30 Days For Love

30 Days For Love
Kelemahan



Setelah selesai berenang, Olivia segera mandi. Dia harus bersiap-siap untuk menemui Jeremi walaupun belum Waktunya tapi dia ingin datang terlebih dahulu, dari pada bosan dirumah Lewis lebih baik dia pergi.


Lagi pula apa lagi yang bisa dia lakukan disana, dia ingin pergi jalan-jalan ketaman dan ingin pergi ke supermarket membeli beberapa cemilan dan tentu saja membeli beberapa keperluannya.


Mumpung keluar jadi sekalian saja membeli keperluan yang dia inginkan mumpung uang didompetnya masih ada dan belum habis.


"Sialan, baru kali ini aku harus was-was dengan uang didompetku!" gerutu Olivia kesal dan dia sedang memakai bajunya saat itu.


"Kenapa sih pada kejam, semua kartuku diblokir! Hutang semakin banyak, uangku semakin menipis. Kapan aku bisa belanja lagi sesuka hatiku?"


"Coba saja kak Ed tidak jauh, aku pasti bisa minta uang dengannya. Nasibku sungguh sial bertemu pria aneh dan penuh perhitungan."


Olivia terus mengerutu, ya mau bagimana lagi, sejak kecil dia tidak pernah kekurangan uang dan sekarang? Dia harus berhemat dengan uang yang tinggal sedikit didompetnya.


"Ah, bagaimana jika aku pergi ketempat kak Jacob saja? Tapi aku takut dengannya yang sekarang jadi ya sudahlah, terima nasib!" gerutunya.


Setelah selesai Olivia segera menyambar tasnya, dia segera keluar dari kamarnya dan mencari Lewis.


Dia ingin mengatakan kepada Lewis jika dia ingin keluar dan pulang terlambat, dia juga ingin mengatakan kepada Lewis jika pria itu tidak perlu menunggunya untuk makan malam karena dia akan makan diluar.


Olivia mengetuk pintu kamar Lewis karena dia tahu, pria itu ada disana.


"Hei unta tua, aku mau pergi."


Tapi tidak ada jawaban dari sana, Olivia kembali mengetuk pintu kamar Lewis dengan kencang dan memanggil.


"Lewis Simone, unta tua aku mau pergi!"


Tapi lagi-lagi hening, hal itu membuat Olivia jadi kesal dan segera membuka pintu kamar Lewis dan masuk kedalamnya.


Disana disebuah kursi tampak Lewis sedang tertidur sedangkan layar komputernya menyala, mungkin Lewis tertidur karena kelelahan bekerja.


Olivia melangkah mendekati Lewis dan berjongkok didekat Lewis untuk melihat wajahnya, ternyata tidak begitu buruk.


"Lewis Simone, aku mau pergi."


Saat menyadari panggilan Olivia, Lewis membuka matanya dan melihat Olivia sedang tersenyum kearahnya.


"Kenapa kau ada dikamarku?"


"Aku sudah memanggilmu sedari tadi tapi kau tidak menjawab." Olivia bangkit berdiri sedangkan Lewis melihatnya dengan seksama.


Kenapa Olivia sudah berdandan dengan cantik? Mau pergi kemana?


"Mau kemana?"


"Mau pergi sebentar." jawab Olivia dengan cuek.


"Kemana?"


"Jangan banyak bertanya ini bukan urusanmu!"


"Tentu saja urusanku kau ini tanggung jawabku sekarang, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu diluar sana?"


"Aduh tolong ya, aku hanya ingin pergi membeli barang dan pergi kencan."


"Apa kau bilang?" Lewis segera menangkap tangan Olivia.


Kencan? Tidak akan dia biarkan!


"Mau kencan dengan siapa?"


"Tuan Simone untuk apa kau tahu?" Olivia berusaha menarik tangannya dari genggaman Lewis tapi Lewis tidak melepaskan tangannya.


"Tentu saja aku harus tahu, kau ini calon tunanganku." jawab Lewis.


Olivia menghembuskan nafasnya dengan kesal, apa sih maunya? Mereka cuma calon, tidak lebih.


"Selama kau menjadi calon tunanganku kau tidak boleh bertemu dengan pria manapun."


"Oh my God, seharusnya aku tidak mengatakan ingin pergi kencan tadi." sesal Olivia dalam hati.


"Lewis lepaskan tanganku, aku sudah harus pergi dan jangan mengganggu aku."


"Baiklah tapi aku ikut." Lewis bangkit berdiri.


"Apa? Tidak mau!" tolak Olivia dengan cepat.


Jangan sampai pria aneh dan penuh perhitungan ini memintanya membayarkan makan malam nanti karena uangnya benar-benar sudah sekarat.


"Jika tidak mau tidak apa-apa, aku akan menghubungi kakakmu."


"Apa? Jangan! Jangan ganggu kakakku karena suasana hatinya sedang buruk belakangan ini." cegah Olivia.


"Jadi?" Lewis tersenyum penuh kemenangan kearah Olivia.


"Baiklah kau boleh ikut, tapi kau harus membayar belanjaanku dan kau harus mentraktirku makan."


"Tidak masalah." Lewis melepaskan tangan Olivia dan melangkah pergi untuk mengganti pakaiannya sedangkan Olivia keluar dari kamar itu dengan wajah senang.


Setidaknya dia sudah mendapat atm berjalan dan Lewis akan menyesal karena telah setuju akan membayar barang belanjaannya nanti.


Setelah mengganti bajunya Lewis keluar dari kamarnya, diluar sana tampak Olivia sudah menunggunya dengan tidak sabar tentu saja untuk menguras isi dompet Lewis.


Walaupun dia tidak tahu apa tujuan Lewis mengikutinya yang penting dia senang dan yang penting hari ini dia bisa belanja sampai puas dan Lewis yang akan membayar.


Sesuai keinginan Olivia mereka menuju kesebuah pusat perbelanjaan, disana Lewis benar-benar dimanfaatkan oleh Olivia untuk membayar semua barang belanjaannya dan setiap barang yang dia beli harganya tidak tanggung-tanggung tapi Lewis cuek saja membiarkan Olivia mengambil apa yang dia mau sampai Olivia kesal.


Kenapa Lewis tidak protes? Bukankah Lewis Simone pria penuh perhitungan? Bahkan pria itu mau membawakan barang-barang belanjaaannya, sepertinya ada yang salah.


Dia ingin melanjutkan belanjannya dan mengerjai Lewis tapi waktu untuk bertemu dengan Jeremi tidak lama lagi, dengan berat hati Olivia mengajak Lewis pergi dari tempat itu.


"Kenapa? Sudah puas belanjanya?" ledek Lewis.


"Kenapa kau tidak protes? Apa kepalamu kemasukan cacing dikolam renang tadi?" Olivia melihat kearah Lewis dengan kesal.


"Hng, anggap saja ini latihan untuk memuaskan istriku nanti." setelah menjawab demikian Lewis segera melangkah pergi.


Olivia tampak kesal, beraninya menjadikannya sebagai alat latihan!!awas saja!


"Lewis awas kau ya!"


Lewis berjalan dengan cepat sedangkan Olivia mengejarnya dari belakang, dia terus berlari mengejar Lewis tapi dengan cepat Olivia menghentikan langkahnya saat Lewis tiba-tiba berhenti sedangkan matanya melihat kesatu toko yang ada disana.


"Oh my God, jangan berhenti mendadak!" teriaknya marah.


"Ikut aku." Lewis segera menarik tangan Olivia dan membawanya menuju kesebuah toko yang dilihatnya, toko khusus bikini.


Mata Olivia terbelakak kaget, oh tidak! Jangan bilang Lewis ingin membelikannya bikini karena ini hal yang sangat memalukan.


"Lewis, mau apa kau?" Olivia menghentikan langkahnya dan menahan tangan Lewis.


"Kau bilang tidak bawa bikini bukan? Jadi ayo beli bikini supaya saat kau berenang kau tidak perlu memakai pakaian dalam lagi."


"Ah hei, kau gila! Aku tidak mau!"


Lewis menarik tangan Olivia dengan sekuat tenaga sampai mereka masuk kedalam toko khusus bikini itu.


Niat Olivia mengerjai Lewis malah berbalik pada dirinya dan dengan sedikit ancaman Lewis meminta Olivia mencoba bikini yang dipilihnya.


Tentu dia mengancam akan menghubungi Jacob Smith jika Olivia tidak mau mengikuti perkataannya, ternyata itu kelemahan Olivia dan ini sangat menyenangkan.


Olivia kesal setengah mati, jika bukan suasana hati kakaknya yang sedang buruk dia juga tidak mau diancam seperti itu tapi apa boleh buat, dia tidak mau membuat kakaknya kesal yang pastinya setelah ini dia akan membalas Lewis.