30 Days For Love

30 Days For Love
Apa kau sedang disambar petir?



"Bosan...Bosan...Bosan!!!" teriak Olivia frustasi.


Bagaimana tidak, dia hanya didalam kamar saja, didalam kamar tanpa melakukan apapun.


Jika terus seperti ini dia bisa gila, tidak saja Lewis Simone yang membosankan tapi ternyata rumahnya juga membosankan tidak ada yang bisa dia lakukan disana.


Dia sangat ingin pergi, mungkin sebaiknya dia pergi menonton film sendiri. Akan sangat menyenangkan jika dia menonton film horor dari pada bosan seperti ini.


Olivia segera bangkit dari atas ranjang, pergi menonton bukan ide yang buruk dan akan dia lakukan.


Saat dia hendak membuka bajunya terdengar suara Lewis yang memanggilnya diluar sana.


"Olivia kenapa kau berteriak?"


Lewis dapat mendengar teriakan Olivia dari dalam kamarnya, karena hari ini tidak pergi kekantor jadi dia miminta Cherly mengirimkan email penting utuknya, jadi dia berada didalam kamar untuk mengecek email yang dia minta.


"Ck, pria yang membosankan." gerutu Olivia tapi walau begitu dia sudah berjalan kearah pintu untuk membukanya.


Saat pintu telah terbuka tampak Lewis sedang melihat kearahnya.


"Kenapa kau berteriak? Apa ada serangga?" tanya Lewis lagi.


"Tidak, aku hanya bosan." jawab Olivia dengan ketus.


"Oh ya, kenapa kau tidak pergi berenang saja."


"Aku sedang tidak mau berenang, aku mau pergi!" Olivia memutar langkahnya kembali masuk kedalam sedangkan Lewis mengikutinya dari belakang.


"Mau kemana?"


"Kemana saja yang aku suka, aku bosan dirumah sepanjang hari. Aku ingin pergi makan es cream ke Switzerland, aku ingin menonton opera di Paris dan aku ingin liburan ke Prancis." Jawab Olivia asal.


"Wow, bagaimana jika kita ke Jepang?"


"Tidak mau! Selama aku bersamamu dan mengenalmu aku tidak ingin pergi ke Jepang sampai tahun depan."


Lewis tertawa dan duduk disisi ranjang,dia hanya melihat Olivia sedang memilih baju didalam lemari.


"Jadi Olivia Smith, kau mau pergi kemana?" tanyanya.


"Nonton film horor dan makan es cream."


"Baiklah." Lewis bangkit berdiri.


"Apanya yang baiklah?"


"Kebetulan aku juga ingin membeli bahan-bahan makanan jadi ayo kita pergi bersama."


"Lewis Simone, aku mau pergi sendiri. Aku tidak mau pergi denganmu karena kau selalu memberikan penalty untukku, aku tidak mau hutangku bertambah lagi."tolak Olivia.


Lewis mendekati Olivia sambil terkekeh, dia melingkarkan tangannya dipinggang Olivia dan memeluknya.


"Kau tahu, ini jam kerja jadi kau harus menuruti semua perkataanku jika tidak aku akan memberikanmu penalty." ujarnya sambil tersenyum.


Olivia memutar bola matanya malas sambil berdecak kesal.


"Oke fine, you win! Tapi ingat kau harus membelikanku es cream."


"Tidak perlu khawatir, aku akan membelikanmu es cream sampai kau puas dan itu gratis."


"Bagus, pegang ucapanmu jadi keluar sana aku ingin ganti baju." usir Olivia.


"Iya, aku tunggu didepan jadi buruan kalau lama aku akan memberimu penalty."


Lewis keluar dari sana sedangkan Olivia kembali menggerutu, Lewis keluar dengan senyum mengembang diwajahya.


Sebenarnya dia tidak ingin membeli bahan-bahan makanan karena semua itu bisa dibeli oleh pelayannya tapi dia ingin mengajak Olivia pergi dengan alasan itu.


Dia tahu Olivia sedang bosan karena dia mendengar teriakan Olivia tadi jadi dia memang sedikit mengancam supaya Olivia mau pergi dengannya.


Setelah beberapa menit menunggu tampak Olivia berjalan kearahnya dengan baju santainya, rambut yang biasa dia gerai dia ikat keatas sehingga membuatnya terlihat manis.


Lewis melihat penampilan Olivia dari atas sampai kebawah tanpa berkedip, oke, dia akui Olivia memang cantik.


"Aku sudah siap!" Olivia berdiri didepan Lewis sedangkan Lewis tidak juga memalingkan matanya.


"Hello, apa kau sedang disambar petir?" Olivia melambai-lambaikan tangannya didepan Lewis.


"Oh..Ehem.." Lewis langsung berdehem,dia segera memutar langkahnya dan berjalan keluar, ada apa dengannya?


Kenapa dia begitu terpana melihat Olivia?padahal penampilan Olivia biasa saja, sepertinya ada yang aneh dengannya.


"Ayo pergi." ajaknya.


Olivia mengikuti langkah Lewis,mereka menuju kesebuah supermarket yang ada dikota itu selama diperjalanan mereka sesekali berbicara dan bertanya satu sama lain supaya tidak hening.


"Olivia, bagaimana tipe pria idamanmu?" Lewis mulai bertanya lebih dulu.


Olivia melirik kearah Lewis sejenak tapi kemudian dia membuang pandangannya keluar jendela melihat jalanan yang mereka lalui.


"Entahlah, selama ini aku tidak pernah memikirkannya." jawabnya.


"Oh ya? Kenapa?" Lewis jadi penasaran.


"Kau tahukan status keluargaku."


"Ya, lalu kenapa?"


"Aku ingin seseorang yang menyukaiku apa adanya, bukan karena status keluargaku."


"Jadi karena hal itu sampai saat ini kau belum juga punya pacar?" Lewis melirik kearah Olivia sejenak tapi kemudian dia berfokus pada jalanan didepan sana.


Olivia tersenyum saat mendengar pertanyaan Lewis.


"Yah, aku tidak suka dengan para pria yang mendekatiku, mereka seperti para penjilat karena tujuan mereka mendekatiku hanya untuk bisnis."


"Oh ya?"


Lewis tidak percaya mendengarnya, dia tidak menyangka hal itu dialami oleh Olivia. Dia kira Olivia Smith akan seperti putri orang kaya lainnya yang hanya bisa main sana sini dan gonta ganti pasangan.


"Kau tidak percaya padaku?"


"Tidak bukan seperti itu." sangkal Lewis dengan cepat.


"Makanya, jangan sembarangan menilai orang sebelum kau mengenalnya." jawab Olivia.


"Kau benar, lalu menurutmu bagaimana denganku? Apa aku seperti para pria yang mendekatimu selama ini?"


Olivia langsung menatap kearah Lewis, kenapa Lewis menanyakan hal demikian padanya? Tapi dia tidak mau memikirkannya karena sedang malas.


"Kau memang pria aneh penuh perhitungan yang pernah aku temui, dan kau memang berbeda dengan para pria itu." jawabnya.


Senyum lewis mengembang diwajahnya, entah kenapa dia sangat senang mendengar jawaban Olivia.


Mereka mulai diam tanpa bicara apa-apa lagi sampai mereka tiba disebuah supermarket yang mereka tuju.


Saat mereka sudah turun dari mobil Lewis menggandeng tangan Olivia sedangkan Olivia diam saja, hanya menggandeng tangannya maka akan dia biarkan.


Mereka berjalan bersama menuju kesebuah gerai es cream yang ada disana sambil bergandengan tangan, mereka berdua tidak sadar jika mereka sudah seperti sepasang kekasih saat itu.


Sesuai keinginan Olivia, dia mendapatkan es cream yang dia inginkan. Mereka berdua kembali berjalan bersama dan kini Lewis sudah merangkul pingang Olivia begitu juga dengan Olivia, dia juga melingkarkan tangannya dipinggang Lewis, mereka melakukan hal itu tanpa sadar.


Mereka berdua berjalan sambil mengomentari apa yang mereka lihat disana, sesekali Lewis menghapus es cream yang terdapat dibibir Olivia sambil terkekeh.


Yang pasti mereka menikmati waktu itu berdua tanpa memikirkan hubungan diantara mereka, yang pasti mereka ingin menciptakan kenangan sebelum mereka berpisah.