segera bangkit berdiri membiarkan piring kotor bekas mereka makan, para pelayannya yang akan membersihkan nanti.


Lewis masuk kedalam kamarnya, dia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah koper kecil dari sana.


Tidak hanya itu dia juga mengambil pakaiannya dan memasukkannya kedalam koper, sebenarnya besok pagi dia harus pergi ke New York untuk menemui rekan bisnis disana dan dia belum mengatakan hal ini pada Olivia.


Dia mau mengatakannya pada Olivia tapi Olivia sedang marah dengannya, mungkin setelah ini dia akan mengatakannya pada Olivia. Siapa tahu gadis itu mau ikut dengannya ke New York? Pasti akan sangat menyenangkan.


Setelah merasa barang-barang yang dia butuhkan selama beberapa hari sudah cukup,vLewis menutup kopernya dan meletakkannya keatas lantai.


Dia tidak langsung keluar dari kamarnya tapi dia merebahkan diri diatas ranjang sambil berpikir.


Padahal dia tidak pernah mau dekat dengan Olivia Smith bahkan saat Kakeknya mengutarakan niatnya untuk menjodohkan dirinya dengan Olivia Smith dia menolak dengan keras.


Dia paling tidak suka dijodohkan, dia menyetujui perjodohan itu semata-mata untuk menghormati kakeknya tapi lihatlah, dia malah jatuh hati pada Olivia Smith.


Dia kira Olivia Smith seorang gadis yang manja, yah walaupun memang pemalas tapi Olivia berbeda jauh dengan yang dia bayangkan selama ini.


Mereka baru beberapa hari bersama tapi rasanya mereka sudah seperti saling kenal begitu lama,bitu karena karakter Olivia yang menyenangkan dan ceria tidak hanya itu, Olivia juga bukan gadis cengeng seperti yang dia pikirkan.


Betapa bodohnya laki-laki yang mendekati Olivia hanya untuk memanfaatkan status gadis itu dan dia sangat beruntung mau menerima perjodohan yang diatur tiba-tiba oleh kakeknya dan pastinya dia akan menjadi pria paling beruntung jika dia sudah bisa mendapatkan Olivia.


Senyum Lewis mengembang diwajahnya, sebaiknya dia menemui Olivia dan mengajaknya pergi ke New York. Mudah-mudahan Olivia mau jika tidak, mungkin dia akan merindukan Olivia selama dia disana.


Dia segera bangkit dari atas ranjang dan keluar dari kamarnya, tentu saja yang dia tuju adalah kamar Olivia.


Tanpa mengetuk lagi Lewis masuk kedalam kamar Olivia dan disana Olivia sedang memainkan ponselnya diatas ranjang. Olivia begitu kaget saat melihat Lewis menghampirinya dengan senyum menawannya.


"Kenapa kau masuk kemari?" Olivia meletakkan ponselnya dan melotot kearah Lewis.


"Aku ingin berbicara denganmu." Lewis duduk disisi ranjang sedangkan Olivia memundurkan tubuhnya.


"Tidak ada yang perku kita bicarakan." jawab Olivia dengan ketus.


"Dengarkan aku, besok aku harus pergi ke New York, apa kau mau ikut?"


Lewis menatap Olivia dengan penuh harap,dia berharap Olivia mau ikut dengannya dan menjawab 'Yes'.


"Tidak mau, kau pergi saja sendiri."


Saat itu juga Lewis langsung merasa kecewa, jika Olivia tidak mau dia pasti akan merindukan Olivia selama disana tapi dia akan berusaha membujuknya.


"Ayolah, temani aku disana. Kau boleh belanja sepuasmu selama disana."bujuknya.


"Tidak, terima kasih aku sama sekali tidak tertarik." Olivia merebahkan dirinya diatas ranjang, lebih baik dia tidur saja.


"Olivia!" Lewis naik keatas ranjang dan juga merebahkan dirinya disamping Olivia bahkan memeluknya.


"Lewis Simone, lepaskan!"


"Apa kau masih marah denganku?"


"Tidak."


"Jadi biarkan kita seperti ini untuk sesaat."


Lewis semakin mengencangkan pelukannya sementara Olivia diam saja, dia membiarkan Lewis memeluknya bahkan membiarkan tangan Lewis mengusap punggungnya.


"Olivia."


"Apa?"


"Benar tidak mau ikut denganku?"


"Tidak, kau pergi saja sendiri."


"Kenapa? Kau sudah tidak marah lagi denganku bukan? Jadi ayo kita pergi bersama."


"Oh." Jawab Lewis sambil terkekeh.


Dia kira Olivia tidak mau ikut dengannya karena alasan lain, tidak heran sih dengan semua yang dimiliki oleh keluarga Smith, Olivia bisa pergi kemana saja yang dia mau tanpa susah payah.


Mereka berdua kembali diam saja, ada perasaan sedikit kecewa dalam hati Lewis tapi apa boleh buat, dia tidak mau memaksa Olivia karena dia tidak mau membuat Olivia marah lagi.


"Berapa lama?"tanya Olivia tiba-tiba.


"Hm maksudku kau pergi ke New York berapa lama?" tanya Olivia lagi.


"Tidak lama, hanya beberapa hari saj. Apa ada yang kau inginkan? Aku akan membelikannya untukmu jika aku punya waktu."


"Tidak, terima kasih. Tapi jika kau begitu baik kau bisa membelikan aku es cream." goda Olivia.


"Wow, bagaimana aku bisa membawanya?"


Olivia tertawa dan memeluk Lewis, dia juga menyembunyikan wajahnya didada Lewis. Sepertinya Olivia tidak marah lagi dan Lewis sangat senang.


Lewis mulai memejamkan matanya, mungkin malam ini dia akan tidur disana.


"Jam berapa kau berangkat?"


"Jam lima pagi."


"Apa perlu aku antar?"


"Tidak perlu, kau tidur saja. Selama aku pergi kau boleh kembali kerumahmu jika kau mau."


Saat mendengarnya Olivia mengangkat kepalanya dan menatap Lewis, yang benar?


"Kau tidak sedang bercanda bukan?" tanyanya meyakinkan.


"Tidak, kau boleh pulang." ucap Lewis lagi.


"Kau tidak akan memberikan aku penalty?"


Lewis terkekeh sedangkan tangannya mulai mengusap wajah cantik Olivia dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Aku tidak akan memberimu penalty jadi kau boleh pulang! Aku juga akan memberikan sebuah kartu untukmu, kau bisa memakai kartu itu sesuka hatimu."


"Jika kau bosan kau bisa jalan-jalan kemall dan belilah apa yang kau sukai disana."


"Terima kasih Lewis, tapi aku tidak butuh! Kau simpan saja kartumu." tolak Olivia. Dia boleh pulang saja sudah membuatnya senang dan dia tidak membutuhkan kartu dari Lewis.


Lewis kembali memeluki Olivia, dia juga mencium dahi Olivia dengan lembut. Mungkin besok malam dia akan merindukan Olivia saat dia berada di New York.


"Boleh aku tidur denganmu?" tanyanya.


"Jika aku bilang tidak, apa kau akan keluar?"


"Tidak." jawab Lewis dengan cepat.


"Kalau begitu jangan bertanya."


"Oh ya?"


Lewis kembali memandangi wajah Olivia dengan lekat sedangkan tangannya sudah mengusap wajah Olivia.


Tanpa Olivia duga, Lewis menciumi bibirnya dengan lembut tapi setelah itu Lewis melepaskan bibir Olivia dan berkata:


"Kau bilang jangan bertanya bukan?"


"Kau tidak hanya perhitungan tapi selalu mencari kesempatan dalam kesempitan."


Lewis terkekkeh dan mendekatkan bibirnya kembali, sebelum kembali menciumi bibir Olivia dia kembali berkata:


"Itulah aku."


Dia kembali menciumi bibir Olivia dan kali ini Olivia tidak menolaknya, dia menyambut bibir Lewis bahkan membalas ciuman Lewis.


Setelah beberapa saat mereka melepaskan ciuman mereka dan kembali berpelukan, Lewis memeluki Olivia dengan erat dan yang pasti malam ini dia sangat senang.