
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 saat itu, Olivia baru bangun dari tidurnya dan mendapati dia hanya sendirian didalam kamar.
Sepertinya Lewis sudah pergi tapi untuk apa dia perduli?
Olivia bangun dari atas ranjang, sambil merenggangkan otot-otot tangannya dia berjalan kearah kamar mandi.
Ini sudah siang dan dia sudah sangat lapar, Lebih baik dia segera membersihkan diri dan mencari makanan didalam kulkas, siapa tau ada yang bisa dia makan.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian Olivia segera keluar dari kamar tapi pada saat pintu kamar terbuka tercium bau masakan yang sangat menggugah selera.
Oke sekarang perutnya mulai berbunyi saat mencium aroma masakan itu, sepertinya pelayan Lewis sedang membuat makan siang.
Dia tidak mau mencari Lewis karena bisa dia tebak Lewis pasti ada didalam kamarnya untuk mengerami telurnya yang tidak juga menetas.
Olivia berjalan menuju dapur dengan cepat, dia sudah sangat ingin makan sesuatu saat ini.
Setelah dia sudah sampai didapur dia langsung menghentikan langkahnya saat melihat Lewis sedang membuat makanan disana.
"Wow, keren." gumamnya saat melihat Lewis melempar makanan yang berada diatas wajan keatas namun kemudian ditangkap kembali.
Ini pemandangan bagus, dia tidak menyangka jika Lewis Simone punya bakat memasak.
"Hai boleh aku bantu?" tanya Olivia basa basi.
Lewis memalingkan wajahnya melihat Olivia yang sedang berjalan kearahnya dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Sudah bangun."
"Hng." jawab Olivia siangkat.
Dia berdiri disamping Lewis untuk melihat apa yang sedang dimasak oleh Lewis.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" Olivia bertanya lagi.
"Yah, kau cukup duduk disana dan bantu aku memakan ini nanti."
"Ck, serius."
"Aku juga serius, aku tidak mau kau menaruh racun diatas makanan yang sedang aku buat dengan susah payah."
"Ya sudah." ujar Olivia dengan cuek, dia hendak berlalu pergi tapi Lewis menghentikan langkahnya.
"Mana morning kiss untukku."
"Lewis Simone ini sudah siang!"
"Oh ya?"
Lewis mematikan api kompornya setelah itu dia memegangi tangan Olivia dan tersenyum padanya.
"Olivia Smith apa tidurmu nyenyak?" ini pertanyaan permulaan dari Lewis.
"Ya, sangat nyenyak karena kasurnya sangat empuk." jawab Olivia asal.
"Jadi kau menyukai kasurnya sampai kau malas bangun?"
"Seseorang memelukku dengan erat jadi membuatku tidak bisa bangun."
"Jadi kau suka dipeluk seperti itu?" dan ini pertanyaan ketiga.
"Hmm...aku rasa jika kau memelukku lagi saat tidur aku tidak akan keberatan." goda Olivia.
"Oke it's good, sekarang waktunya menghitung." ujar Lewis sambil tersenyum.
"Apa maksudmu?" Olivia melotot kearah Lewis sedangkan Lewis semakin tersenyum lebar.
"Saatnya berbisnis nona Olivia."
"Ya ampun kau!!"
Lewis melepaskan pegangan tangannya dan berjalan kesebuah meja, dia menarik sebuah laci dari sana untuk mengambil sebuah buku kecil dan sebuah pulpen.
Olivia melihat Lewis dengan kesal,pasti kena penalty lagi! Lewis benar-benar pria yang penuh perhitungan.
Lewis kembali mendekati Olivia dengan senyum mengembang diwajahnya, dia berdiri didepan Olivia dan membuka buku kecil yang dia bawa sedangkan pulpennya sudah siap digoreskan disana untuk membuat beberapa angka.
"Aku ingin lihat hari ini aku akan untung berapa banyak." ujar Lewis. Dia kembali melihat Olivia sambil tersenyum sedangkan Olivia tampak begitu kesal.
"Kau sudah gila ya?"
Olivia semakin kesal, apa-apaan? Padahal Lewis yang memeluknya tanpa dia minta dan tidur disampingnya, ini benar-benar sudah keterlaluan.
"Seharusnya kau sudah tahu Olivia Smith, aku ini pria penuh perhitungan!"
"Ck baiklah, sekarang giliran aku yang menghitung, aku beri harga kenalan." Olivia langsung tampak begitu bersemangat.
Memangnya Lewis saja yang bisa? Dia juga bisa menghitung apa yang telah pria itu Lakukan padanya.
Dia juga tahu apa saja yang Lewis lakukan selama dia tidur, menciumi ujung kepalanya dan menciumi dahinya dua kali.
"Memangnya apa yang akan kau hitung?" Lewis bertanya dengan percaya diri.
"Lewis Simone, aku tahu apa yang kau lakukan." Olivia menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil tersenyum.
"Oh ya, apa itu?"
"Kau mencium ujung kepalaku jadi kau harus membayar 1000 dolar, sedangkan kau juga mencium dahiku 2 kali jadi 3000 dolar,jadi total penghasilanku 4000 dolar. Uang itu sudah cukup untuk membayar hutangku bukan?"
"Wow aku akui kau sangat cerdik." puji Lewis.
"Tentu saja, kau tidak tahu siapa aku." jawab Olivia dengan bangga.
"Tapi nona Olivia, total hutangmu berjumlah 4.200 dolar, jadi kau masih hutang 200 dolar padaku dan?"
"Masih ada lagi?" tanya Olivia frustasi.
Lewis langsung terkekeh, dia belum selesai memberikan penalty untuk Olivia dan kali ini penaltynya cukup besar.
"Kau tidak lupa bukan kau harus pergi kekantor?"
"Oh my God, mati aku!" gerutu Olivia.
Lewis kembali terkekeh, dia segera menarik tangan Olivia dan memeluk pinggangnya.
"Tidak masuk bekerja tanpa ijin akan dipenalty 5000 dolar."
"Dasar lintah darat!" maki Olivia kesal.
"Jadi Olivia Smith." Lewis mengusap pipi Olivia dengan lembut.
"Sebelum kau bertindak sebaiknya kau pikirkan terlebih dahulu karena aku bisa memberikan penalty kapan saja. Tapi jika kau sudah tidak tahan kau bisa pulang sambil menangis."
"Itu tidak akan mungkin terjadi, okay." jawab Olivia, dia ingin melepaskan diri tapi lagi-lagi Lewis menahannya.
"Jangan lupakan morning kissnya walaupun ini sudah siang."
"Oke fine!! Kau benar-benar menyebalkan."
Sesuai perjanjian Olivia menciumi pipi Lewis, saat Olivia menciuminya Lewis tampak tersenyum senang, yang pasti selama Olivia berada disana dia akan selalu mendapat ciuman dari Olivia.
Entah kenapa dia jadi ingin mencoba bibir Olivia, bagaimana rasanya? Dia jadi penasaran.
"Sudah bukan."
"Yes." Lewis menjawab sambil melihat kearah bibir Olivia.
"Kalau begitu sana siapkan makanan aku lapar."
"Kau kira aku pelayanmu!!"
"Ya sudah, kalau begitu aku yang akan melanjutkan masakanmu yang tertunda."
"Oh tidak, kau duduk disana, tunggu baik-baik. Aku tidak mau kau menebar racun diatas makananku." Lewis kembali mengatakan hal demikian.
Olivia melangkah pergi sambil tertawa sedangkan Lewis kembali membuat makananya yang tertunda.
Selama membuat makanan Lewis terus tersenyum, entah kenapa dia jadi menganggap mereka seperti sepasang kekasih, ah tidak, mereka sudah seperti suami istri. Dia yang membuat makanan sedangkan setiap hari Olivia menunggunya dimeja makan, menunggu makanan yang dibuatnya.
"Oke pikiran bodoh, lupakan! Kalian akan berpisah setelah satu bulan." katanya pada dirinya sendiri.
Setelah selesai memasak Lewis segera menghidangkan makanannya, dia duduk didepan Olivia sedangkan Olivia langsung memakan hasil masakannya sambil memuji, hal itu benar-benar membuat Lewis senang.