
Olivia tampak sedang berdiri didepan balkon kamarnya dan menarik nafasnya untuk menghirup udara pagi yang segar.
Dia juga merenggangkan otot-otot tangannya bahkan sesekali menguap karena dia masih mengantuk.
Lewis masih tidur karena semalam mereka berdua tidak tidur karena mereka sibuk melakukan kegiatan mereka berdua yaitu bercinta.
Olivia terbangun karena dia ingin kekamar mandi, dengan pakaian seadanya dia menuju kamar mandi dan setelah selesai dia segera berjalan kearah balkon untuk menghirup udara segar disana.
Dia diam saja sambil memandangi pemandangan dibawah sana, setelah ini apa yang ingin mereka lakukan? Tidak mungkin bukan mereka hanya disana saja tanpa pergi kemana-mana.
Apa Lewis tidak merencanakan untuk pergi bulan madu? Atau jangan-jangan mereka berdua tidak akan pergi bulan madu nanti.
Dia jadi ingin tahu, apakah Lewis akan mengajaknya pergi bulan madu?
Olivia segera memutar langkahnya dan masuk kembali kedalam kamarnya, dia segera naik keatas ranjang dan memeluk suaminya yang masih tertidur.
"Lewis."
"Hmm." Lewis mencium pipinya dan memeluki pinggangnya dengan erat.
"Apa kita akan disini sepanjang hari?"
"Kenapa? Apa kau bosan disini sayang?"
"Bukan begitu, apa kita tidak akan pergi bulan madu?"
Lewis membuka matanya sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya, dia tahu Olivia akan menanyakan hal ini jadi dia akan mengikuti keinginan Olivia untuk pergi berbulan madu kemanapun yang Olivia inginkan.
"Tentu saja kita akan pergi berbulan madu sayang, jadi katakan padaku kemana kau ingin kita pergi berbulan madu?"
Olivia tampak berpikir sejenak, dia juga belum memikirkan kemana mereka akan berbulan madu nanti.
"Aku juga tidak tahu." jawabnya.
"Hei kalau kau tidak tahu lalu kita harus berbulan madu kemana?"
"Apa kau tidak punya rekomendasi tempat yang bagus?" Olivia memandangi wajah suaminya dan memainkan jari jemarinya diwajah Lewis.
Lewis tersenyum dan memegangi tangannya, dia bahkan menciumi telapak tangan istrinya dengan lembut.
"Bagaimana jika kita bulan madu dijepang saja? Aku hapal tempat-tempat bagus disana."
"Hmm..Yang lain?"
"Korea?"
"Tidak mau!"
"Atau ke Hawai?"
"Ck, aku bosan pergi ke Hawai."
"Hong kong?"
"Tidak mau!" tolaknya lagi.
"Lalu? Coba katakan padaku negara mana yang belum pernah kau kunjungi?"
Olivia tampak berpikir sejenak, hampir semua tempat sudah dia datangi dan dia sudah bosan karena kerjaannya hanya jalan-jalan saja.
Rasanya dia ingin pergi ketempat yang jauh yang belum pernah dia pergi sebelumnya. Tapi kemana?
"Aku sudah sering ke Paris, Prancis, Inggris bahkan seluruh tempat di Amerika sudah pernah aku datangi."
"Wow, aku tidak kaget!"
Olivia terkekeh dan menciumi wajah suaminya dengan mesra.
"Jadi suamiku sayang, ini tugasmu mencari tempat yang bagus untuk kita bulan madu nanti dan jika bisa aku ingin kita pergi ketempat yang jauh yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, pulau romantis juga boleh."
"Baiklah." Lewis mengangkat tubuh Olivia hingga berada diatasnya.
"Bagaimana jika kita pergi bulan madu ke Bali nyonya Simone."
"Bali?" Olivia mengernyitkan dahinya.
Dia pernah mendengar nama tempat itu tapi dia tidak tahu dimana tempat itu berada, apa tempat itu sangat bagus untuk pasangan pengantin baru?
"Bali? Dimana?" tanyanya.
Lewis langsung terkekeh, ternyata Olivia tidak tahu pulau Bali. Ya sebenarnya tidak semua orang tahu pulau yang indah itu.
Dulu dia pernah kesana sekali, mungkin mengajak Olivia pergi kesana akan sangat menyenangkan dan dia yakin Olivia pasti akan suka pulau nan indah itu.
"Bali sebuah pulau sayang, tempatnya sangat bagus. Dulu aku pernah pergi kesana dan aku yakin kau pasti akan suka."
"Yes."
"Aku pernah mendengarnya tapi aku tidak tahu dimana Bali berada."
"Ha...ha..ha..ha..!"Lewis langsung tertawa.
"Makanya kau harus berkunjung ke Asia, disana banyak tempat-tempat yang bagus."
"Oh ya? Sepertinya aku ketinggalan berita."
"Benar, Bali adalah sebuah pulau terkenal yang berada di Indonesia. Disana banyak tempat wisata terkenal dan pantai yang indah."
"Oke baiklah, kita akan bulan madu disana. Aku akan mencari tahu tentang pulau itu nanti lewat internet."
"Kau yakin kita akan pergi kesana?" tanya Lewis memastikan.
"Tentu saja yakin, aku ingin pergi ketempat baru yang belum pernah aku datangi. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan apalagi untuk bulan madu."
"Oke baiklah, kita akan bulan madu disana sesuai dengan keinginanmu."
"Thank you, kau memang yang terbaik."
Olivia langsung menciumi bibir suaminya dan hal itu dilewatkan oleh Lewis, dia langsung menyambut bibir istrinya dan me**matnya dengan lembut.
"Aku akan selalu berusaha untuk menjadi pria terbaik untukmu sayang." bisiknya.
"Aku tahu, i love you Lewis."
"Oh kau sangat menggemaskan."
Lewis segera membalikkan tubuh istrinya dan me**dihnya, setelah itu dia kembali menciumi bibir Olivia sedangkan tangannya sudah membuka kancing kemeja yang dipakai oleh Olivia.
Setelah terbuka tangannya mulai meraba dua bukit kembar istrinya dan me**snya dengan lembut karena dibalik kemeja itu Olivia memang tidak memakai apa-apa.
Olivia mendesah pelan, tangannya juga mulai meraba tubuh suaminya yang memang telanjang.
Tangan mereka mulai meraba sana sini, tidak ada yang mereka lewatkan sampai mereka berdua mengerang nikmat.
Olivia tidak merasa canggung lagi, dia bahkan membiarkan Lewis melakukan apapun yang dia mau.
Dengan nafas yang memburu, erangan demi erangan terus terdengar saat Lewis menikmati tubuhnya menggunakan jari dan lidahnya.
"Lewis, please." pintanya karena dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
"Seperti keinginananmu sayang."
Lewis segera membuka kedua paha istrinya dan mulai mematuk istrinya sedangkan Olivia memegangi kedua lengan kokohnya dengan erat.
Lewis terus memacu tubuhnya dengan cepat sampai membuat Olivia mengerang sedangkan nafas mereka berdua semakin memburu.
Permainan mereka semakin panas sedangkan Olivia mulai tampak gelisah.
"Engh...Lewis, aku?"
"Ya sayang?"
Lewis menciumi pipinya dengan lemut dan berisik:
"Tunggulah sayang."
"Engh!!" Olivia memeluki leher Lewis dengan erat bahkan mengigiti bahu suaminya.
"Oh kau benar-benar!"
Lewis terus memacu tubuhnya dengan cepat dan semakin cepat sampai mereka berdua mencapai puncaknya.
Olivia masih memeluki leher suaminya sambil mengatur nafasnya, mereka hanya diam saja sambil mengatur nafas mereka berdua agar kambali normal.
Selama diposisi itu, Lewis terus menciumi pipi istrinya, dia berharap bibit yang dia tabur bisa cepat bertumbuh didalam rahim istrinya.
Dia akan terus menyirami lahan subur istrinya agar bibit-bibit unggul cepat bertumbuh didalam sana.
Dia sudah tidak sabar menantikan hal itu, melihat Olivia sedang mengandung anaknya dan tentu saja dia akan berusaha agar hal itu cepat terjadi.
Lewis mengangkat tubuh Olivia hingga duduk diatas pangkuannya dan dengan pelan tangannya menyelusuri wajah cantik istrinya.
"Sayangku, i love you."
Olivia tersenyum dan masih memeluki leher suaminya dengan erat.
"Me too."
Mereka berdua berpelukan dengan senyum kebahagiaan diwajah mereka.