30 Days For Love

30 Days For Love
Bisakah kau bersikap romantis?



Seorang dokter tampak sedang memeriksa kaki Olivia yang terkilir sedangkan Olivia diam saja, dokter itu dokter pribadi Lewis yang baru saja datang.


Dia masih berada didalam kamar Lewis dan tidak bisa pergi kemana-mana dengan kaki yang terlihat membengkak, tidak itu saja,punggungnya juga terasa sakit.


Dia meminta Lewis mengambilkan tasnya digazebo, tentu saja dia ingin menghubungi ibunya dan dia ingin menghubungi Steve diluar sana untuk memintanya menunggu sebentar lagi.


Setelah memeriksa kakinya, dokter itu bangkit berdiri dan pada saat itu Lewis masuk kedalam Kamarnya sambil membawa tas Olivia ditangannya.


"Bagaimana dengan kakinya?" tanyanya khawatir.


"Tenang saja tuan Simone, hanya terkilir saja."


"Baiklah kalau begitu." Lewis tampak lega, dia segera berjalan kearah Olivia dan memberikan tasnya, dia juga berkata:


"Aku sudah memerintahkan supirmu untuk pergi dan aku juga sudah menghubungi ibumu dan mengatakan keadaanmu."


"Hei kenapa kau meminta pak Steve untuk pergi?" tanya Olivia.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi! Aku mau keluar sebentar untuk berbicara dengan dokter pribadiku."


Olivia mengangguk sedangkan Lewis tersenyum padanya, sebelum keluar Lewis mendekati Olivia dan menciumi pipinya, dia juga berbisik:


"I love you."


"Ck, sana pergi!"usir Olivia.


"Ya ampun, bisakah kau bersikap romantis disaat seperti ini?" tanya Lewis kesal.


"Tidak! Jadi sana pergi!"


"Iya tuan putri!" gerutu Lewis kesal.


Dia segera berjalan hendak keluar dari kamarnya.


"Nanti bawakan aku minuman, aku haus."


Permintaan Olivia menghentikan Langkahnya.


"Apa lagi yang kau inginkan?"


"Aku juga mau pizza."


"Baiklah, tunggu baik-baik disana dan jangan kabur." ucap Lewis sambil terkekeh.


Setelah Lewis keluar dari sana, Olivia mengambil ponsel dari dalam tasnya tentu dia langsung menghubungi ibunya.


"Olivia sayang, apa kau baik-baik saja?" ibunya langsung bertanya karena khawatir.


"Aku baik-baik saja mom, tapi kakiku tidak."


"Dasar kau, kenapa kau bisa terjatuh?"


"Mommy sudah mendengarnya dari Lewis?"


"Yah, dia baru saja menghubungiku dan mengatakan jika kau terjatuh karena dia mengejarmu. Dia juga meminta maaf padaku dan juga mengatakan akan merawat kakimu sampai sembuh."


"Benarkah Lewis mengatakan hal itu?" tanya Olivia tidak percaya. Dia terjatuh karena ulahnya sendiri dan bukan karena Lewis mengejarnya tapi kenapa Lewis harus meminta maaf kepada ibunya?


Olivia tersenyum saat itu, dia sangat senang Lewis pria yang bertanggung jawab.


"Mom, ini bukan salah Lewis. Aku yang terlalu ceroboh."


"Oh ya, jadi bukan karena Lewis yang mengejarmu?"


"Bukan! Aku yang lari darinya dan terjatuh sendiri tapi mommy tidak perlu khawatir karena kakiku hanya terkilir saja."


"Itu bagus, jadi jelaskan pada mommy, bagaimana dengan hubungan kalian berdua? Apa hubungan kalian sudah baik-baik saja?"


Olivia merebahkan dirinya diatas ranjang dan menatap langit-langit kamar Lewis sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.


"Mom."


"Yes.


"Baru saja Lewis melamarku."


"Oh my God, apa kau serius sayang?"


"Yes mom,vaku serius." Olivia melihat cincin dijari manisnya, cincin itu belum dia lepaskan walaupun dia tidak suka dengan cincin itu.


"Ya ampun Olivia ,apa kau menerimanya?" ibunya bertanya dengan penuh semangat.


Olivia tertawa pelan, ibunya terlalu berlebihan!


"Tidak mom, aku menolaknya."


"Apa?" Samantha tidak percaya dengan ucapan putrinya.


"Ya ampun kau!" Samantha kehabisan kata-kata.


Tapi dia senang akhirnya putrinya sudah menemukan pasangan hidup dan sepertinya dia akan punya menantu lagi.


"Mom."


"Yes."


"Jika aku menikah terlebih dahulu Apa kak Jacob akan mengijinkan? Maksudku apa dia tidak keberatan?" tanyanya


"Aku rasa dia tidak akan keberatan sayang."


"Benarkah?"


"Jika kau ingin tahu maka aku akan bertanya padanya, dia masih dirumah sekarang."


"Baiklah, nanti kabari aku apakah kakak mengijinkan aku menikah terlebih dahulu? Jika dia tidak keberatan maka aku akan menerima lamaran Lewis nanti."


"Oke baiklah, jaga dirimu baik-baik disana. Mommy akan menanyakan hal ini padanya."


"Baiklah mom, kabari aku nanti, oke?"


"Tentu sayang."


Olivia meletakan ponselnya diatas ranjang dan membalikkan badannya, jika kakaknya tidak keberatan dia menikah terlebih dahulu maka tidak ada alasan baginya untuk menolak lamaran dari Lewis nanti dan dia berharap kakaknya tidak keberatan.


Setelah meletakkan ponselnya,bSamantha segera mencari suami dan putranya.


Dimeja makan, tampak suaminya sedang berbincang dengan putranya, entah apa yang mereka bicarakan tapi dia sangat senang melihatnya.


"Hei guys." Samantha berdiri dibelakang putranya dan mengusap rambutnya.


"Mom kenapa kau tampak begitu senang?"


"Yah, baru saja adikmu menghubungiku dan mengatakan jika dia baru saja dilamar oleh Lewis."


"Oh ya?" tanya Jhon tidak percaya sedangkan Jacob diam saja.


Adiknya dilamar? Itu berita bagus.


"Yah, tapi dia tidak langsung menerimanya."


"Dasar anak itu! Tapi sepertinya putri kita akan segera menikah dan meninggalkan kita." ujar Jhon.


"Bukankah itu bagus dad, setidaknya anak itu sudah menemukan seseorang yang mau menerima semua kekurangannya."


"Kau benar." Jhon menyetujui perkataan putranya.


"Jacob sayang." Samantha kembali mengusap rambut putranya.


"Hmm?"


"Mungkin Olivia akan segera menikah, apa kau akan keberatan?"


"Tidak,untuk apa aku keberatan? Jika dia mau menikah itu hal yang bagus."


"Baiklah jika kau tidak keberatan, aku hanya tidak ingin kau merasa dilangkahi oleh adikmu saja."


"Mom." Jacob memegangi lengan ibunya yang melingkar dilehernya.


"Aku tidak akan pernah menghalangi Olivia untuk bahagia, jika dia ingin menikah maka itu hal yang bagus. Aku sendiri tidak tahu berapa lama Alice pergi dan aku juga tidak tahu kapan dia akan kembali padaku."


"Oh my boy, mommy sangat bangga memiliki kalian." Samantha memeluki putranya dan menciumi wajahnya, sebenarnya dia iba dengan putranya tapi dia juga tidak bisa apa-apa.


Selain itu dia juga senang, putranya mengijinkan adiknya untuk menikah terlebih dahulu dan dia berharap Alice cepat kembali untuk bersama dengan putranya lagi.


Sementara itu ditempat lain, setelah berbicara dengan dokter pribadinya dan memesan Pizza yang diinginkan oleh Olivia.


Lewis segera kembali kekamarnya tentu dengan segelas minuman ditangannya, selama berjalan menuju kamar dia sedang memikirkan cara untuk melamar Olivia dengan romantis nantinya.


Mungkin dia harus menyiapkan sebuah kejutan manis untuk Olivia dan melamar Olivia disaat itu sehingga Olivia berkesan dan mau menerima lamarannya.


Sepertinya ini bukan ide yang buruk dan sepertinya dia harus mulai merencanakannya.


Lewis membuka pintu kamarnya dan pada saat melihat Olivia sedang tidur diatas ranjang, senyum Lewis langsung mengembang diwajahnya.


Tidak lama lagi Olivia akan tidur diatas ranjang itu bersama dengannya, mereka akan tidur bersama setiap malam dan melewati waktu bersama hingga tua.


Rasanya dia sudah tidak sabar ingin mengikat Olivia dan menjadikan Olivia menjadi miliknya, hanya miliknya.


Lewis meletakkan gelas yang dia bawa dan naik keatas ranjang dengan pelan-pelan supaya dia tidak membangunkan Olivia.


Dia memeluk Olivia dari belakang dan menciumi puncak kepala Olivia dengan lembut, sekarang kerinduannya terbayar sudah.