
Olivia memandangi wajah Lewis yang tampak serius sedangkan dalam hatinya penuh dengan tanda tanya, kenapa Lewis menanyakan hal itu padanya?
Padahal mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain dan mereka baru beberapa hari bersama, tidak mungkin bukan Lewis sudah menyimpan perasaan untuknya? Tidak mungkin juga Lewis sudah jatuh Cinta padanya dalam waktu beberapa hari saja.
Olivia mendorong tubuh Lewis dan duduk diatas ranjang, dia juga merapikan rambutnya yang berantakan sedangkan Lewis melihatnya dengan heran. Apa Olivia marah?
Seharusnya dia tidak menanyakan hal seperti itu dan seharusnya dia cium saja tadi! Rasanya sedikit menyesal.
"Hei apa kau marah?" Lewis juga bangun dari tidurnya dan memeluk Olivia dari belakang.
Olivia masih diam saja, dia tidak akan menyerahkan ciuman pertamanya begitu saja dengan mudah. Dia ingin lihat apa Lewis menanyakan hal itu karena suasana diantara mereka tadi atau Lewis telah memiliki perasaan untuknya?
"Hei jika pertanyaanku membuatmu marah maafkan aku dan lupakan."
Olivia memegangi lengan Lewis yang melingkar diperutnya dan tersenyum.
"Tidak, aku tidak marah. Akan aku pikirkan pertanyaanmu dan sebaliknya kita hanya saling mencium pipi saja dulu, okey?"
Lewis mengangguk dan membenamkan wajahnya dileher Olivia, dia suka menghirup aroma tubuh Olivia yang manis.
"Lewis?"
"Hmm?"
"Bagaimana dengan Gwen dan Cherly?"
"Kau tidak perlu memikirkan mereka, Gwen tidak akan mengganggumu lagi dan Cherly sudah mendapat ganjaran akibat perbuatannya."
"Apa kau memecatnya?"
"Tidak, apa kau ingin aku memecatnya? Jika kau mau maka akan aku lakukan."
"Tidak, aku tidak berhak melakukan hal itu apalagi aku tidak punya kuasa dikantormu, kau juga harus ingat aku disana hanya satu bulan."
Lewis diam saja begitu juga dengan Olivia, dia ingin turun dari ranjang tapi sepertinya Lewis belum mau melepaskannya itu terbukti dari pelukan Lewis yang semakin erat.
Dia jadi bingung dan rasanya dia ingin menggoda Lewis tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat jadi dia akan membiarkan mereka seperti itu untuk sesaat lagi.
Lewis semakin mengencangkan pelukannya karena rasanya dia tidak mau melepaskan Olivia. Oh ini sedikit gila, padahal dia ingin membuat Olivia menyerah sebelum masa kesepakatan mereka berakhir tapi ternyata, dia kalah telak.
Bagaimana jika Olivia tahu? Apa Olivia akan menertawakannya dan pulang kerumahnya sambil tertawa?
Ada baiknya mereka seperti ini terlebih dahulu apalagi mereka masih punya banyak waktu dan dia harap selama Olivia berada dirumahnya Olivia juga memiliki perasaan untuknya.
"Hmm Lewis."
Mau peluk sampai kapan? Dia ingin kekamar mandi dan dia juga sudah lapar, tapi Lewis benar-benar tidak mau melepaskannya.
Kakinya juga sudah kesemutan sedari tadi dan dia sedang berusaha memijit-mijit kakinya.
"Ada apa?" Lewis mengangkat kepalanya, dia langsung tersenyum saat melihat Olivia sedang berusaha memijit kakinya.
"Apa kakimu sakit?"
"Tidak, hanya kesemutan."
"Coba aku lihat." dia segera melepaskan pelukannya dan turun dari atas ranjang sedangkan Olivia berusaha beringsut dan duduk disisi ranjang.
Lewis berjongkok dibawah kaki Olivia dan memijit kakinya yang kesemutan sedangkan Olivia hanya membiarkan Lewis memijit kakinya karena ini sebuah keuntungan baginya.
"Auw pelan-pelan." keluhnya.
"I'm Sory."
Lewis kembali memijit kaki Olivia dan berusaha bersikap lembut.
"Apa sudah lebih baik?" Lewis mengangkat kepalanya untuk melihat Olivia.
"Uhm..Thanks."
"Apa kau sudah makan?" Lewis bangkit berdir.
"Baiklah, tunggu disini aku akan membuatkan sesuatu untukmu."
Lewis hendak beranjak pergi tapi Olivia memanggilnya, ada sesuatu yang dia lupakan.
"Lewis, mengenai dokumenmu dan semua kertas yang ada diatas meja?"
"Jangan dipikirkan dan lupakan! Itu bukan salahmu."
"Jadi kau tidak marah?"
"Tidak."
"Kau tidak akan memberikan penalty karena aku telah mengacaukan semuanya dan tidak mendengarkan perkataanmu bukan?"
"Tidak."
"Kau juga tidak akan memberikan penalty karena aku pulang dan tidur?"
"Tidak."
"Oke." Olivia bangkit berdiri dengan wajah gembira, untung saja dia tidak kena penalty dan menambah hutangnya.
"Thank you my bos, jadi buatkan makanan yang enak untukku ya, aku tunggu dikolam renang."
Dia segera melangkah melewati Lewis hendak masuk kedalam kamar mandi tapi Lewis menangkap tangannya.
"Berani memerintahku!!"
"Eh my bos, aku tidak berani." Olivia memutar langkahnya dan berusaha tersenyum dengan manis.
"2000 dolar!"
"Ck, sialan. Kapan hutangku berkurang!" gerutu Olivia kesal. Dia berjalan kembali menuju kamar mandi setelah Lewis melepaskan pegangan tangannya.
Setelah kepergian Olivia senyum mengembang diwajah Lewis, dia akan terus memberikan penalty untuk Olivia supaya dia bisa mengikat Olivia lebih lama.
Siapa tahu dari sebulan jadi satu tahun, dua tahun atau bahkan seumur hidup!
Lewis segera keluar dari kamar Olivia dan menuju dapur tentu saja untuk membuat makanan, sepertinya dia akan selalu berada didalam dapur untuk membuat makanan dan sepertinya dia akan mulai menyukai hal itu setiap hari.
Yah itu bukan hal yang buruk karena sejak dia tinggal dijepang dia sering melakukannya tapi semenjak kembali ke California, dia sudah mulai jarang melakukan hal itu karena semua sudah disediakan oleh para pelayan.
Lewis membuat makanan yang mudah saja, omelet rice. Makanan yang mudah dibuat karena dia tidak mau membuat Olivia menunggu lama dan sebenarnya dia juga sudah lapar.
Setelah selesai dia membawa dua piring omelet rice hasil buatannya menuju kolam renang dimana Olivia sudah menunggunya.
Saat itu Olivia sedang duduk disisi kolam renang sambil memainkan kedua kakinya kedalam air kolam yang dingin.
Pohon bambu yang ada disana membuat angin berhembus menyejukkan tempat itu walau matahari masih bersinar.
Lewis meletakkan makanan yang dia bawa diatas gazebo dan menghampiri Olivia, sesekali Olivia merapikan rambutnya yang ditiup oleh angin nakal, rasanya dia juga ingin jadi angin yang nakal.
"Hei, makanan sudah siap."
"Oh ya?"
Olivia hendak bangkit berdiri tapi tiba-tiba Lewis berjongkok dan menggendongnya, karena tiba-tiba Olivia berteriak karena kaget.
"Hei mau apa?" protes Olivia. Dia pikir Lewis akan melemparnya kedalam kolam renang jadi dia melingkarkan tangannya dileher Lewis dan memeluknya dengan erat.
"Bukankah kau suka digendong?"
"Kau benar." Olivia tersenyum dalam gendongan Lewis begitu juga dengan Lewis, selama mereka menuju gazebo senyum menghiasi wajah mereka.
Lewis menurunkan Olivia dan memberikan sepiring omelet rice pada Olivia, mereka duduk berdua sambil menghadap kolam renang untuk menikmati makanan yang dibuat oleh Lewis.
Terkadang Lewis menyuapi Olivia dan menghapus saus yang terdapat dipinggir bibir Olivia sambil tersenyum.
Olivia juga melakukan hal yang sama, dia juga tidak mau kalah dan menyuapi Lewis, mereka melakukan hal itu sampai makanan yang ada diatas piring mereka kosong dan setelah itu mereka berada disana menikmati semilir angin yang berhembus berdua.