
Saat sudah tiba dikantornya, Lewis tidak juga turun dari mobilnya. Dia masih berada di dalam sana sedangkan Olivia masih tidur dan bersandar di bahunya.
Supir pribadinya sangat heran, mereka sudah tiba tapi kenapa bosnya belum juga keluar dari mobilnya?
"Tuan Simone?" supirnya mencoba memanggil majikannya.
Lewis mengangkat tangannya sebagai tanda supaya supirnya untuk diam dan saat melihat itu supir pribadinya mengangguk dan segera keluar dari sana, membiarkan kedua orang itu.
Supaya tidak bosan, Lewis memainkan ponselnya dan menanyakan jadwal kepada sekertarisnya.
Dua puluh menit telah berlalu, Olivia terbangun dari tidurnya saat merasakan gerakan tangan Lewis. Dia segera membuka matanya dan menguap dengan panjang sambil merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan otot-otot tangannya.
Olivia melihat sekelilingnya dan melihat ke arah Lewis yang melotot ke arahnya.
"Apa sudah sampai?" tanyanya sambil kembali menguap.
"Bagus sekali Olivia Smith, hari pertama bekerja sudah tertidur."
Olivia cuek saja tidak menjawab Lewis, Dia menyambar tasnya hendak keluar dari mobil itu tapi Lewis menahan tangannya.
"Apa kau tidak tahu tidur dibahuku bayarannya mahal?"
Olivia memalingkan wajahnya dan menatap Lewis dengan tajam. Apa maksudnya?
"Kalau bicara yang jelas!" katanya kesal.
"Tidur dihari pertama bekerja kena penalty dua ratus dolar, membuatku terlambat dipenalty dua ratus dolar dan tidur di bahuku enam ratus dolar."
"Jadi kau harus membayar penalty sebanyak seribu dolar padaku." ujar lewis dengan santai.
"Oh my God, kau sudah gila ya!!" bentak Olivia kesal.
"Oh ya, satu hal lagi." Lewis menunjuk kearah jasnya tanpa memperdulikan bentakan Olivia.
"Seribu dolar untuk jasku ini." katanya lagi.
Tanpa menunggu jawaban Olivia, Lewis segera keluar dari mobilnya begitu juga dengan Olivia, dia mengikuti langkah Lewis sambil memaki.
"Kau pria gila perhitungan, jangan kau kira semua fasilitas dari keluargaku sudah ditutup lantas kau bisa memerasku seenaknya." makinya.
Lewis diam saja dan masuk kedalam kantornya, pada saat para karyawannya melihat kedatangannya mereka menunduk hormat tapi mata mereka tertuju pada gadis yang ada di samping Lewis. Siapa gadis itu?
Bos mereka tidak pernah datang ke kantor itu dengan seorang wanita sebelumnya, tapi gadis itu?
Olivia diam saja saat mendapat tatapan dari para karyawan Lewis, dia mengikuti langkah Lewis dalam diam bahkan saat mereka berada di dalam lift khusus yang dinaiki Lewis dia masih diam.
Lewis melirik ke arah Olivia, dari ujung matanya dia bisa melihat Olivia. Mana mulutnya yang berisik?
Saat tiba dilantai yang dituju Lewis keluar dari lift begitu juga dengan Olivia, dia hanya mengekori Lewis tanpa tahu harus ke mana.
Mereka berjalan ke arah ruangan Lewis dalam diam dan hal itu membuat Lewis gusar.
"Kenapa kau diam saja?" Lewis memecah suasana hening yang ada diantara mereka.
Olivia diam saja, enggan menjawab Lewis, dia hanya melihat Lewis dengan ujung matanya.
"Olivia Smith aku sedang berbicara denganmu." Lewis tambah gusar.
"Jangan banyak bicara aku sedang malas." jawab Olivia dengan malas.
"Kenapa? Kau sudah kehabisan kata-kata? Baru hari pertama sudah menyerah? Tidak bisa bekerja denganku lagi?" Lewis melontarkan banyak pertanyaan padanya.
Apa Olivia Smith sudah menyerah? Jika sudah maka akan dia suruh gadis itu pulang sambil menangis dan memohon pada kakeknya.
Olivia memutar bola matanya malas, jelas-jelas Lewis menyindir dirinya. Siapa bilang dia menyerah? Tidak ada kata menyerah dalam keturunan Smith?
"Kau jangan salah paham, aku tidak akan menyerah!!" jawabnya kesal.
"Lewis, aku lapar."
Saat mendengar itu Lewis terkekeh, mereka memang belum sarapan saat berangkat tadi. Pantas saja Olivia diam saja, ternyata?
"Kenapa tidak bilang sedari tadi."
"Diam! Semua gara-gara kau! Jika saja kau tidak meminta kakekku memblokir fasilitas untukku aku mana mungkin kelaparan seperti ini!" gerutu Olivia.
"Jadi apa kau akan menangis di bawah kaki kakekmu memintanya mengaktifkan fasilitas untukmu lagi?" sindir Lewis dengan tajam.
Olivia menghentikan langkahnya dan menatap Lewis dengan tajam. Apa pria ini minta dia pukul?
"Jaga ucapanmu Lewis Simone! Walaupun aku mengikuti saran kakek dan diam saja saat fasilitasku diblokir bukan berarti kau bisa menyindir aku seenak hatimu!!"
"Aku seperti ini hanya karena menghargai kakekku dan aku bukan anak cengeng seperti yang kau kira jadi kau jangan besar kepala! Dengan tampangmu itu aku tidak akan tergoda!!" ujar Olivia lagi dengan tajam.
Lewis memutar langkahnya, menatap Olivia yang sedang menatapnya dengan api kemarahan di mata. Mungkin dia sudah sedikit keterlaluan, bukankah ini baru hari pertama?
"Oke baiklah, aku minta maaf." katanya bersalah.
Lewis segera meraih tangan Olivia, menarik tangannya menuju ruangannya.
Olivia melihatnya dengan tidak percaya, tapi dia tidak mau berdebat lagi karena memang sedang lapar.
Mereka masuk kedalam ruangan Lewis dan pria itu segera mendorong Olivia saat mereka sudah berada disofa yang ada diruangan itu. Karena dorongan Lewis, Olivia langsung terduduk diatas sofa.
"Tunggu disini." perintah Lewis.
Dia segera berjalan menghampiri meja, mengangkat telephone yang ada diatas meja untuk menghubungi sekertarisnya.
"Bawakan dua sarapan dan dua gelas teh hijau kedalam ruanganku." perintahnya.
Setelah menutup telephone itu Lewis segera membuka jasnya dan meletakkannya di sandaran kursinya, dia duduk disana dan memperhatikan Olivia dari sana.
Dia memang memperkerjakan Olivia Smith tapi posisi apa yang harus dia berikan untuk gadis itu? Dia yakin seorang Olivia Smith tidak akan bisa melakukan apapun tapi dia ingin lihat, sejauh mana Olivia bisa bertahan.
Olivia hanya diam saja bahkan dia tidak menggubris tatapan dari Lewis, selain lapar dia juga sedang malas berdebat dengan pria penuh perhitungan itu.
Jika saja fasilitasnya tidak diblokir mungkin sudah dia lempar wajah pria itu dengan uang tapi sepertinya dia harus berusaha sekarang, berusaha untuk mandiri. Akan dia buktikan pada Lewis Simone jika dia bukan anak cengeng seperti yang pria itu sangka.
Lagi pula dia ada disana hanya waktu satu bulan bukan? Jadi dia akan berusaha bertahan dan menunjukkan jika dia bisa melewati semua itu.
Tidak lama kemudian pintu ruangan Lewis diketuk dari luar sana.
"Masuk."
Daun pintu itu terbuka dan tampak seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan itu sambil membawa dua sarapan dan dua gelas teh hijau sesuai pesanan Lewis.
"Tuan Simone, pesanan anda." ujarnya.
Wanita cantik itu adalah Cherly, seketaris Lewis Simone.
"Letakkan disana." perintah Lewis.
Cherly berjalan kearah sofa dimana Olivia sedang duduk sedangkan matanya menatap Olivia dengan intens. Siapa tamu bosnya itu?
Cherly meletakkan makanan dan minuman yang dia bawa diatas meja tapi matanya masih melihat Olivia dari atas sampai kebawah, tidak terlihat seperti orang biasa.
"Sudah puas lihatnya?" celetuk Olivia. Pasalnya dia gusar diperhatikan seperti itu!
"Maaf."
Cherly segera undur diri keluar dari ruangan itu sedangkan Lewis menghampiri Olivia yang tampak sedang makan.